Menikahi Istri Kakakku - Kebohongan Akan terbongkar - Bab 25

Penulis Yuan_bee
08 October 2025

Pemuda itu tersenyum tipis, sopan. “Nama saya Juan, Bu. Kebetulan, tadi aku sedang lewat dan melihatnya hendak tertabrak. Untungnya hal itu tak terjadi.”

Nama itu terngiang di kepala Fenny. Juan, bukan Dirga, seperti yang digumamkan Nabila sebelum pingsan. Namun, entah kenapa, ada sesuatu pada wajah Juan yang membuat bulu kuduknya berdiri, seolah ia sedang menatap bayangan masa lalu.

Beberapa saat kemudian, Juan pun pamit pergi. Kali ini, Fenny tak menahannya, hanya menatap punggung pemuda itu yang perlahan menjauh. Namun berbeda dengan Nabila. Ia terus memanggil nama Dirga sambil jarinya menunjuk ke arah Juan dengan nada lirih, seolah ketakutan kehilangan sesuatu yang amat penting.

“Dirga … kau mau ke mana? Jangan pergi lagi!” serunya dengan mata berkaca-kaca.

Juan berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh, menatap Nabila hanya sekilas, tatapan itu penuh kebingungan, tapi juga ada rasa iba yang tak bisa dijelaskan. Dalam diam, matanya seolah ingin berkata sesuatu, tapi bibirnya tak mampu mengeluarkan satu pun kata.

Ia berusaha melupakan hal tadi dan melangkah pergi. Ia tahu, wanita buta itu dalam siatuasi yang sulit. Ia ingin membantu, tapi bagaimana caranya. Ia tahu, dalam keluarga itu, ada sesuatu yang tak mungkin diungkapkan dan menjadi rahasia terhadap wanita buta itu.

Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang mencekam di ruang tamu. Nabila terisak di pelukan Fenny, sementara Fenny berusaha menenangkannya. “Nabila … dengar aku,” ucap Fenny lembut, “itu bukan Dirga. Juan hanya orang yang kebetulan mirip dengannya. Dirga sedang bekerja, Sayang. Dia belum pulang.”

Namun Nabila menggeleng kuat-kuat. “Tapi ... aroma itu, mirip persis dengan Dirga,” bisiknya lirih, suaranya gemetar.

Fenny menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ada perasaan aneh yang berputar di dadanya, antara ingin percaya pada logika, dan merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Entah kenapa, ia merasa, seolah Nabila tidak sepenuhnya salah. Pemuda itu, memang mirip anak sulungnya. Postur tubuhnya, langkah kakinya, identik dengan kedua anaknya. Namun, entah kenapa, ia tak mengenalnya.

Dalam pelukan Fenny, Nabila terdiam. Isakannya mulai mereda, tapi dadanya masih terasa sesak. Di balik matanya yang gelap, pikirannya terus berputar. Ia masih bisa merasakan aroma itu, terasa hangat, khas, dan menenangkan. Aroma yang selalu ia kenali setiap kali Dirga memeluknya.

‘Tidak mungkin,’ gumamnya di dalam hatinya, ‘tapi kenapa rasanya … seperti dia? Padahal benar, Dirga masih bekerja saat ini.’

Fenny menepuk pelan bahunya, berusaha menenangkan, tapi hati Nabila tak bisa diam. Ada sesuatu yang menggeliat di dalam dirinya, yaitu sebuah harapan kecil yang ingin sekali percaya bahwa Dirga masih hidup, masih ada di dekatnya, meski semua orang berkata sebaliknya.

Ia menunduk, menggenggam ujung kain gaunnya erat-erat. ‘Kalau saja aku bisa melihat, aku hanya ingin tahu … apakah benar itu bukan dia? Namun, kalau pemuda itu beneran Dirga, lalu siapa yang setiap malam tidur denganku?’

Namun seiring waktu berjalan, Nabila tahu, beberapa hal lebih baik diterima apa adanya. Mungkin, pikirnya, Tuhan sedang mengajarkan untuk tidak menggenggam terlalu keras pada masa lalu.

Dengan napas berat, ia tersenyum samar pada dirinya sendiri.

**

Sore itu, cahaya matahari menembus sela tirai ruang tamu, menciptakan semburat keemasan di dinding. Pintu rumah terbuka perlahan. Arga baru pulang kerja, wajahnya tampak letih, tapi ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya.

Kali ini, ia tidak sendiri. Di belakangnya, langkah pelan seorang perempuan paruh baya menyusul, yaitu Tatik, ibu dari Nabila. Di sisinya, Lusy ikut berjalan, menuntun dengan lembut, memastikan Tatik tidak sendirian.

Begitu suara langkah itu terdengar, Nabila yang duduk di kursi ruang tamu segera menoleh pelan, mencoba mengenali suara yang begitu familiar. “Bu …?” suaranya bergetar, nyaris berbisik.

Tatik menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Nabila,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum akhirnya ia bergegas mendekat.

Pelukan itu terjadi begitu saja. Hangat dan lama. Seolah waktu berhenti sejenak di antara keduanya. Air mata pun menetes tanpa bisa ditahan.

“Aku kangen sekali, Nak,” ucap Tatik dengan suara bergetar. Meski hanya beberapa hari tak bertemu. Ia tak mungkin mengurus anaknya, karena sedang fokus kerja, dan suaminya telah tiada. Nabila tersenyum tipis di tengah isak tangisnya. “Aku juga, Bu … aku kira Ibu tak akan datang.”

Arga berdiri tak jauh, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk, antara lega dan haru. Fenny ikut menunduk, tak kuasa menahan air mata saat melihat kedekatan ibu dan anak itu yang lama terpisah.

Lusy, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, tersenyum lembut. Ia tahu, kedatangan Tatik bukan sekadar untuk menengok, tapi juga untuk menenangkan hati yang sudah lama diliputi rasa bersalah dan rindu.

Hening sesaat. Hanya terdengar helaan napas dan suara lembut Tatik yang berbisik di telinga anaknya, “Sudah, Nak, sekarang Ibu di sini. Kamu jangan sedih lagi, ya.”

Setelah pelukan itu, suasana rumah terasa lebih hangat, tapi juga sedikit janggal. Tatik tak hanya datang untuk menengok anaknya, tapi ada suatu hal yang harus dibicarakan. Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut, lalu tersenyum pelan. “Nabila,” katanya dengan suara lembut, “ayo, ikut Ibu keluar sebentar. Udara sore ini sejuk, kamu perlu jalan-jalan supaya tubuhmu segar.”

Nabila tersenyum samar. “Boleh, Bu.” Dengan hati-hati, Tatik menuntun tangan putrinya keluar rumah, sementara Lusy menatap ke arah Arga dan memberi isyarat halus. Begitu pintu tertutup, suasana ruang tamu berubah.

Arga menarik napas panjang, duduk di kursi, menatap Fenny dan Lusy dengan wajah yang mulai serius. “Sudah waktunya kita bicara,” katanya pelan, tapi tegas. “Kita tidak bisa terus seperti ini. Nabila mulai curiga.”

Fenny mengangguk pelan, wajahnya tampak cemas. “Tadi … waktu Juan datang, dia memanggilnya Dirga. Aku lihat dari ekspresinya, dia benar-benar yakin kalau itu suaminya. Aku takut kalau suatu saat dia tahu semuanya. Kebohongan ini akan terbongkar, meski aku tahu, Juan itu cuma orang lain.”

Bi Wati yang duduk di pojok ruangan ikut menunduk, gelisah. “Saya juga tidak tega, Bu. Setiap kali Nona Nabila bicara tentang Tuan Dirga, saya merasa seperti berbohong terus-menerus. Tapi kalau kebenaran itu disampaikan, saya takut, dia tak sanggup menerima kenyataan itu.”

Lusy menatap mereka bergantian. “Justru karena dia buta, kita kira mudah menyembunyikan semuanya. Tapi Nabila bukan orang biasa. Ia peka, bahkan bisa mengenali aroma, nada suara, langkah kaki. Cepat atau lambat, kebohongan ini akan pecah.”

Keheningan pun jatuh. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar.

Arga memejamkan mata sejenak. “Aku tahu, tapi aku juga belum siap melihatnya hancur lagi. Setelah apa yang terjadi dengan Kakak, aku tak yakin dia mampu menanggung kebenaran itu sekarang.”

Sementara itu, di luar rumah, angin sore berhembus lembut. Tatik dan Nabila berjalan perlahan di halaman, tangan mereka masih bergandengan. Kali ini, Nabila tak menggunakan kursi roda, ia lebih nyaman berjalan kaki. Nabila menunduk, lalu berkata pelan, “Bu … kenapa aku merasa semua orang di rumah ini seperti menyembunyikan sesuatu dariku?”

Langkah Tatik terhenti seketika. Angin berhenti sejenak, membawa sunyi yang berat di antara keduanya ....