Langkah Tatik terhenti seketika. Angin berhenti sejenak, membawa sunyi yang berat di antara keduanya.
Tatik terdiam sejenak, merasakan genggaman tangan Nabila yang tiba-tiba menguat. Ia tahu, putrinya itu tidak bodoh, ia hanya kehilangan penglihatan, tapi perasaan di dalam hatinya masih ada. Namun kali ini, Tatik tak boleh goyah, ia harus menyembunyikan faktanya sampai waktu benar-benar tiba untuk mengungkap semuanya.
Ia menarik napas perlahan, lalu tersenyum, berusaha menenangkan nada suaranya. “Ah, kamu ini, mungkin cuma perasaanmu saja, Nak,” katanya lembut. “Mereka semua di rumah hanya khawatir. Setelah apa yang terjadi dulu, semua ingin kamu tenang dulu. Jangan pikir yang aneh-aneh, ya?”
Nabila menimbang sesuatu, pada akhirnya dia mengangguk pelan, meski dalam hatinya masih ada yang terasa ganjil. “Mungkin Ibu benar,” katanya pelan. “Tapi entah kenapa, aku merasa, ada sesuatu yang belum kalian ceritakan.”
Tatik mengusap bahu anaknya lembut. “Sudah, jangan dipikirkan dulu. Fokuslah sembuh, supaya nanti kamu bisa melihat lagi. Saat itu tiba, semuanya akan jelas.” Namun, dalam hatinya, Tatik tahu, hari kebenaran itu akan datang, cepat atau lambat. Ia tidak yakin apakah ia siap saat itu tiba.
Sementara itu, di dalam rumah, suasana masih tegang. Lusy berdiri tegak di depan Arga dan Fenny, nada suaranya tegas tapi tetap tenang. “Kita tetap pada rencana awal,” katanya. “Belum saatnya Nabila tahu. Psikisnya belum pulih. Kalau kebenaran itu disampaikan sekarang, bisa jadi dia malah kehilangan keseimbangan.”
Arga menatapnya dalam. “Tapi sampai kapan? Sampai dia benar-benar menolak kenyataan?”
Lusy menunduk sejenak, lalu menjawab pelan, “Sampai waktunya tiba. Sampai dia cukup kuat untuk mendengarnya. Sekarang, biarkan dia hidup dengan tenang dulu. Psikisnya belum stabil karena kehilangan tiga hal yang penting di kehidupannya.”
Fenny menghela napas panjang. “Aku hanya takut, kalau sandiwara yang kita buat ini malah menyakitinya lebih dalam nanti.” Lusy menatapnya lembut tapi tajam. “Kadang, kebohongan ini lebih menyelamatkan daripada kebenaran yang datang terlalu cepat.”
“Jadi, kita masih harus meneruskannya?” tanya Arga, seolah tak mau lagi berbohong. Ia sebenarnya ingin berkata jujur pada Nabila dan menikahinya secara resmi dengan merelakan kuliahnya dan pacarnya – Novita.
Keheningan kembali memenuhi ruang tamu. Di luar, Nabila masih berjalan pelan bersama ibunya, angin sore menyapu lembut wajahnya. Dalam diam, ia menengadah ke langit, seolah berbicara dengan Tuhan, untuk meminta petunjuk agar mendapatkan petunjuk dengan situasi yang dialaminya.
**
Malam pun tiba, gelap menyelimuti rumah dengan cahaya remang dari lampu-lampu taman yang berpendar lembut. Di dalam kamar, Nabila duduk di tepi ranjangnya, menatap ke depan dengan tatapan kosong, seolah sedang menanti sesuatu yang tak pasti, atau sedang merenungi nasibnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Suara itu muncul lagi, suara yang selama ini menenangkannya, tapi kini justru membuat hatinya bergetar tak tentu arah. “Sayang, kamu belum tidur?”
Nabila tersenyum samar, mengenali suara itu. “Belum, aku belum ngantuk … aku hanya ingin duduk sebentar.”
Arga yang malam itu kembali memerankan sosok Dirga mendekat dan duduk di sampingnya. Aroma parfum khas Dirga, yang dulu biasa Nabila cium, kini dengan sengaja dipakai Arga. Semuanya tampak sempurna, seolah Dirga benar-benar kembali.
Namun, di balik ketenangan itu, ada perasaan aneh yang tak bisa dihapuskan. Nabila diam, membiarkan Arga menggenggam tangannya. Tapi di dalam hati, pikirannya berputar. ‘Kenapa pemuda yang menolongku tadi siang, sama seperti suamiku, ya? Kalau setiap orang yang mirip dengan Dirga aku anggap Dirga beneran, pasti akan ada yang mencuri kesempatan ini.
Ia menunduk, pura-pura tersenyum. “Kamu besok kerja lagi, enggak?” “Iya,” jawab Arga, menahan nada gugup dalam suaranya.
“Kenapa enggak pernah ada libur, meski sehari? Aku ingin bisa di dekatmu selama sehari penuh. Akhir-akhir ini, aku cuma bisa denganmu malam saja.”
“Maaf, Nabila. Aku banyak urusan di kantor. Jadi, enggak mungkin bisa libur.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar samar. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Arga menatap Nabila yang menunduk dengan wajahnya yang masih tampak tenang, tapi Arga tahu, wanita itu mulai curiga. Setiap gerak tubuhnya, setiap jeda dalam ucapannya, seolah diuji oleh ketajaman naluri seorang perempuan yang tak bisa lagi melihat, tapi mampu merasakan segalanya.
‘Maafkan aku, Nabila,’ batin Arga lirih. ‘Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu.’
Sementara itu, Nabila diam-diam menahan air mata. Ia tahu, orang yang di sampingnya itu mungkin bukan sosok yang sama yang dulu ia cintai. Setelah merasa bahwa Juan pun mirip dengan Dirga, dan dari kecelakaan tragis itu, Dirga tak mungkin masih hidup. Namun, ia memilih diam, bukan karena percaya, melainkan karena takut kebenaran yang sebenarnya lebih menyakitkan daripada kebohongan yang sedang dijalani.
Malam pun semakin larut. Di antara keheningan, hanya hati mereka yang berbicara, tanpa suara dan tanpa kepastian.
Malam semakin larut. Lampu kamar hanya menyala temaram, menyorot lembut wajah Nabila yang duduk bersandar di sisi ranjang. Arga memandangi perempuan itu lama. Sesosok perempuan yang begitu rapuh, begitu lembut, dan begitu polos mempercayai setiap kata yang ia ucapkan.
Akan tetapi, di balik tatapan itu, dadanya terasa sesak. Semakin lama peran itu berjalan, semakin dalam ia tenggelam dalam kebohongan yang ia dan keluarganya ciptakan. Setiap kali Nabila memanggilnya - Dirga, hatinya seperti diremas. Ia ingin berhenti, tapi belum mampu. Belum saatnya dan belum waktunya, entah sampai kapan?
Suasana hening begitu lama hingga Arga tak tahan lagi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan nada gugup, “Nabila?”
Nabila menoleh sedikit. “Hm?”
Arga berusaha tersenyum, meski suara hatinya bergetar. “Aku cuma mau tanya sesuatu, boleh?” “Nanya apaan?” jawab Nabila lembut.
Arga menelan ludah. Bibirnya nyaris tak sanggup bergerak. “Apa … ada tanda-tanda?”
Nabila mengerutkan kening. “Tanda-tanda apa?” Nada bingungnya membuat Arga makin gugup. Ia menatap ke lantai, menghindari wajah perempuan itu. “Maksudku … tanda kehamilan.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Nabila hanya diam sejenak, lalu menjawab singkat, datar, tanpa emosi, “Belum.”
Jawaban itu menampar Arga, bukan karena kecewa, melainkan karena rasa lega yang justru membuatnya semakin malu pada dirinya sendiri. Ia mengangguk pelan, mencoba menutupi gemuruh di dadanya.
“Syukurlah …,” katanya lirih, seolah berbicara pada diri sendiri.
Nabila tersenyum samar, tak curiga sedikit pun pada nada suaminya itu. “Kenapa kamu tanya begitu? Tak biasanya kamu perhatian sampai ke situ.”
Arga menggeleng cepat, pura-pura tertawa kecil. “Enggak, cuma khawatir aja. Takut kamu kecapekan kalau sudah beneran hamil.”
Namun, di dalam hati Nabila, kalimat lain bergema jauh lebih keras, ‘apa aku berbohong saja, dengan mengatakan bahwa aku hamil agar Dirga selalu bersamaku ...?’