Sienna terdiam cukup lama untuk memahami arti dari ucapan Arden barusan.
Menandatangani kontrak pernikahan? Dan bercerai setelah enam bulan?
“Apa kamu bercanda?” tanya Sienna sinis. Entah kenapa hal itu membuat dadanya mendidih. Seolah dirinya benar-benar hanya sebuah alat permainan.
“Aku nggak pernah bercanda, Sienna? Atau aku harus memanggilmu Mbak Sienna?” balas Arden menyebut nama Sienna pertama kali.
“Aku hanya ingin mengambil keuntungan dari pernikahan ini, dan tentu saja. Kamu juga bisa mengambilnya. Atau ... apa kamu sungguh-sungguh menginginkan pernikahan ini karena tahu siapa aku sebenarnya?” lanjut Arden tajam.
Sienna berdecak mendengar ucapan Arden yang begitu angkuh.
“Dengar, aku nggak perduli siapa kamu sebenarnya. Apakah anak konglomerat atau anak Presiden sekali pun, aku sama sekali nggak tertarik dengan pernikahan ini,” balas Sienna menahan emosi. “Aku hanya ingin kamu menolak pernikahan ini! Untuk apa kita menikah kalau nggak saling cinta?” lanjut Sienna.
“Cinta?” Arden tertawa mendengar ucapan Sienna. “Apa kamu punya kuasa untuk menolak pernikahan ini?” tanya Arden sinis. Sienna hanya terdiam tak bisa menjawab.
“Tuh kan, kamu sama sekali nggak bisa menolaknya. Jadi, kenapa menolak penawaranku?”
“Penawaran?”
“Apa kamu tau arti perceraian setelah enam bulan? Itu artinya, kita akan mengakhiri pernikahan kontrak ini setelah enam bulan menikah. Selama itu, aku dan kamu nggak akan pernah saling mencoba untuk mencintai atau lain halnya. Lanjutkan kehidupanmu seperti biasanya, dan aku akan melanjutkan hidupku. Kita hanya perlu pura-pura menyetujui pernikahan ini. Hanya sampai hari pernikahan tiba, pura-puralah menerimanya,” jelas Arden mencoba memaksa Sienna agar mengerti maksud dari penawarannya.
Sienna terdiam cukup lama, mencoba menerjemahkan ucapan Arden barusan.
“Jadi ... maksudmu, kamu ingin kita menerima pernikahan ini dan setelah enam bulan, kita akan bercerai?” tanya Sienna memastikan.
“Ya!” jawab Arden semangat. “Itu yang aku maksud, bagaimana bisa seorang lulusan S1 nggak paham ucapan sederhana seperti itu?” tanya Arden setengah meledek.
Sienna berdiri dengan emosi yang membuncah dalam dadanya. “Aku bukannya nggak ngerti. Tapi aku nggak paham kenapa kamu melakukan ini? Apa susahnya menolak pernikahan ini, jika akhirnya bisa bercerai?”
“Sienna ... Apa kamu nggak lihat betapa Ayahmu sangat menghormati Ayahku? Apa kamu pikir aku bisa menolak pernikahan ini?” tanya Arden. “Satu-satunya jalan agar kita bisa terbebas dari belenggu ini adalah ... perceraian setelah pernikahan. Dan alasan kenapa aku membuat kontrak pernikahan ini, agar kita sama-sama punya satu pemahaman. Nggak ada cinta antara kita dan jangan menuntut diperlakukan suami istri sungguhan!”
Sienna mulai memahami maksud dari ucapan Arden dan akhirnya ia menghela napas.
“Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku punya satu syarat,” jawab Sienna akhirnya. “Jangan pernah sentuh aku selama pernikahan. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan memberikannya padamu,” ucap Sienna. Sorot matanya tersirat sebuah ketakutan yang ia pendam dalam.
“Oke! Aku juga nggak sudi untuk menyentuhmu,” jawab Arden tanpa banyak berpikir. Arden pun menggerakkan kursi rodanya lebih mendekat ke arah Sienna.
Saat kursi roda itu berhenti tepat di depan Sienna, ia mengulurkan tangannya dengan tatapan penuh percaya diri.
“Menikahlah denganku, Sienna,” ucap Arden dengan suara yang lebih lembut.
Sienna menatap tangan itu, ia menghela napas panjang. Perlahan Sienna menyambut tangan itu dan memegangnya dengan erat.
“Baiklah, ayo kita menikah,” jawabnya dengan menatap mata Arden, datar.
Hari pernikahan pun tiba.
Gaun putih sederhana melekat pada tubuh Sienna, jatuh anggun hingga menyapu lantai. Wajahnya dirias cantik, namun sorot matanya kosong, seolah tak ada kehidupan di sana. Di sampingnya, Bekti berdiri dengan wajah penuh senyum, memegang lengan putri sulungnya.
Saat pintu terbuka, Sienna melangkah bersama ayahnya menuju altar. Setiap langkah terasa berat, seakan rantai tak kasat mata menjerat kakinya.
Di ujung altar, Arden menunggu. Pria itu duduk di kursi roda, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya tampan namun datar. Tidak ada senyum. Tidak ada raut bahagia. Hanya tatapan kosong yang menatap lurus ke arah Sienna tanpa emosi.
Sesampainya di altar, Bekti menyerahkan tangan Sienna ke tangan Arden.
“Jagalah putriku,” ucapnya singkat, lalu kembali ke kursi tamu. Di sebrangnya Pandu pun duduk dengan wajah dingin. Meski senyum kecil tersirat dalam wajahnya.
“Saudara Arden Saka Ravindra, apakah kau bersedia menerima Sienna Wibowo sebagai istrimu dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, seumur hidupmu?” tanya pendeta.
“Saya bersedia,” jawab Arden cepat tanpa jeda sedikit pun.
“Saudari Sienna Wibowo, apakah kau bersedia menerima Arden Saka Ravindra sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, seumur hidupmu?”
Sienna terdiam beberapa detik, hatinya masih terasa berat. Namun, ia tahu ia tidak bisa mundur lagi.
“Saya bersedia,” jawabnya akhirnya.
“Dengan demikian, saya nyatakan kalian resmi sebagai suami dan istri. Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia. Kalian boleh saling bertukar cincin.”
Dua cincin pernikahan melingkar di jari mereka. Namun tidak ada tatapan mesra, tidak ada genggaman hangat. Hanya formalitas, sebuah ritual kosong yang mengikat mereka dalam kontrak enam bulan penuh keterpaksaan.
Tepuk tangan meriah pun mengakhiri sesi pernikahan itu. Sienna dan Arden hanya berdiri dengan wajah datar menatap wajah para tamu yang bersorak bahagia. Seolah ini adalah pesta mereka. Bahkan Bekti dan Pandu saling berpelukkan seolah misi mereka sudah selesai.
Malam pertama setelah pernikahan, Sienna langsung tinggal di rumah Arden yang diberikan oleh Pandu. Rumah yang tidak terlalu besar, tetapi tetap terlihat mewah karena selain ada tangga yang melingkar, juga tersedia lift yang memudahkan penghuninya naik turun dan kebetulan Arden sedang memakai kursi roda, dia pun tidak akan kesulitan mencapai kamarnya di lantai dua. Dihuni oleh beberapa pelayan dan supir untuk mengantar Arden.
Sienna melangkah masuk ke kamar utama yang harus ditempati bersama dengan Arden. Meski pun pernikahan mereka kontrak, tapi hanya tahu hanya mereka berdua. Sehingga para pelayan tak boleh mencurigai hubungan keduanya dan melaporkan pada Pandu.
Tatapan matanya tertegun pada kamar yang begitu luas dengan ranjang king size. Sienna menyentuh selimut tebal dan lembut itu. Ia tersenyum kecil merasakan kehangatan dari kamar besar itu.
Tak lama pintu terbuka, Arden menggerakan kursi rodanya masuk ke dalam. Pelayan yang membukakan pintu, langsung menutupnya kembali. Meninggalkan keduanya yang kini saling tatap dengan canggung dan tanpa ekspresi.
“Kamu datang,” ucap Sienna canggung. Ia berjalan menjauh dari ranjang. “Apa kamu ingin istirahat? Aku bisa tidur di sofa,” lanjut Sienna menunjuk sofa di sebelah ranjang.
“Sienna,” panggil Arden menghentikan langkah Sienna.
Sienna segera terhenti dan menatap canggung. “Kenapa?”
“Bantu aku naik ke atas ranjang,” pinta Arden, tapi lebih terdengar seperti sebuah perintah.
“Kenapa nggak panggil perawat saja?” tanya Sienna gugup.
Arden mendecak, lalu menatapnya tajam. “Karena sekarang kamu istriku. Atau kamu lupa janji tadi siang di depan pendeta?”
Sienna menarik napas panjang, menahan rasa muak yang bergolak di dadanya. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di samping kursi roda itu. Dengan susah payah, ia membantu menahan tubuh Arden agar bisa berpindah ke ranjang. Otot-otot tangannya menegang, keringat dingin mulai muncul di pelipis.
Namun, saat tubuh Arden hampir sampai di ranjang, tiba-tiba pria itu menarik pergelangan tangan Sienna dengan cepat. Tubuh Sienna terhuyung, jatuh tepat ke dadanya.
“Aaa!” seru Sienna kaget, matanya membesar.