Drama #Drama

Ok, setuju

Penulis sanzfy
02 October 2025

Lyra menghembuskan napas berat. Kedua tangannya ia letakkan di kepala, meremas rambutnya dengan frustrasi. "Ya Tuhan... Bagaimana aku bisa meminta hal memalukan seperti itu?" gumamnya, suaranya terdengar putus asa. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menahan malu yang membakar pipinya mengingat kejadian minggu lalu. "Aku bisa-bisanya meminta Bang Arkan menikahiku. Aku tidak punya muka untuk berjumpa dengannya lagi. Bagaimana ini, Sandra?"

Sandra, sahabatnya yang duduk di hadapannya di meja makan, tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema di seluruh ruangan, membuat Lyra semakin merasa malu dan kesal.

"Sandra! Jangan tertawa! Ini bukan hal yang lucu!" seru Lyra, mengangkat wajahnya dan menatap Sandra dengan tatapan kesal.

Sandra berusaha meredakan tawanya, namun bibirnya masih berkedut menahan geli. "Maaf, Ra, maaf. Tapi kau ini lucu sekali. Bagaimana bisa kau melamar seorang pria yang baru kau kenal beberapa kali?" ucap Sandra, masih dengan nada geli.

"Aku juga tidak tahu! Aku panik saat itu. Pikiranku entah kemana," jawab Lyra, suaranya terdengar frustrasi.

"Tapi tetap saja, Ra. Melamar seorang pria adalah hal yang gila. Apalagi kau tidak terlalu mengenalnya," kata Sandra, menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lyra menghela napas. "Ah, Lyra... Kau sungguh memalukan."

"Lalu, bagaimana sekarang? Apa Bang Arkan menghubungimu lagi?" tanya Sandra, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Lyra menggeleng pelan. "Tidak. Setelah malam itu, dia tidak menghubungiku lagi. Mungkin dia jijik padaku," jawab Lyra, suaranya terdengar sedih.

"Jangan bicara seperti itu, Ra. Bang Arkan bukan tipe pria seperti itu. Mungkin dia hanya bingung dengan permintaanmu," kata Sandra, mencoba menghibur Lyra.

"Tapi tetap saja, aku malu sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengannya lagi," ucap Lyra.

Tiba-tiba, Sandra menunjuk ke arah pintu masuk kafe. "Itu dia," Sandra melihat Arkan yang masuk bersama seorang wanita. "Loh, itu perempuan yang hari itu memanggil Bang Arkan saat aku di rumah sakit menunggumu setelah kena tikam. Kalau tidak salah namanya Mecca."

Mata Lyra memicing. "Ah, kupikir dia pria dingin tak tersentuh wanita. Ternyata dunianya dipenuhi wanita cantik. Playboy character!" dengus Lyra, mencoba menyembunyikan rasa sakit hatinya di balik nada sinis. "Biar aku kerjain saja."

Sandra menatap Lyra dengan khawatir. "Jangan melakukan hal bodoh, Ra. Jangan mempermalukan dirimu sendiri."

Namun, Lyra sudah tidak mendengarkan. Ia sudah terlanjur sakit hati dan ingin melampiaskan emosinya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Arkan dan wanita itu.

"Bang Arkan!" seru Lyra dengan nada ceria yang dipaksakan. Ia berusaha tersenyum semanis mungkin, meskipun hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk.

Arkan dan wanita di sampingnya menoleh ke arah Lyra. Arkan tampak terkejut melihat Lyra di sana, sedangkan wanita itu hanya menatapnya dengan senyum yang manis.

"Lyra? Sedang apa kamu di sini?" tanya Arkan, dengan nada sedikit terkejut.

"Kebetulan saja. Aku sedang makan siang dengan Sandra. Abang dengan siapa?" tanya Lyra, berusaha terlihat santai.

"Teman," jawab Arkan singkat.

"Teman?" ulang Lyra, mengangkat sebelah alisnya. "Hanya teman? Aku kira pacar."

Mecca tersenyum mendengar ucapan Lyra. "Kami memang hanya teman. Tapi, siapa tahu di masa depan akan menjadi lebih dari itu," jawab Mecca, dengan nada menggoda.

Lyra mendadak merasa panas. Jadi, wanita ini memang sedang berusaha mendekati Arkan? Ia tidak akan membiarkannya.

"Wah, menarik sekali. Aku jadi penasaran bagaimana kelanjutan hubungan kalian," kata Lyra, menatap Arkan dan Mecca dengan tatapan penuh tantangan. "Oh ya, Bang Arkan, aku ingin bicara sesuatu denganmu. Penting."

Arkan tampak bingung. "Sekarang? Tidak bisa, aku sedang ada urusan pekerjaan dengan Mecca..."

"Tidak bisa nanti. Ini sangat penting," desak Lyra, menarik tangan Arkan. "Ayo, sebentar saja, Bang."

"Aku masih ada urusan, Ra," kata Arkan, mencoba melepaskan tangannya.

Tanpa berpikir panjang, Lyra berteriak, "Aku hamil, Bang!"

Arkan terkejut dan menatap Lyra dengan tatapan tidak percaya. "Hei, kamu kenapa? Mabuk?" tukas Arkan marah. "Kapan aku pernah menyentuhmu?"

"Arkan, sabar..." ucap Mecca, mencoba menenangkan situasi.

Lyra, yang merasa malu dan bersalah, bergegas pergi. "Hati-hati, Kak! Dia playboy. Pacarnya banyak dan ada di mana-mana!" teriak Lyra sebelum benar-benar keluar dari kafe.

"Lyra!" panggil Arkan, namun gadis itu sudah berjalan keluar. "Kenapa anak itu?"

"Siapa dia? Pacarmu?" tanya Mecca, dengan nada penasaran.

"Bukan," jawab Arkan singkat.

Mecca tertawa. "Dia suka padamu. Mungkin cemburu melihat kita dan berpikir kalau aku ini pacarmu. Apa lagi tadi aku sempat bercanda padanya... Sudahlah, ayo kita makan. Katamu nanti mau press rilis kasus pembunuhan."

"Ya. Maaf. Gara-gara kejadian tadi, jadi tidak enak," ucap Arkan, merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Nasibmu itu. Terlahir sebagai orang ganteng tapi dingin pada wanita. Sehingga membuat beberapa yang penasaran menjadi nekat menggunakan cara yang aneh untuk mencuri perhatianmu," Mecca tertawa.

Malam itu, Lyra tak bisa tidur. Ada perasaan bersalah sudah membuat sedikit masalah di kafe. Dipandanginya nomor WhatsApp Arkan. Lyra menghela napas. Ia mencoba mengirimkan pesan pada Arkan.

"Abang, aku minta maaf..."

Pesan itu dibaca, namun tidak ada balasan. Satu jam, dua jam hingga tiga jam ia menunggu, tetap tak ada balasan. Hingga akhirnya Lyra tertidur.

Lyra terbangun oleh sebuah panggilan masuk di ponselnya. Dilihatnya jam dinding, pukul 04.00 dini hari. Diraihnya ponsel. Arkan Wiratama! Secepat kilat Lyra mengangkat telepon.

"Hallo..." sapa Lyra dengan suara serak.

"Aku di depan rumahmu," jawab Arkan dari seberang sana.

Lyra bergegas bangun. Secepatnya ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar terlihat lebih segar. Selesainya, ia segera keluar untuk menemui Arkan. Lelaki itu duduk di dalam mobilnya.

"Masuklah..." kata Arkan, tanpa ekspresi.

Lyra membuka pintu mobil itu dan masuk. Arkan memandang Lyra yang mengenakan rok pendek. Rok yang tersingkap menunjukkan pahanya karena buru-buru masuk ke dalam mobil. Dialihkannya pandangan ke jalan, ia menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Lyra.

"Loh, mau kemana?" tanya Lyra, bingung.

"Mengantarmu ke kantor polisi karena sudah mencemarkan nama baikku di kafe tadi," jawab Arkan, dengan nada dingin.

"Apa? Jangan bercanda, Bang!" seru Lyra, tidak percaya.

"Siapa yang bercanda? Itu kan memang termasuk perbuatan kriminal," balas Arkan, tanpa menoleh ke arah Lyra.

Lyra terdiam, merasa takut dan bersalah.

"Kita makan, aku lapar sekali sepulang dari penangkapan," ucap Arkan, memecah keheningan.

Lyra menghela napas lega. Namun kemudian ia menepuk lengan Arkan. "Kau kejam sekali, Bang! Aku minta maaf tapi kau hanya membacanya!" keluh Lyra, dengan nada merajuk.

Arkan tertawa, terdengar begitu renyah. Tawa yang membuat hati Lyra menghangat.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Arkan.

"Maksudnya?"

"Seminggu yang lalu kamu terlihat sangat frustasi sehingga memintaku untuk menikahimu.." ucap Arkan.

"Itu.."

Arkan menghentikan mobilnya. Ia memandang Lyra.

"Siapa yang menyakitimu? Kenapa kamu ingin aku melindungimu? Sampai kamu rela dinikahi tanpa perlu diperlakukan dan mendapatkan hak sebagai istri?"

"Lupakan. Itu hanya sebuah canda karena aku melihatmu terlalu kaku,'/" jawab Lyra.

"Ada hubungannya dengan lelaki yang kamu panggil Om Revan itu?"

Lyra kembali terdiam.

"ok, kita Menikah.." ucap Arkan. "Agar aku bisa membantumu menghadapi ketakutan terbesarmu itu."