Di ruang makan dengan lampu kristal menggantung di atas kepala, aroma makanan mewah yang terhidang di meja panjang. Sienna dan Arden kini duduk berhadapan dengan makanan di piring masing-masing.
Sienna duduk di kursinya, berusaha mengabaikan tatapan tajam Arden yang duduk di seberang. Ia menunduk, menyendok sup hangat ke mangkuknya, tapi rasa canggung membuat lidahnya kelu.
“Besok … aku akan kembali bekerja,” ucap Sienna memecah keheningan.
Arden yang sedang memotong steaknya menghentikan gerakan pisaunya. Ia menatap Sienna dengan sorot mata dingin.
“Apa kamu harus bekerja?” tanyanya datar.
“Maksudmu apa?”
Arden menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi rodanya, mengambil gelas dan menenggak air putih.
“Bukannya jadi istri aku berarti kamu nggak perlu bekerja lagi? Kamu akan mendapatkan uang bulanan sepuluh kali lipat dari gajimu sebulan. Dan kalau masih kurang, katakan saja. Ayahku akan memberikannya,” ucap Arden santai setengah meledek.
Sienna tersenyum kecil mendengar itu. Ia menaruh sendoknya menatap Arden dengan tajam.
“Itu uang ayahmu, bukan uangmu. Sebagai suami, seharusnya kamu yang memberiku uang, bukan menyandarkan hidup pada ayahmu.”
Tatapan Arden langsung mengeras. Ia meraih gelasnya dengan erat, jemarinya mencengkram seakan ingin menghancurkannya.
“Apa kamu pikir aku nggak punya uang? Tabunganku banyak. Aku juga punya saham di perusahaan. Tanpa harus bekerja, aku mendapatkan uang tiap bulan. Jadi, apa kamu khawatir aku tidak bisa menafkahimu?”
Sienna justru terkekeh sinis. “Nggak, aku hanya nggak ingin terjebak seharian di sini bersamamu. Aku tahu kamu orang yang menyebalkan. Itu saja.”
Jawaban itu menusuk ego Arden. Ia ingin sekali membentak, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya bukan pria yang bisa diremehkan. Namun, ucapan dokter tentang kondisi Sienna semalam masih terngiang, membuatnya menahan diri.
Arden kembali ke steaknya, mencoba memotong daging di hadapannya. Namun begitu potongan itu masuk ke mulut, ia langsung mencebik kesal. Rasa masakan itu tidak sesuai keinginannya. Seketika emosinya meledak.
“Lucas!” bentaknya dengan suara keras hingga ruangan bergema. Lucas, yang berdiri tak jauh di belakang, segera mendekat.
“Ada apa, Tuan Muda?” tanyanya hati-hati.
Arden membanting garpu ke meja, ia berdengus marah.
“Rasanya menjijikkan! Pecat koki sialan itu sekarang juga!” teriaknya lantang. Dengan penuh amarah, ia menyambar piring steaknya lalu melemparkannya ke lantai hingga pecah berantakan.
Sienna membeku di tempat, kedua matanya melebar. Ia tak pernah melihat seseorang marah dengan cara seperti itu, apalagi hanya karena masalah makanan.
Tak lama kemudian, koki rumah itu datang dengan wajah pucat. Ia berlutut di lantai, tangannya gemetar.
“Tuan Muda, mohon ampuni saya. Itu kesalahan saya. Beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya. Saya akan memasaknya kembali sesuai keinginan Anda. Tolong… jangan pecat saya,” ucapnya dengan suara bergetar.
Namun Arden tidak peduli. Sorot matanya penuh penghinaan. “Kau pikir aku akan makan makanan busuk ini lagi? Dasar bodoh! Kau hanya diberi satu tugas sederhana, memasak untukku, dan kau bahkan tidak bisa melakukannya dengan benar!”
“T-tolong, Tuan Muda. Saya janji—”
“Diam!” potong Arden kasar. Ia menunjuk pintu dengan gerakan tegas. “Keluar dari hadapanku sebelum aku benar-benar menyeretmu keluar dengan tanganku sendiri!”
Koki itu menunduk dalam-dalam, hampir menyentuh lantai. Tapi Arden yang tidak memberikan kesempatan sama sekali membuanya pergi dengan langkah tertatih. Lucas hanya bisa menunduk, tak berusaha mencegah seolah hal ini sudah biasa terjadi.
Hari itu berubah menjadi mimpi buruk bagi Sienna. Setiap saat ia selalu mendengar suara bentakan Arden yang menggema.
Saat sedang duduk di ruang keluarga, Arden kembali berteriak dengan kasar.
“Bagaimana bisa kau menuangkan teh terlalu panas seperti ini?! Apa kau ingin membakarku, hah?!” bentaknya membuat seorang pelayan perempuan menunduk gemetar sambil meminta maaf berulang kali.
“Pecat dia sekarang juga. Dia ingin membunuhku!” teriak Arden pada Lucas yang hanya bisa mengangguk tanpa membantah.
Beberapa saat, Sienna yang baru selesai mandi sore kembali dikejutkan dengan suara gaduh dari dapur. Rasa penasaran membuatnya mendekat dan mengintip. Di sana Arden duduk di kursi rodanya, wajahnya merah padam. Di hadapannya, seorang pelayan laki-laki berlutut dengan kepala menunduk.
“Lihat sendok ini! Apa kau ingin meracuniku dengan memberikan sendok kotor!” teriak Arden, ia bahkan membanting piring dengan keras hingga terpecah di lantai.
“Lucas, pecat dia dari sinis sekarang juga!”
Sienna hanya bisa terdiam menyaksikan. Setiap kesalahan kecil bahkan yang nyaris tidak berarti selalu berujung dengan pemecatan. Dalam waktu kurang dari sehari, sudah tiga pelayan dipulangkan.
Saat makan malam, Arden kembali menggebrak meja karena serbet tidak diletakkan sesuai posisinya. Pelayan yang membawanya langsung pucat pasi.
“Pecat dia!” teriak Arden dengan nada dingin, membuat Sienna sontak menoleh kaget.
“Arden!” seru Sienna, akhirnya tak bisa menahan diri. “Apa itu tidak berlebihan? Itu hanya serbet kenapa kamu begitu kasar dan semena-mena!” ucap Sienna dengan nada yang tinggi membuat Arden menoleh tajam.
“Apa urusannya denganmu, Sienna. Mereka pegawaiku, suka-suka aku dong mau pecat mereka atau nggak! Toh ayahku tidak akan marah kalau aku melakukan semua ini, meski pun yang bayar ayahku?”
Sienna menahan keheranan dan ketidaksukaannya. Ia memang tidak menyukai Arden sejak awal, tapi menyaksikan bagaimana pria itu memperlakukan orang lain dengan semena-mena membuat hatinya semakin muak.
“Apa kamu ... bersikap seperti ini karena ucapanku pagi tadi?” tanya Sienna mengerutkan dahi.
“Tidak, untuk apa aku begitu hanya karena ucapan seorang istri yang tidak menuruti suaminya! Ah ... karena kamu mendapatkan semua dari ayahku? Jadi, kamu hanya ingin menuruti perintah ayahku?” ucap Arden dengan nada mengejek. Seolah ia sedang merendahkan Sienna yang tak bisa bergutik.
“Apa kamu sedang mengejekku?”
“Kenapa? Apa nggak boleh? Aku bisa saja melaporkan ini pada ayahku, mungkin ... ayahmu akan dalam masalah?” Arden tersenyum sinis seolah dia pemenangnya saat ini.
Sementara Sienna hanya bisa mengepal tangannya kuat-kuat, ia tidak menyangka jika sikap Arden melebihi bayangannya. Tanpa sepatah kata, ia pun memilih bangkit dan pergi ke kamar, membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya kembali. Ia bersandar di balik pintu, mencoba menenangkan napasnya yang naik turun karena amarah.
Arden yang melihat Sienna pergi begitu saja memilih untuk menyusul. Ia menggerakkan kursi rodanya menuju lift yang tak jauh dari ruang makan. Setelah lift berhenti di lantai dua, Arden menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mereka.
Tanpa permisi, Arden membuka pintu dengan kasar. Ia masuk dengan senyum angkuhnya.
“Kenapa pergi begitu saja?” tanyanya dingin. “Apa kamu baru sadar siapa yang kamu nikahi sekarang? Aku ini Arden Saka Ravindra. Aku bisa saja menceraikanmu sekarang juga. Apa kamu pikir aku tidak bisa?”
Tatapan Arden tajam. Ia sengaja mendekat, menunggu reaksi Sienna.
“Kalau begitu, lakukan saja,” ucapnya lantang. “Ceraikan aku sekarang juga.”
Arden sedikit tertegun. Sienna melangkah maju, berdiri tepat di hadapan kursi rodanya. “Tapi... apakah itu berarti kamu siap kehilangan warisan dari ayahmu? Apa kamu benar-benar rela dicoret dari keluarga hanya karena ingin cerai dariku?”
Kata-kata itu membuat Arden terdiam sejenak. Senyum angkuhnya perlahan memudar, tergantikan oleh tatapan yang lebih gelap.