Drama

Bertemu Arkan

Penulis sanzfy
30 September 2025

Lyra menggenggam erat tali tasnya, buku-buku jarinya memutih. Pintu salon di depannya tampak seperti gerbang menuju jurang masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Aroma manis sampo dan hairspray, yang dulu menenangkannya, kini terasa seperti ejekan kejam, kontras dengan badai emosi yang mengamuk di dalam dirinya. Dengan langkah ragu, seolah kakinya berbalut rantai, ia mendorong pintu kaca itu.

"Hallo, Lyra.. Apa kabar?" sapa Anisa, pemilik salon, dengan senyum hangat yang selalu berhasil menenangkan Lyra di masa lalu.

Lyra berusaha keras membalas senyum itu, tapi otot-otot wajahnya terasa kaku, membeku. "Aku mau potong rambut, Tante," ucapnya pelan, suaranya bergetar seperti daun yang diterpa angin kencang.

Anisa mengerutkan kening, menatap Lyra dengan tatapan khawatir yang menusuk. "Loh, baru minggu lalu. Masa mau dipotong lagi?" tanyanya lembut, nada suaranya penuh kelembutan dan perhatian.

Lyra menunduk, menyembunyikan wajahnya. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. "Buang kesedihan," bisiknya lirih, kata-kata itu nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kesedihan yang menyesakkan dadanya.

Anisa mendekat, meraih tangan Lyra dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan yang Lyra butuhkan saat ini. "Aduh, anak cantik.. Sudah punya segalanya dari Bos Revan, masa masih sedih? Cerita sama Tante, ada apa?"

Lyra menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. "Ah, Tante ini.. Pokoknya rapikan saja. Buat aku menjadi sangat cantik. Aku... aku ingin merasa berbeda," pintanya, suaranya tercekat oleh emosi yang meluap-luap.

"Kamu sudah sangat cantik, sayang.. Tapi Tante tahu, kadang penampilan baru bisa bantu kita merasa lebih baik. Ok, duduklah. Tapi Tante sedang perawatan calon pengantin. Kamu potong rambutnya sama karyawan baru ya? Dia pintar kok," Anisa menawarkan dengan nada penuh pengertian, berusaha mencari solusi terbaik untuk Lyra.

"Terserah Tante saja," jawab Lyra pasrah, merasa terlalu lelah untuk berdebat, terlalu lelah untuk berpura-pura.

Anisa berjalan ke belakang, memanggil seseorang. Lyra mendengar suara lembut Anisa memanggil, "Bu.. Ibu bisa bantu potongkan rambut customer?"

Kemudian, sebuah suara menjawab, "Baik.." Suara itu... suara itu terdengar begitu familiar, begitu menyakitkan.

Lyra menunduk, memainkan ujung rambutnya dengan gugup. Ia mencoba membayangkan model rambut baru yang akan ia pilih. Mungkin sesuatu yang drastis, sesuatu yang benar-benar berbeda, sesuatu yang bisa mengubah dirinya menjadi orang lain.

"Gadis remaja yang pakai kaos putih itu ya, Bu," ucap Anisa.

"Ok."

Lyra merasakan seseorang mendekat. Ia mendongak, dan dunianya seolah berhenti berputar, membeku dalam momen yang mengerikan ini. Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan tatapan mata yang begitu familiar, begitu menyakitkan. Almira! Ibunya!

"Sore, mau dipotong model apa, Dek?" tanya Almira dengan suara lembut, namun ada nada canggung yang tak bisa disembunyikan, nada yang menusuk hati Lyra.

Lyra menatap ibunya, air mata mengalir deras membasahi pipinya, tak terbendung lagi. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap wanita yang telah melahirkannya, wanita yang telah mengusirnya, wanita yang telah menghancurkan hatinya berkeping-keping.

"Mama??" bisiknya lirih, kata itu nyaris tak terdengar di antara isak tangisnya, sebuah jeritan hati yang terluka.

Almira terkejut mendengar panggilan itu. Matanya membulat, tangannya gemetar, seolah melihat hantu. "Lyra?" bisiknya tak percaya, suaranya bergetar seperti senar gitar yang dipetik dengan kasar.

Lyra tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia bangkit dari kursinya dengan kasar dan berlari menuju pintu keluar salon. Ia tidak ingin berada di sana, tidak ingin menghadapi ibunya, tidak ingin mengingat semua rasa sakit itu, semua pengkhianatan itu.

"Nak.." Almira mengejar Lyra, meraih lengannya, mencoba menghentikannya.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Aku benci Mama!" teriak Lyra histeris, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibunya, setiap kata adalah pisau yang menghunus jantungnya sendiri.

"Nak.. Mama minta maaf," ucap Almira dengan suara bergetar, air mata juga mulai membasahi pipinya, mencerminkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. "Mama salah, sudah mengusirmu. Mama tak seharusnya semarah itu padamu. Mama... Mama menyesal."

Lyra menatap ibunya dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan yang tak terhingga. "Menyesal? Apa kata menyesal bisa mengembalikan semuanya? Apa kata menyesal bisa menghapus semua luka yang Mama torehkan di hatiku?"

"Mama tahu.. Mama tahu Mama sudah menyakitimu. Mama tahu Mama sudah melakukan kesalahan besar. Tapi Mama mohon, beri Mama kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mama ingin menjadi ibu yang baik untukmu," Almira memohon, suaranya tercekat oleh isak tangis yang menyesakkan.

Lyra menggelengkan kepalanya dengan keras, menolak tawaran yang datang terlambat itu. "Kesempatan? Mama sudah membuang kesempatan itu sejak lama! Saat Mama lebih percaya pada Om Angga daripada aku! Saat Mama mengusirku dari rumah! Saat Mama menghancurkan hidupku!" teriak Lyra, suaranya pecah, hancur berkeping-keping.

"Lyra, jangan bicara seperti itu. Mama tetap ibumu. Mama sayang kamu," ucap Almira dengan nada putus asa, mencoba meraih kembali putrinya yang telah hilang.

"Sayang? Kalau Mama sayang aku, kenapa Mama tidak percaya padaku? Kenapa Mama lebih percaya pada pria menjijikkan itu? Apa Mama tahu bagaimana rasanya dituduh melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan? Apa Mama tahu bagaimana rasanya diusir dari rumah sendiri? Apa Mama tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya?" Lyra bertanya bertubi-tubi, air matanya semakin deras mengalir, membasahi wajahnya yang pucat. "Kehormatanku direnggut lelaki yang harusnya menjadi ayahku, tapi kau tak mendengarkan jeritanku! Kau malah menganggapku musuh!"

Almira terisak, tidak bisa menjawab pertanyaan Lyra. Ia tahu, ia telah menghancurkan hati putrinya. Ia telah merusak kepercayaannya. Ia telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan, kesalahan yang akan menghantuinya seumur hidup.

"Aku benci Mama! Aku benci Mama! Aku benci Mama!" Lyra berteriak histeris, lalu melepaskan diri dari cengkeraman Almira dan berlari keluar dari salon, meninggalkan ibunya dan semua kenangan pahit di belakangnya.

Almira hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap punggung Lyra yang semakin menjauh. Ia meratapi kebodohannya, menyesali perbuatannya, dan merindukan putrinya yang telah hilang.

Di luar salon, Lyra berhenti sejenak, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia menyeka air matanya dengan kasar dan berjalan menjauh, meninggalkan ibunya dan semua kenangan pahit di belakangnya. Berlari menyeberangi jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, tak didengarkannya panggilan Fernando yang menunggunya di parkiran mobil. Ia terus berlari, seolah dikejar oleh hantu masa lalunya. Hingga tak sadar langit sudah berubah gelap, dan akhirnya ia pun letih, terjatuh di tengah jalan, lututnya berdarah karena bergesekan dengan aspal.

Sebuah motor berhenti mendadak, bannya berdecit keras, menghindar agar tak menabrak Lyra yang tergeletak di tengah jalan.

Lelaki itu membuka helmnya sebelum turun dan berjalan menghampiri Lyra dengan langkah cepat. ARKAN WIRATAMA!