Menikahi Istri Kakakku - Meminta Bantuan - Bab 27

Penulis Yuan_bee
08 October 2025

Namun, di dalam hati Nabila, kalimat lain bergema jauh lebih keras, ‘apa aku berbohong saja, dengan mengatakan bahwa aku hamil agar Dirga selalu bersamaku?’

Rupanya, Nabila punya niat lain, sementara Arga menunduk, menghela napas panjang. Ia sadar, setiap hari yang berlalu hanya membuatnya semakin terikat pada peran palsu dan semakin sulit untuk keluar tanpa menghancurkan segalanya.

Malam itu, ia menatap Nabila yang mulai terlelap. Dalam hati, ia berbisik lirih, ‘Maafkan aku, Nabila. Sebenarnya aku bukan Dirga. Tapi aku akan tetap menjagamu sampai kamu cukup kuat menerima kebenarannya.”

**

Pagi harinya, cahaya matahari menembus jendela, menimpa wajah Nabila yang masih duduk di tepi ranjang. Terdengar suara langkah Arga dari kamar mandi yang bersiap-siap berangkat kerja seperti biasa, sebuah ritual pagi yang selalu sama, tenang di luar tapi penuh beban di dalam.

“Sayang, aku berangkat dulu, ya,” ucap Arga lembut, mendekatinya, lalu mencium keningnya.

Nabila menoleh perlahan, mengulurkan tangan, meraba pakaian yang dikenakan oleh lelaki itu. Jarinya menyusuri kerah kemeja, lalu turun ke bagian lengan. Ia merasakan, kainnya, teksturnya sama seperti yang kemarin. Hati Nabila mengerut pelan. Ia sudah menduga. Dia bukan CEO lagi, tapi kenapa tak jujur saja? Mengapa disembunyikan?

Nabila tetap diam. Bibirnya tersenyum, seolah tak menyadari apa pun. “Baik, hati-hati di jalan,” katanya pelan sambil mencium tangan Arga, seperti bakti seorang istri pada suaminya yang berangkat kerja.

Arga menatap wajahnya sejenak. Ada rasa sesak yang menyelinap di dadanya, tapi ia tak berkata apa pun. Hanya mengangguk, lalu berpaling dan melangkah keluar rumah. Pintu menutup perlahan, meninggalkan Nabila dalam kesunyian yang terasa begitu panjang.

Setelah beberapa menit, ia berdiri, lalu berjalan perlahan menuju teras dengan tongkatnya. Angin pagi menyapa wajahnya lembut, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Ia duduk di kursi rotan tua, membiarkan pikirannya melayang entah ke mana.

Tiba-tiba, di antara keheningan itu, bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu, yaitu erasaan seperti sedang diperhatikan.

Ia menajamkan pendengarannya. Dari kejauhan, samar-samar terdengar derit langkah kecil di tanah berpasir. Pelan, teratur. Seolah seseorang berdiri di balik pagar, sedang memperhatikannya.

Nabila memiringkan kepala sedikit, mencoba menebak arah suara. “Siapa di sana?” tanyanya pelan, tapi tak ada jawaban. Hanya suara burung di kejauhan dan hembusan angin yang terasa dingin di kulitnya.

Ia menarik napas, menenangkan diri. Mungkin hanya perasaannya. Namun, jauh di dalam hati, ada firasat kuat bahwa seseorang benar-benar sedang mengawasinya.

Dari kejauhan, di balik pohon besar dekat pagar, sesosok bayangan berdiri diam. Matanya tertuju pada Nabila, seolah mengamati dengan rasa yang tak bisa dijelaskan, antara menyukainya, tapi ragu untuk mendekatinya.

Hingga pada akhirnya, orang itu kian mendekat, langkahnya perlahan menapaki jalan setapak di depan rumah. Suara gesekan sepatu di atas kerikil membuat Nabila menegakkan tubuhnya, matanya yang tak lagi melihat menatap kosong ke arah suara itu.

“Dirga …? Kenapa kau kembali, bukannya baru saja berangkat kerja?” suaranya bergetar, lirih tapi penuh harap.

Pemuda itu berhenti tepat di hadapannya. Ada getir yang menyelinap di dadanya setiap kali nama itu dipanggil. Ia menatap wajah Nabila yang pucat diterpa sinar matahari pagi yang tenang, tapi menyimpan luka yang dalam.

Dengan suara rendah dan hati-hati, ia menjawab, “Maaf, Mbak. Aku bukan Dirga, aku Juan.”

Nabila terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Udara pagi yang tadi hangat kini terasa dingin menekan. “Oh, Juan, ya?” Ia mengulang nama itu, seolah mencoba menanamnya dalam ingatan.

Juan menunduk, jemarinya mengepal. “Aku tahu. Mbak sudah salah sangka sejak hari itu.” Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya duduk di bangku teras, sedikit berjarak dari Nabila. “Tapi justru itu yang ingin aku tanyakan. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?”

Nabila memiringkan kepala. “Kenapa kamu bertanya begitu?” “Karena .…” Juan menatap ke arah pintu rumah. “Aku merasa semua orang di rumah ini ada suatu masalah yang sedang dihadapi.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Nabila menunduk, jarinya menggenggam ujung gaun yang dikenakannya. “Maaf, Mbak. Aku enggak bermaksud ....”

Nabila menyela dengan tersenyum samar, dan perasaan yang getir. “Kamu tidak salah, Juan. Memang, ada masalah.” Ia berhenti sejenak, suaranya bergetar. “Awalnya, sejak kecelakaan usai pernikahanku, dunia ini berubah. Rumah ini berubah. Bahkan … orang-orang di dalamnya pun terasa asing bagiku.”

Juan menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kecelakaan? Bersama suamimu?”

Nabila terdiam. Ucapannya tajam, tapi entah kenapa terasa menenangkan. Seolah Juan bukan hanya bicara padanya, tapi juga menyingkap sesuatu yang selama ini ingin ia dengar.

Nabila terdiam lama, seolah menimbang-nimbang sesuatu yang berat di dalam hatinya. Suara burung pagi di kejauhan terasa begitu jauh, tenggelam dalam kesunyian yang menggantung di antara mereka.

Akhirnya, ia mulai berbicara dengan nada lembut namun bergetar. “Waktu itu … hari pernikahanku, aku menikah bersama suamiku. Aku bersamanya di dalam mobil. Tapi bukan hanya dia, ada juga sopir kami.”

Juan menatapnya, alisnya berkerut. “Pergi bersama?”

Nabila mengangguk kecil. “Iya, niatnya mau bulan madu, tapi tanpa disangka, kami bertiga mengalami kecelakaan mobil, yang membuatku buta. Mobil yang mereka bawa harusnya hancur usai kecelakaan itu. Tapi anehnya .…” Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam. “mobil itu masih ada di garasi. Utuh. Tak ada lecet sedikit pun.”

“Kok bisa?” Juan kaget mendengar pengakuan itu. Memang, ia merasa ada yang ganjil.

Suara Nabila melemah, tapi setiap katanya menusuk hati Juan. “Aku memang tak bisa melihat, tapi aku tahu itu mobil yang sama. Aku mengenali mobil itu, bahkan detail kecil yang tidak mungkin salah.”

Juan menatap jauh ke depan, pikirannya mulai berputar cepat. Sebuah mobil yang harusnya hancur, tapi masih utuh di rumah, keluarga yang dalam masalah, seorang perempuan buta yang hidup dalam kepalsuan lembut yang mereka bangun untuk melindunginya. Semakin ia memikirkan, semakin jelas, bahwa ada rahasia besar yang bersembunyi di balik tembok rumah itu.

“Mbak,” ucap Juan perlahan, suaranya nyaris berbisik. “Mungkin katamu benar, ada sesuatu yang tidak wajar di sini.”

Nabila mengangguk, wajahnya menegang, tapi penuh harap. “Jadi, bolehkah aku meminta bantuanmu?” “Bantuan? Untuk apa?”

“Untuk mengungkap keluarga ini, sebenarnya ada apa yang disembunyikan,” jawabnya tenang, tapi matanya yang kosong seperti menatap jauh ke masa lalu. “Aku tahu, ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Aku hanya ingin tahu kebenaran. Entah pahit atau manis, aku sudah siap menerimanya.”

Juan menatap perempuan itu lama, terdiam. Dalam hati, ada rasa iba sekaligus tekad yang perlahan tumbuh. Ia sadar, langkahnya setelah ini akan mengusik banyak hal, termasuk keluarga yang kini sedang menyimpan rahasia besar.

Juan menghela napas panjang, menatap Nabila dengan tatapan ragu. “Mbak, maaf, tapi aku ....”