Delapan tahun telah berlalu sejak Lyra meninggalkan kota kelahirannya, sebuah rentang waktu yang terasa seperti separuh hidupnya. Pesawat yang membawanya kembali ke kota kelahirannya, akhirnya mendarat dengan mulus di landasan pacu. Lyra berjalan menyusuri gerbang kedatangan, langkahnya sedikit ragu. Tidak ada satu pun wajah yang dikenalnya di antara kerumunan orang yang menunggu. Sudah delapan tahun ia meninggalkan kota ini, dan ia merasa seperti orang asing di tanah kelahirannya sendiri.
Ia pun tak punya teman semasa di sekolah kecuali Sandy. Kepergiannya hari itu meninggalkan Indonesia membuat ia kehilangan kontak dengan lelaki yang ia anggap sebagai teman satu-satunya itu. Mengantongi gelar master dari universitas ternama di Australia, Lyra bermaksud untuk kembali mengabdi ke kota kelahirannya. Meski banyak sekali kepahitan yang ia dapat selama tinggal di sana, namun di kota inilah ia untuk pertama kalinya mengenal apa yang disebut jatuh cinta. Lyra tersenyum tipis, mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indah yang pernah ia alami di kota ini. Apakah Arkan masih mengingat namanya? Apakah Arkan masih mengenali wajahnya setelah sekian lama?
Senyum Lyra mendadak hilang, digantikan oleh keraguan dan kecemasan. "Ah, apa yang aku pikirkan... Sudah delapan tahun aku meninggalkan kota ini, dia pun tak terlalu menyadari kehadiranku. Bagaimana bisa berharap ia akan mengingatku? Apalagi... dia seorang alumni akademi kepolisian, pasti banyak wanita cantik dan anggun yang mengejarnya," batin Lyra, mencoba meredam harapan yang mulai tumbuh di hatinya.
Teringat ketika ia tak sengaja menemukan foto Arkan berikut biodatanya, di sebuah map dalam laci meja kerja Revan. Hatinya berdenyut nyeri mengingat masa lalu yang kelam itu.
Senyum Lyra kembali menghilang, digantikan oleh perasaan lega dan sedikit takut. "Apakah aku tidak akan bertemu dengan monster mengerikan itu lagi? Aku berhasil melarikan diri dari hidupnya, berjuang sendirian untuk hidup dan pendidikanku..."
Saat Lyra sedang larut dalam pikirannya sendiri, ia tak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita yang berjalan terburu-buru. "Maaf..." ucap Lyra tulus, memandang wanita itu dengan rasa bersalah.
"Lyra?" suara wanita itu terdengar berat dan serak, seperti suara laki-laki yang berusaha diubah menjadi feminim.
Lyra menatap wanita itu dengan bingung. Bukan, ini bukan wanita biasa. Lebih tepatnya seorang Wanita Pria, atau biasa disebut Waria. Kenapa ia bisa mengenal dirinya? Lyra berusaha mengingat-ingat, namun ia tidak menemukan satu pun petunjuk di wajah wanita itu.
"Lyra..." Waria itu langsung memeluk Lyra dengan erat, membuatnya terkejut dan kaku. "Aku tak percaya bisa melihatmu lagi. Delapan tahun, Say... Delapan tahun kita terpisah..."
Lyra melepaskan pelukan Waria itu, merasa sedikit risih karena jelas orang di hadapannya itu adalah laki-laki yang berpakaian wanita. "Maaf, tapi... kamu siapa?" tanya Lyra dengan nada hati-hati.
"Sandra..." jawab Waria itu dengan senyum lebar.
"Sandra?" Lyra semakin bingung. Ia tidak mengenal siapa pun bernama Sandra.
"Sandy, maksudku Sandy..." Waria itu menyebutkan identitas aslinya, membuat Lyra terperanjat kaget.
"Apa?" Lyra tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Sandy, sahabatnya saat SMA? Tidak mungkin. Sandy yang ia kenal dulu adalah seorang anak laki-laki yang culun, mengenakan kacamata tebal, dan selalu berlindung di belakangnya saat ada masalah.
"Sandy? Ini benar-benar kamu?" Lyra bertanya dengan nada tak percaya, matanya membulat menatap Waria di hadapannya.
Sandy yang dulunya terlihat culun dan tidak percaya diri itu kini menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan anggun. Bekas operasi besar yang mungkin telah menghabiskan biaya yang sangat besar terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya.
"Iya, Lyra. Ini aku, Sandy sahabatmu," jawab Waria itu dengan senyum yang tulus. "Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi inilah aku yang sekarang."
Lyra masih terpaku, tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Sandy dalam keadaan seperti ini. "Ya Tuhan, Sandy... apa yang terjadi padamu?" tanya Lyra akhirnya, rasa ingin tahu yang besar memenuhi benaknya.
"Ceritanya panjang, Lyra," jawab Sandy sambil tertawa kecil. "Tapi yang jelas, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang."
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa," ucap Lyra dengan jujur. "Aku benar-benar terkejut."
"Tidak apa-apa, aku mengerti," kata Sandy sambil menggenggam tangan Lyra. "Yang penting sekarang, kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama."
"Kamu benar," balas Lyra sambil tersenyum. "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Sandy."
"Aku juga senang, Lyra," kata Sandy. "Jangan panggil Sandy lagi. Nama itu sudah lama aku tinggalkan. Panggil Sandra."
"Ah iya.. Sandra."
"Oh ya, kamu mau ke mana sekarang? Biar aku antar."
"Aku mau mencari taksi untuk ke hotel," jawab Lyra. "Aku belum punya tempat tinggal di sini."
"Tidak perlu repot-repot naik taksi," kata Sandy. "Aku antar saja. Aku punya mobil di parkiran."
"Benarkah? Terima kasih banyak, Sandy,.. Eh, Sandra," ucap Lyra dengan tulus.
"Sama-sama, Lyra," balas Sandy. "Ayo, kita pergi sekarang."
Sandy menggandeng tangan Lyra dan membawanya menuju parkiran mobil. Di sepanjang perjalanan, mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing selama delapan tahun terakhir. Lyra menceritakan tentang pendidikannya di Australia dan keinginannya untuk mengabdi di kota kelahirannya. Sementara Sandy menceritakan tentang perjalanannya menjadi seorang Waria dan pekerjaannya sebagai penata rias di sebuah salon terkenal di kota itu.
"Aku tidak menyangka kamu menjadi seorang Waria, Sandra," kata Lyra dengan nada kagum.
"Ini adalah jalan hidup yang aku pilih, Lyra," jawab Sandy dengan senyum yang tulus. "Aku merasa lebih bahagia dan menjadi diri sendiri dengan menjadi seorang wanita. Aku mengoperasi beberapa bagian wajahku seperti wajah kamu.. Selain melepas rinduku padamu.. Menjadi Sandra yang menyalin beberapa dari wajahmu dengan operasi, menjadikan aku kuat menghadapi siapapun."
"Ada apa?" tanya Lyra.
"Nanti saja cerita pedihnya, kita harus merayakan pertemuan kita kembali."
"Aku salut dengan keberanianmu, Sandra," ucap Lyra dengan tulus. "Tidak semua orang berani mengambil jalan hidup yang berbeda."
"Terima kasih, Lyra," balas Sandy. "Kamu juga hebat bisa meraih gelar master di Australia. Aku bangga denganmu."
Mereka berdua tertawa bersama, merasa bahagia bisa kembali menjalin persahabatan yang telah lama terpisah. Di dalam mobil, Sandy mengantar Lyra ke sebuah hotel yang terletak di pusat kota.
"Ini hotel yang bagus, Lyra," kata Sandy saat mereka tiba di depan hotel. "Kamu pasti nyaman menginap di sini."
"Terima kasih sudah mengantarku, San," ucap Lyra dengan tulus. "Aku sangat menghargai bantuanmu."
"Sama-sama, Lyra," balas Sandy. "Jangan sungkan untuk menghubungiku jika kamu butuh sesuatu. Aku akan selalu ada untukmu."
"Aku pasti akan menghubungimu," kata Lyra. "Kita harus sering bertemu setelah ini."
"Tentu saja," jawab Sandy. "Aku akan menunggumu."
Lyra keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Sandy sebelum masuk ke dalam hotel. Ia merasa lega dan bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya setelah sekian lama. Meskipun Sandy telah berubah menjadi seorang Waria, namun Lyra tetap menyayanginya sebagai sahabatnya. Ia tahu, persahabatan mereka akan tetap abadi meskipun waktu dan keadaan telah mengubah mereka.
Setelah check-in di hotel, Lyra berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamar. Ia merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang panjang, namun pikirannya masih dipenuhi dengan kenangan masa lalu dan harapan masa depan. Ia berharap, kepulangannya ke kota kelahirannya akan membawa kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya.
"Bang Arkan.. Apa kabarmu?"