Pedang Giok Hitam_Bho khong

01 October 2025

Sementara itu di sebuah kota yang pernah dilewati Elang dan Sher, nampak dua pemuda tampan sedang duduk santai berbincang, sepertinya perbincangan itu sangat menarik.

"Andai kedua orang itu kembali lagi, aku tak akan segan mengajaknya duel. Kau tahu bukan seni bela diriku sudah semakin mahir."

"Iya aku percaya, tapi pastinya mereka akan lewat sini, karena ini adalah kota satu-satunya yang harus dilalui.

"Betul sekali."

Brak! Perbincangan itu terhenti tatkala sebuah suara yang keras berasal dari sebuah warung.

"Aku akan penggal kepalamu, kalau ketahuan kau mencuri lagi!"

Seorang lelaki dengan pakaian warna hitam, sudah menarik kerah baju lelaki kecil dan membuangnya begitu saja. Tubuh kerempengnya seketika jatuh begitu keras ke lantai.

"Ah, kau lagi Bho Khong, apa sudah bosan hidup hah! Kau mencuri apa lagi?" tanya beberapa warga dan tak pedulikan lelaki kecil itu kewalahan dalam berdiri. Tubuhnya yang lemah terus saja berusaha untuk segera bangkit.

Tak pedulikan pertanyaan banyak dari warga, dia berjalan pelan menuju sudut pasar dan meluruskan tubuhnya perlahan. Matanya liar menatap semua warga yang lewat di depannya. "Ah, semua sama saja, pandangan yang sama juga, selalu sama pula," ucapnya kesal dan melempar sebuah batu kecil sembarang ke arah depan. Dia sebenarnya adalah lelaki berusia 50 tahun lebih, tapi dirinya terperangkap dalam tubuh anak kecil berusia 10 tahun, namanya Bho Khong. Tak tahu anak siapa dan tinggal di mana, dia selalu mencuri makanan untuk sekadar mengganjal perutnya yang lapar, tapi tak ada yang merasa belas kasihan pada lelaki itu. Bertahun-tahun dirinya terperangkap dalam tubuh yang tak pernah tua dan tak bisa gemuk, selalu lemah dan tak berdaya, yang menjadikan heran, sekeras apa pun tubuhnya dilempar, dia tak akan cedera serius ataupun terluka, apa lagi mati. Kutukan dari Huang Hu yang menjadikan dirinya seperti itu. Dialah yang membocorkan kelakuan istri tua dari Huang pada Shang Fu. Namun, berimbas penderitaan seumur hidupnya. Tubuhnya yang kecil bisa menyembunyikan diri dari serangan Huang kala itu.

Bho tak bisa membedakan mana monster dan yang mana manusia.

Kali ini, ditatapnya lagi seseorang yang sedang membeli makanan di sudut pasar, keranjang makanan itulah sasaran Bho.

Pelan dirinya pura-pura mendekati dan melihat pemandangan, setelah dekat, tangannya dengan cekatan mengambil keranjang tersebut dan membawanya berlari secepat mungkin menghindari teriakan maling. Larinya Bho Khong sangat cepat sekali, karena tubuhnya yang kurus seakan melayang melesat. Setelah sampai di tempat yang dirasakan aman, Bho mulai membuka keranjang tersebut, matanya berbinar bahagia, karena di hadapannya ada beberapa roti dan minuman serta kacang-kacangan siap santap. Dalam sekejap saja makanan tersebut habis dilahapnya.


Kembali lagi pada Sher dan Elang, yang sudah kekenyangan dengan makanan yang super nikmat buatan Bibi A-Lung.

"Aku kenyang sekali." Elang pun mengelus perutnya.

"Duduklah dekat Kakek, ada yang ingin aku bicarakan," seru Shang Fu.

"Wah, aku pasti akan mendapat sesuatu nih," ujar Elang berjalan santai mendekati kakeknya.

"Banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Juga tentang pedang yang tak mau jauh darimu itu."

Elang sampai lupa bahwa pedangnya masih juga terikat di pinggangnya. Aneh aku bisa bebas tanpa terganggu dengan pedang yang panjang ini? Pikir Elang dan hendak melepas ikatan pedang tersebut.

"Jangan kau lepas, kau mulai terbiasa dengan pedang itu bukan?"

"Betul Kek, dan aku mulai mengenalinya."

Kakek tersenyum dan menepuk pundak kiri cucunya lalu berbisik, "pedang itu akan semakin hebat bila kau bisa temukan batu giok hitam pasangan dari pedang itu, dan kau akan menjadi yang tak terkalahkan."

"Benarkah Kek? Aku mau mencarinya. tapi di mana?"

"Mana aku tahu, kalau aku tahu pasti aku sudah menemukannya dari dulu. pedang itu memang menunggumu."

"Ah kakek ada-ada saja, mana mungkin sebuah pedang ...." Belum selesai kalimatnya, sebuah benda jatuh terdengar dari luar, lalu tak lama sebuah jeritan dari warga terdengar. Elang segera bangkit dan keluar melihat keadaan yang telah terjadi. Sungguh kaget dirinya, di depan rumah kakeknya telah berdiri sesosok makhluk besar berbulu hitam, gigi taringnya siap menerkam siapa saja, ada sepasang tanduk berwarna ungu. Tunggu, bukankah ini yang disebut monster, batin Elang.

Mata Makhluk itu tajam menatap Elang dan tampak mundur sesaat.

"Kau!"

Elang balas menatapnya, matanya sudah berwarna emas, dan sekali lompat dirinya hendak melawan makhluk yang tingginya lima kali lipat tinggi tubuhnya. Tapi apa? Monster itu malah mundur! Dia tak mau menyerang, dengan langkah panjangnya, dia lari dan langsung menghilang masuk ke dalam hutan.

Baru sadar, Elang, melihat dari jauh, Sherlyn jatuh tergeletak tak sadarkan diri.

"Sher!!!" Elang langsung berlari mendekati tubuh gadis itu.

Dari dalam rumah, Shang Fu terdiam, masih dalam keterkejutannya, wajahnya terlihat pucat, pelan dirinya menyebut 'Huang Hu'.

Sher sudah siuman, matanya membulat melihat Elang dan segera memeluknya erat.

"Aku lihat monster, besar sekali. Seram. Mata emasku tak sanggup menembusnya." Ada rasa ketakutan yang luar biasa pada diri Sher. Entah tidak biasanya Sher setakut ini.

"Monster itu telah pergi, dia takut pada Elang," jelas Bibi A Lung.

Sher segera melepaskan pelukan tersebut dan tersenyum malu karena menyadari sesuatu.

"Aku melihat tanduk ungu pada monster itu, itu yang aku lihat pada saat melihat mimpi Elang. Makanya aku ...."

"Dia Huang Hu, manusia yang kini tak bisa kembali ke asalnya, ia sudah aku buang ke suatu tempat, tapi mengapa ia bisa hadir lagi ke dunia ini? Ia takut pada Elang karena ia mengira kau adakah diriku," jelas Shang Fu memotong kalimat Sher.