His Contract Bride - Ingat, Siapa Musuh Sebenarnya - Bab 9

Penulis Rei_Moira
08 September 2025

Setelah ciuman itu, tak ada lagi yang dibicarakan oleh Kael dengan Aurora. Pria itu meninggalkannya begitu saja, setelah Aurora membentak dan mendorong tubuh tegapnya.

Lebih tepatnya, Kael menghilang begitu saja.

Aurora mencemaskannya diam-diam, tapi tak ada kata yang terucap. Semua terlihat dari gelagatnya yang berkali-kali menatap pintu kamar Kael dengan resah. Entah ia mengkhawatirkan keadaan Kael, atau justru ia resah karena tak ada jawaban dari pertanyaannya mengenai foto ibunya yang ada di ruangan itu.

Kini, ia mulai berpikir mungkin saja Kael telah mengetahui siapa sebenarnya dirinya, karena ia dengan frontal bertanya tentang siapa wanita yang ada di foto itu.

“Ah, bodoh!” Aurora memukul sendiri kepalanya.

Aurora mengambil gelas di dapur, menuang air dan meneguknya cepat. Ketenangan tak lagi menjadi miliknya, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.


“Anda masih belum pulang dari semalam?” Luther masuk ke ruangan kerja Kael, membawakan setelan jas baru—sesuai pesanan tadi pagi.

Kael mengambil setelan itu tanpa menjawab. Ia sedang tak ingin membicarakan masalah itu.

“Luther, kau pernah tiba-tiba mencium seseorang ketika sedang marah?”

Pertanyaan itu jelas membuat Luther menaikkan satu alisnya. “Mencium atau mengecup… atau… melumat?”

Kael menatap tajam asistennya tersebut. “Apa perlu diperjelas sampai menyebut kata melumat?!”

Luther terkekeh pelan. Sudah lima tahun ia bekerja untuk Kael, dan selama itu pula, pria itu tidak pernah bertanya hal privasi seperti itu, bahkan ketika Kael menjalin hubungan dengan Celeste.

“Anda tidak pernah membahas hal seperti itu denganku, aku jadi sedikit penasaran dengan apa yang telah terjadi. Apa ini alasan kenapa Anda tidak pulang semalaman?”

Kael terdiam. Ia selalu terlihat mengintimidasi bagi semua orang, tapi tidak berlaku untuk Luther—satu-satunya orang yang dipercaya oleh Kael. Meskipun Luther masih mempertahankan nada gaya bicaranya yang formal pada Kael, tapi kedekatan mereka sudah selayaknya kakak dan adik.

“Aku hanya menghindari masalah. Ada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.” Kael menjatuhkan tubuhnya lagi di sofa, menyandarkan kepalanya, menengadah ke langit-langit ruangan.

Luther masih berdiri tegap, memandang Kael sambil tersenyum tipis. “Aku tebak, pasti banyak hal yang terjadi itu setelah Nona Aurora hadir.”

Kael menghela napas panjang. “Rencanaku tampaknya mulai kacau. Aku harus mengatur pikiranku lagi.”

“Atau… Anda tidak seharusnya mengatur ulang pikiran lagi, cukup menjalaninya seperti air mengalir.”

Kael menegakkan badannya, menatap Luther tak mengerti. “Maksudnya?”

“Alih-alih fokus dengan rencana balas dendam yang telah Anda susun dari dulu, kenapa sekarang tidak fokus saja dengan mempertahankan kursi yang Anda duduki saat ini? Pernikahan bukan satu-satunya hal yang bisa mengamankannya dari Bastien Vireaux.”

Kael terdiam sejenak. Gara-gara pikirannya yang kacau karena Aurora, ia hampir melupakan Bastien Vireaux—pamannya yang berambisi untuk menjatuhkannya dari jabatan CEO Vireaux Group.

Dan alasan Kael harus melakukan pernikahan adalah, wasiat dari Lucien Vireaux—ayah Kael—yang menyatakan bahwa perusahaan beserta warisan lainnya tidak akan bisa diakui oleh Kael jika dalam waktu satu tahun terakhir setelah kepergiannya tidak juga melaksanakan pernikahan yang sah.

Sementara waktu terus berputar, dan ia tak bisa menemukan wanita yang tepat untuk bisa ia nikahi. Sampai akhirnya, ia mendengar kabar kebangkrutan keluarga Vallen dan kematian Matthew Vallen. Keluarga itu sangat menarik perhatiannya. Tak lain karena ibu kandung Aurora—Isabelle, telah menghancurkan keluarganya dengan menjadi gundik Lucien Vireaux, dan membuat ibunya—Mireille Vireaux meninggal.

“Aurora tak bersalah dalam hal itu, Tuan.” Luther menambahkan.

Kael kembali menghela napas. Luther benar, Aurora memang tidak bersalah, tapi….

“Itu urusanku dengan Aurora, Luther. Kau tidak perlu ikut campur. Cukup awasi saja apa yang dilakukan olehnya, dan juga laporkan padaku tentang tentang semua hal mengenai pergerakan Bastien. Aku sudah lama tidak menyapanya.”

Luther mengangguk dalam, memberikan gaya patuhnya sebelum keluar dari ruangan.

Kael kembali bersandar, matanya terpejam. Kejadian semalam, berhasil merobohkan pertahanannya untuk mengubur luka yang terdalam. Ia tak pernah memiliki kuasa untuk membuang semua kenangan masa lalunya—termasuk skandal orang tuanya. Dan Aurora, dengan sangat lancangnya menyentuh luka terdalamnya dengan masuk ke ruangan itu.

Sekali lagi, itu bukan salah Aurora. Ia menyadarinya. Harusnya ia menyimpan semua hal-hal itu di tempat yang lebih aman, yang tak mungkin orang lain mampu menjangkau.

Tak hanya Aurora yang telah melakukan kesalahan, melainkan ia pun juga telah melakukannya—sejak pertama kali memilih Aurora sebagai istrinya.


Aurora duduk tenang di depan laptopnya, mencari artikel lama tentang skandal dari keluarga Vireaux. Ia memang telah mengetahui tentang hal itu. Ibunya menjadi simpanan Lucien Vireaux, lalu Mireille meninggal karena sakit hati yang mendalam, dan ibunya kembali bersama Matthew Vallen sampai akhirnya tewas mengenaskan dalam sebuah kecelakaan lalu lintas bersama kekasih gelapnya yang lain.

Cukup rumit—well, sangat rumit.

Isabelle memang seseorang yang seperti itu, Aurora tak menyangkalnya sama sekali dan skandal itu memang benar adanya. Hanya saja, Aurora memerlukan detail atas apa yang sebenarnya terjadi pada ketiga orang itu, sampai Kael tumbuh dengan sifat yang seperti itu, dan juga… semua masa lalunya yang dikubur di ruangan itu.

“Apa ini semua hanya demi mengamankan kompensasiku saja?” gumamnya pelan. Tangannya terus menggulir kursor ke bawah, mencari artikel berita yang relevan.

Aurora mengernyitkan wajahnya saat menemukan potongan berita lama tentang skandal Lucien Vireaux dan Isabelle Lambert-Vallen. Namun, artikel itu dihapus sebagian oleh arsip publik. Ia tidak bisa mengakses isinya, hanya terpampang jelas judul yang sangat kontroversial.

“Kenapa? Apa isi artikel ini?” Aurora berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut.

Satu menit… dua menit… enam menit… sepuluh menit… ia segera tersadar.

“Oh, gosh! Padahal aku dulu tidak akan peduli dengan semua ini. Tapi kenapa sekarang aku berusaha keras untuk mencari detail skandal itu?

Aurora kembali mengklik semua link yang memungkinkan membawanya lebih dalam menuju ke rahasia besar keluarga Vireaux dan Vallen.

Namun beberapa menit berlalu, ia mulai ragu dengan apa yang ia lakukan.

“Tidak ada apa pun yang bisa kugali di sini. Seseorang dari masa lalu pasti ingin mengubur semua berita-berita itu. Kenapa? Apa itu semua karena fakta?”

Aurora kembali bergumam sendiri, merangkai asumsi demi asumsi yang akhirnya menjadi sebuah prasangka kuat. Ia mulai yakin, bahwa artikel berita yang telah diarsipkan itu pasti menyimpan bukti tersembunyi yang memang sengaja untuk ditutupi.

Sementara itu di tempat lain, Kael sedang berbicara dengan Rudolf—pengacaranya—tentang satu hal. Raut wajah Kael tampak serius, dengan kedua alis yang hampir bertaut. Sementara Rudolf menanggapinya dengan santai, sesekali membetulkan letak kacamata bundarnya.

“Silakan jika ada yang masih ingin ditanyakan, Tuan.” Rudolf kembali meletakkan tasnya di atas meja, terlalu peka dengan kontak mata Kael yang seolah mengatakan bahwa ada hal penting yang masih harus ia sampaikan.

Kael berdeham sekali, sedikit menunduk, dan mulai berkata setelah menyamarkan kegelisahannya dengan sorot mata seperti biasanya.

“Jika istriku telah mengetahui siapa sebenarnya aku… apakah kontrak pernikahanku dengannya masih berlaku?”