Drama #Drama

Dibawah curahan hujan

Penulis sanzfy
01 October 2025

Lyra menyusuri trotoar yang ramai dengan langkah ringan, menikmati semilir angin sore yang menyapu wajahnya. Hari ini, ada dorongan aneh yang membuatnya enggan untuk naik taksi seperti biasanya. Ia juga tak ingin merepotkan Sandra, sahabatnya, untuk menjemputnya dari kampus. Sesekali, Lyra ingin merasakan nikmatnya berjalan kaki, menikmati hiruk pikuk kota Surabaya yang selalu hidup.

Beberapa mahasiswa yang dikenalnya menawarkan tumpangan, tetapi Lyra menolak dengan halus. Ia ingin menikmati kesendiriannya, larut dalam pikirannya sendiri. Langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi oranye keemasan, pertanda senja akan segera tiba. Lyra terus berjalan, matanya menatap lurus ke depan, mencoba mengabaikan suara bising kendaraan dan obrolan orang-orang di sekitarnya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah lamunannya. Lyra berhenti di bawah pohon trembesi yang rindang, mencari tempat yang sedikit lebih tenang untuk menerima panggilan tersebut. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau.

"Hallo.." ucap Lyra dengan nada hati-hati.

Hening sejenak, sebelum suara berat dan serak menjawab dari seberang sana. "Hallo.. Anjing kecilku," suara itu terdengar familiar, namun Lyra tak bisa langsung mengenalinya. Ada nada mengejek dan mengancam dalam setiap kata yang diucapkannya.

Jantung Lyra berdegup kencang. Ia mencoba mengingat-ingat, siapa pemilik suara ini. "Om Revan??" tanyanya dengan nada terkejut.

Tawa sinis terdengar dari seberang sana. "Oh, ternyata kau masih mengenaliku, sayang. Aku kira kau sudah lupa dengan suara om kesayanganmu ini," jawab Revan dengan nada yang membuat bulu kuduk Lyra meremang.

Lyra terdiam, tubuhnya terasa kaku. Ia tak menyangka Revan akan menghubunginya lagi, setelah sekian lama menghilang. Kenangan pahit masa lalu kembali menghantuinya, membuatnya merasa takut dan tidak berdaya.

"Kau masih ingin bermain-main di luar mengejar pejantan tangguh yang sudah membuat kau harus merasakan betapa sakitnya dicambuk dengan ikat pinggang? Aku tahu saat ini kau berada dimana, sayang.." lanjut Revan, suaranya semakin mengancam.

Mendengar itu, Lyra langsung menutup telepon. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya, mengikuti setiap gerakannya. Kata-kata Revan terus terngiang di telinganya, membuatnya semakin ketakutan.

Lyra celingukan, mencoba mencari tahu apakah ada orang yang mencurigakan di sekitarnya. Namun, ia tak melihat siapa pun yang tampak aneh. Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.

Tanpa pikir panjang, Lyra berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan trotoar yang ramai itu. Ia tak tahu kemana harus pergi, yang penting baginya saat ini adalah menjauh dari Revan. Air mata mulai membasahi pipinya, ia merasa sangat ketakutan dan sendirian.

Arkan memandang jam dinding. Pukul 23.00 WIB. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja sudah ia periksa. Arkan tersenyum lega. Waktunya pulang dan istirahat. Hujan deras terdengar lewat jendela. Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela menambah suasana malam semakin dingin. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah telepon masuk dari Sandra.

"Hallo.." jawab Arkan dengan nada lelah.

"Bang, maaf aku mengganggu. Kau dimana, Bang?" tanya Sandra dengan nada cemas.

"Masih di kantor, kenapa?" jawab Arkan, mengerutkan kening.

"Lyra belum pulang, Bang. Aku sudah ke kampus. Mereka bilang Lyra sudah pulang siang tadi. Tapi sampai malam, ia belum pulang juga. Aku khawatir, Bang. Kalau lapor polisi soal kehilangan, harus menunggu 1 x 24 jam, kan? Karena itu.. Aku pikir aku menelponmu saja. Untungnya, entah kenapa hari itu aku menyimpan nomor ponselmu ketika melihat kartu namamu di meja Lyra," jelas Sandra dengan nada panik.

Arkan terdiam sejenak. Ia merasakan firasat buruk. "Kamu dimana?" tanyanya dengan nada serius.

"Aku di rumah Lyra, di teras rumahnya. Menunggu dia pulang. Aku yakin sesuatu terjadi padanya.." jawab Sandra, suaranya bergetar.

"Ok, kamu tunggu disana dan kabari jika dia pulang atau tidak," perintah Arkan.

"Siap, Bang.." jawab Sandra.

"Kamu sudah menghubungi nomornya?" tanya Arkan lagi.

"Tidak diangkat, Bang," jawab Sandra.

"Ok, tetap tenang dan coba hubungi terus. Aku juga akan coba menghubunginya," kata Arkan, mencoba menenangkan Sandra.

"Siap, Bang. Terima kasih ya, Bang.." ucap Sandra dengan nada lega.

Arkan menutup telepon. Ia meraih kunci mobil dan berjalan keluar ruangannya. Di luar, Briptu Donny dan Bripda Wahyu terlihat masih menyiapkan berkas penyidikan.

"Aku pulang, Don.. Wahyu," pamit Arkan.

"Siap, Komandan," jawab Briptu Donny dan Bripda Wahyu serempak.

Arkan berjalan cepat menuju tempat parkir, pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran tentang Lyra. Ia masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan pekarangan polres. Hujan deras semakin mengguyur kota, membuat perjalanan semakin sulit. Jalanan licin dan jarak pandang terbatas. Arkan menyetir dengan hati-hati, namun pikirannya terus tertuju pada Lyra.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Lyra! Arkan segera mengangkatnya. Jantungnya berdegup kencang.

"Hallo.." sapa Arkan dengan nada khawatir.

"Abang..." suara Lyra terdengar menyayat hati. Ada nada putus asa dan ketakutan yang mendalam dalam suaranya.

"Lyra, kamu dimana?" tanya Arkan dengan nada panik.

Lyra tak menjawab, suaranya seperti tertahan oleh tangisan. Hanya isak tangis yang terdengar dari seberang sana.

"Lyra, kamu baik baik saja?" tanya Arkan lagi, suaranya meninggi.

"Bisakah kau menemaniku di sini?" lirih Lyra di tengah tangisnya.

"Kamu dimana?" desak Arkan.

"Di pos depan pemakaman umum di jalan Lembaga.." jawab Lyra dengan suara bergetar.

"Apa?" Arkan terkejut. Ia tahu betul daerah itu. Daerah yang sepi dan angker di pinggiran kota. "Tunggu disana, jangan kemana-mana. Aku segera kesana," perintah Arkan dengan nada tegas.

Arkan mematikan telepon dan memacu mobilnya lebih cepat. Ia membayangkan Lyra sendirian di tempat yang menakutkan itu, hatinya semakin cemas. Ia harus segera sampai disana dan menyelamatkan Lyra.

Lyra duduk meringkuk di pos penjagaan depan pemakaman umum. Hujan deras mengguyur tubuhnya, membuatnya semakin kedinginan. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan tubuhnya yang gemetar. Air mata terus mengalir di pipinya, bercampur dengan air hujan. Ia merasa sangat takut dan sendirian.

Suara lolongan anjing liar dan suara gesekan ranting pohon yang tertiup angin menambah suasana semakin mencekam. Lyra menutup matanya, mencoba mengusir bayangan-bayangan menakutkan yang menghantuinya. Ia terus berdoa dalam hati, berharap Arkan segera datang menjemputnya.

Ia tidak tahu mengapa ia bisa sampai di tempat ini. Setelah menerima telepon dari Revan, ia berlari tanpa arah, hingga akhirnya ia tiba di pemakaman umum ini. Ia merasa seperti ada yang menuntunnya kesini. Tempat yang gelap dan sunyi, tempat yang membuatnya merasa semakin putus asa.

Tiba-tiba, Lyra mendengar suara deru mobil mendekat. Ia membuka matanya dan melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Arkan keluar dari mobil dengan wajah khawatir. Ia segera menghampiri Lyra dan memeluknya erat.

"Lyra, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanya Arkan dengan nada cemas.

Lyra membalas pelukan Arkan, air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa lega dan aman berada di dekat Arkan, melepaskan tangisnya di pelukan lelaki yang ia cintai itu.

"Ada apa?" tanya Arkan, mengelus punggung Lyra dengan lembut.

Lyra tak menjawab, hanya melepaskan tangisnya di dada Arkan. Ia merasa semua beban dan ketakutannya luruh begitu saja saat berada di pelukan Arkan. Lelaki itu adalah tempatnya berlindung, tempatnya merasa aman dan nyaman.

Lelaki itu mengelus rambut Lyra yang basah, tubuhnya benar-benar sudah basah kuyup dan terlihat menggigil. Arkan merasakan tubuh Lyra yang dingin, hatinya semakin perih. Ia tahu, Lyra pasti sangat ketakutan dan kedinginan.

"Kita pulang?" ucap Arkan, tak ingin memaksa wanita itu untuk bercerita, namun ia tahu jika wanita itu sedang memiliki masalah yang berat. Ia ingin membawa Lyra pergi dari tempat yang menakutkan ini, membawanya ke tempat yang aman dan nyaman.

Lyra melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Arkan dengan mata sembabnya. Ia melihat kekhawatiran dari mata lelaki itu.

"Aku antar pulang ya?" ucap Arkan sambil menghapus air mata Lyra dengan lembut. Ia tidak ingin melihat Lyra bersedih, ia ingin melihat senyum di wajahnya.

Wanita itu mengangguk. Arkan membantunya berdiri. Namun tubuhnya oleng. Arkan sigap menangkap tubuh itu agar tak jatuh. Ia memeluk Lyra erat, memastikan wanita itu tidak terluka.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arkan dengan nada khawatir.

Lyra menggelengkan kepalanya. Ia merasa lemas dan pusing. Mungkin karena terlalu lama kehujanan dan ketakutan.

"Aku gendong ya?" tawar Arkan.

Lyra mengangguk lemah. Ia tidak punya tenaga untuk berjalan. Arkan menggendong Lyra, membawanya masuk ke dalam mobil. Ia meletakkan Lyra dengan hati-hati di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman.

Arkan kemudian berlari ke sisi pengemudi dan masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan penghangat mobil dan memberikan jaketnya kepada Lyra.

"Pakai ini, biar tidak kedinginan," ucap Arkan, menyelimuti tubuh Lyra dengan jaketnya.

Lyra menerima jaket Arkan dan memakainya. Ia merasa sedikit lebih hangat dan nyaman. Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil dan menutup matanya. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk. "Kamu belum makan?" tanya Arkan. Lyra menggeleng. "Kita cari makan. Perutmu jangan dibiarkan lapar." "Aku tidak lapar." "Kamu harus makan." Lyra terdiam, memilih untuk mengikuti saja apa yang disarankan Arkan. Mobil itu bergerak meninggalkan pemakaman umum.