Iptu. Arkan Wiratama, Kepala Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras), memasuki Café Dawai dengan langkah mantap. Aura wibawa selalu terpancar dari dirinya, semakin kentara di bawah temaram lampu kafe.
Dari salah satu meja, seorang wanita melambaikan tangan. Azura, satu-satunya polisi wanita di unit yang dikenal dengan julukan Mata Elang, tampak anggun dalam balutan busana kasual. Arkan menghampiri meja itu, di mana beberapa anggotanya sudah menanti dengan senyum.
"Maaf, saya terlambat," ucap Arkan, nada menyesal terdengar jelas, lalu duduk di samping Azura.
"Santai saja, Komandan," sahut Bripda Rian, anggota termuda tim, dengan riang. "Kami juga baru sampai kok."
"Iya, Komandan. Yang penting Komandan sudah datang," timpal Briptu Doni, ahli IT andalan Mata Elang.
Arkan tersenyum. Ia bangga memiliki tim solid dan loyal seperti mereka. "Terima kasih atas kerja keras kalian semua. Tanpa kalian, kasus ini takkan selesai secepat ini," ucapnya tulus.
"Siap, Komandan! Ini semua berkat arahan dan bimbingan Komandan," jawab Azura, senyum manis menghiasi wajahnya.
"Sudah, jangan terlalu formal begitu," kata Arkan, tertawa kecil. "Malam ini kita lupakan sejenak urusan pekerjaan. Kita nikmati saja malam ini."
"Siap, Komandan!" jawab seluruh anggota tim serempak.
Namun, belum sempat Arkan mengangkat tangan memanggil pelayan, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari markas. Arkan mengernyit, firasat buruk menghantuinya.
"Pak Arkan, segera ke klub malam 'Heaven'," suara di seberang telepon terdengar tergesa-gesa. "Informasi terbaru, buronan yang kita cari selama seminggu ini terdeteksi di sana. Dia mencoba melarikan diri."
Arkan menghela napas. "Baik. Kami segera meluncur."
Arkan mematikan telepon dan menatap timnya. "Maaf, teman-teman. Sepertinya perayaan kita harus ditunda. Kita dapat tugas mendadak."
"Tugas apa, Komandan?" tanya Azura, nada penasaran.
"Buronan yang kita cari, terdeteksi di klub malam 'Heaven'. Kita harus segera ke sana," jawab Arkan.
"Siap, Komandan!" jawab seluruh anggota tim serempak, semangat mereka kembali membara.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Tetap waspada dan ikuti instruksi saya," perintah Arkan.
Dengan sigap, tim Mata Elang meninggalkan kafe dan bergegas menuju klub malam 'Heaven'. Suasana kecewa sempat menyelimuti, namun profesionalisme mengalahkan segalanya.
Di sisi lain kota, Lyra sedang menikmati makan malam di sebuah restoran mewah. Ia sengaja memilih tempat itu karena ingin menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Restoran itu terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, menawarkan panorama gemerlap kota yang memukau.
Sambil menikmati hidangan lezat, Lyra memikirkan pertemuannya dengan Sandra siang tadi. Ia masih tak percaya sahabatnya itu telah berubah menjadi seorang wanita. Namun, ia juga merasa senang melihat Sandra bahagia dengan kehidupannya.
Ponsel Lyra berdering. Nama Sandra tertera di layar. "Halo, Sandra," sapa Lyra riang.
"Halo, Lyra. Kamu lagi di mana?" tanya Sandra dari seberang telepon.
"Aku lagi makan malam di sebuah restoran di pusat kota," jawab Lyra. "Kenapa?"
"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan," kata Sandra. "Kamu mau ikut?"
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Lyra penasaran.
"Ada acara musik di sebuah klub malam," jawab Sandra. "Kamu mau ikut?"
Lyra terdiam sejenak. Ia sebenarnya tak terlalu suka suasana klub malam. Namun, ia juga tak ingin mengecewakan Sandra. "Baiklah, aku ikut," jawab Lyra akhirnya.
"Asyik! Aku jemput kamu sekarang, ya," kata Sandra gembira.
"Oke, aku tunggu," balas Lyra.
Setelah menutup telepon, Lyra merasa sedikit gugup. Ia belum pernah pergi ke klub malam sebelumnya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di sana. Namun, ia juga penasaran dengan dunia malam yang selama ini belum pernah ia jamah.
Tak lama kemudian, Sandra tiba di restoran. Ia tampil memukau dengan gaun malam berkilauan dan riasan wajah sempurna. "Kamu cantik sekali, Sandra," puji Lyra tulus.
"Terima kasih, Lyra," balas Sandra, tersenyum manis. "Kamu juga cantik malam ini."
Lyra tersenyum. Ia merasa lebih percaya diri dengan penampilannya malam ini.
Sandra menggandeng tangan Lyra dan membawanya menuju mobil. Mereka melaju menuju sebuah klub malam terkenal di kota itu.
Arkan dan tim Mata Elang tiba di klub malam 'Heaven'. Musik berdentum keras dan lampu berkelap-kelip menciptakan suasana meriah yang menyesakkan. Arkan memberi isyarat kepada timnya untuk menyebar dan mencari target.
"Ingat, jangan gegabah. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang melindunginya," pesan Arkan.
Tim Mata Elang menyebar, menyusuri kerumunan orang yang tengah asyik menikmati musik dan minuman. Arkan terus memantau situasi, matanya awas mengamati setiap sudut ruangan.
Di tengah keramaian, Arkan melihat seorang pria yang gerak-geriknya mencurigakan. Pria itu tampak gelisah dan beberapa kali melihat ke arah pintu keluar. Arkan merasa yakin, pria itu adalah target mereka.
Arkan memberi kode kepada Azura dan Doni untuk mendekat. "Saya yakin dia target kita. Azura, kamu dekati dari arah depan. Doni, kamu amankan pintu keluar. Saya akan mendekat dari belakang," bisik Arkan.
Azura dan Doni mengangguk dan bergerak sesuai instruksi. Arkan perlahan mendekati target dari belakang, berusaha tidak menarik perhatian.
Saat Arkan sudah cukup dekat, ia langsung menyergap pria itu. "Jangan bergerak! Anda ditangkap atas kasus pembunuhan!" seru Arkan lantang.
Pria itu terkejut dan berusaha melawan, namun Arkan dengan sigap hendak memborgol tangannya. Azura dan Doni segera datang membantu mengamankan pria itu.
Lyra dan Sandra baru tiba di klub malam itu ketika terjadi kepanikan. Lampu mendadak menyala terang, musik berhenti, dan suara teriakan menggema.
"Aduh, bagaimana ini?" Sandra terkejut, matanya membulat melihat kekacauan di sekeliling mereka.
Tiba-tiba, pria yang sedang diamankan Doni dan Azura berhasil melepaskan diri. Dengan gerakan cepat dan brutal, ia menyikut Doni dan menendang Azura hingga tersungkur. Dalam keadaan panik, ia berlari ke arah Lyra dan Sandra.
"Sandra, awas!" teriak Lyra, instingnya berteriak bahaya.
Namun, semuanya terjadi terlalu cepat. Pria itu, dengan mata liar dan penuh keputusasaan, meraih sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah pisau lipat berkilauan memantulkan cahaya lampu.
"Jangan mendekat!" Sandra berteriak, berusaha melindungi Lyra.
Pria itu tidak peduli. Ia menerjang Lyra, niatnya hanya satu: melarikan diri, meskipun harus mengorbankan orang lain.
Dalam sepersekian detik, pisau itu menancap di perut Lyra. Ia menjerit kesakitan, tubuhnya lemas dan ambruk ke lantai.
"Lyra!" Sandra histeris, berlutut di samping sahabatnya yang berlumuran darah.
Arkan dan timnya terkejut melihat kejadian itu. Mereka segera mengejar pria itu, yang kembali berusaha melarikan diri di tengah kepanikan yang semakin menjadi-jadi.
"Cepat, amankan dia! Dan panggil ambulans!" perintah Arkan, suaranya penuh amarah dan kekhawatiran.
Doni dan Azura, meskipun masih merasakan sakit akibat serangan buronan itu, segera mengejar dan berhasil melumpuhkannya. Pria itu akhirnya berhasil ditangkap dan diborgol.
Sementara itu, Arkan menghampiri Lyra yang tergeletak di lantai. Wajahnya pucat pasi, dan darah terus mengalir dari lukanya.
"Bertahanlah, Nona. Ambulans sudah dalam perjalanan," ucap Arkan, berusaha menenangkan Lyra.
Lyra menatap wajah Arkan. Wajah itu.. Adalah wajah lelaki yang menurutnya adalah cinta pertamanya.
"Bang Arkan.." ia merasa seperti sedang bermimpi bisa melihat wajah itu kembali. Kenangan masa lalu menyeruak dalam benaknya.
"Sa-sakit..." rintih Lyra, suaranya lemah dan bergetar sebelum akhirnya terkulai pingsan.
Arkan tertegun mendengar panggilan itu. "Bang Arkan?" Ia merasa familiar dengan suara itu, namun ia tak bisa mengingatnya. Wajahnya tertutup oleh riasan dan pencahayaan yang redup. Siapa wanita ini?
Sandra semakin histeris melihat Lyra tak sadarkan diri. "Lyra! Lyra! Bangun, Lyra!" Ia mengguncang tubuh Lyra pelan, berharap sahabatnya itu segera membuka mata.
Arkan segera memberikan isyarat kepada petugas medis yang baru tiba di lokasi. "Cepat, tangani dia! Kondisinya kritis!" perintahnya.
Lyra segera diangkat ke atas tandu dan dilarikan ke ambulans. Sandra ikut mendampingi, menggenggam erat tangan Lyra sepanjang perjalanan.
Arkan menatap ambulans yang melaju kencang meninggalkan klub malam 'Heaven'. Perasaannya campur aduk. Ia merasa bersalah, bertanggung jawab, dan... penasaran. Siapa wanita itu? Mengapa ia memanggilnya "Bang Arkan"?
"Komandan, apa yang harus kita lakukan dengan buronan ini?" tanya Doni, membuyarkan lamunan Arkan.
Arkan menghela napas. "Bawa dia ke markas. Kita interogasi dia sampai tuntas. Kita harus tahu, siapa dalang di balik semua ini," jawab Arkan, matanya memancarkan tekad yang membara.
"Siap, Komandan!" jawab Doni.
Di dalam ambulans, Sandra terus menggenggam tangan Lyra, air matanya tak berhenti mengalir. Ia tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Lyra. Lyra adalah sahabat terbaiknya, tempat ia berbagi suka dan duka. Lyra adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Lyra, bertahanlah. Kamu harus kuat. Aku membutuhkanmu," bisik Sandra, suaranya bergetar.
Tiba-tiba, Lyra membuka matanya perlahan. Ia menatap Sandra dengan tatapan sayu.
"San-Sandra..." panggil Lyra, suaranya sangat lemah.
"Iya, ini aku, Lyra. Kamu istirahat saja, ya. Jangan banyak bicara," jawab Sandra.
"Bang Ar-Arkan..." gumam Lyra, sebelum akhirnya kembali menutup matanya.
Sandra mengerutkan keningnya. "Arkan? Siapa Arkan?"