Hujan deras baru saja reda, meninggalkan jejak dingin yang menusuk tulang. Arkan menghentikan mobilnya di depan sebuah warung makan sederhana yang tampak ramai. Lampu-lampu temaram dari dalam warung memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam. Aroma masakan yang menggugah selera menyeruak dari dalam, bercampur dengan bau tanah basah dan embun yang menempel di dedaunan.
Arkan menoleh pada Lyra, yang duduk di sampingnya dengan wajah pucat. "Pakaianmu basah," ucapnya lembut, memperhatikan bagaimana gadis itu menggigil meski sudah mengenakan jaketnya.
Lyra hanya mengangguk pelan. "Iya," jawabnya lirih, melepaskan jaket Arkan yang tadi dikenakannya. Jaket itu memang sedikit membantu menghangatkan tubuhnya, tetapi tetap saja tidak cukup untuk melawan dinginnya malam.
Arkan meraih sebuah kaos yang masih baru di jok belakang. "Pakai ini," katanya, menyerahkan kaos itu pada Lyra. "Aku tunggu di luar."
Tanpa menunggu jawaban, Arkan turun dari mobil dengan menutupi kepalanya menggunakan jaket yang tadinya dikenakan Lyra. Ia tahu Lyra pasti merasa tidak nyaman berganti pakaian di dalam mobil yang sempit, apalagi dengan kondisinya yang sedang tidak baik.
Lyra melihat dari kaca. Arkan bersandar di mobil membelakangi, memberikan privasi agar Lyra merasa nyaman mengganti pakaiannya. Ia menghela napas lega dan mulai mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos yang diberikan Arkan. Kaos itu terasa hangat dan nyaman di kulitnya, sedikit mengurangi rasa dingin yang menusuk.
Tak lama kemudian, Lyra membuka pintu mobil. "Sudah?" tanya Arkan, berbalik menghadapnya.
"Ya," jawab Lyra, keluar dari mobil. Namun, baru beberapa langkah ia mencoba berjalan, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari telapak kaki hingga ke betisnya. Ia meringis dan berhenti, memegangi kakinya.
"Kenapa?" tanya Arkan khawatir, mendekat padanya.
"Kakiku tidak kuat untuk berjalan," jawab Lyra dengan suara lirih. Ia mencoba menggerakkan kakinya lagi, tetapi rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.
Arkan menatapnya dengan prihatin. "Aku gendong," tawar Arkan, tanpa ragu.
"Tidak usah, aku malu," tolak Lyra, wajahnya memerah. Ia tidak ingin merepotkan Arkan, apalagi di tempat umum. Ia tahu beberapa orang di warung makan itu memperhatikannya.
Arkan tersenyum lembut. "Sudah malam, tidak ada yang melihat. Lagipula, aku tidak keberatan sama sekali," kata Arkan, mencoba meyakinkan Lyra. Arkan turun dari mobil dan berjalan memutar ke sisi penumpang. Ia membukakan pintu untuk Lyra, lalu berjongkok di depannya.
"Naiklah ke punggungku," ucap Arkan, menatap Lyra dengan tatapan penuh kasih sayang.
Lyra terdiam sejenak. Ia ragu-ragu, namun rasa sakit di kakinya semakin menjadi-jadi. Ia tidak punya pilihan lain.
"Kakiku lecet," ucap Lyra, akhirnya. Ia baru menyadari kalau kakinya yang terasa dingin itu sangat perih. Ia mencoba menggerakkan jari-jari kakinya, namun rasa sakitnya semakin terasa.
Arkan mengerutkan kening. Ia khawatir dengan kondisi Lyra. "Mana yang lecet?" tanyanya dengan nada cemas.
Lyra menunjuk telapak kakinya yang terasa sakit. "Di sini."
Arkan meraih kaki Lyra dengan hati-hati. Ia melihat telapak kaki Lyra yang memerah dan terdapat beberapa luka lecet di bagian atas tumitnya. Ia tahu, Lyra pasti sangat kesakitan.
"Sebentar ya," ucap Arkan, lalu berjalan kembali ke mobil. Ia membuka pintu belakang dan meraih kotak obat yang selalu ia bawa di dalam mobilnya. Ia selalu siap sedia dengan kotak obat itu, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Arkan kembali menghampiri Lyra dan berjongkok di depannya. Ia membuka kotak obat dan mengambil kapas, alkohol, dan obat antiseptik.
"Aku obati dulu ya," ucap Arkan, menatap Lyra dengan tatapan lembut.
Lyra mengangguk lemah. Ia membiarkan Arkan mengobati kakinya dengan hati-hati. Ia merasakan sentuhan lembut Arkan di kakinya, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Arkan membersihkan luka lecet di kaki Lyra dengan kapas yang telah dibasahi alkohol. Lyra meringis kesakitan, namun ia berusaha menahannya.
"Tahan sebentar ya, biar tidak infeksi," ucap Arkan, menenangkan Lyra. Ia tahu alkohol pasti terasa perih di luka, tetapi ia harus membersihkannya agar tidak terjadi infeksi.
Setelah membersihkan luka, Arkan mengoleskan obat antiseptik di telapak kaki Lyra. Ia kemudian membalut kaki Lyra dengan perban agar terlindung dari kotoran.
"Sudah selesai," ucap Arkan, tersenyum lembut. "Sekarang, naiklah ke punggungku."
Arkan kembali berjongkok di depan Lyra. Kali ini, Lyra tidak menolak lagi. Ia memeluk leher Arkan dengan erat dan naik ke punggung lelaki itu. Ia merasa sedikit bersalah karena merepotkan Arkan, tetapi ia benar-benar tidak bisa berjalan.
Arkan berdiri dengan hati-hati, memastikan Lyra tidak terjatuh. Ia memeluk kaki Lyra agar tidak menggantung dan membuatnya tidak nyaman.
"Sudah siap?" tanya Arkan, memastikan Lyra sudah merasa nyaman.
"Sudah," jawab Lyra, tersenyum tipis. Ia merasa aman dan nyaman di punggung Arkan.
Arkan berjalan menuju warung makan dengan Lyra di punggungnya. Ia berjalan dengan hati-hati, menghindari jalanan yang berlubang dan becek. Ia tidak ingin Lyra merasa tidak nyaman atau terjatuh.
Para pengunjung warung makan menatap Arkan dan Lyra dengan tatapan aneh. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, tetapi Arkan tidak peduli. Ia hanya ingin memastikan Lyra merasa nyaman dan aman.
Sesampainya di warung makan, Arkan mencari tempat duduk yang kosong. Ia memilih tempat duduk di pojok warung, agar Lyra tidak terlalu menjadi pusat perhatian.
Arkan menurunkan Lyra dengan hati-hati dari punggungnya. Ia mendudukkan Lyra di kursi dan memastikan wanita itu merasa nyaman.
"Kamu tunggu di sini ya, aku pesan makanan dulu," ucap Arkan, mengusap rambut Lyra dengan lembut.
Lyra mengangguk lemah. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya di meja dan menutup matanya.
Arkan berjalan menuju meja pemesanan dan memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas teh hangat. Ia kemudian kembali ke tempat duduknya dan menunggu pesanan datang.
Sambil menunggu pesanan datang, Arkan memperhatikan Lyra yang tertidur pulas di meja. Ia merasa kasihan melihat Lyra yang kelelahan. Ia tahu, Lyra pasti mengalami hari yang berat.
Arkan mengelus rambut Lyra dengan lembut. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan selalu menjaga dan melindungi Lyra, apapun yang terjadi. Ia mencintai Lyra lebih dari apapun di dunia ini.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Arkan membangunkan Lyra dengan lembut.
"Lyra, bangun.. makan dulu ya," ucap Arkan, menggoyangkan bahu Lyra dengan pelan.
Lyra membuka matanya dengan perlahan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitarnya.
"Sudah sampai?" tanya Lyra, dengan suara serak.
"Sudah. Ini, makan dulu ya," jawab Arkan, menyodorkan seporsi nasi goreng ke hadapan Lyra.
Lyra menerima nasi goreng dari Arkan dan mulai makan dengan lahap. Ia merasa sangat lapar setelah hampir seharian tidak makan. Hanya berlari dan berlari tanpa tujuan. Tangannya gemetar, antara rasa lapar dan rasa dingin yang menusuk seluruh tubuhnya.
Arkan meraih sendok. "Aku suapkan saja," putus Arkan, melihat tangan Lyra yang masih gemetar dan kesulitan memegang sendok. Ia mengambil nasi goreng dari piring Lyra, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke mulut Lyra.
Lyra menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. Perlakuan Arkan yang begitu lembut dan penuh perhatian membuatnya merasa sangat tersentuh. Ia membuka mulutnya, menerima suapan pertama dari Arkan. Nasi goreng yang hangat terasa nikmat di lidahnya, memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Pelan-pelan saja makannya," kata Arkan, menyuapi Lyra lagi. Ia terus menyuapi Lyra hingga separuh porsi nasi goreng itu habis.
"Sudah cukup, Bang. Aku sudah kenyang," ucap Lyra, merasa lebih baik.
"Minum teh hangatnya dulu," kata Arkan, menyodorkan segelas teh hangat. Lyra meminum teh itu perlahan, merasakan kehangatan yang menenangkan.
"Sekarang, ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arkan, setelah Lyra selesai makan dan minum. Nada suaranya lembut, namun ada ketegasan di dalamnya. Ia ingin tahu apa yang membuat Lyra seperti ini.
Lyra terdiam sejenak, menundukkan kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Ra?" panggil Arkan, lembut. Ia tahu Lyra masih belum siap untuk bercerita. Ia tidak ingin memaksa Lyra.
"Aku ngantuk, Bang.. Capek, ingin pulang," ucap Lyra, lirih. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia tidak ingin mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Ia hanya ingin tidur dan melupakan semuanya.
"Ya sudah, ayo.." jawab Arkan, mengerti. Ia tidak akan memaksa Lyra untuk bercerita jika wanita itu belum siap. Ia akan selalu ada untuk Lyra, apapun yang terjadi.
Arkan berdiri dan membantu Lyra berdiri. Ia melihat mata Lyra yang sayu dan wajahnya yang pucat. Ia tahu Lyra sangat kelelahan.
Arkan menggendong Lyra dengan hati-hati dan membawanya keluar dari warung makan. Ia berjalan menuju mobil dengan langkah pelan, menghindari jalanan yang berlubang dan becek.
Sesampainya di mobil, Arkan membuka pintu penumpang dan membaringkan Lyra di kursi. Ia menyelimuti Lyra dengan jaketnya dan memastikan wanita itu merasa nyaman.
Arkan menutup pintu mobil dengan pelan dan berjalan memutar ke kursi pengemudi. Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Ia melirik Lyra yang sudah tertidur pulas di kursi penumpang.
Arkan menghela napas panjang. Ia tahu Lyra pasti menyimpan sesuatu yang berat di hatinya. Arkan menjalankan mobilnya dengan perlahan, meninggalkan warung makan yang ramai dan menuju ke rumah Lyra.