Bab 42. Mendadak Kehilangan

Penulis Rei_Moira
07 October 2025

Tenang, semuanya sedang diatasi. Hanya itu ucapan yang dari tadi didengar oleh Kael.

Damn it!

Bagaimana bisa tenang jika Aurora terbaring pucat di dalam sana?!

“Nyonya Aurora pasti baik-baik saja.” Luther kembali mengingatkan.

Tangan Kael mengepal kuat. Ucapan Luther hanya terdengar seperti gumaman dari dalam gelembung kecemasan. Tak ada satu kata pun yang mampu menenangkannya saat ini. Sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan tindakan.

“Dokter Warren, katakan apa yang terjadi pada Aurora?!” Kael bergegas menanyakan, sorot matanya jelas terlihat cemas.

Dokter Warren tak segera menjawab. Situasi seperti ini hampir sering ia alami—menyampaikan berita buruk pada pasien. Namun jika menyangkut tentang keluarga Vireaux, secara tidak langsung harus memilih kata yang tepat agar emosi Kael tak meledak.

“Apakah Anda tahu kalau nyonya Vireaux sedang hamil?”

Apa? Hamil?

Pandangan Kael bergetar. Sampai detik ini, ia belum pernah mendengar itu dari mulut Aurora. Mungkinkah istrinya benar-benar hamil?

Gelengan pelan telah menjawab pertanyaan dokter Warren. Tangan yang mengepal erat, kini menjadi sedikit gemetar. Degup jantung Kael berantakan. Ia tak pernah mengira dan mengharapkan berada di situasi seperti ini.

“Maaf karena harus menyampaikan kabar buruk ini. Nyonya Vireaux keguguran. Kemungkinan besar karena trauma benturan atau shock berat.”

Kael mundur selangkah, sementara Luther siaga di belakangnya. “Dia… tidak pernah menyinggung tentang kehamilan,” ucapnya, sorot matanya nanar.

Dokter Warren menegakkan pundaknya. “Jika dilihat dari umur kehamilan yang masih sangat muda, kemungkinan besar nyonya Vireaux pun belum menyadarinya. Dari hasil pemeriksaan USG, janin masih berusia sekitar enam minggu. Itu adalah umur yang masih sangat muda dan tidak banyak ibu muda menyadarinya, apalagi ketika itu adalah pertama kali baginya.”

Kael kembali mengeratkan genggaman tangannya. “Apa yang harus dilakukan?” Nadanya bergetar, pecah di akhir kalimat.

“Tindakan kuretase harus segera dilakukan. Pendarahan cukup banyak, dan pembukaan telah lengkap. Jika dibiarkan, bisa membahayakan kondisi nyonya Vireaux.”

Penjelasan itu tidak begitu dimengerti oleh Kael, pikirannya terlalu berkabut untuk mencerna semuanya dengan jelas. Satu hal yang ia tahu adalah, Aurora harus selamat. Sedikit menggeram, satu putusan terlontar cepat. “Lakukan apa pun untuk membuat Aurora baik-baik saja.”

Dokter Warren mengangguk. Rasa iba menjalari dadanya ketika menatap Kael tak berdaya. “Kalau begitu, silakan menandatangani dokumen persetujuan tindakan di administrasi. Ruangan operasi akan kami siapkan untuk tindakan kuretase.”


Celeste kembali mengintip ruangan yang menjadi tempat perkara. Nick dan Kira masih terikat di sana, tak sadarkan diri. Bogeman Ezra nyatanya cukup kuat untuk membuat Nick pingsan, dan Kira…

Ya… Celeste berhasil membuatnya tak sadarkan diri dengan memukul kepalanya menggunakan vas keramik besar di ruangan.

“Hei, apa yang akan kau lakukan? Ini sudah hampir satu jam.” Suara Celeste rendah, tangannya dengan perlahan menutup pintu ruangan itu lagi. “Kita mau diam saja sementara dua orang itu diikat di sana?”

“Biarkan saja. Kita pastikan saja mereka tidak kabur.” Ezra menjawab tanpa menoleh. Pandangannya tertuju pada layar ponsel.

“Bisa-bisa layar itu berlubang karena terus kau tatap.” Dengusan kecil keluar dari Celeste.

Mau tak mau, Ezra meletakkan ponselnya. Kali ini pandangannya tertuju sepenuhnya pada Celeste, membuat wanita itu tersenyum samar. “Aku menunggu kabar dari Kael.”

Celeste mendesah kasar. Tubuhnya dihempas ke sofa, lalu bersandar nyaman sambil memejamkan mata. “Kael tidak akan membalas pesanmu. Jangan buang-buang waktu. Lagipula… Aurora pasti sudah ditangani oleh dokter. Percuma kau cemas.”

“Tentu saja aku cemas!”

Celeste tak menyangka akan mendapatkan bentakan. Tubuhnya bahkan terlonjak, membuat jantungnya berdegup kencang. Sorot matanya jelas menuntut penjelasan.

“Sorry.” Ezra menurunkan nada bicaranya. “Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku takut sesuatu terjadi padanya.”

Helaan napas Celeste terdengar dalam. Ia kembali membenamkan punggungnya pada sandaran sofa. “Jika memang dia keguguran, sudah pasti dokter akan langsung menanganinya. Dan Kael tentu saja akan fokus pada kondisi Aurora di sana. Jadi, daripada kau menghabiskan waktumu untuk menatap ponsel itu terus-menerus, bukankah lebih baik kau melakukan hal yang bermanfaat?”

Ezra mengerutkan kening. “Like what? Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain menunggu. Jendela di ruangan tempat mereka terikat telah kita amankan. Ikatan di tangan mereka juga telah kita kencangkan. Pengawal Kael kuga telah berjaga ketat di sekeliling rumah, mustahil bagi mereka untuk kabur.”

Hening sejenak.

Celeste terus memperhatikan gurat gelisah dalam wajah Ezra. Entah sejak kapan ia mulai peduli pada pria itu. Yang jelas—kali ini, ketika ia melihatnya kacau seperti ini, ternyata itu membuatnya gelisah.

Seharusnya Ezra bersikap menyebalkan seperti biasanya saja. Kenapa raut itu harus muncul? Celeste tak menyukainya.

“Kau sudah makan?” tanya Celeste, pada akhirnya. “kau lapar? Ingin sesuatu?”

Ezra mengerjap beberapa kali. Tak menyangka dengan kontrasnya perubahan percakapan. “Tidak.”

‘Sialan Ezra!’, batin Celeste.

“Tapi aku lapar,” ucap Celeste lagi, tanpa mengalihkan pandangannya. “Dan aku tidak bisa makan sendirian setelah kejadian tadi. Kau mau menemaniku? Aku bisa memasak sederhana dengan bahan yang ada—kalau ada.”

Kini Ezra sedikit tertarik. Satu alisnya mengedik sekali. “Kau… masak? Memangnya bisa?”

Celeste mendecak kencang. Dengan cepat ia menarik tubuhnya dan berdiri. Kedua tangannya mengikat rambut panjangnya ke belakang, diikat dengan karet hitam yang selalu ia sisipkan di pergelangan tangannya. “Jangan meremehkanku, Roux. Aku tinggal sendiri di apartemen, tentu saja aku menguasai cara dasar memasak.”

“Cara dasar memasak atau cara cepat menghancurkan dapur?” Seringai tipis tersungging di wajah Ezra.

“Hei!” Kening Celeste mengerut, sorot matanya tajam, penuh rasa kesal.

“What?”

“Kau terlalu menyebalkan untuk menjadi seorang partner. Aku bisa gila kenapa masih saja berada di sini, menemanimu!”

“Aku tidak pernah memintanya.” Ezra terkekeh, menikmati amarah yang hampir melesak pada Celeste.

“Benar!” sentak Celeste. “Kau tidak memintanya! Jadi… kenapa juga aku masih di sini?! Bukankah itu hal yang aneh??”

Ezra menghela napasnya sekali. Tampaknya sudah cukup ia bermain main hari ini. “Aneh, tapi kau sudah menyelamatkan nyawa kami. Kalau kau tak memutuskan untuk kembali lagi, mungkin situasinya bisa lebih buruk dari sekarang.”

Helaan napas dalam lolos dari Celeste, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya di detik berikutnya.

Ezra tidak langsung menjawab. Ia hanya terkekeh, pandangannya mengekor pada gerakan Celeste. “Serius mau memasak?”

Langkah Celeste terhenti, menoleh sejenak dengan seringai tipis di salah satu sudut bibir. “Sure.”

Desah frustrasi terhela dari Ezra. Ia tak beranjak dari tempatnya, tapi tetap fokusnya kini beralih pada Celeste yang telah memasuki area dapur. “Kau mau meracuniku.”

“Hei!” Celeste menautkan kedua alisnya, sorotnya tajam mengarah pada Ezra hanya beberapa detik. “I said… jangan meremehkanku!”

“Ok, fine. Aku tunggu masakanmu di sini.” Ezra akhirnya bisa tertawa. “Dan jangan rusak dapur Aurora. Dia bisa marah besar.”

Decak kasar kembali terdengar dari dapur. Celeste mendengus, sambil membuka pintu kulkas. “Relax, Roux. Aku hanya ingin membuatkanmu makanan.”