Drama

Ingin Mati

04 October 2025

Arden menggerakkan kursi rodanya dengan cepat, dadanya panas dipenuhi amarah. Sienna hanya bisa menatapnya heran, tidak mengerti apa yang hendak dilakukan Arden.

Arden berhenti di depan pintu balkon kamar mereka lalu menarik gagangnya dengan kasar. Seketika udara dingin dan suara hujan deras masuk menerpa ruangan.

“Arden … apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Sienna mulai waspada.

Arden tidak menjawab. Dengan gerakan pelan, ia berpegangan pada kusen pintu balkon dengan susah payah, berusaha mengangkat tubuhnya sendiri. Napasnya terengah, tangan kirinya meraih tembok untuk menopang berat badannya.

“Arden!” seru Sienna panik. Ia berlari menghampiri, mencoba menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh. “Kamu gila, ya! Kamu mau apa?”

“Lepaskan aku!” teriak Arden. “Aku memang sudah gila! Apa kamu pikir aku menikahimu hanya sekadar untuk warisan? Ayahku ... bahkan tidak peduli jika aku mati sekarang!”

Sienna tertegun, ia kembali mencoba menarik Arden untuk menjauh dari pagar tembok tepi balkon. Jika dibiarkan Arden mungkin bisa melompat dari pagar yang hanya setinggi pinggangnya itu.

“Jangan bicara sembarangan! Ayahmu nggak mungkin seperti itu!” balas Sienna mencoba untuk membujuk Arden.

“Jika aku mati, kamu… akan mendapatkan bagian warisanku! Bukankah kamu akan bahagia?” lanjut Arden dengan senyum pahit.

Sienna menatapnya dengan mata membesar, tidak menyangka ucapan sekejam itu keluar dari bibir Arden. Hujan deras menyapu wajahnya, membasahi rambutnya yang sudah acak-acakan.

“Arden, tolong … kembali duduk. Kamu bisa jatuh!” ucap Sienna panik.

Arden menatap tajam seakan tahu Sienna tidak akan mengerti perasaannya.

“Kamu nggak tahu kan rasanya nggak dianggap? Rasanya menjadi beban… nggak lebih dari orang lumpuh yang hanya membuat malu keluarga sendiri!” teriak Arden lagi, matanya memerah seolah menahan air mata.

“Aku menikahimu bukan semata-mata untuk mendapatkan warisan. Aku menikahimu karena… setidaknya ayahku masih menganggapku ada, meski dia harus mengancamku dengan semua kekayaannya. Aku hanya ... ingin dia tau, bahwa aku masih menjadi anaknya.”

Air hujan menetes deras di wajah Sienna, bercampur dengan air matanya yang mulai jatuh. Ia mencoba meraih tangan Arden, namun pria itu masih menegang, menolak mundur.

“Arden… tolong tenanglah,” pinta Sienna memohon. “Jangan sakiti dirimu seperti ini.”

Arden hanya tertawa getir, terengah karena tenaganya terkuras. “Tenang? Bagaimana aku bisa tenang kalau sejak awal keberadaanku nggak pernah dianggap? Aku… hanya bayangan. Nggak ada yang benar-benar menginginkan aku bertahan hidup.”

Sienna menggeleng, air matanya sudah tak bisa ia bendung lagi. “Aku juga merasakan hal yang sama, Arden!”

Arden membeku, menatap Sienna yang menunjukkan sorot mata yang sendu. Seolah sedang menahan rasa sakit dalam dadanya.

“Bagi keluargaku… aku hanyalah penghalang untuk adikku. Mereka bahkan nggak peduli pada perasaanku. Kalau aku menolak pernikahan ini, mereka akan mengusirku. Mereka nggak akan menganggapku keluarga lagi!” lanjut Sienna menangis lebih keras seolah lebih sakit dari pada Arden.

Sienna menarik napas pelan, mencoba untuk menenangkan diri.

“Jadi jangan pikir hanya kamu yang merasa sendirian. Jangan pikir aku datang ke sini tanpa luka. Aku pun ... membawa kepedihan yang sama.”

Arden menelan ludah, tangan yang masih mencengkeram tembok mulai kehilangan kekuatan. Sorot matanya tidak lagi setajam tadi, seolah bisa merasakan kesedihan yang sama Sienna rasakan.

Sienna mengulurkan tangannya, mencoba untuk kembali membujuk Arden.

“Tolong … duduk kembali. Jangan siksa dirimu seperti ini,” ucap Sienna memohon dengan tatapan yang tulus.

Arden memandang tangan Sienna yang terulur. Ia melihat sesuatu yang berbeda di mata wanita itu, sebuah ketulusan yang sama-sama terluka.

Mata Arden nanar. Ia perlahan melepaskan pegangan pada tembok, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan hingga Sienna buru-buru menopangnya. Namun, berat badan Arden yang tidak sebanding dengan Sienna, membuat keduanya sama-sama terjatuh di lantai balkon.

Angin semakin kencang membawa air hujan membasahi tubuh keduanya. Sienna menatap wajah Arden yang berada di atasnya, Arden mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Namun, tatapan matanya dalam ke mata Sienna. Begitu pun Sienna yang tidak menghindari tatapan wajah Arden.

Detak jantung keduanya semakin kencang, melebur dengan derasnya air hujan. Entah apa yang keduanya rasakan hingga Arden tanpa berpikir panjang menempelkan bibirnya pada bibi Sienna. Mata Sienna terbelalak, tapi ia tidak menolak. Perlahan matanya terpejam dan membalas ciuman itu.

Dalam hujan yang semakin deras, dinginnya lantai. Keduanya tenggelam dalam perasaan yang mulai menyatu. Seolah sesuatu yang mereka butuhkan, akhirnya datang tanpa terduga.


Kini Arden bersandar pada headboard ranjang, bajunya sudah berganti. Di tangannya, ia sibuk bermain game dari ponsel. Suara hujan di luar sudah mereda, hanya menyisakan rintik-rintik kecil di jendela. Secangkir susu hangat masih mengepulkan uap tipis di atas meja nakas.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Sienna keluar dengan rambut masih basah, menetes hingga ke ujung gaun tidurnya. Ia tampak kikuk, melangkah pelan lalu duduk di kursi meja rias, mulai mengeringkan rambut dengan handuk. Wajahnya tertunduk, seakan tak berani menatap ke arah ranjang.

Arden sesekali melirik. Hatinya dipenuhi tanya. Mengapa semalam, ketika ia mendekat, Sienna begitu ketakutan hingga pingsan? Namun barusan… ia tidak menolak, bahkan membalas ciumannya. Ada sesuatu yang sulit ia pahami dari wanita itu. Dan itu membuatnya sangat penasaran.

“Arden—” “Sienna—”

Keduanya saling menatap, terkejut. Sejenak canggung, lalu Arden tersenyum tipis.

“Kamu duluan saja.”

Sienna menggenggam handuknya erat-erat, menunduk. “Apa yang terjadi barusan… lupakan saja. Aku pikir kita hanya terbawa suasana. Jadi, tak ada yang berarti,” ucapnya pelan seolah ada keraguan.

Arden terdiam, tapi akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah… kalau itu yang kamu mau.”

Sienna menaruh handuk, lalu memberanikan diri naik ke ranjang. Ia masuk ke dalam selimut di samping Arden. Keduanya masih sangat canggung meski sama-sama sadar jika kejadian tadi hanyalah angin lalu.

“Minumlah susu di nakas sampingmu. Mumpung masih hangat, sebelum kau masuk angin,” ucap Arden dengan mata yang masih menatap game di ponselnya.

“Terima kasih,” ucap Sienna lalu meraih gelas itu. Ia menyesap perlahan, menikmati hangatnya susu ke tenggorokannya.

“Sienna,” panggil Arden memecah keheningan. “Apa kamu punya trauma yang sulit kamu terima?”

Pertanyaan itu membuat Sienna terhenti, tangannya gemetar sedikit saat menaruh gelas kembali di nakas. Ia menoleh perlahan, menatap Arden yang juga memandangnya serius.

“Aku hanya ingin tahu. Karena aku… juga memilikinya. Aku sangat takut dengan sepeda motor sekarang, padahal dulu itu hobiku. Aku suka kebebasan di jalanan, kecepatan, adrenalin. Tapi karena hobiku itu… aku kehilangan kedua kakiku,” jelasnya menerawang kejadian mengerikan itu.

Sienna menunduk, kedua tangannya bergetar di atas selimut. “Aku… dulu mengalami kekerasan. Dari seorang pria yang sangat dekat denganku. Itu… membuatku takut untuk berhubungan dengan pria lagi.”

Arden terkejut mendengar pengakuan itu. Sienna berusaha tersenyum, tapi matanya jelas menampakkan luka yang belum sembuh.

“Itu sebabnya… aku selalu menjaga jarak. Aku nggak mau terluka lagi.”

Keduanya terdiam, dengan tatapan penuh luka. Dengan perasaan yang mulai menyatu, saling memahami bahwa mereka sama-sama terluka.