Arkan keluar dari ruang interogasi dengan langkah berat. Kasus yang ditanganinya terasa seperti labirin tanpa ujung, setiap jalan yang ditempuh justru membawanya ke lorong yang lebih gelap dan berliku. Nama Marco terus menghantuinya, sosok misterius yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini.
"Komandan," sapa Azura, yang sudah menunggunya di luar ruangan. Wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. "Bagaimana hasilnya?"
Arkan menghela napas panjang sebelum menjawab. "Derry mengaku disuruh oleh seseorang bernama Marco. Tapi, dia tidak tahu banyak tentang Marco. Hanya tahu bahwa dia seorang pengusaha kaya dengan koneksi ke dunia hitam," jelasnya dengan nada frustrasi.
Azura mengerutkan kening, berpikir keras. "Marco? Kita harus mencari tahu siapa dia. Mungkin dia punya motif tersembunyi yang lebih besar dari yang kita bayangkan."
"Itu yang akan kita lakukan," sahut Arkan, matanya memancarkan tekad yang kuat. "Doni, lacak semua pengusaha kaya di kota ini yang memiliki catatan kriminal atau koneksi mencurigakan. Kita harus menemukan Marco secepatnya."
Doni, yang selalu sigap dalam menjalankan tugas, menjawab dengan cepat, "Siap, Komandan!"
Arkan menoleh ke arah Azura. "Azura, aku ingin kau mencari tahu tentang wanita yang terluka di klub malam tadi. Siapa dia, apa pekerjaannya, dan apa hubungannya dengan kasus ini."
"Siap, Komandan," jawab Azura. Namun, ada nada penasaran dalam suaranya saat ia bertanya, "Tapi, Komandan terlihat sangat khawatir tentang wanita itu. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Arkan terdiam sejenak. Pikirannya kembali dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Panggilan "Bang Arkan" yang dilontarkan wanita itu sebelum pingsan terus terngiang di telinganya. Mungkinkah wanita itu mengenalnya? Mungkinkah ada hubungan antara masa lalunya dan kasus yang sedang ia tangani?
"Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang dia," jawab Arkan, berusaha menyembunyikan kebingungannya. "Dia menjadi korban dalam operasi malam itu. Kita harus memastikan dia aman dan mencari tahu apakah dia memiliki informasi yang bisa membantu kita."
"Baiklah, Komandan. Saya akan mencari tahu semuanya," kata Azura, mengangguk paham. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arkan, tetapi ia memilih untuk tidak mendesaknya.
Di rumah sakit, Sandra mondar-mandir di depan ruang ICU dengan perasaan cemas. Ia tak sabar ingin melihat Lyra dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Lyra adalah sahabatnya sejak kecil, dan melihatnya terbaring tak berdaya di rumah sakit membuatnya sangat terpukul.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang ICU. Sandra segera menghampirinya dengan wajah penuh harap.
"Bagaimana keadaan Lyra, Dok?" tanya Sandra, cemas.
Dokter itu menghela napas sebelum menjawab. "Keadaannya stabil, tapi masih belum sadarkan diri. Luka tusukannya cukup dalam, dan dia kehilangan banyak darah. Kita masih harus terus memantau perkembangannya."
"Kapan saya bisa melihatnya, Dok?" tanya Sandra, tak sabar.
"Anda bisa melihatnya sekarang. Tapi ingat, jangan terlalu berisik dan jangan terlalu lama. Dia butuh banyak istirahat," kata dokter itu.
Sandra mengangguk dan segera memasuki ruang ICU. Ia melihat Lyra terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat dan tubuhnya dipenuhi selang. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Sandra mendekati Lyra dan menggenggam tangannya. "Lyra, ini aku, Sandra. Kamu harus kuat, ya. Aku akan selalu ada di sini untukmu," bisik Sandra, air matanya menetes membasahi pipinya.
Tiba-tiba, Lyra membuka matanya perlahan. Ia menatap Sandra dengan tatapan sayu.
"San-Sandra..." panggil Lyra, suaranya sangat lemah.
"Iya, ini aku, Lyra. Kamu istirahat saja, ya. Jangan banyak bicara," jawab Sandra, berusaha menenangkan sahabatnya.
"Bang Ar-Arkan..." gumam Lyra, sebelum akhirnya kembali menutup matanya.
Sandra mengerutkan keningnya. "Arkan? Siapa Arkan? Kenapa dia terus menyebut nama itu?" Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Siapa Arkan bagi Lyra? Apakah Arkan ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Lyra?
"Lyra, siapa Arkan? Apa dia orang yang penting bagimu?" tanya Sandra, penasaran.
Namun, Lyra tak menjawab. Ia sudah kembali tak sadarkan diri.
Sandra menghela napas. Ia memutuskan untuk tidak memaksakan Lyra. Ia akan menanyakan hal itu nanti, setelah Lyra benar-benar pulih. Yang terpenting saat ini adalah Lyra mendapatkan perawatan yang terbaik dan segera pulih.
Keesokan harinya, Azura datang menemui Arkan di kantornya. Ia membawa berkas tentang Lyra.
"Komandan, ini informasi tentang wanita yang terluka di klub malam tadi," kata Azura, menyerahkan berkas itu kepada Arkan.
Arkan menerima berkas itu dan membacanya dengan seksama. Nama wanita itu adalah Lyra Arsyifa, seorang dosen baru di Universitas pariwisata. "Belum sempat mengajar karena baru saja tiba dari Australia kemarin."
"Lyra?" ulang Arkan, terkejut. Nama itu terasa familiar baginya, seperti nama seseorang dari masa lalunya.
"Bang, namaku Lyra, ingat ya bang.." teriakan Lyra di gerbang sekolah SMA Nusa Bangsa muncul di pikiran Arkan. Kembali memutar ulang perkenalannya dengan gadis yang tampak selalu ceria itu. Terakhir kali melihat Lyra adalah ketika ia dijemput paksa pulang oleh lelaki paruh baya yang terlihat sangat marah menyeretnya pulang. Sejak itu ia tak pernah lagi bertemu Lyra. Selain karena ia kembali menjalani pendidikan di Akademi, ia juga tak mencari tahu siapa lyra dan seperti apa hidupnya.
Arkan terdiam, pikirannya berkecamuk. Mungkinkah Lyra Arsyifa yang ada di berkas ini adalah Lyra yang sama dengan gadis ceria yang pernah dikenalnya di masa lalu? "Apa ada informasi lain tentang Lyra?" tanya Arkan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Tidak ada," Azura menggelengkan kepalanya.
Arkan terus membaca berkas itu dengan seksama. Semakin banyak informasi yang ia dapatkan tentang Lyra, semakin besar pula rasa penasarannya. Ia ingin segera bertemu dengan Lyra dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal yang palingvia ingat, terakhir kali melihat Lyra ketika gadis itu dibawa pulang paksa oleh orang yang dipanggilnya dengan sebutan Om.
"Azura, aku ingin kau mencari tahu semua tentang masa lalu Lyra. Siapa keluarganya, siapa teman-temannya, dan apa saja yang pernah terjadi dalam hidupnya," perintah Arkan.
"Siap, Komandan," jawab Azura. Ia tahu bahwa Arkan sangat serius dengan kasus ini, dan ia akan melakukan yang terbaik untuk membantunya.
Arkan menutup berkas itu dan menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk mengunjungi Lyra di rumah sakit. Ia ingin melihat keadaannya secara langsung dan mencari tahu apakah ia bisa mendapatkan informasi yang bisa membantunya dalam penyelidikan.
Sesampainya di rumah sakit, Arkan langsung menuju ke ruangan tempat Lyra dirawat. Ia melihat Sandra sedang duduk di samping ranjang Lyra, menggenggam tangannya dengan erat.
Arkan mendekati Sandra dan berdeham pelan. Sandra menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Maaf mengganggu," kata Arkan. "Saya Iptu. Arkan Wiratama. Saya kepala unit dari yang menangani kasus penyerangan di klub malam tadi. Saya ingin melihat keadaan Lyra dan mencari tahu apakah dia bisa memberikan informasi yang bisa membantu kami."
Sandra menatap Arkan. "Jadi namamu Arkan, Bang?" "Kamu? Apa kamu mengenalku?" "Aku pernah hampir menabrak mu saat naik motor bersama Lyra di depan gerbang SMA Nusa Bangsa. Kamu pacarnya bu Arika kan, Bang? Ah Iya, dimana bu Arika sekarang? Kalian sudah menikah, Bang? Ah, tahukah kau bang? Kau sudah membuat Lyra patah hati saat melihatmu membonceng bu Arika hari itu, saat kau membeli jus dan kami menyapamu. Lyra sangat tergila-gila padamu. Kau tahu?" "Sebentar.. Kau bukannya laki-laki?" tanya Arkan