Drama #Drama

Lyra Cemburu

Penulis sanzfy
01 October 2025

Lyra terpaku di depan layar ponselnya, matanya tak lepas dari foto profil Arkan di aplikasi Whatsapp. Jari telunjuknya bergerak pelan, mengusap layar seolah menyentuh wajah pria yang terpampang di sana. Sorot matanya menyimpan harapan yang belum berani ia utarakan. Sebagai seorang dosen muda di universitas ternama di Karimun, Lyra terbiasa dengan logika dan analisis. Namun, perihal Arkan, logika seolah menguap, digantikan oleh debar jantung yang tak terkendali.

"Kau masih belum melihatku, Bang..." bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar di antara keheningan ruang kerjanya. "Sepertinya aku ini masih asing buatmu."

Arkan, Kanit Jatanras Polres Karimun. Sosoknya bukan hanya sekadar penegak hukum di mata Lyra. Ada rasa terima kasih yang mendalam, rasa kagum yang tumbuh perlahan, dan benih-benih cinta yang mulai bersemi sejak insiden beberapa waktu lalu. Lyra masih ingat betul kejadian saat ia tak sengaja menjadi saksi pengejaran buronan oleh tim Jatanras. Ia terluka akibat terkena serpihan kaca saat baku tembak terjadi. Arkan sendiri yang mengamankannya dan memerintahkan Bripda Azura untuk menjaganya selama masa pemulihan di rumah sakit.

Lamunannya buyar ketika sebuah notifikasi pesan masuk dari Sandra, sahabatnya sekaligus pemilik salon kecantikan terkenal di Karimun.

"Siap-siap, Say. Aku jemput sebentar lagi. Kita ke cafe yuk, ngopi sambil menikmati musik," bunyi pesan itu.

"Ok," balas Lyra singkat. Ia segera merapikan mejanya dan mengambil tas selempangnya. Mungkin, dengan bertemu Sandra dan menikmati suasana kafe, ia bisa sedikit melupakan Arkan dan segala kerumitan perasaannya.

Tak lama kemudian, suara klakson mobil Sandra terdengar dari depan gedung fakultas. Lyra segera bergegas keluar.

"Hai, Say!" sapa Sandra ceria, begitu Lyra membuka pintu mobil. "Gimana kabarmu hari ini, Bu Dosen?"

"Baik," jawab Lyra sekenanya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang masih menghantuinya.

Sandra, yang sudah sangat mengenal Lyra, tak langsung percaya begitu saja. "Kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya, menyelidik.

"Iyaa.. Ayo," Lyra masuk ke mobil Sandra, berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya.

"Ok, berangkat," Sandra menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan area kampus.

Sepanjang perjalanan, Lyra dan Sandra bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing. Sandra bercerita tentang pelanggan salon yang semakin ramai menjelang akhir pekan, sementara Lyra bercerita tentang mahasiswanya yang semakin kreatif dalam mengerjakan tugas. Namun, di balik obrolan ringan itu, Lyra masih memikirkan Arkan. Senyumnya, tatapannya, dan perhatian kecil yang ia berikan saat menjenguknya di rumah sakit, semua itu terngiang jelas di benaknya.

Sesampainya di kafe, mereka langsung disambut alunan musik akustik yang menenangkan. Suasana kafe cukup ramai, tapi masih ada beberapa meja kosong yang bisa mereka tempati.

"Kita duduk di sana aja yuk," kata Sandra, menunjuk sebuah meja di dekat panggung.

Mereka pun berjalan menuju meja yang dimaksud dan memesan minuman. Lyra memesan kopi latte, sementara Sandra memilih teh tarik.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Lyra melihat sosok yang sangat familiar memasuki kafe. Sosok itu berjalan dengan tegap, mengenakan kaos hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Sorot matanya tajam, namun tetap memancarkan kharisma yang memikat. Di sampingnya berjalan seorang wanita muda, yang juga mengenakan kaos hitam yang sama dengan Arkan.

"Sandra.." panggil Lyra, dengan suara bergetar. Jantungnya berdegup kencang, perasaan aneh mulai menyelimutinya.

"Kenapa?" tanya Sandra, bingung.

"Itu... itu Bang Arkan," bisik Lyra, sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

Sandra mengikuti arah pandang Lyra dan melihat Arkan sedang berjalan menuju sebuah meja di sudut kafe.

"Wah, kebetulan banget!" seru Sandra, dengan nada bersemangat. "Ini kesempatan kamu buat nyamperin dia."

"Yang di sampingnya itu Bripda Azura, kan?" tanya Lyra, dengan nada lirih. Perasaan aneh yang tadi ia rasakan kini semakin kuat. Ia ingat betul Azura adalah polisi wanita yang ditugaskan Arkan untuk menjaganya di rumah sakit.

"Eh iya. Kenapa mereka bisa berdua ya ke sini? Tanpa tim yang lainnya?" tanya Sandra, dengan nada heran.

"Jangan-jangan itu pacarnya bang Arkan. Mungkin mereka pacaran diam-diam tanpa setahu tim yang lain," duga Lyra, dengan nada kecewa. Ia merasa harapannya untuk bisa dekat dengan Arkan semakin menipis. "Ah, kenapa aku suka sekali melihat ekspresi wajahnya yang dingin itu?"

Sandra menatap Lyra dengan tatapan prihatin. Ia tahu betul betapa besar perasaan Lyra terhadap Arkan. "Jangan langsung negative thinking gitu dong, Say. Siapa tahu mereka cuma teman atau rekan kerja biasa," kata Sandra, mencoba menenangkan Lyra. "Lagipula, Azura kan yang jagain kamu waktu di rumah sakit. Mungkin mereka lagi ketemuan buat nanyain kabar kamu."

"Tapi kenapa mereka pakai baju couple gitu? Itu kan kayak kode keras," balas Lyra, dengan nada lesu.

"Ya sudah, daripada kita terus-terusan negative thinking, mending kita samperin aja mereka," kata Sandra, dengan nada bersemangat. "Kita pura-pura nggak sengaja ketemu, terus kita ajak ngobrol. Siapa tahu kita bisa dapat informasi yang lebih jelas."

Lyra terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran Sandra. Di satu sisi, ia merasa ragu dan takut. Ia takut jika dugaannya benar, dan Arkan memang memiliki hubungan spesial dengan Bripda Azura. Namun, di sisi lain, ia juga penasaran dan ingin tahu yang sebenarnya.

"Oke deh, aku ikut," kata Lyra, akhirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

Sandra tersenyum dan menggenggam tangan Lyra. "Nah, gitu dong. Semangat!"

Dengan langkah ragu, Lyra dan Sandra berjalan menuju meja Arkan. Semakin dekat, jantung Lyra semakin berdegup kencang. Ia bisa merasakan telapak tangannya berkeringat.

"Selamat malam, Bang Arkan," sapa Sandra, dengan nada ceria.

Arkan menoleh dan sedikit terkejut saat melihat Lyra dan Sandra. "Selamat malam, Sandra, Lyra. Kebetulan sekali bertemu di sini."

"Iya nih, Bang. Kami lagi ngopi-ngopi santai," jawab Sandra. "Bang Arkan sama Bripda Azura juga ya? Hayoo.. Kencan ya? Ngedate ya? malam begini kan gak mungkin urusan kerja?"

Arkan tersenyum. "Baru pulang penangkapan, lapar jadi mampir ke sini," jawab Arkan. "Lyra apa kabar? Sudah pulih total?"

"Sudah, Bang. Terima kasih banyak atas bantuannya waktu itu," jawab Lyra, dengan nada tulus. Ia menatap Arkan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Arkan dan Azura.

"Tidak masalah, Lyra. Sudah jadi tugas saya untuk melindungi warga," jawab Arkan, dengan senyum tipis. "Azura juga senang bisa bantu kamu."

Azura tersenyum ramah. "Iya, kak Lyra. Senang bisa ketemu lagi," sapa Azura. "Kak Lyra sudah sehat total kan?"

"Sudah, Azura. Terima kasih banyak ya sudah menjagaku di rumah sakit," jawab Lyra, dengan senyum yang dipaksakan.

"Sama-sama, Kak. Sudah jadi tugas saya," jawab Azura. Wanita itu memandang Arkan. "Abang mau makan apa?"

"Kamu saja yang pesan," jawab Arkan.

Mendengar percakapan itu, hati Lyra semakin mencelos. Ia merasa ada jarak yang tak bisa ia tembus antara Arkan dan dirinya. Ia merasa percakapan kedua orang itu terdengar mesra.

"Kalau begitu kami pamit pulang," ucap Lyra, dengan nada yang berusaha ia buat setenang mungkin.

"Duduk dulu, kita ngobrol?" tawar Arkan.

Lyra hanya tersenyum tipis, ia menarik lengan Sandra agar segera pergi dari sana. Ia tak sanggup lagi berlama-lama di tempat itu, melihat Arkan dan Azura bersama.

"Eh, apa ini?" tiba-tiba Azura memungut sebuah gelang yang jatuh di lantai.

"Mungkin punya Lyra. Aku pernah melihat ia memakai gelang itu. Sebentar aku susul mereka," kata Arkan, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menyusul Lyra dan Sandra yang sudah hampir mencapai pintu keluar kafe.

"Lyra!" panggil Arkan, membuat Lyra dan Sandra berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.

"Ini gelangmu jatuh," kata Arkan, menyodorkan gelang berwarna perak dengan hiasan batu permata kecil berwarna biru muda.

Lyra menerima gelang itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Bang," ucapnya lirih.

"Hati-hati ya," kata Arkan, dengan senyum yang membuat jantung Lyra berdebar kencang. "Sandra, saya duluan ya."

"Siap, Bang," jawab Sandra, dengan senyum menggoda.

Arkan kemudian berbalik dan kembali ke mejanya. Lyra dan Sandra pun melanjutkan langkah mereka keluar dari kafe.

Di dalam mobil, Lyra terdiam membisu. Pikirannya berkecamuk, perasaannya campur aduk. Ia merasa senang karena Arkan masih memperhatikannya, tapi juga sedih karena ia melihat kedekatan Arkan dengan Azura.

"Gimana, Say? Dapat informasi apa?" tanya Sandra, memecah keheningan.

Lyra menghela napas panjang. "Aku nggak tahu, San. Aku bingung," jawabnya jujur. "Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Bang Arkan dan Azura."

"Ya sudah, jangan dipikirin terlalu dalam dulu. Mungkin memang cuma rekan kerja biasa," kata Sandra, mencoba menenangkan Lyra. "Yang penting sekarang, kamu jangan menyerah. Kalau kamu memang suka sama Bang Arkan, perjuangin terus. Jangan biarin dia direbut orang lain."

"Tapi aku takut, San. Aku takut kalau ternyata Bang Arkan memang sudah punya pacar," kata Lyra, dengan nada putus asa.

"Hei, ini bukan Lyra yang aku kenal. Kamu bukan orang yang patah semangat. Masa gara-gara bang Arkan jadi begini?" "Sudah, aku mau tidur. Bangunkan aku kalau sudah sampai di rumah."