Jantung Sienna berdetak kencang, matanya terbelalak saat menyadari posisinya begitu dekat dengan Arden. Ia terjatuh di samping tubuh pria itu, dengan kepalanya terperangkap di dalam lengannya.
Sienna buru-buru berusaha bangkit, namun Arden menahan tubuhnya dengan erat.
“A-apa yang … sedang kamu lakukan?” tanya Sienna tercekat, napasnya berat, matanya memerah menahan amarah sekaligus panik.
Arden tersenyum tipis, tatapannya sinis membuat suasana begitu mencekam.
“Santai saja. Aku nggak akan melakukan apa-apa. Kamu sendiri kan yang minta syarat jangan pernah disentuh? Aku hanya ingin lihat wajahmu dari dekat.”
Sienna melotot, dadanya naik turun tak beraturan. Namun tiba-tiba, sebuah ingatan lima tahun lalu yang kelam melintas. Bayangan menakutkan, suara tawa yang menyeramkan, semuanya datang menghantam tanpa ampun. Tubuhnya bergetar hebat, seolah kembali terjebak dalam mimpi buruk.
Deru napasnya menjadi semakin pendek, terputus-putus. Arden menyadari sesuatu berubah dalam raut wajah Sienna.
“Hei … kamu kenapa?” tanya Arden panik. Ia mengguncang tubuh Sienna, tapi Sienna seperti tak mendengar. Matanya melirik ke sana ke mari seolah melihat sesuatu di sekitarnya. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
Arden membelalakkan mata, tangannya mengguncang lebih keras. “Sienna! Sadarlah!”
Namun tubuh Sienna terus bergetar hebat, hingga perlahan pandangannya mulai buram. Nafasnya tersendat, wajahnya pucat. Dan akhirnya, tubuhnya jatuh lemas di pelukan Arden.
“Sienna!” panggil Arden hampir berteriak. Panik melanda, kecemasan mulai ia rasakan saat melihat Sienna menutup mata dan kehilangan kesadarannya.
Sienna terkulai di pelukan Arden. Wajahnya pucat, napasnya lemah. Panik langsung menyelimuti Arden, sesuatu yang jarang sekali awia rasakan.
“Lucas!” seru Arden dengan suara keras.
Pintu kamar segera terbuka, Lucas berlari masuk dan terkejut melihat keadaan Sienna.
“Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu,” ucap pelayan setia yang ditugaskan di sana, ia buru-buru menghampiri.
“Bantu aku… baringkan dia dengan benar,” pinta Arden.
Dengan cekatan, Lucas membantu membaringkan Sienna di sisi Arden. Ia merapikan posisi tubuh Sienna, menyelimutinya agar lebih hangat. Arden sendiri bergeser sedikit, memastikan Sienna berada dalam posisi yang nyaman di tempat tidur.
“Apa yang terjadi Tuan? Apa Nona Sienna tertidur?” tanya Lucas heran melihat wajah Arden yang panik.
“Dia pingsan. Panggilkan dokter sekarang juga,” ucap Arden cemas.
“Baik, Tuan,” jawab Lucas sebelum bergegas keluar.
Setengah jam kemudian, Dokter keluarga, Dokter John masuk membawa tas medisnya. Ia segera mendekati ranjang dan mulai memeriksa kondisi Sienna. Ia mulai dengan mengecek denyut nadi, pernapasan, dan refleksnya.
Arden menatap penuh cemas, ia masih duduk atas ranjang sebelah Sienna.
“Bagaimana keadaannya?” tanyanya dingin.
“Nggak ada yang berbahaya, Tuan. Nona Sienna mengalami kekurangan oksigen. Hal ini bisa dipacu oleh syok atau trauma tertentu. Bisa juga karena kelelahan,” jelas Dokter John.
Arden menatap Sienna yang masih tak sadarkan diri, ia tak percaya akan melihat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Untuk saat ini, saya hanya akan memasang infus agar tubuhnya mendapat asupan nutrisi. Saya juga akan meresepkan obat untuk membantu pemulihan. Biarkan dia beristirahat penuh.”
Dokter John langsung memasangkan infus. Lalu pamit keluar dengan diantara oleh Lucas. Setelah mereka pergi, Arden menatap Sienna dengan tatapan penasaran.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Aku yakin, kalau karena kelelahan dia nggak akan seperti ini,” gumam Arden heran.
Dalam keheningan, Arden menatap wajah Sienna yang terlelap dengan wajah yang mulai berwarna. Cairan infus itu bereaksi dengan cepat. Dalam hati, Arden bertanya-tanya apa yang membuatnya mau menerima pernikahan ini, jika di sentuh sedikit saja membuatnya hampir mati seperti itu.
Pagi menjelang, perlahan mata Sienna terbuka. Pandangannya sempat buram sebelum akhirnya ia benar-benar sadar. Ia merasa sesuatu menusuk tangannya. Begitu melihat selang kecil menempel pada pergelangan, matanya melebar terkejut.
Namun saat ia menoleh ke samping ranjang, jantungnya berdegup kencang. Arden duduk bersandar di ranjang bersender pada dipan ranjajng, ia menatap tajam ke arah Sienna yang segera langsung duduk dengan kikuk.
“Apa kamu tidur dengan nyenyak?” tanyanya mengejek. “Atau kamu sudah puas mencari perhatian?”
Sienna mengernyitkan dahinya bingung. “Kenapa… aku bisa diinfus?” tanyanya pelan.
Sudut bibir Arden melengkung sinis. “Hm. Jadi belum selesai mencari perhatian rupanya.”
“Aku nggak lagi berusaha mencari perhatian,” sanggah Sienna, matanya berkilat penuh ketidaksenangan.
Arden mendengus pelan. Dengan santai ia menekan tombol bel di sisi tempat tidur. Tak lama, Lucas masuk dengan cepat.
“Ya, Tuan.”
“Bantu aku turun,” perintah Arden singkat.
Lucas dengan sigap mendekat, membantu Arden bangkit dari ranjang dan memindahkannya ke kursi roda. Tanpa sepatah kata lagi, Arden berbalik dan meninggalkan kamar.
“Bagaimana keadaan Nona Sienna?” tanya Lucas sopan.
“Apa yang terjadi padaku?” tanya Sienna masih tidak mengingat apa yang terjadi semalam.
“Anda pingsan semalam, dokter akan datang untuk memeriksa kondisi anda,” jawab Lucas.
“Pingsan?” gumam Sienna tak percaya.
Saat Lucas pamit keluar kamar, Dokter John masuk dengan langkah pelan.
“Pagi nona Sienna, apa yang anda rasakan sekarang?” tanya Dokter John dan mulai memeriksa Sienna dengan teliti, mengecek tekanan darah dan kondisinya.
“Apa saya pingsan semalam? Tapi ... kenapa?” tanya Sienna heran.
“Syukurlah, keadaa anda sudah jauh lebih baik,” ucap Dokter John tenang. Ia lalu melepas jarum infus dari tangan Sienna dengan hati-hati. “Apa anda tidak mengingat apa yang terjadi semalam?” tanya Dokter John hati-hati.
Sienna menggeleng meski pun ia ingin mengingatnya sekuat tenaga.
“Sebaiknya nggak perlu diingat, yang paling penting anda sudah jauh membaik dan beristirahatlah. Jangan pikirkan sesuatu yang berat,” ucap Dokter John berusaha menenangkan Sienna lalu membereskan peralatan pemeriksaan.
“Jika merasakan gejala lain seperti pusing, mual dan muntah kabari saya saja. Saya akan langsung datang ke sini,” ucap Dokter John lalu pamit.
Sienna merasa heran, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia sama sekali tidak ingat apa-apa?
Dokter menghampiri Arden yang berada di ruang tengah, ditemani Lucas yang berdiri di belakang kursi rodanya.
“Tuan Arden, Nona Sienna sudah membaik secara fisik keadaannya,” ucapnya perlahan.
“Namun, saya menemukan tanda-tanda yang cukup mengkhawatirkan.”
Alis Arden sedikit terangkat. “Apa maksudmu?” tanyanya dingin seolah tidak mau peduli.
“Saat saya bertanya beberapa hal sederhana, Nona Sienna tampak kebingungan. Ia nggak mengingat jelas apa yang terjadi semalam. Reaksinya semalam bisa saja dipicu oleh sesuatu dari masa lalunya. Saya menduga ini adalah bentuk trauma yang cukup besar.”
Arden terdiam, kedua jarinya mengetuk lengan kursi rodanya pelan.
“Bisa jadi ini termasuk amnesia disosiatif atau setidaknya amnesia sesaat. Kondisi ini sering muncul ketika seseorang menghadapi tekanan emosional atau pengalaman traumatis yang sangat berat. Ingatan tertentu bisa terkunci, bahkan hilang sementara.”
“Lalu apa yang harus dilakukan?” tanya Arden singkat.
“Untuk sementara, biarkan ia tenang. Jangan memaksanya mengingat hal-hal yang tampak ia lupakan. Yang paling penting, jangan membuatnya merasa terpojok. Jika gejalanya berlanjut, saya sarankan terapi psikologis lebih mendalam.”
Arden mengangguk dan melirik Lucas yang langsung mengantar Dokter John pergi keluar rumah.
Arden terdiam cukup lama, tatapannya penuh tanda tanya besar tentang rahasia apa yang sebenarnya terjadi pada Sienna.