Drama #Drama

Nikahi aku

Penulis sanzfy
01 October 2025

Mobil Arkan berhenti tepat di pekarangan rumah Lyra. Rumah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi oleh lampu teras yang redup. Arkan mematikan mesin mobil dan menghela napas lega. Perjalanan dari warung makan ke rumah Lyra terasa begitu panjang dan melelahkan, meskipun sebenarnya tidak terlalu jauh.

Karena Lyra tertidur pulas, Arkan meminta Sandra, sahabat Lyra yang menunggu di rumah, untuk menunjukkan alamat. Sandra memang sudah menghubunginya beberapa kali, menanyakan keberadaan Lyra. Arkan merasa bersyukur ada Sandra yang peduli pada Lyra.

Arkan menoleh ke arah Lyra yang masih terlelap di kursi penumpang. Dipandanginya wajah Lyra yang tidur, ada air mata di sudut mata di wajahnya yang cantik itu. Entah pukulan seberat apa yang dialami wanita itu hingga terlihat begitu tertekan. Arkan merasa hatinya terenyuh melihat Lyra seperti ini.

Arkan memang tak terlalu mengenal Lyra. Mereka hanya berjumpa tiga kali. Pertemuan pertama mereka terjadi di depan gerbang sekolah, ketika motor yang dibawa Sandra alias Sandy yang membonceng Arkan hampir menabraknya. Saat itu dengan sangat ceria, Lyra meneriakkan namanya pada Arkan. Pertemuan kedua secara tidak sengaja di depan warung jus, saat Arkan ingin menjemput kakaknya yang adalah guru SMA Lyra. Pertemuan ketiga atau terakhir adalah ketika Lyra hampir tertabrak oleh motornya. Saat itu Arkan untuk pertama kalinya melihat seorang lelaki menyeret Lyra pulang saat Arkan akan mengantarnya ke klinik untuk berobat. Sejak itu ia tak pernah bertemu Lyra. Lewat sahabatnya Lyra, Sandra, Arkan baru mengetahui kalau Lyra dibawa ke Australia oleh laki-laki hari itu, lelaki paruh baya yang disebut Sandra sebagai orang yang memelihara Lyra. Lelaki bernama Revan. Nama yang sama dengan yang diucapkan Lyra malam itu.

Arkan menghela nafas. Dielusnya kepala Lyra dengan lembut sembari membangunkannya. "Ra.." panggilnya dengan suara pelan.

Lyra menggeliat pelan dan membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitarnya. "Sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak.

"Sudah," jawab Arkan, tersenyum lembut. "Ayo, kita masuk."

Lyra mencoba duduk tegak, tetapi tubuhnya terasa lemas dan sakit. Ia meringis pelan.

"Kenapa?" tanya Arkan khawatir.

"Badanku sakit semua," jawab Lyra lirih.

Arkan menatap Lyra dengan prihatin. "Aku gendong saja ya," tawarnya.

Lyra menggeleng pelan. "Tidak usah, Bang. Aku bisa jalan sendiri, dari tadi kau sudah menggendongku. Aku pasti sangat berat," tolaknya.

"Tapi kamu kelihatan lemas sekali," kata Arkan, khawatir. "Lagi pula yang lebih berat darimu saja sudah pernah aku gendong."

Lyra tersenyum mendengar canda ringan Arkan.

"Tidak apa-apa, Bang. Aku hanya sedikit pusing," jawab Lyra, mencoba meyakinkan Arkan.

Arkan menghela napas. "Baiklah, tapi kalau kamu tidak kuat, bilang ya," ucapnya.

Lyra mengangguk pelan. Arkan membukakan pintu mobil untuk Lyra dan membantunya keluar. Lyra berjalan dengan langkah pelan dan hati-hati menuju pintu rumah.

Saat mereka sampai di depan pintu, Sandra langsung menyambut mereka dengan wajah khawatir. "Lyra! Kamu dari mana saja? Aku khawatir sekali," ucap Sandra, memeluk Lyra erat.

"Aku baik-baik saja, San," jawab Lyra, membalas pelukan Sandra.

Sandra menatap Arkan dengan tatapan berterima kasih. "Terima kasih banyak, Bang Arkan. Kamu sudah menemukan Lyra," ucap Sandra.

"Sama-sama, San. Aku senang bisa membantu kalian," jawab Arkan, tersenyum. "Lagi pula l, sudah tugasku untuk membantu Masyarakat."

"Ayo, masuk dulu," ajak Sandra.

Arkan dan Lyra masuk ke dalam rumah. Rumah itu tampak sederhana tetapi bersih dan rapi. Sandra mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.

"Kamu tunggu di sini ya, Ra. Aku buatkan teh hangat dulu," ucap Sandra.

"Tidak usah repot-repot, San," jawab Lyra.

"Tidak apa-apa, Ra. Kamu pasti butuh minum sesuatu yang hangat," kata Sandra, lalu pergi ke dapur.

Arkan duduk di samping Lyra di sofa. Ia memperhatikan Lyra dengan tatapan khawatir. "Kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya.

Lyra mengangguk pelan. "Iya, Bang. Aku hanya sedikit lelah," jawabnya.

Arkan menghela napas. Ia tidak percaya dengan jawaban Lyra. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lyra. "Kamu bisa cerita padaku kalau ada apa-apa," ucapnya.

Lyra terdiam sejenak.

"Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Arkan, memecah kesunyian.

"Soal apa?" tanya Lyra, menatap Arkan dengan rasa ingin tahu.

"Malam itu.. 8 tahun yang lalu. Seseorang yang kamu panggil Om Revan, menyeretmu pulang," ucap Arkan, mencoba mengingat kejadian yang dilihatnya dulu.

Lyra menatap wajah Arkan. Tidak mengira sama sekali kalau Arkan akan ingat kejadian itu. Ia terkejut dan merasa sedikit malu.

"Apa dia tidak melakukan hal jahat saat kamu tiba di rumah?" tanya Arkan, menatap Lyra dengan tatapan menyelidik.

Lyra terdiam sesaat. Peristiwa malam itu, saat Revan memukulkan ikat pinggang ke punggungnya dan menariknya masuk ke kamar kembali melintas di kepalanya. Lyra menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan Arkan. "Tidak. Om Revan memang marah. Tapi itu karena dia khawatir karena kehilangan kontak. Memang om saat itu bicara sangat kasar. Tapi.. Om sudah minta maaf padaku," jawab Lyra, mencoba menutupi kebenaran.

Arkan menatap Lyra dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu Lyra sedang menyembunyikan sesuatu. Ia bisa melihatnya dari tatapan matanya yang gelisah dan suaranya yang bergetar.

"Jangan bohong."

"Aku tidak bohong."

"Dimana dia?"

"Masih menetap di Australia."

"Baiklah.. Aku pulang. Kamu istirahat ya?" ucap Arkan, berdiri dari duduknya. Percuma memaksa Lyra untuk bicara.

"Ya, terimakasih, Bang," jawab Lyra, merasa bersalah karena telah berbohong pada Arkan.

Arkan tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu, namun Lyra tiba-tiba memegang tangannya.

"Boleh aku minta sesuatu padamu, Bang?" tanya Lyra dengan suara pelan.

Arkan menoleh, menatap Lyra dengan tatapan bingung. "Apa?"

"Nikahi aku," ucap Lyra, menatap Arkan dengan tatapan memohon.

"Apa?" Arkan terkejut mendengar permintaan Lyra yang begitu tiba-tiba. Ia tidak menyangka Lyra akan memintanya untuk menikahinya.

"Aku tahu ini aneh, Bang. Tapi aku tidak punya pilihan lain," ucap Lyra, air mata mulai menetes di pipinya.

"Kenapa kamu memintaku untuk menikahimu?" tanya Arkan, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, Bang. Tapi aku mohon, nikahi aku," ucap Lyra, menggenggam tangan Arkan erat.

Arkan terdiam sejenak. Ia menatap Lyra dengan tatapan bingung dan khawatir. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lyra. Ia tidak tahu apa yang membuatnya memintanya untuk menikahinya.

"Aku butuh perlindungan, Bang. Aku butuh seseorang untuk melindungiku.."

"Istirahatlah.. Kamu sepertinya lelah," ucap Arkan.

"Jika ini karena Azura, aku akan memberanikan diri untuk memintamu padanya. Aku ingin ia membiarkanmu menikahiku. Tidak untuk apapun. Tidak perlu harus mencintaiku. Tidak perlu memperlakukan aku sebagai istri syah. Kalau perlu, aku akan menandatangani kontrak. Kau tak perlu menyentuhku dan memperlakukan layaknya seorang istri. Cukup lindungi aku saja dari rasa takut yang seumur hidup menghantuiku.."