Rumah itu, seharusnya menjadi tempat perlindungan, justru menyerupai medan perang yang baru saja usai. Di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri, Revan berdiri dengan mata merah menyala, napasnya memburu. Guci keramik kesayangannya, yang dulu menjadi simbol kemewahan dan keanggunan, kini hanya berupa serpihan-serpihan tak beraturan di atas meja kayu jati. Pecahan kaca dan keramik berserakan di lantai, mencerminkan kehancuran yang sama yang kini memenuhi relung jiwanya.
Keheningan mencekam yang sebelumnya menguasai rumah mewah itu pecah oleh suara dingin Revan, suara yang mampu membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Apa yang kamu lakukan di jalan malam-malam begini?" tanyanya, setiap kata bagai pisau es yang siap mengiris dan menusuk.
Lyra, gadis muda yang seharusnya menjadi pelipur lara di hatinya, hanya bisa terisak pelan. Tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena dinginnya malam yang menusuk tulang, tapi juga karena ketakutan yang mencengkeramnya. Ia tahu, amarah Revan kali ini berbeda, lebih gelap, lebih mengancam daripada amarah-amarah sebelumnya.
"Saya tanya, Lyra! Jawab!" bentak Revan, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Lyra tersentak kaget. Air mata semakin deras membasahi pipinya yang pucat.
Dengan suara bergetar, Lyra mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Aku... aku bertemu Mama saat di salon. Setelah itu, aku... aku lari tanpa tujuan. Saat tersadar, hari sudah malam, dan aku sudah kelelahan dan jatuh. Lututku luka. Bang Arkan... Bang Arkan hampir menabrakku, lalu dia membantuku untuk mengantar ke klinik dan..."
"Jangan bohong!!" potong Revan dengan nada membentak, matanya memancarkan ketidakpercayaan dan amarah yang membara.
"Sumpah, aku tidak bohong, Om," jawab Lyra, berusaha meyakinkan Revan dengan kejujuran yang tersisa dalam dirinya. Ia berharap, Revan bisa melihat ketulusan di matanya, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan.
"Kenapa tidak meneleponku untuk menjemputmu?" tanya Revan, nada suaranya sedikit mereda, namun tetap menyimpan bara api yang siap menyala kembali kapan saja.
"Tasku tertinggal di salon Tante Anisa. Handphoneku ada di dalam tas," jelas Lyra, berharap Revan bisa memahami situasinya yang serba sulit.
Revan terdiam sejenak, mencoba mencerna penjelasan Lyra. Namun, bayangan Lyra memeluk Arkan di atas motor terus menghantuinya, membangkitkan rasa cemburu dan posesif yang selama ini ia pendam. "Lalu, haruskah saat diboncengnya kau memeluk begitu erat?" tanyanya, nada cemburu terdengar jelas dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Itu... agar aku tidak jatuh," jawab Lyra, menundukkan kepala. Ia tahu, penjelasan itu terdengar lemah dan tidak meyakinkan, namun itulah yang sebenarnya terjadi. Ia tidak punya pilihan lain selain berpegangan erat pada Arkan agar tidak terjatuh dari motor.
Revan tidak menjawab. Ia berbalik, berjalan menuju lemari pakaian dan membuka laci. Tangannya meraih sebuah ikat pinggang kulit berwarna hitam yang sudah lama tidak ia gunakan.
Mata Lyra membulat, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketakutan yang sebelumnya hanya bersemayam di hatinya kini menjelma menjadi teror yang nyata. "Pak, jangan, Pak," lirihnya, mencoba meraih tangan Revan, berharap bisa menghentikannya.
Namun, sebelum Lyra bisa menyentuhnya, Bu Ami, asisten rumah tangga mereka yang sudah bekerja bertahun-tahun, menghambur maju. "Pak, jangan, Pak," pintanya dengan suara memelas, mencoba menahan tangan Revan yang sudah terangkat tinggi.
"Kau diam!!" bentak Revan dengan kasar, mendorong tubuh Bu Ami hingga jatuh tersungkur ke lantai. Ia tidak peduli dengan siapa pun yang menghalangi jalannya. Amarahnya sudah membutakan segalanya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Revan kembali menatap Lyra dengan tatapan penuh kemarahan dan posesif. "Aku bilang apa? Kau jangan berhubungan dengan laki-laki lain! Jangan coba-coba menjalin cinta dengan Arkan!!"
Tanpa menunggu jawaban atau penjelasan lebih lanjut, Revan mengayunkan ikat pinggang itu dengan sekuat tenaga.
Cetar...
Ikat pinggang itu mendarat dengan keras di punggung Lyra, menyisakan rasa sakit yang tak terkira. Lyra menjerit kesakitan, air matanya semakin deras membasahi pipinya yang sudah basah.
Cetar...
Ikat pinggang itu kembali menghantam punggungnya. Jeritan Lyra semakin memilukan, memecah kesunyian malam yang kelam.
Cetar...
Untuk ketiga kalinya, ikat pinggang itu mendarat di tubuh Lyra. Rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi. Ia hanya bisa menangis dan memohon ampun, berharap Revan mau menghentikan siksaannya.
"Ampun, Pak... ampun..." lirih Lyra dengan suara yang hampir tak terdengar, tubuhnya bergetar hebat karena rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa.
Revan terengah-engah, amarahnya belum sepenuhnya padam. Ia menatap Lyra dengan tatapan dingin dan tanpa belas kasihan, tidak ada sedikit pun rasa kasihan di matanya.
"Ingat ini, Lyra. Kau milikku. Hanya milikku," ucap Revan dengan nada mengancam, setiap kata bagai pisau tajam yang menusuk jantung Lyra.
Lyra hanya bisa mengangguk lemah, tidak mampu berkata apa-apa. Tubuhnya terasa remuk redam, jiwanya hancur berkeping-keping. Malam itu, ia bukan hanya merasakan sakit fisik yang luar biasa, tapi juga sakit hati yang mendalam. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah malam yang mengerikan ini.
Bu Ami, dengan susah payah, bangkit dari lantai. Ia menghampiri Lyra, memeluknya erat dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa Nak.. Tenang Nak ," bisiknya lembut, mencoba menenangkan Lyra yang masih terisak.
Revan berbalik, meninggalkan Lyra dan Bu Ami di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai, membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang menggelegar.
Di dalam kamar yang mewah namun terasa dingin dan kosong, Revan terduduk di tepi tempat tidur. Ia memejamkan mata, mencoba meredakan amarahnya yang masih membara. Namun, bayangan Lyra dan Arkan terus menghantuinya, membuatnya semakin marah dan frustrasi. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Lyra mungkin mencintai orang lain, bahwa Lyra mungkin tidak sepenuhnya menjadi miliknya.
"Dia milikku," gumam Revan dengan suara serak, mengepalkan tangannya erat-erat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya dariku."
Revan membuka pintu kamarnya dan kembali keluar, melihat Lyra yang masih menangis tersedu-sedu di pelukan Bu Ami. Tanpa berkata apa-apa, Revan menarik tangan Lyra dengan kasar agar mengikutinya kembali ke dalam kamar.
"Pak, sudah.." teriak Bu Ami dengan nada cemas. "Dia masih anak-anak, Pak...!"
Namun, Revan tidak menghiraukan teriakan Bu Ami. Ia terus menarik Lyra hingga masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan keras. Bu Ami hanya bisa mendengar teriakan kesakitan Lyra dari balik pintu yang tertutup rapat.
"Ya Tuhan, Nak... Kau keluar dari sarang harimau, malah masuk ke sarang singa," tangis Bu Ami pilu. "Maafkan ibu yang tak bisa melindungimu, Nak..."
Di sebuah kafe sederhana di sudut kota, Sandy memandangi fotonya bersama Lyra dengan tatapan kosong. Foto itu mereka ambil saat pulang sekolah beberapa waktu lalu, saat mereka masih bisa tertawa dan bercanda tanpa beban. Pagi ini, ia dikejutkan oleh sebuah berita yang disampaikan oleh wali kelas mereka. Lyra tidak bersekolah di SMA itu lagi. Ia mendadak pindah ke Australia mengikuti Revan yang ingin mengembangkan bisnisnya di sana. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu, Sandy tidak tahu. Ia mencoba memberanikan diri datang ke rumah Revan, berharap bisa mendapatkan cerita dari Penghuni rumah itu. Namun rumah itu kosong, hanya ada sekuriti yang menjaga. Yang mengatakan kalau Lyra dibawa Om Revan beserta bu Ami pindah ke Australia.
"Lyra, kamu di mana sekarang?" gumam Sandy lirih, hatinya dipenuhi kekhawatiran dan pertanyaan yang tak pernah terjawab hingga waktu berlalu meninggalkan semua kenangan masa lalu.