Juan menghela napas panjang, menatap Nabila dengan tatapan ragu. “Mbak ... maaf, tapi aku tidak bisa ikut campur dalam urusan keluargamu,” katanya pelan tapi tegas. “Aku hanya orang luar, kalau sampai mereka tahu aku terlibat, bisa-bisa malah dianggap bersekongkol sama Mbak.”
Nabila menunduk, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia tak menjawab, hanya diam, tapi wajahnya menunjukkan kekecewaan yang dalam.
Juan menatapnya sejenak lagi, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut. “Tapi, bukan berarti aku tak mau membantu.”
Nabila mengangkat wajahnya perlahan, bibirnya bergetar. “Maksudmu?”
“Aku ingin membantu Mbak dalam hal lain.”
Nabila terdiam, berusaha mencerna kalimat itu.
“Ada seseorang yang aku kenal,” kata Juan hati-hati. “Bukan dokter, bukan tabib juga, tapi dia itu orang pintar. Dulu dia pernah bantu seseorang yang kehilangan penglihatan karena trauma, bukan karena kerusakan mata, dan orang itu, bisa melihat lagi tanpa operasi apa pun.”
Nabila tampak tertegun. “Jadi … maksudmu, penyakitku bisa disembuhkan?” suaranya nyaris berbisik.
“Aku tidak bisa janji, Mbak,” jawab Juan cepat. “Tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu antar ke sana. Setidaknya berusaha terlebih dahulu demi kesembuhan. Kalau memang benar semua ini karena sesuatu yang tak wajar atau kebutaan itu tidak permanen, barangkali beliau bisa bantu.”
Nabila menarik napas dalam, wajahnya yang semula muram mulai memunculkan secercah harapan. “Kalau begitu, kapan kita berangkat?” tanyanya pelan.
Juan tersenyum tipis, tapi di balik senyum itu ada kekhawatiran yang samar. “Tapi aku bingung, kalau keluarga Mbak tahu, bisa jadi masalah besar. Saya akan atur waktu yang tepat. Mungkin malam, saat semua orang tidur.”
Nabila mengangguk perlahan. “Baiklah. Nanti malam.”
Juan menunduk hormat, lalu berdiri dari duduknya. “Kalau begitu, Mbak istirahat dulu. Nanti saya beri kabar.”
Nabila mengangguk pelan, masih menunduk. “Tapi aku tak tahu harus bagaimana. Mereka seolah mengurungku. Setiap aku hendak keluar rumah, selalu ada alasan untuk menahanku. Aku bahkan tak bisa melangkah jauh tanpa ada yang menuntun.”
Juan menatapnya dengan prihatin. “Kalau begitu, jangan pernah minta izin pada suamimu.”
Nabila menoleh pelan ke arah suara Juan. “Kenapa?”
“Karena justru itu kesalahan terbesar,” jawab Juan cepat. “Kalau Mbak bilang ingin pergi ke orang pintar, mereka pasti curiga. Mereka bisa saja melarang, atau malah memindahkan Mbak ke tempat lain. Kita harus melakukannya diam-diam.”
Nabila terdiam, wajahnya tegang. “Lalu bagaimana caranya?”
Juan memandang sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar. Suaranya kini berubah lebih rendah, seolah berbisik di antara angin sore. “Ada ide yang lebih aman,” katanya dengan nada serius. “Setiap malam, sekitar jam dua belas, rumah ini sepi, kan? Biasanya semua sudah tidur. Aku bisa datang lewat belakang, lewat kebun kecil di sisi kanan rumah. Dari situ, tak ada yang melihat.”
“Lalu bagaimana aku tahu arahmu?” tanya Nabila. “Aku tak bisa melihat.”
“Aku akan memberi tanda,” jawab Juan. “Nanti aku ketuk jendela kamar Mbak tiga kali, lalu pelan-pelan panggil nama Ibu. Setelah itu, aku bantu Mbak keluar tanpa suara.”
Nabila menarik napas dalam-dalam. Ada rasa takut, tapi juga semangat yang lama tak ia rasakan, yaitu semangat untuk menemukan kebenaran. “Dan kalau aku bisa melihat lagi setelah itu, aku akan tahu siapa sebenarnya orang-orang di rumah ini.”
Juan mengangguk mantap. “Itu tujuan kita.”
Nabila mengerutkan kening, keraguan mulai menguasai hatinya. “Apa kau yakin dengan cara itu?” tanyanya pelan, suaranya bergetar. “Aku tidur satu kamar dengan suamiku. Kalau ada seseorang yang datang tengah malam, kalau dia terbangun dan melihat, nanti aku dikira apa?”
Juan menatapnya dengan sorot tenang, meski di baliknya ada keyakinan keras yang ia paksa muncul. “Yang penting, Mbak harus percaya. Aku akan pastikan tidak ada yang tahu. Semua akan aman.”
“Tapi kalau gagal …?” Nabila menelan ludah, jemarinya menggenggam ujung gaunnya erat. “Kalau ketahuan, aku bisa dianggap berkhianat pada keluarga sendiri.”
Juan menggeleng pelan. “Kadang, untuk tahu kebenaran, seseorang harus berani melangkah ke dalam bahaya. Berusahalah agar berhasil, demi kesembuhanmu.” Ia menatap Nabila lebih dalam, nada suaranya kini lembut namun menekan. “Kalau Mbak terus menunggu, mereka akan terus menutupi apa pun yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau Mbak berhasil melihat lagi, segalanya bisa berubah. Ibu bisa tahu siapa yang berbohong dan siapa yang sebenarnya peduli.”
Nabila terdiam lama. Suara detak jam di ruang tamu terdengar sayup. Akhirnya, ia mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan coba percaya padamu, Juan.”
Juan tersenyum tipis, senyum yang entah mengandung ketulusan atau rahasia lain di baliknya. “Percayalah, Mbak Nabila,” katanya, “malam ini … semuanya akan berhasil.”
“Persiapkan diri, Bu Nabila. Malam nanti, segalanya bisa berubah.”
Ia kemudian berbalik meninggalkan halaman, sementara Nabila masih duduk diam, menatap kosong ke depan. Dalam hati kecilnya, ia bertanya-tanya, apakah langkah yang ia ambil kali ini akan membawa cahaya, atau justru kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya?
Suasana mendadak hening. Angin sepoy menyapu lembut rambut Nabila, sementara langkah Juan mulai menjauh, meninggalkan pesan samar di udara.
Saat langkah Juan perlahan menjauh dari beranda, Nabila memegang dada kirinya yang terasa berdebar. Entah karena takut atau karena sesuatu yang tadi disebut adalah harapan yang baru saja kembali hidup.
Nabila hanya bisa menatap kosong ke arah suara yang semakin menjauh, tapi dalam hatinya, ia mulai mendengar detak jantung yang lain, terasa lebih cepat dan lebih hidup. Ia tahu, malam itu mungkin akan menjadi awal dari jawaban yang selama ini disembunyikan darinya.
**
Malam harinya, rumah terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dan detak jam di dinding yang terdengar. Di kamar yang remang, Nabila masih terbaring di sisi “suaminya” yang kini telah terlelap. Napas pria itu terdengar berat dan dalam.
Seperti malam-malam sebelumnya, Nabila menjalani perannya sebagai istri tanpa banyak kata. Namun, malam itu berbeda. Hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya, bukan karena kasih, melainkan karena takut dan tekad yang saling berbenturan.
Pelan-pelan, ia menoleh ke arah Arga yang masih tertidur. Dengan tangan gemetar, Nabila mengambil bantal guling dan meletakkannya di posisi tubuhnya sendiri, menutupinya dengan selimut agar tampak seperti ia masih berbaring di sana.
Ia menarik napas dalam. ‘Maafkan aku,’ batinnya dalam hati, seolah mengucapkan permohonan maaf kepada seseorang yang tak bisa melihat kebenaran.
Dan tak lama setelah itu, “Tok ... tok ... tok.”
Suara ketukan lembut terdengar di jendela.
Nabila menegang sesaat. Ia tahu, itu pasti Juan. Dengan langkah perlahan agar lantai kayu tak berderit, ia meraba dinding dan meja kecil di sisi ranjang, menuju arah jendela. Tangannya menemukan pegangan kayu, lalu dengan hati-hati ia membuka daun jendela itu.
Udara malam langsung menyapa wajahnya, dingin, lembab, dan sunyi.
“Mbak, Ini aku.”
“Juan …?”