Rumah mewah itu berdiri dengan angkuhnya di tengah malam yang sunyi, memancarkan kesan dingin dan tak berpenghuni. Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit tinggi hanya menambah kesan hampa, seolah rumah itu menyimpan rahasia kelam yang tak terungkap. Di dalam salah satu ruangan, Revan duduk termenung, matanya terpaku pada sebuah foto terbaru Lyra yang diambil di sebuah kafe.
Foto itu menunjukkan Lyra yang sedang tersenyum cerah, menikmati secangkir kopi sambil bercengkrama dengan seorang teman. Pemandangan yang sangat kontras dengan Lyra yang selama ini ia kenal, Lyra yang selalu murung dan tertekan di bawah perlindungannya.
Ucapan Leon, orang kepercayaannya, masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Dua minggu yang lalu, Lyra terkena luka tusukan dalam sebuah aksi penangkapan buronan polisi. Buronan yang menusuk Lyra malam itu juga tertangkap dan Lyra dilarikan ke rumah sakit. Sekarang Lyra sudah aktif mengajar di kampus Pariwisata. Ini alamat tempat tinggal Lyra sekarang."
Revan tersenyum tipis, senyum yang menyimpan banyak makna tersembunyi. "Anjing kecilku sedang ingin menikmati hidup di dunia luar setelah rantai yang mengikatnya terputus," gumamnya pelan. "Tidak apa-apa. Aku akan membiarkanmu bermain sepuasnya di luar sana.. Hingga tiba waktunya kau akan kembali ke dalam kandang yang aku buat khusus untukmu.. Lyra Arsyifa."
Revan bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang, pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
Ia ingat pertama kali bertemu dengan Lyra, seorang gadis remaja yang malang dan ketakutan setelah diusir ibunya karena dianggap menggoda suaminya. Revan sudah memberikan hukuman untuk Almira dan Angga, orangtua Lyra sesuai yang ia mau. Sejak hari itu Lyra menjadi sangat tergantung padanya. Namun pertemuan Lyra dengan Arkan mengubah semuanya. Remaja 17 tahun itu memilih Arkan sebagai cinta pertamanya, bukan Revan yang sudah menjadi malaikat pelindungnya. Hal yang membuat Revan marah, membuat ia kehilangan akal karena tak ingin Lyra pergi dengannya. Ia membawa Lyra ke australia. Di negeri kangguru itu ia bebas mengatur hidup Lyra sesuka hatinya. Namun saat usianya 19 tahun, Lyra berontak. Ia lari meninggalkan Revan, menghilang dan hidup dengan penuh perjuangan keras di negeri kangguru itu. Revan tahu, tapi ia membiarkan Lyra meski tetap dalam pantauannya. Revan juga tahu ketika Lyra memutuskan untuk kembali ke indonesia, kembali ke kota kelahirannya untuk bekerja. Kota dimana Lyra akan bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya.. Arkan Wiratama. Lelaki yang kini menjabat sebagai kepala unit Jatanras polresta. Si penyebab api kecemburuan terus menyala di hati Revan.
Revan berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan dan menuangkan segelas wiski untuk dirinya sendiri. Ia meneguk minuman itu dengan sekali teguk, berharap bisa meredakan amarahnya.
Namun, amarahnya justru semakin membara. Ia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya untuk mendapatkan Lyra kembali. Ia akan melakukan segala cara, bahkan jika ia harus menggunakan kekerasan.
Revan menatap foto Lyra yang ada di atas mejanya dengan tatapan penuh obsesi. "Kau adalah milikku, Lyra," gumamnya dengan suara serak. "Dan aku akan memastikan kau akan kembali ke sisiku, apapun yang terjadi."
Rumah makan lesehan milik Anwar sudah memiliki sangat banyak perubahan. Tempat dimana dulu Lyra duduk makan bersama Revan dan melihat Arkan yang juga sedang makan bersama teman-temannya. Disana, untuk pertama kalinya Lyra bisa melihat tawa Arkan, lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Lyra melangkah masuk, ia melihat Anwar duduk di meja kasir. Rambutnya sudah mulai memutih. Lyra berjalan menghampiri.
"Om.." sapa Lyra.
Anwar, lelaki china yang sudah mualaf itu menengadahkan kepala.
"Siapa?" ia mengernyitkan dahinya.
"Ah, Lyra..?" ia bertanya ragu.
"Iya, om," jawab Lyra.
"Wah, kamu sudah besar Nak. Dulu kamu sering makan disini sebelum om mendapat kabar kalau kamu ikut Revan pindah ke Australia. Kamu pulang.. Revan bagaimana?"
Lyra diam sesaat.
"Om Revan masih menetap di Australia.." jawabnya. "Aku pulang karena ingin bekerja disini. Sekarang aku di kampus Universitas Pariwisata."
"Oh, yang dekat polres ya?"
"Hm.. Iya, Om."
"Tinggal dimana kamu? Rumah Revan sudah tidak ditempati lagi. Kalau tidak salah sudah terjual 6 tahun lalu, setelah dipastikan kalau ia tak akan kembali lagi, memutuskan menetap di Australi."
"Aku tinggal di kontrakan, Om.. Tiba-tiba ingat masakan, Om. Makanya aku ke sini. Siapa tahu om masih berjualan di sini."
"Masih dong. Mari, om siapkan tempat duduk. Mau pesan apa?" Anwar menawarkan.
"Seperti dulu saja, Om.. Ayam bakar madu, sayur asem, sama es teh manis."
Anwar tersenyum. "Baiklah, tunggu sebentar ya."
Saat Anwar hendak berbalik, suara riuh rendah terdengar dari arah pintu masuk.
"Hallo.. Arkan," sapa Anwar saat melihat Arkan yang masuk bersama team mata elang. "Wah, ramai sekali. Pasti kalian mau merayakan keberhasilan kalian menangkap penjahat kan?"
Arkan tersenyum lebar. "Betul sekali, Om Anwar. Kami semua lapar berat setelah begadang semalaman."
"Sebenarnya kami ingin merayakan promosi bang Arkan naik jabatan, Bang.. Tapi berarti perpisahan, huhu.." ucap Rio, salah satu anggota tim Arkan, dengan nada sedih.
"Ah, jangan sedih begitu, Rio. Walaupun aku pindah ke Polda, kita tetap bisa bertemu, kan?" hibur Arkan.
"Iya sih, Bang. Tapi kan nggak setiap hari lagi bisa makan enak gratis di sini," timpal Rio, disambut tawa oleh anggota tim lainnya.
"Sudah-sudah, jangan ribut. Ayo, Om Anwar siapkan tempat untuk mereka," kata Anwar, menengahi keributan kecil itu.
Arkan dan timnya kemudian memilih tempat duduk di salah satu lesehan yang kosong. Mereka mulai memesan makanan dan minuman, sambil bercanda dan tertawa riang.
Lyra yang duduk tidak jauh dari mereka, hanya bisa menatap Arkan dari kejauhan. Jantungnya berdegup kencang setiap kali mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, saat ia masih menjadi seorang gadis remaja yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arkan.
"Ini pesananmu, Nak," kata Anwar, membuyarkan lamunan Lyra.
"Eh, iya Om. Terima kasih," jawab Lyra, sedikit tersentak.
Anwar meletakkan pesanan Lyra di atas meja. "Om tinggal dulu ya. Selamat menikmati."
Lyra mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Arkan. Ia bertanya-tanya, apakah Arkan masih mengingatnya? Apakah Arkan masih memiliki perasaan yang sama dengannya? Mengingat Arkan pernah meminta Azura menjaganya saat dirawat di rumah sakit?
Tiba-tiba, Arkan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Anwar.
"Om Anwar, maaf mengganggu. Boleh saya pinjam korek api sebentar?" tanya Arkan dengan sopan.
"Oh, tentu saja boleh. Sebentar ya," jawab Anwar, lalu mengambil sebuah korek api dari laci kasirnya dan memberikannya kepada Arkan.
Saat Arkan hendak berbalik, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Lyra. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, seolah waktu berhenti berputar.
"Lyra..?" Arkan bertanya ragu.
Lyra tersenyum tipis. "Bang Arkan."
"Bagaimana kondisinya? Maaf, aku tak pernah melihatmu." "Tidak apa-apa, Bang. Aku tahu abang sibuk. Omong-omong, selamat atas promosi naik jabatan, Bang.." ucap Lyra, tulus.
"Terima kasih," jawab Arkan, tersenyum. "Yuk.."
"Bang Arkan.." panggil Lyra. "Ya.."
"Kapan-kapan kita makan siang bareng, ya?" ajak Lyra, tiba-tiba. "Kampus ku kan dekat dengan polres. Kita bisa makan di tempat yang terdekat."
"Ok.."
Lyra terdiam sejenak, jantungnya berdegup kencang. "Tapi.. Aku tidak punya nomormu, Bang.. " jawabnya akhirnya, dengan nada sedikit gugup.
"Oh iya,sebentar.. Ini" kata Arkan, tersenyum sembari memberikan kartu namanya. "Nanti WA kesana. Aku balik ke meja dulu ya. Selamat menikmati makanannya."
Arkan berbalik dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Lyra yang masih terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berpisah, ia bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya.
Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah makan lesehan, seorang pria sedang mengamati Lyra dan Arkan dengan tatapan penuh amarah. Pria itu adalah Leon, orang kepercayaan Revan.
"Sialan! Mereka berdua bertemu lagi," gumam Leon dengan suara geram. "Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Pak Revan."
Leon meraih telepon genggamnya dan menghubungi Revan.
"Pak, saya ingin melaporkan bahwa Lyra dan Arkan Wiratama bertemu di sebuah rumah makan lesehan," kata Leon dengan nada cemas.
Revan terdiam sejenak, amarahnya bergejolak dalam dadanya. "Apa yang mereka lakukan?" tanyanya dengan nada dingin.
"Mereka hanya berbicara biasa, Pak. Tapi saya yakin, Arkan Wiratama bisa mendekati Lyra," jawab Leon.
"Cari tahu semua tentang hidup Arkan saat ini."
"Baik," jawab Leon.
Revan menutup telepon dengan kasar. Ia merasa semakin marah dan frustrasi. Ia tidak akan membiarkan seorang polisi ikut campur dalam urusannya dengan Lyra. Ia akan melakukan segala cara, bahkan jika ia harus menggunakan kekerasan, untuk mendapatkan Lyra kembali.