Menikahi Istri Kakakku - Pemuda Pahlawan - Bab 24

Penulis Yuan_bee
06 October 2025

Pikirannya berputar. Mobil dulu kecelakan, tapi masih utuh, lalu jas-jas yang tak lagi dikenakannya, semua menyiratkan satu hal. Suaminya sudah bukan lagi seorang CEO.

Hening menyelimuti garasi. Nabila menarik napas dalam, menegakkan tubuhnya, lalu melangkah keluar perlahan dengan tongkatnya, meninggalkan ruang yang kini terasa asing, seolah menyimpan rahasia yang enggan diungkap.

Dengan langkah perlahan, ia meraba dinding, mencari arah pintu keluar. Tongkatnya menyentuh lantai dengan bunyi yang menggema, satu langkah, dua langkah, sampai akhirnya ia menemukan pintu keluar.

Tanpa sepatah kata pun, Nabila membuka pintu itu dan melangkah keluar dari garasi. Tak ada seorang pun yang tahu. Tak ada yang menyadari bahwa malam itu, seorang wanita buta baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.

Di luar, udara segar pagi menyapa wajahnya, dan dengan berani ia melangkah ke jalanan ramai hanya berbekal tongkat yang ia bawa sebagai petunjuk arah. Orang-orang yang tak jauh dari sana masih sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Sehingga, tak ada yang menyadari ada wanita buta berkeliaran.

Sementara itu, Bi Wati yang hendak mengantar segelas teh ke kamar Nabila tertegun. Kamar itu kosong. Gelas teh di tangannya bergetar. “Astaga! Nabila?!” serunya panik.

Ia segera berlari mencari Fenny. “Bu … Bu Fenny! Nyonya Nabila nggak ada di kamarnya!”

Fenny tersentak. “Apa?! Kok bisa?”

Keduanya buru-buru keluar rumah. Fenny memegang dadanya, firasat buruk menyelusup. “Ya Tuhan, jangan sampai dia nekat keluar sendirian.”

“Oke, kita harus segera mencarinya.”

Mereka pun berlari menuju pintu keluar dan tak menghiraukan apa saja yang menghalangi mereka. Pintu langsung didorong dan mereka segera keluar rumah.

Di tengah kepanikan itu, Bi Wati menoleh ke arah jalan besar. Sekilas, ia melihat sosok perempuan dengan tongkat putih sedang meraba-raba arah sambil bersiap menyeberang. Wajah Bi Wati pucat pasi.

“Itu … itu Nabila!” teriaknya.

Nabila memang sudah sampai di perempatan kecil. Suara kendaraan melintas membuatnya ragu, tapi tekadnya terlalu kuat. Ia maju perlahan, menapaki aspal sambil mengayunkan tongkatnya.

“Nabila! Awas!” teriak Bi Wati sembari berlari.

Nabila melangkah semakin jauh ke tengah jalan. Deru kendaraan semakin kencang, klakson bersahutan, membuat beberapa pengendara menjeritkan peringatan. Tongkatnya terlepas ketika sebuah motor melintas terlalu dekat, membuat tubuhnya oleng.

“Kau punya mata tidak?!” teriak seseorang dari sisi jalan.

Dalam sekejap, sebuah tangan kuat menarik tubuh Nabila sebelum mobil yang melaju kencang menghantamnya. Tubuh Nabila terhuyung, lalu jatuh dalam dekapan pria itu.

Dengan napas terengah, Nabila menggenggam dada pria itu. Sentuhan itu membuat hatinya bergemuruh. “Suara, aroma ini …?” bisiknya lemah. Air matanya menetes. “Dirga, kaukah itu?”

Mata Nabila terpejam, tubuhnya limbung. Ia pun jatuh pingsan di pelukan pemuda itu.

Tanpa pikir panjang, pemuda tersebut langsung menggendongnya dengan mantap. Bi Wati dan Fenny yang baru tiba di pinggir jalan menjerit kaget sekaligus lega.

“Ya Tuhan! Nabila!” teriak Fenny, berlari mendekat.

Pemuda itu bergegas membawanya masuk kembali ke rumah. Dengan hati-hati, ia meletakkan tubuh Nabila di sofa ruang tamu. Wajahnya tenang meski peluh menetes di keningnya.

Fenny menatapnya penuh syukur. “Terima kasih banyak, Nak. Kalau bukan karena kau, entah apa jadinya menantuku ini.”

Pemuda itu hanya tersenyum tipis ketika Fenny berulang kali mengucapkan terima kasih. “Sama-sama, Bu. Saya cuma kebetulan lewat saja, kok,” ujarnya tenang. Napasnya masih sedikit tersengal, tapi sorot matanya tampak teduh, menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.

Pemuda itu seperti menyimpan sebuah rasa, atau rahasia dengan Nabila. Ia sering melirik ke arah Nabila dengan curi-curi pandang. Seperti sudah mengenal dirinya sejak lama, dan sudah lama tak bertemu lagi.

Fenny mengangguk cepat. “Untung kamu sigap. Kalau tidak, entah apa jadinya Nabila.” Ia menatap ke arah sofa tempat Nabila terbaring lemah, wajah pucatnya nyaris tanpa warna.

“Aku cuman ... enggak ingin ada orang yang tertabrak. Tapi bagaimana bisa, ia berjalan sendirian dan tak bisa menyeberang jalan?” tanya pemuda itu yang tak tahu dengan kondisi yang dialami Nabila, atau pura-pura tak mengetahui Nabila.

“Dia itu buta. Makanya dia tak bisa berjalan sendirian tanpa ada orang yang menemaninya.”

“Apa? Buta? Pantas saja, ga menoleh ke kanan maupun ke kiri agar dirinya selamat dari kendaraan yang melintas.”

“Iya, padahal kami berusaha agar dia tak sekali pun bisa keluar kamar dengan mengawasinya setiap waktu.”

“Mungkin karena dia ingin mencari angin, Bu. Suntuk kalau harus di rumah terus menerus. Lantas, suaminya ke mana?”

“Suaminya ....” Fenny mendadak bingung, akan menjawab apa. Ia menoleh ke arah Bi Wati. Sementara Bi Wati menjawab dengan isyarat menganggukkan kepalanya.

“Suaminya sedang bekerja. Berangkat pagi dan pulang sore.”

Setelah Fenny menjawab pertanyaan dari pemuda itu. Nabila mulai timbul pergerakan, meski tubuhnya masih lemah.

Pemuda itu melirik sekilas, lalu menunduk, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Dia … sudah sadar?” tanyanya pelan.

“Sepertinya mulai sadar. Tadi sempat memanggil nama seseorang sebelum benar-benar pingsan,” jawab Fenny.

“Nama seseorang? Siapa dia?” tanya pemuda tadi curiga dan semakin bingung.

“Dirga, suaminya.”

“Lho, bukannya tadi Anda bilang, suaminya sedang bekerja dan pulang nanti sore. Kenapa istrinya terus menerus menyebut namanya?” Pemuda itu semakin bingung.

Sementara itu, Fenny tak menjawab, mulutnya seolah terkunci dan tak bisa digerakkan. Fenny menatap ke arah Nabila yang mulai sadar dengan perasaan haru.

Suara lirih terdengar dari bibir Nabila yang masih terpejam, nyaris seperti bisikan yang tersapu angin, “Dirga ...?” desisnya sambil menunjuk ke arah pemuda tadi.

Fenny menoleh cepat. “Dirga?” gumamnya pelan, bingung, bagaimana bisa, ia merasakan bahwa pemuda itu adalah Dirga?

“Dia Dirga, Bu. Seorang yang menyelamatkanku, dan yang selalu ada untukku di saat aku butuh.”

Pemuda itu terpaku. Sekilas, wajahnya menegang. Tangannya yang tadi berasa di atas pahanya tiba-tiba bergetar halus, lalu buru-buru ia memindahkannya di balik punggung. Gerakan itu sebenarnya membuat kecurigaan. Namun, Fenny tidak memperhatikan perubahan itu. Ia lebih fokus pada Nabila yang tampak gelisah dalam tidurnya.

Pemuda itu matanya berbinar, seperti seseorang yang sudah mengenal sejak lama, atau pernah kenal dengan Nabila sebelumnya.

“Kalau begitu ... saya pamit dulu, Bu,” ucap pemuda itu, berdiri dari posisi duduknya, menunduk sopan dan hendak melangkah pergi.

Fenny sempat menahan langkahnya. “Tunggu!” katanya cepat. Pemuda itu berhenti di ambang pintu, tapi tak berbalik.

“Nama kamu siapa?” tanya Fenny.

Suasana pun mendadak hening. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak pelan, menambah tegang suasana sore itu.

Pemuda itu diam beberapa detik, tersenyum tipis, sebelum akhirnya menjawab lirih, nyaris seperti gumaman yang sengaja dibuat tak jelas. “Nama saya ....”