Andrian kembali ke kamarnya, amarahnya sudah reda, digantikan oleh ketenangan yang penuh perhitungan. Di tangannya, ia membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat.
Andrian melangkah masuk, menemukan Kaluna masih duduk di sofa, tatapannya kosong menatap perapian.
"Makan," ujar Andrian singkat, meletakkan nampan itu di meja di depan Kaluna.
Kaluna menoleh, matanya beralih dari perapian ke nampan. Dia tidak merespons, tatapannya dingin.
Andrian mendesah, gadis itu keras kepala.
“Apa kau tidak dengar? Kubilang makanlah dulu,” tegur Andrian lagi.
Kaluna tidak peduli terhadap makanan itu. Perhatiannya malah beralih pada tangan Andrian yang terletak di samping tubuhnya. Buku-buku jari yang tadi menghantam dinding kini tampak memar dan sedikit berdarah.
Dengan cepat, Kaluna langsung meraih tangan Andrian. Wajahnya yang dingin seketika berubah.
"Tanganmu," kata Kaluna, suaranya pelan dan bergetar.
Andrian mengikuti arah pandangan Kaluna, lalu menarik tangannya ke belakang.
"Bukan apa-apa," jawab Andrian acuh tak acuh.
Kaluna menggelengkan kepalanya. Dia bangkit dan segera menggeledah laci dan sudut-sudut kamar.
"Kau cari apa?" tanya Andrian.
“Di mana kotak obatmu?” Kaluna balik bertanya, sambil terus mencari-cari.
"Tidak perlu," ujar Andrian, suaranya serak.
Andrian tersenyum tipis. Dia melangkah mendekat. Menghentikan gerakan Kaluna dengan mengangkat tangannya yang terluka, lalu menempelkannya ke wajah Kaluna.
Mata Andrian menatap Kaluna dengan intens.
"Aku tidak butuh obat, jika hanya dengan satu sentuhanmu saja sudah bisa membuatku merasa lebih baik,” ujar Andrian lembut.
Kaluna mengernyit. Hatinya berdebar kencang.
Di satu sisi, dia merasa geli dengan bualan Andrian. Di sisi lain, dia tidak bisa menampik bahwa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu.
"Hentikan bualanmu itu, Tuan Sugara," sanggah Kaluna, mencoba mengendalikan perasaannya.
“Itu tidak akan berguna untukku,” ujar Kaluna lagi seraya menepis tangan Andrian dan mengabaikan pria itu.
“Hey, setidaknya bualanku tidak terlontar pada sembarangan orang, Nona Kaluna!” Andrian mengangkat kedua tangannya sebelum akhirnya kembali membenamkan tubuhnya di sofa.
Kaluna mengangkat bahunya. Acuh dan tak peduli terhadap apa yang baru saja dikatakan mesin pendingin itu.
Akhirnya Kaluna menemukan kotak obat itu. Dia langsung duduk di dekat Andrian, mengambil kapas dan cairan antiseptik dari kotak obat, wajahnya serius dan fokus.
Kaluna kembali meraih tangan Andrian.
"Ini akan sedikit perih," kata Kaluna, tanpa menatap Andrian.
"Aku sudah melewati lebih banyak rasa sakit lebih dari ini," balas Andrian, suaranya tenang.
Kaluna mengabaikannya dan mulai membersihkan luka-luka di tangan Andrian dengan hati-hati tanpa bertanya apa yang telah membuatnya terluka.
Kaluna membungkus tangan itu dengan perban, melilitkannya dengan rapi. Sentuhannya lembut, kontras dengan sifat dingin dan keras kepalanya.
"Selesai," kata Kaluna, melepaskan tangan Andrian.
"Terima kasih," ucap Andrian.
Namun, kalimat itu terdengar hanya sekedar pernyataan daripada ucapan terima kasih.
Andrian menatap Kaluna. Tatapan intens itu membuat Kaluna merasa tidak nyaman. Jantungnya berdebar kencang.
Andrian tersenyum tipis. Dia meraih piring, mengambil sepotong roti, dan menyuapkannya ke mulut Kaluna.
“Makanlah,” ujar Andrian, suaranya lembut.
Kaluna yang terkejut hanya bisa membenamkan roti itu ke mulutnya. Dia menunduk, tidak sanggup menatap mata Andrian yang begitu lekat.
Andrian mengangkat dagu Kaluna. Dia merasakan sebuah dorongan untuk kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kaluna.
“Tuan Muda,” sapa seseorang dari balik pintu, membuat pergerakan Andrian dan Kaluna mendadak kaku.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Leon yang hampir melangkah masuk malah menarik mundur tubuhnya. Dia kembali ke belakang pintu, merasa tidak enak melihat pemandangan di depannya.
Andrian yang sedang begitu dekat dengan seorang wanita, sebuah pemandangan yang belum pernah dia saksikan. Leon merasa tidak enak dan serbasalah. Dia berdehem pelan.
"Ma-maaf, Tuan Muda," ucap Leon, suaranya sedikit canggung.
Andrian menoleh, ekspresinya kembali dingin seperti semula. Dia meletakkan piring kembali ke meja.
"Masuklah!" pinta Andrian.
Leon masuk dan meletakkan beberapa paper bag di sofa.
"Ini semua yang tadi anda minta, Tuan Muda," lapor Leon.
Andrian beranjak, berjalan ke arah sofa. Dia membuka satu per satu tas belanja itu. Gaun-gaun mahal dan mewah di hadapkan pada Kaluna.
"Pilih salah satu," kata Andrian, suaranya kembali dingin.
"Untuk apa?" Kaluna bertanya dengan bingung.
"Besok malam, kau harus mendampingiku di sebuah pesta," jawab Andrian, dia masih sibuk membolak-balik pakaian itu.
Sambil menyodorkan sebuah gaun satin berwarna hijau zamrud, Andrian berkata, "Pakai ini saja!"
"Pesta? Lagi? Aku tidak mau." Kaluna menggelengkan kepalanya, senyum sinis terukir di bibirnya.
Andrian memandangnya tajam, namun Kaluna tidak gentar. Dia tahu Andrian tidak akan menyakitinya secara fisik, setidaknya tidak di depan Leon.
“Apa kau lupa, Nona Kaluna? Di sini… aku yang memegang kartu kendali,” sindir Andrian.
Kaluna terdiam. Di benaknya, datang ke pesta bersama Andrian cukup menarik. Apalagi, ini juga merupakan kesempatan untuk lebih dekat dengan pria itu.
Andrian mengangguk ke arah Leon. Seolah memberikan isyarat yang hanya dimengerti oleh Leon.
Benar, anggukan Andrian merupakan sebuah perintah untuk Leon. Dia langsung menelepon seseorang.
“Masuk!” ujar Leon di telepon.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Beberapa penata rias masuk. Mereka adalah yang paling terkenal dari seluruh penjuru kota itu.
"Pilih salah satu yang paling kau percaya," kata Andrian kepada Kaluna.
"Tidak perlu," jawab Kaluna.
Andrian menatap Kaluna dengan ragu. "Kenapa? Mereka adalah yang terbaik di seluruh kota," katanya.
"Aku bisa menata diriku sendiri, Tuan Sugara. Lagipula, tidak ada yang membentuk karakter sesorang jauh lebih baik dari dirinya sendiri, ‘kan," balas Kaluna.
Andrian tersenyum tipis, merasa terhibur dengan keberanian Kaluna. Dia kembali mengangguk kepada Leon, mengisyaratkan para penata rias untuk pergi.
"Baiklah, tapi kau, jangan mengecewakan aku, Kijang Emas!" kata Andrian.
Kaluna mengangguk, senyum puas terukir di wajahnya. Dia telah berhasil mendapatkan kendali. Mesin pendingin itu, tentu harus dibuat menyesal karena memilih seekor kijang emas sebagai mangsa.
Sementara di rumah Kinan Setyo Adji, Ken Aji masih mencemaskan Kaluna. Pikirannya terus melayang kemana-mana. Pesta itu, penembakan dan penculikan terhadap putrinya berkecamuk menjadi satu di kepalanya.
Tiba-tiba, dengan tanpa memikirkan kecemasan Ken Aji, Marisa, istrinya datang dengan secarik undangan di tangannya.
"Kau lihat, sahabat baikku mengundang kita ke pesta," katanya, suaranya terdengar tenang. "Pesta itu diselenggarakan untuk menyambut putranya. Pesta itu... juga untuk Kajayanti."
Ken Aji terdiam. Dia menatap Marisa, matanya menunjukkan percampuran antara amarah dan kebingungan.
"Apa kau bilang? Pesta? Bahkan Kaluna sampai sekarang tidak diketahui kabarnya. Dan kau malah membicarakan tentang pesta?” tanya Ken Aji dengan nada dingin.
"Tapi acara ini juga penting, Mas," jawab Marisa. "Kau tahu, keluarga sahabatku ini punya pengaruh penting terhadap dunia bisnis. Katamu, seorang pebisnis muda yang meculik Kaluna, tidak menutup kemungkinan dia juga akan ada di sana nanti."
"Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan putriku. Aku tidak akan pergi ke mana pun sebelum aku menemukannya,” balas Kinan.
Marisa tersenyum. Senyum itu tidak menjangkau matanya.
"Kau ingin Kajayanti malu? Dia sudah menunggu momen ini seumur hidupnya. Kita harus tunjukkan pada semua orang bahwa dia adalah putri yang berharga. Apa kau rela mengorbankan masa depan Kajayanti hanya karena rasa bersalahmu pada Kaluna?" rengek Marisa.
Ken Aji menatap istrinya, Marisa juga benar. Dia tidak bisa mengorbankan masa depan Kajayanti. Bagaimana pun, Kajayanti juga putrinya.
Ken Aji mengepalkan tangannya. Dia menghela napas. "Baiklah, kita akan pergi," katanya, suaranya parau.
"Baiklah, Mas, aku akan mengajak Kajayanti untuk berbelanja dan mempersiapkan kesempurnaan untuknya," kata Marisa, suaranya terdengar merdu namun penuh perhitungan.
Marisa berbalik pergi, meninggalkan Ken Aji sendirian dengan rasa bersalah yang menusuk.
Ken Aji hanya terdiam. Di dalam benaknya, dia merasa telah mengkhianati putrinya sendiri. Setiap detik yang dihabiskannya di rumah ini terasa seperti pengkhianatan.
“Wanita ini benar-benar ingin menghancurkan hidupku,” rengkuh Ken Aji.
Saat Marisa tersenyum, senyum itu penuh kemenangan, Ken Aji melihatnya sebagai senyum iblis yang menjeratnya.
Ken Aji menoleh ke jendela, menatap malam yang pekat. Di luar sana, putrinya entah berada di mana, dalam keadaan apa.
Mengapa malam itu dia hanya diam dan membiarkan putrinya dibawa pergi. Dia tahu, dia telah membuat pilihan yang akan menghantuinya selamanya.