Drama #Drama

Bahagiamu adalah bahagiaku, Nak

Penulis sanzfy
02 October 2025

Usai perkataan Arkan hari itu, ia memang membuktikan ucapannya. Semua berkas yang dibutuhkan untuk pernikahan segera dipersiapkan. Meski sedikit rumit karena berkas milik Lyra mengalami banyak kendala, namun mereka bisa menyelesaikan prosesnya meski memakan waktu yang cukup lama. Arkan, dengan segala koneksi dan ketegasannya, memastikan setiap hambatan teratasi. Lyra sendiri masih sering merasa seperti bermimpi. Lamaran gilanya di kafe, pengakuan ‘hamil’ yang memalukan, dan kini, ia akan menikah dengan Arkan Wiratama, pria dingin yang entah bagaimana berhasil mencuri hatinya.

Dan hari itu, Lyra memandangi baju pengantin yang akan ia pakai di pesta pernikahannya dengan Arkan. Gaun putih bersih menjuntai anggun, dihiasi detail renda dan payet yang berkilauan. Sebuah mimpi yang tiba-tiba terwujud, menunjukkan besarnya kuasa Tuhan atas hidup Lyra. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena gugup akan menjadi seorang istri, tetapi juga karena rasa tidak percaya bahwa semua ini nyata. Ia menyentuh lembut kain gaun itu, membayangkan dirinya berjalan bersama Arkan diiringi acara pedang Pora menuju Pelaminan.

Pintu kamar diketuk pelan sebelum dibuka. Seorang wanita mengenakan masker, bersama dua gadis muda lainnya, masuk. Mereka adalah tim rias pengantin yang akan mendandaninya. Aroma bedak dan parfum langsung memenuhi ruangan, menciptakan suasana sakral yang khas menjelang pernikahan.

Lyra memandang wanita yang memakai masker itu. Ada sesuatu yang familiar dari sorot matanya, atau mungkin dari gerak-geriknya. Ia merasa seperti mengenal wanita itu, namun tidak bisa mengingat di mana atau kapan.

"Maaf saya sedang batuk, jadi menggunakan masker," wanita itu menjelaskan, suaranya sedikit serak namun lembut.

"Oh, iya..." Lyra mengangguk, sedikit lega mendengar penjelasan itu. Ia memang sempat merasa aneh, namun tidak ingin terlalu banyak bertanya.

Wanita itu duduk di hadapan Lyra, di kursi rias yang sudah disiapkan. Dengan gerakan cekatan dan profesional, ia mulai merias wajah Lyra. Kuas-kuas kecil menari di atas kulit Lyra, mengaplikasikan foundation, concealer, dan bedak dengan mahir. Lyra memejamkan mata, membiarkan sentuhan dingin kuas bekerja di wajahnya.

"Bu.. maaf sebelumnya," kata Lyra, memberanikan diri bertanya setelah beberapa saat. "Tapi, saya seperti pernah bertemu dengan ibu."

Wanita itu menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu tersenyum di balik maskernya. Mata indahnya sedikit mengerut di sudut, menunjukkan senyum tulus. "Mungkin Mbak salah lihat. Saya memang sering make up pengantin, jadi mungkin Mbak pernah melihat saya di pernikahan orang lain," jawab wanita itu, dengan nada ramah yang menenangkan

Lyra mengernyitkan keningnya. Ia merasa jawaban wanita itu tidak sepenuhnya meyakinkan. Perasaan familiar itu begitu kuat, lebih dari sekadar "pernah melihat di pernikahan orang lain." Namun, ia tidak ingin memperpanjang masalah. Hari ini adalah hari besarnya, dan ia memutuskan untuk mengabaikan perasaannya yang aneh itu dan fokus pada pernikahannya.

"Baiklah. Mungkin saya memang salah lihat," kata Lyra, mengakhiri percakapan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya perasaannya saja.

Wanita itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Rinda, kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, di balik senyum ramahnya, hatinya bergemuruh. Ia menatap wajah cantik Lyra, wajah yang selama delapan tahun ini hanya bisa ia lihat dalam foto-foto usang. Setiap sapuan kuasnya adalah sentuhan kasih sayang yang terpendam, setiap pulasan warna adalah doa yang tak terucap.

Dia adalah Almira, ibu kandung Lyra. Masih segar dalam ingatannya saat Sandra memintanya untuk menjadi perias wajah untuk pernikahan Lyra.

Flashback

"Bu Rinda..." panggil Sandra, suaranya riang.

Almira, yang kini dikenal sebagai Rinda, sedang mengemasi peralatan make upnya di salon kecil miliknya. Sejak peristiwa delapan tahun lalu, ketika Lyra melarikan diri saat bertemu dengannya, Almira merasa dunianya hancur. Rasa berdosa karena telah membuat Lyra terluka sepertinya tak akan pernah bisa terhapus dari ingatan Lyra. Gadis itu terlihat sangat membenci ibunya dan tak ingin lagi bertemu.

Almira memutuskan untuk menata hidupnya, mengganti namanya menjadi Rinda dan mulai membangun usaha di bidang salon yang sudah ia tekuni sejak muda. Sandra adalah salah satu murid handalnya yang berhasil dan membuat salon kecantikan sendiri. Hubungan mereka tetap baik, Sandra sering mampir untuk berbagi cerita atau meminta saran.

"Ada apa, San?" tanya Rinda (Almira), menoleh dengan senyum tipis. Ia sudah terbiasa dengan panggilan itu, seolah nama Almira telah terkubur bersama masa lalunya yang kelam.

"Bu Rinda, aku ada kabar gembira!" seru Sandra, matanya berbinar. Ia duduk di kursi di hadapan Rinda, mengeluarkan ponselnya. "Temanku mau menikah! Dia sangat cantik. Aku ingin dia semakin cantik di pesta pernikahannya. Cuma Bu Rinda yang bisa melakukan hal ini dengan sangat sempurna. Sentuhan tangan ajaib Bu Rinda itu beda!"

Rinda tersenyum mendengar pujian Sandra. "Ah, kamu ini. Ada-ada saja. Siapa temanmu itu?"

"Ini dia photonya. Namanya Lyra Arsyfa," kata Sandra, menyodorkan ponselnya.

Dunia Almira seolah berhenti berputar. Jantungnya berdetak kencang, berpacu tak karuan. Matanya terpaku pada layar ponsel. Wajah itu... wajah yang sangat ia kenal, wajah yang selalu menghantuinya dalam mimpi dan kerinduan. Lyra. Putrinya. Ia tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik, persis seperti yang ia bayangkan.

"Lyra...?" bisik Almira, suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar saat menerima ponsel itu.

Sandra tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Rinda, karena Rinda selalu pandai menyembunyikan emosinya. "Iya, Lyra. Dia sahabatku dari dulu. Pernikahannya sebentar lagi, Bu. Aku sudah bilang padanya kalau Bu Rinda itu perias terbaik. Dia setuju banget!"

Almira menatap foto Lyra. Putrinya akan menikah. Dengan siapa? Apakah pria itu baik padanya? Apakah Lyra bahagia? Ribuan pertanyaan berkelebat di benaknya, namun tak ada satu pun yang bisa ia utarakan. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam kembali menggerogoti jiwanya. Ia telah melewatkan begitu banyak momen penting dalam hidup Lyra. Dan kini, di hari paling bahagia putrinya, ia diminta untuk hadir, namun sebagai orang lain.

"Bu Rinda, kenapa diam saja? Apa jadwalnya terlalu padat?" tanya Sandra, mulai khawatir.

Almira menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Tidak, tidak. Hanya... sedikit terkejut. Lyra... dia sudah besar ya." Ia mencoba terdengar biasa saja.

"Iya dong, Bu! Kan sudah delapan tahun sejak terakhir aku ketemu Bu Rinda," Sandra tertawa. "Jadi gimana, Bu? Bisa kan? Aku mohon banget, Bu. Lyra itu penting banget buat aku."

Mata Almira kembali tertuju pada foto Lyra yang tersenyum di layar ponsel. Sebuah kesempatan. Kesempatan untuk berada di dekat putrinya, meskipun hanya sebagai perias. Kesempatan untuk melihatnya bahagia, meskipun Lyra tidak tahu siapa yang meriasnya. Ini adalah risiko besar. Jika Lyra mengenalinya, semua bisa berantakan. Tapi, kerinduan seorang ibu jauh lebih besar dari rasa takut.

"Baiklah, Sandra," ucap Almira, suaranya sedikit bergetar. "Aku akan mengambil pekerjaan ini."

Sandra bersorak gembira. "Asiiiik! Makasih banyak, Bu Rinda! Aku tahu Bu Rinda tidak akan menolak! Lyra pasti senang sekali!."

Almira membiarkan air mata mengalir setelah Sandra pergi. Ia memeluk ponsel yang masih menampilkan foto Lyra. "Putriku... Kau akan menikah," bisiknya lirih. Hatinya campur aduk antara bahagia, sedih, dan rasa bersalah yang tak berkesudahan.

Masa Sekarang

"Kenapa, Bu?" tanya Lyra, suaranya penuh perhatian, saat melihat air mata menggenang di sudut mata Rinda. Ia merasa iba melihat ekspresi sedih di mata wanita itu.

Rinda tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat ia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang berbalut sarung tangan tipis. Ia berusaha tersenyum, meski rasanya perih. "Kamu... Mengingatkan Ibu pada anak perempuan Ibu yang jauh di sana, di kota lain..." ucap Rinda, suaranya tercekat. Ia memilih kebohongan yang paling mendekati kebenaran, sebuah kebohongan yang juga mengandung sebagian besar hatinya.

Lyra menatap Rinda dengan simpati. "Oh... Ibu punya anak perempuan juga?"

"Iya," Rinda mengangguk pelan. "Dia seumuran denganmu. Sudah lama sekali Ibu tidak bertemu dengannya." Suaranya terdengar begitu sendu, membuat Lyra merasakan kesedihan yang mendalam dari wanita di hadapannya.

"Kenapa tidak bertemu, Bu?" Lyra bertanya, tanpa sadar bahwa ia sedang menggali luka yang sangat dalam.

Rinda menghela napas, mencoba menata emosinya. "Ada kesalahpahaman di masa lalu. Ibu... Ibu membuat kesalahan besar. Dan dia... dia tidak mau memaafkan Ibu." Air mata kembali menggenang di matanya. Ia menunduk, pura-pura fokus pada riasan mata Lyra, agar Lyra tidak melihat betapa hancurnya ia saat mengucapkan kalimat itu.

Lyra merasa tidak enak hati. "Maaf, Bu, saya tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa, Nak," potong Rinda, mengangkat wajahnya dan menatap Lyra dengan mata yang berkaca-kaca. "Melihatmu hari ini, begitu cantik dan bahagia, membuat Ibu membayangkan bagaimana jika putri Ibu juga menikah. Pasti Ibu akan sangat bahagia."

Melihat ketulusan dan kesedihan di mata Rinda, Lyra merasakan gelombang empati yang kuat. Ia meraih tangan Rinda yang sedang memegang kuas, menggenggamnya lembut. "Saya yakin, suatu hari nanti Ibu pasti bisa bertemu lagi dengan putri Ibu. Dan dia pasti akan memaafkan Ibu. Tidak ada anak yang bisa benar-benar membenci ibunya."

Kata-kata Lyra menusuk hati Almira. "Tidak ada anak yang bisa benar-benar membenci ibunya." Apakah itu benar? Apakah Lyra juga merasakan hal yang sama? Atau apakah ia hanya mengatakan itu untuk menghibur? Almira hanya bisa tersenyum getir di balik maskernya. Ia ingin sekali memeluk putrinya, mengatakan bahwa ia adalah ibunya, meminta maaf atas semua kesalahannya. Namun, ia tahu itu bukan saatnya. Ini adalah hari Lyra, hari kebahagiaannya. Ia tidak boleh merusaknya.

Rinda melanjutkan pekerjaannya, tangannya kini lebih mantap. Ia memulaskan lipstik berwarna peach lembut di bibir Lyra, lalu menyempurnakan tatanan rambutnya dengan hiasan bunga-bunga kecil. Setiap sentuhan adalah perpisahan yang menyakitkan, karena ia tahu setelah ini, ia akan kembali ke dunianya, dan Lyra ke dunianya, tanpa tahu kebenaran yang tersembunyi.

"Selesai, Lyra," kata Rinda akhirnya, suaranya terdengar sedikit serak. "Kamu sangat cantik."

Lyra membuka mata dan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terkesiap. Wanita di cermin itu bukan lagi Lyra yang biasa. Wajahnya bersinar, matanya berbinar, bibirnya tersenyum sempurna. Riasan itu begitu alami namun memancarkan aura keanggunan yang luar biasa.

"Bu Rinda... ini luar biasa! Saya tidak mengenali diri saya sendiri!" seru Lyra, matanya berbinar bahagia. "Terima kasih banyak, Bu!"

Rinda hanya tersenyum di balik maskernya. Kebahagiaan Lyra adalah kebahagiaannya. Ia merasa sedikit lega, setidaknya ia bisa memberikan kebahagiaan ini untuk putrinya, meskipun Lyra tidak tahu.

"Semoga pernikahanmu lancar dan kamu selalu bahagia, Nak," ucap Rinda tulus, suaranya penuh kasih sayang.

Lyra menoleh, menatap Rinda. Ada kehangatan yang luar biasa dari ucapan itu, seolah-olah Rinda bukan hanya seorang perias, melainkan seseorang yang sangat peduli padanya. Perasaan familiar itu kembali menyeruak, namun kali ini disertai dengan rasa nyaman yang aneh.

"Terima kasih, Bu," kata Lyra, matanya bertemu dengan mata Rinda yang masih sedikit basah. Ada ikatan tak terlihat yang terjalin di antara mereka, sebuah ikatan yang melampaui kata-kata dan ingatan. Lyra tidak tahu mengapa, tapi ia merasa sangat dekat dengan wanita ini, seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain seumur hidup.

Rinda mengangguk, lalu bangkit berdiri. "Kalau begitu, Ibu permisi dulu. Semoga harimu indah."

Ia berbalik, berjalan keluar dari kamar pengantin, meninggalkan Lyra yang masih terpaku di depan cermin, mengagumi pantulan dirinya yang sempurna, dan bertanya-tanya tentang identitas wanita perias yang misterius itu. Almira melangkah pergi, membawa serta rahasia dan kerinduan yang tak terucap, berharap suatu hari nanti, putrinya akan tahu kebenaran dan memaafkannya. Namun untuk hari ini, cukup baginya untuk melihat Lyra bahagia.