“Tanganmu kenapa kasar begini? Kamu kenapa saat kerja?”
Arga tersenyum menutupi kegugupan. “Ah, ini tadi cuma kena debu dan tanah. Biasa, kerjaan di luar.”
Nabila mengangguk, tapi tidak benar-benar yakin. Ia merasa kelakuan suaminya akhir-akhir ini sangatlah berbeda dari Dirga yang dikenal sebelumnya saat mereka masih pacaran. Dalam tatapan kosong itu, ia berpikir panjang dalam kebingungan dan kebimbangan. Sementara itu, Arga sedang mandi, membersihkan diri dari kotoran debu dan keringat di pekerjaanya.
Malam harinya, saat mereka duduk bersama di ruang tamu, Nabila juga mendengarkan langkah kaki Arga dengan saksama. Dulu langkahnya ringan, sekarang sering terdengar berat dan lelah. Hidungnya pun menangkap aroma berbeda dari pakaian Arga, bukan lagi wangi parfum yang biasa ia kenal, melainkan bau yang berbeda dari sebelumnya.
Semua itu membuat Nabila semakin yakin, ada sesuatu yang disembunyikan atau Dirga yang sudah berubah sikapnya. Semua itu adalah tanda tanya besar di otak Nabila.
Di sisi lain, Fenny masih berusaha menutupinya. Setiap kali Nabila bertanya, ia selalu punya jawaban menenangkan, dengan beralasan bahwa Dirga sibuk kerja kantor, dia sedang banyak urusan keluarga, atau hanya kelelahan setelah seharian bekerja.
Akan tetapi, naluri seorang wanita sulit dibohongi. Diam-diam, Nabila mulai menyiapkan cara untuk mencari kebenaran. Meski ia buta, kepekaan di dalam hatinya sangatlah tajam.
**
Beberapa hari berikutnya, kecurigaan Nabila semakin menguat. Setiap kali ia meraba pakaian Arga sepulang kerja, hatinya seperti berkata bahwa suaminya tidak sedang menjalani pekerjaan yang ia kira.
Malam itu, setelah Arga terlelap, Nabila duduk sendirian di ruang tamu. Jemarinya meraba pelan kursi rotan di samping, lalu ia bergumam pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri.
“Kalau terus menunggu jawaban, aku tidak akan pernah tahu kebenarannya. Aku harus mencari cara lain, apa yang sebenarnya Dirga sembunyikan.”
Nabila mulai menyusun rencana diam-diam. Ia tahu, ia tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan, tapi ia masih punya telinga dan naluri yang tajam. Esoknya, ia mengatakan kepada Bi Wati - pembantu rumah tangga bahwa ia ingin keluar untuk mencari angin segar, serta menemaninya berjalan ke pasar. Namun, tujuan sebenarnya bukanlah belanja, melainkan mencari tahu arah jalan yang biasanya dilalui untuk berangkat kerja ke perusahaan.
Bi Wati awalnya menolak, karena kondisi Nabila yang tak bisa melihat. Namun, karena Nabila terus mendesaknya, Bi Wati pun menyetujuinya.
Sesampainya di pasar, Nabila memperhatikan arah angin, suara kendaraan, dan suara langkah orang-orang.
“Non, kamu tunggu di sini ya. Maaf aku harus ninggalin Non sebentar, karena tak mungkin Non masuk ke area dalam pasar.”
“Baik, Bi. Aku akan menunggu di sini.”
“Non jangan ke mana-mana. Tataplah duduk di sini.” Bi Wati sebenarnya bimbang, tak mungkin meninggalkan seorang wanita buta sendirian di pasar. Takutnya ada orang jahat yang mungkin saja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Maka dari itu, ia harus cepat belanjanya dan kembali ke tempat Nabila berada.
Sementara itu, Nabila duduk seorang diri di tengah keramaian pasar, tak ada yang menyapa maupun mengajak bicara. Semua orang yang lewat tak jauh darinya, cuma meliriknya saja.
Dengan hati-hati ia menandai dalam ingatannya. ‘Sepertinya … aku pernah berada di sini sebelumnya,’ batinnya sambil mengingat masa lalunya saat ia masih bisa melihat. Ia masih bisa merasakan dan mengingat, dulu di tempat tersebut.
Kenangan masa lalu di pasar tersebut begitu indah untuk diingat. Kini, Dirga berbeda dan Nabila ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
Tak cukup sampai di sana, ia juga mulai menanyakan hal-hal kecil pada orang-orang di sekitar rumah, dengan cara yang samar. Hanya untuk mengetahui tentang suaminya. Yang ia takuti, apabila Dirga yang jabatannya seorang CEO, tiba-tiba turun pangkat tanpa alasan yang jelas. Sebab, setiap kali ia meraba pakaian untuk membantu melepaskannya, ia tak selalu memakai jas bersih, melainkan pakaian yang kotor.
Orang-orang menjawab dengan jawaban beragam, tapi beberapa dari mereka menyebutkan ada seorang pria muda yang tiap hari lewat dengan seragam petugas kebersihan, membuat Nabila tersentak kaget.
Hati Nabila bergetar. Ia tidak menyebut nama, tapi dalam hatinya ia tahu siapa yang dimaksud.
Malamnya, saat Arga pulang dan ia memeluknya seperti biasa, Nabila berusaha menyembunyikan gejolak di hatinya. “Sebentar lagi, aku akan tahu, apa yang kamu rahasiakan, Ga. Cepat atau lambat,” gumamnya dalam hati.
**
Pagi itu, setelah Arga berangkat kerja, Nabila menggenggam tongkatnya erat. Hatinya dipenuhi tekad. “Aku harus tahu kebenaran, meski aku buta,” bisiknya pada diri sendiri. Dengan langkah hati-hati, ia menyusuri lorong rumah, membuka pintu depan, lalu melangkah keluar tanpa sepengetahuan siapa pun. Selama beberapa hari tinggal di rumah tersebut, ia sudah hafal dengan letaknya.
Nabila melangkah perlahan ke dalam garasi, tongkatnya mengetuk lantai semen yang dingin setiap kali ia maju. Aroma bensin dan debu tercium samar. Ia berhenti, mengangkat wajahnya sedikit, seolah menatap sesuatu yang tak bisa lagi ia lihat.
Tangannya meraba permukaan logam yang dingin. Mobil suaminya masih di situ. Ia mengusap perlahan, mengingat betul bentuk lekuk pintu dan emblem di bagian belakang. Tapi aneh, mobil itu tak hancur sama sekali.
Nabila berdiri terpaku. Tangannya gemetar saat meraba permukaan kapnya yang dingin, mulus tanpa sedikit pun goresan. Ia menunduk, mencari bekas lecet yang mungkin ada di bagian bumper, tapi tak ada. Semua tampak tak ada apa-apa, seolah waktu memutar ulang keadaan ke masa sebelum kecelakaan itu terjadi.
“Tidak mungkin …,” bisiknya lirih. Napasnya terasa berat. Ia melangkah mundur pelan, mencoba menenangkan diri. “Mobil ini ... aku tahu betul bentuknya, bentuknya, merk, dan typenya. Ini milik Dirga.”
Hatinya berdegup tak karuan. Ingatannya tentang kecelakaan itu kembali menyeruak, suara benturan keras, kaca pecah, jeritan sopir, lalu pandangan mendadak gelap. Namun, setiap kali ia mencoba mengingat lebih jauh, kepalanya terasa seperti ditusuk jarum.
“Kenapa aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas?” ujarnya, menahan sakit di pelipis. Ia bersandar pada tongkatnya, berusaha menyeimbangkan tubuh.
Udara di dalam garasi terasa dingin dan pengap. Nabila merasa ada sesuatu yang tidak beres, sebuah rahasia besar yang disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga Dirga. Ia menelan ludah, lalu menarik napas panjang.
“Mobil ini masih ada dan tak rusak, dan Dirga masih hidup, apa kecelakaan itu cuma mimpi? Tapi kenapa mataku buta?” desisnya lirih, tak ada seorang pun yang mendengar.
Beberapa langkah ke arah lain, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Sebuah motor sport yang dingin, dan masih menguarkan bau minyak baru. Ia mengernyit pelan. Suaminya tidak pernah memiliki motor tersebut. Bagaimana bisa, ada di dalam garasi?
Pikirannya berputar. Mobil dulu kecelakan, tapi masih utuh, lalu jas-jas yang tak lagi dikenakannya, semua menyiratkan satu hal. Suaminya sudah bukan lagi seorang CEO ....