Aroma antiseptik yang menusuk hidung menyambut Arkan saat ia melangkah masuk ke ruang tunggu rumah sakit. Cahaya lampu neon yang terlalu terang menciptakan kesan dingin dan steril.
Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum kembali terlibat dalam cerita masa lalu yang rumit. Ia duduk di kursi yang kosong, matanya tertuju pada pintu ruang perawatan tempat Lyra dirawat.
"Sandra?" panggil Arkan, memecah keheningan.
Sandra, yang tampak melamun, tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Arkan dengan senyum tipis. "Bang Arkan," sapanya lembut.
"Maaf membuatmu menunggu," kata Arkan, merasa bersalah karena telah meninggalkannya terlalu lama. "Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."
Sandra mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa, Bang. Aku juga sedang memikirkan banyak hal."
Arkan menatap Sandra dengan penuh perhatian. Ia bisa melihat jejak kesedihan dan kelelahan di wajahnya. "Kau terlihat lelah," ujarnya khawatir. "Apa kau baik-baik saja?"
Sandra menghela napas panjang. "Aku baik-baik saja, Bang. Hanya sedikit terkejut dengan semua yang terjadi."
"Aku mengerti," kata Arkan. "Ini pasti sulit bagimu."
"Dulu, aku adalah seorang anak lelaki yang tak punya nyali menghadapi siapa pun, bahkan menghadapi murid perempuan saja, aku bisa menggigil ketakutan. Teman-teman hampir tiap hari membully ku. Mulai dari mengganggu dalam kategori ringan hingga sampai menginjak harga diriku. Hampir 3 tahun selama bersekolah di SMA itu aku mendapat perlakuan tak pantas. Aku tak punya keberanian untuk mengadu pada guru, apa lagi untuk melawan komplotan Nadira," ujar Sandra, suaranya lirih namun penuh emosi. Ia menunduk seolah malu dengan pengakuan itu.
Arkan mendengarkan dengan seksama, merasakan getaran dalam suara Sandra. Masa lalu yang kelam itu seolah masih menghantuinya.
"Hingga Lyra masuk ke sekolah itu," lanjut Sandra, matanya berbinar. "Lyra yang kudengar adalah anak asuhnya Om Revan, orang paling kaya dan punya pengaruh besar. Aku.. menyukai Lyra. Sejak awal melihatnya.. Aku menemukan kalau Lyra adalah sosok kuat dan hebat. Tidak ada yang berani mengusik Lyra. Bukan karena dia anak asuh Om Revan, tapi Lyra terlalu galak untuk dilawan. Dia tak punya teman, tapi dia tak peduli. Suatu hari.. Lyra melihat aku dibully genk Nadira. Mereka meletakkan kotoran hewan di atas kepala ku. Lyra marah. Dia menyiramkan air comberan ke kepala Nadira," cerita Sandra, senyum tipis menghiasi bibirnya.
Arkan memandang wajah Sandra, terlihat jelas kekaguman yang mendalam pada sosok Lyra. Keberanian Lyra, kontras dengan ketidakberdayaan Sandra, menciptakan daya tarik yang kuat.
"Aku.. diam-diam menyukainya, bang. Tapi.. Lyra mana mungkin melihat laki-laki lemah seperti aku. Dia malah terpesona padamu. Sejak awal melihatmu di gerbang sekolah.. Jadi, aku memilih menjadi sahabatnya saja. Kau tahu, Bang? Ia tak berhenti berpikir tentang bagaimana bisa mengenalmu lebih dekat. Hingga.. Suatu hari kami melihatmu membonceng bu Arika. Lyra patah hati, ia pikir.. Kau ternyata sudah punya pacar. Ia sempat kesal, masa kau pacaran dengan perempuan yang terlihat lebih tua lima tahun dari mu."
Arkan terkekeh pelan. "Kak Arika itu kakakku," Arkan menjelaskan. "Karena sedang liburan, aku mengantar jemputnya setiap ada waktu."
"Oya? Ah, andai Lyra waktu itu tahu.." Sandra menyesali.
Tiba-tiba, sebuah suara memanggil Arkan, memecah lamunannya.
"Arkan.."
Arkan dan Sandra menoleh. Seorang wanita dengan seragam kejaksaan berjalan menghampiri mereka. Wajahnya tegas namun tetap memancarkan kecantikan yang memikat.
"Mecca.." sapa Arkan, senyumnya mengembang.
"Siapa yang sakit?" tanya Mecca, matanya menyapu sekeliling.
"Korban dari buronan yang kami kejar. Kamu sedang apa disini?"
"Membezuk pak Arsyad."
"Oh.."
"Aku ke ruangannya dulu.. Nanti kita ketemu di kantin pak Ryan ya? Makan siang," ajak Mecca.
"Okay," jawab Arkan singkat.
Mecca berlalu, meninggalkan Arkan dengan Sandra yang menatapnya penuh tanya.
"Siapa itu, Bang..?"
"Teman.." jawab Arkan. Ia kembali fokus pada Sandra, mencoba merangkai kembali benang merah cerita yang sempat terputus. "Jadi, kalian berteman hingga sekarang?"
"Kami baru bertemu kemarin, Bang. Delapan tahun Lyra tiba-tiba menghilang. Katanya ikut dengan om Revan ke australia. Dan.Lyra baru kembali ke kota ini kemarin."
"Om Revan itu siapa?" tanya Arkan, rasa ingin tahunya semakin besar. Tiba-tiba ia teringat akan lelaki paruh baya yang hari itu memaksa Lyra pulang ketika Arkan akan mengantar Lyra ke klinik untuk berobat. Tatapan lelaki itu penuh dengan proteksi, bahkan terkesan posesif.
"Mungkin.. Bisa dibilang ayah angkatnya Lyra. Dia sangat menyayangi Lyra. Bahkan terkesan over protected."
Arkan termenung, ingatannya kembali melayang akan hari itu. Hari dimana ia melihat Revan menggendong Lyra turun dari motor Arkan dengan kasar dan membawanya menuju mobilnya. Lyra merintih kesakitan saat lututnya yang luka terbentur pintu mobil, tapi Revan tak menghiraukannya.
"Om, sakit!" rintih Lyra kala itu, Arkan bisa melihat air matanya mengalir. Revan membanting pintu mobil dengan keras, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Arkan yang terpaku di tempatnya.
Arkan menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang tiba-tiba menyeruak. Ia mengeluarkan kartu namanya, memberikan pada Sandra.
"Sandy.."
"Sandra, Bang.. Namaku sekarang Sandra, bang," koreksi Sandra dengan senyum getir.
"Jika Lyra sudah lebih baik kondisinya.. Tolong hubungi aku."
Sandra membaca kartu nama itu dengan seksama. "Iptu. Arkan Wiratama. Sudah tinggi juga pangkatmu ya bang? Padahal kau terlihat masih muda, setahun atau dua tahun di atas kami mungkin ya?"
Arkan tersenyum tipis. "Waktu berlalu cepat," ujarnya. "Aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku pada Lyra."
Arkan beranjak, meninggalkan Sandra yang masih terpaku dengan kartu nama di tangannya.
"Akhirnya.. Lyra bisa bertemu cinta pertamanya. Tapi, apakah ia akan patah hati saat tahu kalau bang Arkan sepertinya sudah punya pilihan sendiri? Ah, aku harus cari tahu hubungan Bang Arkan dengan Kak Mecca."
Malam itu, Sandra duduk menunggu Lyra yang masih berbaring di tempat tidur. Keheningan kamar hanya dipecah oleh suara mesin pendeteksi jantung yang berdetak teratur. Sandra menatap wajah Lyra yang pucat, hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran.
"Sandra.." panggil Lyra lirih, memecah keheningan.
Sandra tersentak kaget. Ia segera mendekat ke sisi ranjang Lyra. "Kamu bangun? Apa yang kamu inginkan?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku ingin ke kamar mandi," jawab Lyra dengan suara lemah.
"Aku panggilkan perawat. Sebentar ya?" kata Sandra, bergegas menuju pintu.
"Ya," jawab Lyra singkat.
Namun, sebelum Sandra sempat membuka pintu, terdengar ketukan pelan dari luar. Sandra mengurungkan niatnya dan membuka pintu kamar.
Azura melangkah masuk dengan senyum ramah. "Selamat malam," sapanya sopan. "Saya Bripda Azura, anggota tim Iptu. Arkan. Saya diminta Bang Arkan untuk menjaga Kak Lyra Arsyfa di sini."
Sandra mengerutkan keningnya, merasa bingung. "Menjaga Lyra? Bukankah pelakunya sudah ditangkap?"
"Benar, pelaku sudah diamankan malam ini juga," jawab Azura. "Namun, Bang Arkan tetap khawatir dengan kondisi Kak Lyra pasca operasi. Beliau ingin memastikan Kak Lyra mendapatkan perawatan yang baik dan tidak ada komplikasi pasca operasi."
"Bang Arkan?" tanya Lyra, suaranya terdengar lemah namun penuh dengan rasa ingin tahu.
Azura menoleh ke arah Lyra dan tersenyum. "Iya, Kak Lyra. Bang Arkan yang meminta saya untuk menjaga Kakak. Beliau sangat mengkhawatirkan luka Kak Lyra.
"Nanti aku ceritakan," bisik Sandra
Sementara itu, di luar rumah sakit, Arkan sedang duduk di dalam mobilnya, memantau situasi di sekitar rumah sakit. Ia merasa lega karena Lyra dijaga oleh Azura, seorang polisi wanita yang terlatih dan dapat dipercaya.
Arkan menggenggam erat setirnya, matanya menatap tajam ke arah jendela kamar Lyra. Ia berharap Lyra segera pulih dan bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal.
"Aku akan menjagamu, Lyra," gumam Arkan dalam hati. "Aku akan memastikan kau aman dan sehat."