Drama #aksi

Prolog

Penulis Hanshen
03 October 2025

Pada tahun 2050, keadaan negara menjadi gawat. Korupsi yang sebelumnya sudah teratasi, kini telah kembali. Para pejabat sudah tanpa malu lagi menguras dan mencuri kekayaan negara demi kepentingannya sendiri. Pembangunan sudah banyak yang terhenti dan mangkrak tanpa kejelasan. Kota-kota besar yang dahulu terang oleh lampu-lampu yang gemerlap, sekarang semuanya hanya menjadi kenangan saja di masa lalu. Jalan-jalan rusak dan tak terawat lagi. Sementara fasilitas yang diberikan negara terbengkalai dan tak terurus. Korupsi sekarang menjadi tren dan kebutuhan bagi para pejabat yang memiliki kuasa. Hukum sudah tak lagi berguna seperti sebelumnya. Para tikus berdasi berkeliaran dengan bebas dan menghambur-hamburkan uang rakyat, mereka kini terlindungi oleh kekuasaan dan kekayaan. Lembaga keadilan yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi rakyat di negara kini sudah lagi tak berguna, semuanya telah lama kehilangan fungsi dan kegunaannya. Keputusan dari pengadilan kini bisa dibeli dengan harga yang sangat murah, seperti tersangka pembunuhan yang bisa bebas dengan menyuap para hakim. Rakyat dengan pendapatan menengah ke bawah kini hanya menjadi sapi perah saja bagi pejabat-pejabat tamak dan haus akan kekayaan. Mereka dipaksa bekerja dengan sangat keras bagai jaman penjajahan dulu hanya untuk melihat hasil keringat dan kerja keras mereka disedot oleh para pejabat. Uang pajak yang mereka bayarkan, tak pernah kembali dalam bentuk layanan publik yang sesuai dan layak. Fasilitas negara yang seharusnya diberikan pada rakyat, tak ada yang benar-benar layak. Malam itu di jalanan utama ibu kota terasa amat sangat sunyi. Meskipun malam itu baru pukul tujuh. Gerimis kecil mulai membasahi aspal yang membuat orang-orang lebih memilih untuk tetap berdiam diri di dalam rumah mereka. Lampu jalanan yang temaram menciptakan suasana yang sangat kelam dengan keadaan jalanan yang rusak, menambah kesan misterius malam itu Di dalam minimarket yang terpencil dekat dengan perbatasan ibu kota, seorang gadis muda dengan kacamatanya sedang sibuk menyusun beberapa makanan ringan di rak. Wajahnya yang cantik itu nampak sangat ceria, seolah-olah tak ada yang terjadi di negaranya yang dalam keadaan genting. Dari arah sampingnya, tiba-tiba seorang nenek tua menghampirinya dengan tatapan penuh penasaran sambil membawa sebungkus makanan ringan berbentuk lonjong. “Nak, apakah makanan ringan ini memiliki rasa lainnya, seperti rasa asin?” tanyanya sambil menunjukkan makanan ringan yang dipegangnya itu pada gadis tersebut. Gadis berkacamata itu tersenyum ramah. “Maaf, Nek. Makanan ringan itu hanya ada rasa orisinal saja, untuk rasa lainnya belum ada karena kami kehabisan stok. Nenek itu mengangguk dengan pelan. “Kalau begitu, aku akan beli satu saja.” Di malam yang gerimis itu, di balik tembok-tembok besar rumah mewah yang dikuasai para pejabat negara, pesta pora tengah berlangsung. Seperti pesta-pesta pejabat pada umumnya, meriah dan mewah. Pesta pora itu tak akan pernah berhenti selama mereka berkuasa karena itu semua dibiayai oleh uang dari rakyat yang dicuri. Presiden yang berkuasa adalah seorang yang idealis, yang pernah bermimpi besar untuk membawa negara kembali ke masa jayanya puluhan tahun lalu. Tapi kini negara yang dipimpinnya terjebak di dalam lingkaran setan. Dia telah menyatakan perang melawan korupsi pada saat awal dirinya menjabat, tetapi semua itu hanyalah menjadi omong kosong belaka. Semua jajarannya terjerat dalam lingkaran setan itu termasuk ajudannya sendiri. Upayanya untuk menegakkan keadilan dan hukum seperti di dalam benaknya selalu gagal dan kandas di hadapan kenyataan bahwa korupsi telah benar-benar mengakar begitu dalam hingga menyusup ke dalam setiap lapisan pemerintahan. Namun, di tengah kekacauan dan keputusasaan itu, Sang Presiden mengambil langkah yang sangat drastis dan tak bisa ditebak oleh siapa pun. Malam itu dalam sebuah pertemuan rahasia dengan para penasihat terdekat dan terpercayanya, ia merumuskan rencana yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Dan akhirnya sebuah ide gila terlintas di kepalanya, ia memberi titah pada para penasihatnya untuk mendirikan sebuah lembaga rahasia yang tugasnya adalah membasmi para koruptor tanpa ampun. Lembaga ini diberi nama sandi ‘Lembaga Pemuda dan Pemudi’, untuk menyamarkan tujuan sebenarnya dari siapa pun. Lembaga ini merekrut pemuda dan pemudi yang baru saja lulus dari SMA dan SMK, juga mereka yang memiliki kartu identitas resmi dari negara. Mereka dipilih bukan hanya karena kecerdasan atau keterampilan fisik, tetapi juga mereka dipilih karena kesetiaan dan kecintaan mereka terhadap negara dan keadilan. Rekrutmen dilakukan secara diam-diam dan melalui berbagai macam saluran yang tidak mencurigakan agar tidak menarik perhatian para setan-setan dari pemerintahannya. Dan salah satu rekrutmen mereka adalah seorang gadis yang bekerja di minimarket pinggiran kota. Ketika sudah selesai menata barang di rak, ia berjalan menuju ke kasir. "Nak, aku ingin membayar semua barang belanjaanku,” kata nenek tadi. “Dan sepertinya pekerjaanmu akan segera datang malam ini, code name Amaryllis.” Gadis muda berkacamata itu tersentak kaget di belakang meja kasirnya, tetapi kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. “Code name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” balasnya dengan nada yang sangat tegas. Dengan langkah yang sangat cepat, gadis itu meninggalkan meja kasir sambil memberi isyarat pada temannya yang sedang menata minuman di lemari pendingin yang langsung mengangguk memahami situasi. Setelah memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan, gadis berkacamata itu masuk ke dalam ruangan khusus karyawan. Di dalam sana ia membuka pintu rahasia dengan sandi yang hanya diketahui oleh beberapa orang terpilih saja. Dibalik pintu itu, terdapat ruangan kecil yang penuh dengan loker-loker yang berjejer sangat rapi. Gadis berkacamata itu membuka salah satu loker dengan label nama sandinya. Ia mengambil perlengkapannya seperti kacamata canggih yang tampak biasa saja, sepatu dengan teknologi khusus, seragam dinas dan sebuah pistol berdesain elegan namun mematikan. Dengan cekatan dan cepat, ia mengenakan seragam dinas berwarna hitamnya, mengganti kacamatanya dengan kacamata khusus yang telah disiapkan dan mengganti magasin di pistolnya. “... sasaran berada di sekitarmu dengan jarak kira-kira seratus meter dan menaiki mobil sedan berwarna hitam dengan pengawalan ketat dari kepolisian.” suara di earpiece-nya memberikan informasi terbaru padanya. "Dimengerti, code name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” jawabnya tegas. Ia keluar dari ruangan rahasia itu dengan diam-diam melalui pintu belakang minimarket, melangkah dengan cepat dibalik bayang-bayang malam. Dengan cepat dan tanpa terendus, ia menuju ke gedung yang ada seberang jalan. Dengan kartu identitas khusus, ia bebas keluar masuk ke dalam gedung. Diam-diam, ia memperhatikan situasi di dalam gedung yang sudah kosong itu lalu masuk ke lift dan menekan tombol yang menandakan atap. Begitu sampai di atas, ia bergerak ke pinggir gedung dan memeriksa area sekitar dengan teliti. Dalam gelapnya malam yang diterangi cahaya lampu jalan yang redup, ia menemukan sasarannya yang ditunjukkan dari kacamatanya yang canggih. Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dikawal ketat oleh dua motor polisi. Gadis itu mundur beberapa langkah, melakukan peregangan ringan sambil melompat-lompat kecil. Seragamnya yang berwarna hitam menyatu dengan gelapnya malam yang nyaris membuatnya tak terlihat oleh siapa pun. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya, kemudian menekan tombol kecil pada kacamata canggihnya untuk mengunci sasaran yang sudah dilacak sebelumnya. Saat sedan itu berada di jalan dekat gedung, ia mulai berlari. Perlahan tapi pasti lalu langkahnya semakin cepat hingga akhirnya ia melompat dari atap gedung. Sepatu dengan teknologi tingginya membantu menyeimbangkan tubuhnya di udara. Dan ketika mendarat, sebuah efek es yang keluar dari sepatunya mengarah ke kedua polisi yang sedang mengawal sasarannya hingga mereka terjatuh dari motor hingga tak sadarkan diri. Dengan satu gerakan yang cepat, gadis itu mengeluarkan pistol. Dor! Dor! Dua tembakan melesat dengan cepat mengarah ke arah mobil sedan yang sekarang tengah berhenti di hadapannya. Tembakan itu memecahkan kaca depan mobil dan menyebabkan teriakan histeris wanita dari dalam mobil. Dengan tenang, ia mendekat dan memastikan bahwa sasarannya telah dibersihkan. “Code name Amaryllis, telah menyelesaikan tugas.”