Brak! Sebuah meja terbang ke tembok hingga pecah berantakan dan bersepai di lantai kayu warna cokelat tua. Beberapa orang yang berada di dekatnya menunduk ketakutan, kali ini Tuan rajanya mengamuk! Wajahnya semakin garang, bahkan tenaganya semakin kuat, ia bisa membunuh sekali tebas, kukunya panjang dan runcing, bahkan kaki yang biasanya tak menampakkan wujudnya, kini terlihat semakin tinggi menopang tubuhnya yang tinggi menjulang hingga hampir mencapai atap .
"Kalian BODOH! Mengapa tak ada yang laporan padaku tentang keadaan Shang Fu, kau bilang dia sudah tewas, tapi sekarang aku lihat dengan pedangnya, berdiri masih dengan gagahnya.!!!!" Sekali lagi, kaki itu menghentak ke lantai dengan kerasnya..
"Tenangkan emosimu, Tuan, mungkin tuan salah lihat, dia manusia biasa tak mungkin dalam keadaan masih muda Tuan Raja," kata sang Patih membela diri atas segala laporannya pada Tuannya.
Huang mendengus dengan kasar, "Aku tunggu kabarmu tentang dia!!! Aku tak mau terulang lagi, mati dua kali di tangan lelaki sama dan sialan itu!"
Semua menunduk, mereka tahu ketakutan dan kekhawatiran atas diri Tuan Rajanya. Kesakitan yang teramat sangat, hingga bertahun-tahun tanpa ada kata sembuh. Keinginan dan ambisinya mengalahkan rasa sakitnya, hingga timbul balas dendam yang membara.
Perlahan tubuh Huang kembali seperti semula, dalam hitungan detik saja wajah tampan palsunya terlihat tapi lagi-lagi kepala monsternya menggantikan kepalanya.
"Hgrghhhh!" Aku benci dengan kepalaku sendiri, bang–sat kau Shang Fu!"
Huang masih menyumpah serapah pada Shang Fu.
Ternyata taktik Shang Fu berhasil, dengan menyuruh istri dan kedua anaknya pergi sejauh mungkin dari kotanya, dan dirinya langsung mengasingkan diri di pegunungan Shahua. Walaupun pengorbanan perasaan dan jiwanya sangatlah besar, memendam rindu dalam pengasingannya. Perlahan para panglima yang tergeser dari kerajaan. yang dipimpin Huang mencari Shang Fu dan tinggal bersama sampai kini di pegunungan Shahua.
Kawasan pegunungan itu memang amat tenang, mereka hidup dengan menjual berbagai pisau dan senjata tajam dari logam. Mereka menyembunyikan identitas diri mereka dari pemerintah dan masyarakat luas. Letak desa yang tersembunyi dari balik gunung membuat mereka tak tersentuh oleh pengaruh para monster. Hingga tiba-tiba saja Huang turun tangan karena para menterinya tak berikan infonya yang akurat tentang keberadaan musuh besarnya itu. Padahal yang ia lihat adakah Elang yang terlihat berpakaian lengkap karena pedang giok hitam yang terus terselip pada pinggangnya.
Malam penentuan pun tiba, di penanggalan purnama ke empat puluh sembilan, Huang akan mendapatkan kesempatan hidup kembali. Shang Fu menunggu hal tersebut untuk mencegahnya!! Bertepatan pula dengan hadirnya cucu yang ditunggunya. Takdir telah berbicara.
Dua wanita istri Huang hu yang terkenal kejam dan licik itu merencanakan sesuatu di balik Tuan raja sebagai suaminya.
"Dengar Ji, aku tak mau tahu, pokoknya selama aku ada kau tak berhak atas kewenanganku dalam kota itu."
"Aku tak peduli Hiu! Kau yang memulai ini semua, kupikir hal ini tak terbaca olehku, hingga kau liarkan nafsumu untuk mendapatkan orang-orang kepercayaanmu, bahkan kau buat salah satu kota tak ada aturan sama sekali, liar seperti dirimu, justru itu yang nanti akan menjadi lawan Huang."
"Ha ha ha ha, itu tujuanku kan, tenang saja kau akan mendapatkan sebuah kota dengan orang-orang yang akan memujamu dan kau akan menjadi ratu, mau?!"
"Tentu saja mau!"
Keduanya pun tertawa kembali.
"Jagoanku lebih kuat dari Huang, yang di takuti adalah pedang milik Shang Fu. tak menyadari ada monster lain yang mengancam kedudukan Huang!"
"Kau betul Hiu, aku ingin lihat dia meratap penuh penderitaan, seperti yang dia lakukan padaku," ucapnya penuh kebencian saat dirinya diperlakukan tak menyenangkan oleh suaminya
Ji-jiang menatap adik madunya dalam kemarahan pula.
Huang yang tipe pemberang dan bengis membuat mereka mendapatkan bagian dari sifat suaminya tersebut.
Dalam kehidupan yang lain, sebuah kerajaan besar milik keluarga Huang hu, sedang mengadakan rapat untuk keperluan Huang ini.
"Aku harap dia mampu mengemban semua tugasnya di dunia, sepertinya dia ingin mempercepat keinginannya menjadi lahir kembali."
Semua jajaran monster itu mulai mempersiapkan hal tersebut. Berharap Huang akan hadir kembali bersama mereka di alam manusia dalam bentuk manusia terkuat.
Sherlyn tampak menatap hutan dari kejauhan, di mana saat itu dirinya kaget luar biasa, saat melihat penampakan Huang Hu dalam bentuk monster yang sangat besar, dirinya tak mampu mengendalikan pengaruh dari mata emasnya. Dimensinya tak bisa melewati monster itu hingga tubuhnya terpelanting dan akhirnya pingsan.
"Kau sudah baikkan Sher? Kau membuatku takut." Sebuah suara mendekat dan berdiri di dekat Sherlyn.
"Aku melihat sosok itu tiba-tiba datang, entah dari sudut yang mana? Hingga aku tak bisa menembusnya." bisik Sher.
Elang menatap hutan tersebut dari jauh.
"Kau tahu, monster itu kaget melihatku, dan dia mundur kala menatap mataku, entahlah aku belum tanyakan hal ini pada kakek, rupanya kakek terlihat shock atas kemunculannya."
Keduanya terdiam lagi. "Sher, aku tak mau membebanimu dalam masalahku, tapi sosok monster itu yang pernah masuk dalam mimpiku berulang kali yang ku ingat adalah bentuk tanduknya."
Sher memandang Elang, dan keduanya berganti melihat ke arah Shang Fu yang terbaring lemah.
Segera Elang kembali ke pinggir ranjang kakeknya, begitu juga Sherlyn.
"Tunggu, biarkan kakekmu tidur. Aku punya ide, semoga beliau tak marah."
"Kau mau apa Sher?!" tanya Elang bingung melihat Sher mulai bersiap dengan sikapnya duduk bersila dan memegang tangan Shang Fu.
"Aman, ayo, pegang tanganku, tapi ingat pelan-pelan saja kau berkonsentrasi."
Elang segera menggandeng tangan mungil Sherlyn, dan gadis itu mulai membuka tabir dimensi kehidupan Shang Fu.
Sher dan Elang masuk ke dalam jiwa Sang Fu.
"Kakek!" panggil Elang pada kakeknya yang menghadap ke belakang. Saat sang kakek berbalik keduanya sama-sama terkejut, wajah kakek kembali muda dan hampir mirip dengan wajah Elang. Sher mencoba untuk meminta info dari Shang Fu muda.
Lewat batin keduanya, Sher kini tahu sejarah di masa lampau panglima besar tersebut. Begitu juga Elang hingga jiwanya ikut melayang atas cerita tersebut.
Setelah cukup lama dalam dimensi tersebut, akhirnya Sherlyn segera menarik Elang untuk kembali ke alamnya lagi.
Keduanya saling menarik napas. Beruntung kembali dalam keadaan selamat. Terlihat Kakek Shang Fu masih tertidur pulas.
"Sher." Elang menatap Sherlyn.
"Aku tahu sekarang, mengapa pedang itu terus mengikutimu, karena kaulah Shang Fu."
Elang terdiam, "Bagaimana aku harus temukan batu giok hitam itu?"
Sherlyn keluar dan memandang hutan larangan tersebut.
"Pasti ada di sana, aku percaya pasti di sana!"
Elang mengikuti Sherlyn, "betulkah?!"
"Iya."
"Kita tanya pada Bibi A Lung, Ayooo."
Mereka pun mendatangi rumah Bibi A Lung.
Lalu menceritakan semuanya pada Bibi A Lung.