Di kaki tangga utama, Andrian berdiri menunggu. Mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya, tatapannya tak berkedip, terfokus pada puncak tangga.
Di samping Andrian, Leon ikut menunggu dengan tegap. Sesekali dia melirik bosnya.
"Bagaimana menurutmu, Leon?" tanya Andrian, suaranya pelan dan dingin.
Leon menoleh. "Maksud Tuan Muda?"
"Apa dia akan mempermalukanku?" ujar Andrian, matanya masih menatap kosong ke arah tangga.
Leon tersenyum tipis. "Saya rasa Nona Kaluna tahu apa yang harus dia lakukan, Tuan Muda. Dia bukan wanita sembarangan."
Tepat setelah percakapan itu, suara langkah kaki yang lembut memecah keheningan. Kaluna muncul dari balik sudut.
Dia melangkah turun dengan anggun, mengenakan gaun satin hijau zamrud yang memukau. Kainnya berkilauan, manik-matik yang menghiasinya menangkap setiap cahaya dan memancarkannya kembali. Menyoroti garis leher dan bahu indahnya.
Rambutnya dibiarkan tergerai, beberapa helai disatukan dengan simpul sederhana di belakang. Riasan wajahnya sangat tipis, hanya menonjolkan matanya yang tajam.
“Wow,” ucap Leon spontan.
Kaluna sampai pada anak tangga terakhir, di mana Andrian mengulurkan tangan. Jari-jemari mereka bersentuhan.
Andrian tidak berkata apa-apa. Matanya yang tajam menatap Kaluna tanpa berkedip. Pandangannya kini dipenuhi oleh kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
Leon melihat pemandangan itu dan tersenyum dalam hati. Untuk pertama kalinya, bosnya yang dingin dan penuh perhitungan itu akhirnya tunduk pada pesona lembut seorang wanita.
"Nona itu sangat cantik," puji salah satu anak buah Leon setelah Andrian dan Kaluna melangkah keluar.
"Iya, mereka bahkan terlihat serasi," kata yang lainnya, saling berbisik.
Leon berbalik dan menatap para anak buahnya. "Bersiaplah," katanya, suaranya serius.
"Mulai malam ini, pertempuran akan lebih rumit. Perang kali ini bukan lagi hanya tentang kekuatan dan kekuasaan, tapi juga tentang perasaan,” ujar Leon lagi seraya tersenyum dan memulai langkahnya.
Perang kali ini memang lebih rumit. Bisik-bisik anak buahnya berlanjut di belakangnya, tetapi bagi Leon, suara yang paling keras adalah keheningan yang kini menyelimuti Andrian.
Dalam keheningan itu, Leon bisa mendengar pesan dari pertempuran baru yang akan datang. Di mana hati yang dingin harus bersiap untuk dikalahkan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari kekuasaan.
Sementara di tempat yang lain, di dalam sebuah mobil mewah yang membelah jalanan malam, suasana terasa berbeda. Ken Aji duduk diam di belakang, sementara Marisa di sampingnya sibuk merapikan gaunnya. Di bangku depan, Kajayanti sesekali melirik sinis ke arah belakang.
"Marisa," panggilnya, suaranya terdengar tegang. "Jelaskan padaku, sebenarnya kita akan kemana?"
Ketenangan itu tiba-tiba terusik. Ken Aji menatap layar GPS di dasbor. Kerutan di dahinya semakin dalam.
Marisa menoleh, terkejut mendengar nada bicara suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Marisa lembut.
Ken Aji mengamati layar GPS yang membawa mereka ke sebuah mansion tua di pinggir kota, tempat yang sudah hampir dua puluh tahun ini dia hindari. Tempat yang menyimpan kenangan pahit dan rahasia kelam baginya. Firasat buruknya semakin kuat.
"Siapa temanmu yang mengadakan pesta ini?" tanya Ken Aji sekali lagi.
Marisa terlihat ragu, wajahnya terlihat bingung.
"Memangnya kenapa, Mas? Dia Alivia, istrinya mendiang Ferdinan Cassavanos, keluarga terpandang yang namanya sampai sekarang masih menguasai dunia bisnis," jawabnya, bangga.
“Kau gila?” bentak Ken Aji, matanya membulat sempurna.
"Ayah, ibu, hentikan! Kalian ini kenapa? Kita sudah sampai,” ujar Kajayanti yang sedari tadi hanya diam dan akhirnya menoleh.
Ken Aji menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
“Sial!” gumamnya.
Seandainya saja dia lebih peduli dan sedikit teliti saat menerima undangan itu. Sekilas, kejadian masalalu mulai merayap merasuki pikirannya. Kejadian yang terjadi sekitar dua puluh tahun silam.
Flash back on,
Di atas balkon rumah mewah yang menjulang tinggi, dua pria kakak beradik berdiri saling berhadapan. Mata mereka berkaca-kaca dengan emosi yang memuncak. Malam itu sunyi, hanya suara angin lembut yang berhembus di antara pepohonan di bawah.
"Aku ingin kau mati malam ini Ferdinan! Mati kau Ferdinan!" teriak Martin yang langsung mendorong Ferdinan ke pagar balkon rumah itu setelah pertengkaran hebat di antara keduanya terjadi.
Balkon yang sempit dan licin karena hujan membuat keseimbangan Ferdinan menjadi tidak stabil. Pagar balkon itu tidak cukup kuat untuk menahan tubuhnya. Ferdinan terlempar keluar balkon.
Martin dan Ken Aji berlari mendekati balkon. Tubuh Ferdinan bergelantungan di lantai balkon. Ken Aji mengulurkan tangannya untuk membantu Ferdinan.
Tapi Martin memukul Ken Aji. Dia tidak ingin Ferdinan selamat. "Apa-apaan kau ini, biarkan saja dia tiada!" bentaknya.
Ken Aji tersungkur ke tepi balkon. Tapi dengan cepat, ia bangkit. Dia menarik pakaian Martin dan melemparnya ke depan pintu.
"Keterlaluan! Kau bukan hanya telah mengkhianati keluargamu, tapi kau juga berambisi untuk menghabisi saudara kandungmu sendiri!" bentak Ken Aji pada Martin.
Ken Aji merasakan sakit di dadanya yang memar. Tapi dia masih berusaha untuk menyelamatkan Ferdinan. Dengan cepat, tangannya langsung menyambar tangan Ferdinan yang mulai terlepas dari pegangannya.
"Ferdinan! Ken, tolong selamatkan Ferdinan, kumohon!" pinta Maulidah, ibu Ferdinan dan Martin yang juga berada di sana pada Ken Aji dengan suara yang melemah.
Ken Aji sempat berteriak. Patahan besi pagar balkon yang rusak itu pasti yang telah menggores lengannya. Tapi Ken Aji sama sekali tak memperdulikan rasa sakitnya.
"Ferdinan, kau bertahan ya. Aku akan menolongmu!" ujarnya meyakinkan sahabatnya itu.
"Ken, Ken, lepaskan aku saja. Aku sudah tidak kuat lagi," ujar Ferdinan dengan terbata-bata.
"Tidak, kau berbicara apa? Kau akan selamat, aku akan membantumu!" sahut Ken Aji.
Wajah Ferdinan terkena percikan darah yang mengalir dari lengan Ken Aji. "Kau terluka Ken. Lepaskan saja aku, kau akan semakin terluka," pinta Ferdinan lagi.
"Tak apa asal kau selamat." Ken Aji masih dengan yakin berusaha menarik Ferdinan untuk naik.
Beberapa saat menahan sakit karena kepalanya yang terbentur, akhirnya Martin berhasil bangkit. Matanya masih tertuju jelas ke arah Ken Aji. Dia benar-benar ingin menghabisi Ferdinan.
"Hei, Martin-Martin, tenanglah Nak! Sadar, dia Ferdinan kakak kandungmu." Maulidah mendekap tubuh Martin agar tidak kembali menyerang mereka.
"Ken, dengarkan aku! Jika sesuatu terjadi padaku, tolong jaga perusahaan dan anakku Ken! Aku titip mereka kepadamu, hanya padamu," kata Ferdinan dengan suara yang makin lemah.
Ken Aji merasakan sakit yang mendera dadanya. Seolah itu adalah pesan terakhir Ferdinan untuknya. Setetes airmatanya terjatuh mengenai wajah Ferdinan.
"Mengapa kau menangis Ken? Kau tidak boleh lemah, tanggung jawabmu akan semakin besar setelah ini," ujar Ferdinan lagi dengan senyuman yang lebar.
Ken semakin teriris. Ferdinan mencoba bergurau di saat-saat tegang seperti ini. Tapi rasanya dia tidak akan melihat candaan itu lagi.
"Tidak! Kau tidak boleh menitipkan beban seberat itu padaku. Urus saja harta dan anakmu sendiri Ferdinan. Ayo naik! Tujuan kita masih banyak yang belum tercapai. Kita akan mencapainya bersama-sama," sahut Ken Aji yang mengabaikan kecemasannya dan masih yakin Ferdinan akan selamat.
Martin melempar lengannya untuk lepas dari dekapan sang ibu. Dia berlari menghampiri Ken dan Ferdinan. Martin memukul punggung Ken Aji dengan sikunya.
Ken Aji kesakitan. Genggaman tangannya pada Ferdinan akhirnya terlepas.
"Tidak ...!" teriak Ken Aji.
Ken Aji segera sadar dari lamunannya. Dia keluar dari mobil dengan langkah gontai. Punggungnya terasa nyeri, seolah-olah pukulan siku Martin dua puluh tahun lalu masih membekas. Kenangan kelam dari masa lalu masih berkelebat di benaknya.
Di depannya, Marisa dan Kajayanti sudah berdiri di depan pintu masuk mansion, memancarkan aura kebanggaan yang tak disadari. Mereka tidak tahu betapa gelapnya kenangan yang menyelimuti tempat itu bagi Ken Aji.
“Astaga…” rengkuh Ken Aji sekali lagi.
Ken Aji melirik sekilas ke arah balkon, tempat di mana dia melihat sahabatnya, Ferdinan, jatuh. Jantungnya berdegup kencang. Dia bisa mendengar kembali teriakan Martin, bisikan putus asa Ferdinan, dan suara patahan pagar besi yang menggores tangannya. Luka fisik itu sudah sembuh, tapi luka batinnya tidak pernah kering.
Semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin. Firasatnya mengatakan bahwa pesta ini bukanlah sebuah kebetulan. Melainkan jebakan yang dirancang khusus untuknya.