Drama

Bahagia di dekatmu

Penulis sanzfy
30 September 2025

Lyra berlari. Kakinya terasa perih, paru-parunya serasa terbakar, tapi ia tak peduli. Ia hanya ingin lari, lari sejauh mungkin dari bayangan Almira, dari kenangan pahit yang baru saja mencabik-cabik hatinya. Air mata membasahi pipinya, pandangannya buram, dan dunia seolah berputar. Ia tak mendengar klakson mobil yang melengking, tak melihat lampu-lampu jalan yang mulai menyala, tak merasakan kakinya yang mulai mati rasa. Ia hanya terus berlari, menyeberangi jalan raya yang ramai, tak menghiraukan teriakan Fernando yang menunggunya di parkiran mobil salon. Panggilan itu terdengar samar, seperti gema dari dunia lain yang tak lagi ia pedulikan.

Hingga akhirnya, tenaganya habis. Tubuhnya limbung, dan ia terjatuh. Lututnya menghantam aspal keras dengan bunyi berdebam yang menyakitkan, mengikis kulitnya hingga berdarah. Rasa perih itu menyengat, tapi entah mengapa, rasa sakit fisik itu terasa lebih nyata, lebih bisa diterima daripada rasa sakit di hatinya. Ia meringkuk di tengah jalan, memeluk lututnya yang berdarah, terisak-isak. Dunia seolah runtuh menimpanya.

Sebuah motor berhenti mendadak, bannya berdecit keras, menghasilkan suara mengerikan yang menusuk telinga. Motor itu nyaris menabraknya, hanya berhenti beberapa jengkal dari tubuhnya yang tergeletak tak berdaya. Lyra tak mengangkat kepala, ia hanya terus menangis, merasakan keputusasaan yang menggerogoti setiap inci jiwanya.

Lelaki itu membuka helmnya, rambut hitamnya sedikit berantakan. Wajahnya tampak khawatir, matanya menatap Lyra dengan intens. Arkan Wiratama. Lyra mengenali wajah itu, wajah yang seringkali muncul dalam mimpinya, wajah yang diam-diam ia puja. Tapi saat ini, ia terlalu hancur untuk peduli.

"Lyra?" panggil Arkan, suaranya terdengar cemas, menyadari bahwa perempuan yang hampir ia tabrak adalah Lyra, gadis yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari jauh.

Lyra mendongak sedikit, matanya yang sembab menatap Arkan. Ia tak sanggup menjawab, rasa sakit di lututnya berdenyut-denyut, dan rasa pegal di seluruh tubuhnya setelah berlari tanpa henti membuatnya tak bisa berkata-kata. Tenggorokannya tercekat oleh tangis dan emosi yang meluap.

"Hei! Kamu tidak apa-apa?" tanya Arkan lagi, suaranya lebih mendesak. Ia berjongkok di samping Lyra, mengabaikan kotornya aspal.

Lyra tidak menjawab, ia hanya terisak, memeluk lututnya erat-erat, seolah ingin menyembunyikan dirinya dari dunia, dari Arkan, dari semua rasa sakit ini.

"Hei, lihat aku," kata Arkan lembut, mencoba mengangkat wajah Lyra dengan hati-hati. "Kamu terluka. Biar kubantu."

Sentuhan tangan Arkan yang hangat di dagunya membuat Lyra tersentak. Trauma masa lalu yang baru saja ia hadapi kembali menyeruak. Ia menepis tangan Arkan dengan kasar, seolah sentuhan itu adalah bara api. "Jangan sentuh aku!" teriaknya histeris, suaranya serak dan pecah. "Pergi! Tinggalkan aku sendiri!"

Arkan terkejut dengan reaksi Lyra, tapi ia tidak menyerah. Ia melihat keputusasaan dan rasa sakit yang mendalam di mata Lyra. Ia tetap berjongkok di sampingnya, memberikan ruang dan waktu untuk menenangkan diri. "Aku tidak akan pergi," katanya lembut, suaranya menenangkan seperti melodi. "Aku akan tetap di sini sampai kamu merasa lebih baik."

"Tinggalkan aku!" jerit Lyra lagi, suaranya semakin parau, penuh dengan keputusasaan. Ia tidak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan serapuh ini, apalagi Arkan.

Arkan menghela napas, ia tahu Lyra tidak akan mau bergerak sendiri. Tanpa banyak bicara, ia menggendong tubuh Lyra dengan hati-hati, mengangkatnya dari aspal yang dingin. Lyra terkesiap, terkejut dengan sentuhan mendadak itu, tapi ia terlalu lemah untuk melawan. Arkan menaikkan tubuh gadis itu duduk di atas jok motornya, lalu ia ikut naik. Ditariknya tangan Lyra agar memeluk pinggangnya, memastikan Lyra tidak akan jatuh.

"Pegang yang kuat," Arkan berbisik di telinga Lyra, suaranya begitu dekat, begitu menghangatkan. Ia menyalakan mesin motornya.

Lyra menyandarkan kepalanya di punggung Arkan. Aroma maskulin Arkan memenuhi indra penciumannya, entah mengapa terasa begitu menenangkan. Entah mimpi apa ia tadi malam hingga bisa duduk berboncengan dengan pria pujaannya itu, memeluknya erat. Di peluknya erat tubuh Arkan, merasakan kehangatan punggung pria itu, melepaskan tangisnya yang tertahan di balik punggung Arkan. Air matanya membasahi jaket Arkan, tapi ia tak peduli. Ini adalah satu-satunya tempat ia merasa aman saat ini.

Motor melaju perlahan, membelah malam yang mulai larut. Lyra masih terisak pelan, sesekali menarik napas dalam-dalam.

"Kamu kenapa?" tanya Arkan, suaranya terdengar lembut di tengah deru mesin motor.

Lyra diam, tak ingin menjawab. Bagaimana ia bisa menceritakan rasa sakitnya? Bagaimana ia bisa menjelaskan pertemuannya dengan Mama Almira, yang kembali mengoyak luka lama? Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ibunya sendiri lebih memilih percaya pada tuduhan keji daripada putrinya sendiri? Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha menghentikan isakannya.

"Abang tidak apa-apa kalau dilihat Bu Arika memboncengku?" tanya Lyra setelah beberapa saat, suaranya masih sedikit serak. Ia teringat Bu Arika, wanita cantik yang sering terlihat bersama Arkan, yang selama ini ia kira adalah kekasih Arkan.

Arkan terkekeh pelan. "Ya tidak apa-apa."

"Masa? Bu Arika tidak marah melihat pacarnya membonceng gadis lain?" Lyra bertanya lagi, ada sedikit nada cemburu yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya.

"Kak Arika bukan pacarku," jawab Arkan, suaranya terdengar geli. "Dia kakakku."

Lyra terkesiap. "Benarkah?" Ia mengangkat kepalanya sedikit, berusaha melihat wajah Arkan dari balik bahunya.

"Ya, dia kakak sulungku," Arkan menegaskan.

Sebuah senyum tipis, senyum pertama setelah sekian lama, akhirnya terukir di bibir Lyra. Ternyata selama ini ia salah paham. Rasa cintanya yang ia tahu bertepuk sebelah tangan saat ini untuk Arkan, setidaknya masih memiliki peluang untuk bisa memiliki. Hatinya yang hancur perlahan terasa sedikit terobati oleh informasi ini. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya.

Lyra tersenyum menyadari kebodohannya.

"Ah, pantas saja bu Arika terlihat lebih tua 5 tahun dari bang Arkan.." batinnya.

Sebuah mobil tiba-tiba menyalip di depan motor mereka, memaksa Arkan menghentikan motornya mendadak.

Pintu mobil dibuka dengan kasar, disusul kemunculan Revan, wajahnya merah padam karena amarah.

"Lyra!!" teriak Revan, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam.

"Om.. Om Revan," Lyra tersentak kaget, tubuhnya menegang melihat amarah yang terpancar dari wajah Revan. Ia merasa takut, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan besar.

"Pulang!" Revan menarik lengan Lyra dengan kasar, tak peduli dengan luka di lututnya.

"Pelan pelan, Pak. Kakinya sakit," Arkan mengingatkan dengan nada tegas, mencoba melindungi Lyra dari kekasaran Revan.

Revan tak menjawab, ia bahkan tak menoleh pada Arkan. Ia langsung menggendong Lyra turun dari motor dengan kasar dan membawanya menuju mobilnya. Lyra merintih kesakitan saat lututnya terbentur pintu mobil, tapi Revan tak menghiraukannya.

"Om, sakit!" rintih Lyra, air matanya kembali mengalir.

Revan membanting pintu mobil dengan keras, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Arkan yang terpaku di tempatnya.

Arkan hanya menatap mobil yang menghilang dari pandangan, hatinya dipenuhi dengan kebingungan dan kekhawatiran. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Siapa laki-laki yang dia panggil om itu? Kenapa kasar sekali?" gumam Arkan, mengerutkan kening. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Lyra darinya.