Dinikahi Paman Mantan - Bab 13

Penulis Nuvola
08 October 2025

Lily berdiri di dalam butik mewah yang dipenuhi aroma lembut bunga mawar putih. Di hadapannya, deretan gaun tergantung rapi di sepanjang dinding kaca—setiap helainya tampak berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Sentuhan warna pastel dan kilau manik-manik halus seolah menari di matanya, namun tak satupun mampu menggugah hatinya saat itu.

Semua gaun itu memang cantik, bahkan terlalu cantik. Tapi tidak untuk hari ini. Lily tidak benar-benar ingin datang ke acara itu—pernikahan Rafael dan Emma. Sekadar mendengar namanya saja membuat dada Lily terasa sesak. Ia mencoba tersenyum tipis, menyembunyikan segala getir yang bergulat di dalam hatinya.

“Bagaimana, Nyonya? Apakah ada gaun yang menarik perhatian Anda? Atau… mungkin saya bisa buatkan yang baru sesuai keinginan?” tanya Luna, sang desainer butik. Suaranya lembut, seolah memahami beban yang disembunyikan wanita itu.

Lily menoleh perlahan, bibirnya melengkung samar. “Menurut Kak Luna, mana yang bagus untukku?” tanyanya balik, seolah menyerahkan semua keputusan.

Luna tersenyum penuh arti. “Ada satu gaun yang belum saya keluarkan. Mungkin Nyonya akan menyukainya,” ujarnya, lalu memberi isyarat kepada salah satu karyawan untuk mengambil sesuatu dari ruang penyimpanan belakang.

Tak lama kemudian, karyawan itu kembali membawa sebuah gaun yang dibungkus pelindung bening. Saat kain pelindung itu dibuka, seketika ruangan terasa lebih tenang—seakan waktu berhenti sejenak. Di sana, tergantung sebuah gaun berwarna biru muda, begitu lembut hingga tampak seperti potongan langit yang dijahit menjadi pakaian.

Cahaya lampu jatuh di atas kainnya, menampilkan detail halus dari lipit-lipit tipis yang melingkupi tubuh hingga ke lutut sebelum berubah menjadi lapisan tulle transparan yang melebar lembut seperti gelombang air. Potongan mermaid yang anggun membuatnya tampak sekaligus elegan dan menawan.

Lily terpaku. Sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya—senyum yang jarang terlihat akhir-akhir ini. “Apa Nyonya suka?” tanya Luna, meskipun dari pancaran mata Lily, jawabannya sudah jelas.

“Boleh aku mencobanya?” suara Lily pelan, namun mengandung ketertarikan yang tak bisa disembunyikan.

“Tentu saja, Nyonya. Mari, saya bantu,” jawab Luna hangat. Ia menuntun Lily menuju ruang ganti dengan penuh kehati-hatian, seolah membawa sesuatu yang sangat berharga.

Beberapa menit kemudian, Lily keluar dari balik tirai. Saat ia berdiri di depan cermin besar, refleksinya membuatnya terdiam. Gaun itu terpasang sempurna di tubuhnya, membentuk siluet yang begitu lembut namun memikat. Bagian atasnya dengan tali tipis (spaghetti strap) dan potongan leher berbentuk V menonjolkan bahu jenjang serta keanggunan alaminya.

Luna menatap kagum. “Nyonya terlihat luar biasa…”

Lily menghela napas pelan, menyentuh bagian bawah gaunnya yang jatuh lembut menyapu lantai. “Aku ambil yang ini, Kak. Ini… sangat cantik. Bahkan ukurannya seperti dibuat khusus untukku,” ucapnya dengan senyum yang lebih tulus.

Luna tersenyum samar, ada sesuatu di balik tatapannya. “Gaun ini memang dibuat khusus untuk Nyonya Lily,” katanya hati-hati.

Lily menoleh, keningnya sedikit berkerut. “Maksud Kak Luna?”

Luna menunduk sesaat, lalu melanjutkan dengan nada pelan, “Gaun ini dipesan oleh Tuan Agam beberapa waktu lalu. Tapi… beliau juga berpesan agar saya tidak memberitahu, kalau-kalau Nyonya tidak menyukainya.”

Lily terdiam. Kata-kata itu terus menggema di kepalanya, lembut tapi jelas, seolah tak mau pergi. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, membuat hatinya bergetar halus.

“Sepertinya Tuan semakin memahami selera Nyonya,” sambung Luna. Pipi Lily perlahan memerah, bukan karena malu, melainkan karena rasa yang tak ia mengerti sepenuhnya. Ia menatap lagi bayangannya di cermin—dan kali ini, bukan hanya gaun yang tampak indah, tapi juga senyum lembut yang tumbuh perlahan dari ketulusan yang baru saja ia sadari di hatinya.

Setelah urusan di butik selesai, Lily segera kembali ke rumah. Besok adalah hari pernikahan Rafael dan Emma—dan seharusnya hari ini Agam sudah pulang. Namun hingga senja turun, dia belum melihat batang hidung Agam. Bahkan Lily tak mendengar kabar apapun tentang Agam.

Lily duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang gelap. Jarinya sempat tergerak hendak mengetik, tapi ia urungkan.

“Apa dia masih sibuk ya? Ganggu nggak ya kalau aku kirim pesan…” gumamnya pelan.

Ia menggigit bibir, ragu antara menunggu atau mencari tahu. Setelah beberapa menit bimbang, Lily akhirnya mengetik pesan singkat kepada Dion.

“Kak Dion, Om Agam kok belum pulang? Bukankah harusnya hari ini?”

Belum genap satu menit, tanda centang dua itu berubah biru. Balasannya datang cepat, seolah Dion memang sudah menunggu pesan itu.

“Ada sedikit masalah, Nyonya. Tapi Nyonya tidak perlu khawatir. Malam ini juga Tuan akan pulang.”

Lily menghela nafas lega, meski rasa cemasnya belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk kecil, meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu berjalan ke kamar mandi. Air hangat yang mengalir di kulitnya membuat pikirannya sedikit tenang.

Sementara itu, di tempat lain—ratusan kilometer dari rumah—Agam tengah duduk tegak di ruang lelang yang penuh dengan orang berpenampilan mewah. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya keemasan, menyorot benda-benda berharga yang sedang dipamerkan.

Di sisi kanan Agam berdiri Dion, setia mendampinginya tanpa banyak bicara. Matanya sesekali melirik Agam—lelaki itu tampak begitu serius menatap ke arah panggung. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, namun ada sesuatu yang lain di baliknya seolah pikirannya tak sepenuhnya berada di ruangan itu.

Di atas panggung, seorang wanita muda dengan gaun merah elegan mengangkat sebuah kalung berhiaskan batu zamrud besar. Batu itu memantulkan cahaya hijau berkilau, menambah aura eksklusif di ruangan yang sudah mewah.

“Kalung zamrud antik ini berasal dari koleksi keluarga kerajaan Belgia abad ke-19,” ujar sang pemandu lelang dengan senyum profesional. Terlihat jelas jika banyak orang yang tertarik dengan kalung itu. “Kita mulai dari 10 miliar rupiah.”

Suara papan penawaran mulai terdengar. “15 miliar!” “25!” “40 miliar!”

Harga terus naik, dan setiap penawaran terasa seperti dentuman kecil yang memecah kesunyian di kepala Agam. Namun lelaki itu masih diam. Ia mengamati batu itu dengan pandangan dalam, seolah melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.

“45 miliar!”

“Ada lagi yang ingin menawar?” tanya sanga pemandu.

“50 miliar!”

“Ini hanya ada satu di dunia, apa ada lagi yang ingin menawarkan harga?”

Ketika pemandu lelang hampir menutup sesi dengan tawaran tertinggi 50 miliar, Agam mengangkat papan nomornya.

“Delapan puluh miliar,” ucapnya tenang namun tegas.

Ruangan langsung hening. Semua kepala menoleh ke arah Agam, mereka tampak terkejut melihat Agam. Nama Agam sudah tidak asing dikalangan elite tapi sosoknya tak pernah sekalipun muncul dalam pelelangan. Seolah pria itu tak pernah tertarik dengan barang mewah yang dilelang.

Ruangan masih hening tak ada satu pun yang berani menawar lebih tinggi. Dion menelan ludah pelan, bahkan si pemandu lelang sempat kehilangan kata.

“Delapan puluh miliar… sekali, dua kali, tiga kali. Terjual!” ujar kencang pemandu membuat tepuk tangan menggema.