Tiba-tiba Cinta _Tentang Adrian_Bab7

Penulis MIA
07 October 2025

“Kau bilang apa tadi?” tanya Maya seraya menempelkan kembali ponselnya pada sisi telinganya. “Maaf, sepertinya Jode hampir menabrak sesuatu.”

Kalimat Maya yang menjelaskan bahwa baru saja nyaris terjadi kecelakaan, membuat Adrian menahan marah. Lelaki itu mengeraskan rahang bukan hanya karena ucapannya tak didengar oleh Maya, tetapi juga karena membayangkan bahwa mungkin saja Maya terluka. Lihat saja! Dia akan menghukum Jode saat pulang nanti.

“Kau tidak apa-apa, bukan? Di mana Jode? Kenapa dia tidak hati-hati? Berikan ponselmu padanya, aku akan bicara padanya,” selorohnya setengah gusar.

Sebelum Maya sempat mengatakan sesuatu, matanya lebih dulu menemukan Jode telah mengatupkan kedua tangan seolah memohon. Memohon supaya tak memberi kesempatan pada Adrian untuk bicara padanya. Tentu saja Maya mengerti apa maksud sopir Adrian ini.

Pun Maya tak membuang waktu. “Aku baik-baik saja. Aku pasti akan memperingatinya. Sudah hampir sampai, nanti aku akan mengirim pesan padamu lagi,” tutupnya tanpa menunggu reaksi Adrian.


Jode langsung jatuh terjerembab, seketika dia memasuki kamar perawatan Adrian dan langsung disambut oleh tendangan kaki panjang Adrian yang rupanya telah menunggu di balik remangnya cahaya ruangan itu.

Walaupun kaki Adrian tampak lebih ramping dibandingkan kakinya, namun ternyata cukup kuat. Sehingga hanya dengan sekali ayunan yang menyasar tepat pada bokongnya, bahkan mampu membuatnya jatuh tak terkendali lalu tersungkur dan berakhir di lantai ruangan itu.

“Tuan, Anda sudah bisa berdiri?” tanya Jode membuka suara.

Saat sore tadi dia meninggalkan Adrian, bosnya itu masih tak sadarkan diri dan kantung darah yang mengalir pada lengannya juga masih cukup penuh. Tetapi kali ini, tuannya itu telah berdiri tegak di balik pintu seolah sengaja menunggu kedatangannya supaya dapat segera menghadiahinya sebuah tendangan.

Jode masih memegangi bokongnya yang sakit saat dia mencoba berdiri. Dia mendekati Adrian dan merebut kantung infus yang dipegangi sebelah tangan oleh sang tuan, karena menyadari bahwa cara Adrian membawa kantung infus sangat asal-asalan.

Dia menebak bahwa tuannya itu pasti memperhatikan posisi sinyal ponselnya dari tadi, sehingga ketika tahu dirinya akan memasuki kamar perawatan ini, tuannya itu cepat-cepat bangkit dan menarik kantung infusnya serampangan, sehingga punggung tangannya tampak merembeskan darah segar saat ini.

“Jode, apa kau bodoh?” Adrian menghardik dalam geraman, mata tajamnya menatap Jode seakan ingin mengulitinya. Sementara kedua tangannya terkepal kuat menunjukan betapa marahnya dia pada sang sopir. Membuat perekat perban di punggung tangannya semakin basah oleh rembesan darah dan menguarkan bau anyir.

“Ayahku memintamu menggantikanku dan menjaganya. Kau malah hampir membuatnya celaka. Jode sepertinya kau sudah lama tak menjadi samsak tinjuku,” lanjutnya sambil membuang napas kasar.

Bagaimanapun dirinya ingin marah, dia menahannya sekuat tenaga. Kenyataan bahwa Maya baik-baik saja sampai di rumah, tak memberi Adrian cukup alasan untuk menghajar Jode habis-habisan walaupun dia sangat ingin.

Dan keadaannya saat ini, dengan selang infus yang masih tertancap merekat di punggung tangannya, Adrian merasa dia perlu berpikir ulang untuk mengeluarkan energinya secara berlebihan-mengingat nasihat ayahnya tadi, apalagi untuk sesuatu seperti Jode.

“Hehe, Tuan … hukuman lain sanggup saya jalani apapun itu, Tuan. Tetapi untuk menjadi samsak–” Jode sengaja memutus ucapannya. Mengalihkan pandangannya pada tangan Adrian.

“Tuan, kembalilah ke tempat tidur Anda. Saya berjanji akan menjalani hukuman yang Anda berikan.” Dia menuntun Adrian, membawanya kembali ke ranjang dan mendudukkan Adrian di sana. Setelahnya, Jode membenahi roller clamp sesuai pengetahuan yang dia dapatkan dari perawat beberapa waktu lalu untuk menghentikan pendarahan pasien.

Jode mengutuk diri sendiri di dalam hati. Melihat darah mengalir membasahi perekat di tangan Adrian sungguh membuatnya merasa sangat bersalah. Bahkan setetes darah itu, tubuh Adrian sama sekali tidak mampu memproduksinya sendiri, dan tuannya harus menerima transfusi setiap kali kehilangan darah walaupun sedikit. Dia malah membuat tuannya itu menyia-nyiakan setetes darah itu.

“Tuan, mohon maafkan saya atas kelalaian saya dalam menjaga nona Maya.” Jode berkata bersama kesibukannya membenahi bantal Adrian.

“Kau tidak boleh mengulanginya. Lain kali kau harus lebih memperhatikan jalanmu, saat kau kuberi tugas menjaga Maya. Keselamatannya … mulai saat ini, keselamatannya lebih penting dariku. Jode, apa kau mengerti?”

“Baik, Tuan.”

Di sisi lain, Maya tengah berbaring di ranjang kamarnya untuk meluruskan punggungnya yang terasa amat lelah. Rumah makan tempatnya bekerja cukup padat pengunjung hari ini, sehingga untuk sekedar duduk beristirahat sebentar saja tidak dapat dilakukannya.

Selain harus bolak-balik mengantarkan makanan ke atas meja pengunjung, Maya juga sibuk membuatkan minuman, sebab rekannya yang bertugas menyediakan minuman meminta cuti mendadak pagi ini karena akan melahirkan. Sudah tentu, lelah yang Maya rasakan hari ini lebih dari biasanya.

Maya membuang napas kasar saat membenamkan wajahnya di atas bantal empuk miliknya. Dia hampir jatuh dalam tidur-tidur ayamnya ketika mendengar ponselnya berulang kali membunyikan notifikasi pesan.

Maya ingin sekali mengabaikannya dan lebih memilih tidur, tetapi bayangan tempramen Adrian terlintas begitu saja di benaknya. Membuatnya buru-buru menarik ponselnya dari atas nakas dan memastikan pesan apa yang sudah masuk dan diterimanya.

Namun ternyata, yang diterimanya bukanlah pesan chat dari Adrian, melainkan dari grup karyawan karyawati di pusat perbelanjaan tempatnya bekerja sebagai pembersih toilet.

Pesan yang telah menumpuk karena diabaikannya, kini digulir perlahan oleh Maya. Dan isi percakapan di dalamnya cukup membuatnya tercengang.

Matanya menatap nyalang seakan menahan marah. Sementara tubuhnya bergetar disertai keringat yang mengaliri permukaan kulitnya yang dingin.

Dalam percakapan itu, rekannya mengatakan bahwa dirinya hanya dimanfaatkan oleh Adrian untuk dijadikan wadah bayi, sebab saat ini Adrian telah menderita penyakit yang terhitung langka dan sulit untuk disembuhkan. Mereka mendengar bahwa penyakit itu hanya dapat disembuhkan jika si penderita dapat memiliki keturunan. Dan kemungkinan besar Adrian mendekati Maya adalah untuk menjadikan Maya sebagai alat. Alat untuk mendapatkan keturunan.

“Maya, kau kenapa?” Suara Sean yang tiba-tiba masuk membuat Maya semakin terkejut.

Entah sejak kapan lelaki itu menjejakan roda kursinya ke dalam bilik kamar Maya, namun yang pasti saat ini Sean telah berada tepat di samping Maya.

“Kak,” ucap lirih Maya dengan suara bergetar. Maya hanya dapat mengendalikan deruan napasnya perlahan. Untuk beberapa saat, Maya hanya diam menatap Sean sambil bertanya-tanya dalam hatinya.

Selama ini, kenapa dirinya bahkan tidak terpikirkan untuk bertanya pada Adrian, mengenai penyakit apa yang diderita lelaki itu? Bahkan, saat Adrian tidak bisa datang menjemputnya sore ini, kenapa dia tidak bertanya pada Jode, tentang apa yang terjadi pada Adrian?

Apakah dia se-tidak peduli ini pada Adrian? Sehingga bahkan dirinya harus tahu dari orang lain bahwa Adrian ternyata menderita Anemia Aplastik?

Keringat di pelipis Maya tak luput dari sorotan Sean, sehingga lelaki itu memutuskan untuk bertanya. “Maya, apa yang terjadi?”

Maya seakan tak mendengar apapun yang diucapkan Sean. Sebab yang terngiang dalam benaknya hanya satu kata, Anemia Aplastik?!

Bersambung ….