Menikahi Istri Kakakku - Nabila yang Mulai Berubah - Bab 29

Penulis Yuan_bee
09 October 2025

“Juan …?” bisiknya hampir tak mengeluarkan suara.

Tanpa banyak bicara, Juan segera mengulurkan tangan dan membantu Nabila keluar lewat jendela. Ia menopang tubuh wanita itu dengan hati-hati agar tak terjatuh. Keduanya melangkah diam-diam menembus taman belakang, menyusuri jalan kecil yang jarang dilewati orang.

Langkah mereka begitu pelan, hanya sesekali terdengar desiran rumput yang bergesekan dengan kaki.

Malam itu, jalanan yang tadi ramai berubah sunyi setelah memasuki kawasan pedesaan. Lampu-lampu jalan temaram berkelip, sesekali disapu angin malam. Juan mengemudikan motornya di depan, sementara Nabila berpegangan erat. Beberapa saat kemudian, motor pun berhenti, mereka menapaki jalan setapak menuju rumah tua di ujung perkampungan, rumah yang katanya milik orang pintar yang mampu mengobati tanpa sentuhan medis.

“Sedikit lagi,” bisik Juan pelan. “Jangan lepaskan tangan saya.”

Nabila mengangguk, langkahnya pelan, mantap. Jantungnya berdebar tak menentu antara takut dan harapan. Ia tak tahu di mana ia berada, juga belum tahu Juan itu baik ataukah tidak, ia hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika mereka tiba, sebuah rumah panggung sederhana berdiri di tengah kebun pisang. Di berandanya, tampak seorang pria tua berwajah teduh yang sepertinya sudah menunggu, seolah tahu mereka akan datang.

“Dari tadi malam, angin sudah memberi kabar,” katanya pelan tanpa ditanya. “Kau perempuan yang kehilangan cahaya karena rahasia yang masih tertutup rapat.”

Nabila terdiam, sedikit gemetar. Juan menunduk sopan. “Kami mohon bantuannya, Pak. Kalau bisa, tolong pulihkan penglihatannya.”

Orang tua itu tersenyum tipis, lalu meminta Nabila duduk bersila di hadapannya. Ia merapalkan doa, lalu menyentuh perlahan kedua pelipis Nabila. Udara di sekitar terasa berubah, dingin menusuk, tapi tenang di dalam dada.

Beberapa waktu pun berlalu, lelaki tua itu menarik napas panjang dan berkata, “Malam ini belum bersih. Masih banyak kabut di dalam kepalamu, jadi butuh waktu. Datanglah tiga atau empat kali lagi, niscaya kabut itu akan sirna.”

Nabila mengangguk perlahan, menahan air mata yang hampir jatuh. “Baik, Pak, saya akan datang lagi.”

Juan menatapnya dari samping, lalu membantu Nabila berdiri. “Terima kasih,” katanya pelan pada orang tua itu sebelum mereka berpamitan.

Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Hanya suara langkah mereka di tanah basah dan desir angin malam yang menemani.

Mereka pun kembali menaiki motor. Nabila merasa, Juan itu pria yang baik, ia tak mau mengambil kesempatan di atas penderitaannya.

Sesampainya di rumah, langit mulai berwarna kelabu, tanda fajar hampir tiba.

Juan mengantar Nabila sampai ke jendela kamarnya. “Sampai di sini saja, ya,” katanya lirih. “Mbak nanti duduk di teras aja biar enggak dicurigai oleh keluarga dan jika mereka bertanya kenapa keluar pagi-pagi, jawablah dengan perasaan Mbak.”

Nabila mengangguk,menggengam erat tongkatnya, penglihatannya sudah tak segelap dulu, ada perubahan meski sedikit. Dulunya hitam pekat dan sekarang ada warna putih meski sedikit. Ia pun melangkah menuju bangku di teras dan duduk di sana tanpa melakukan apa-apa.

Pagi harinya, cahaya matahari menerobos tirai kamar. Di ruang tamu, semua tampak normal. Tak seorang pun curiga bahwa malam tadi, Nabila sempat meninggalkan rumah.

Ia masih duduk di teras dengan senyum tipis di wajahnya, menikmati udara pagi. Di dalam hatinya, ada harapan baru, meski samar.

Sementara itu, di kamar, Arga menatap bantal guling di sebelahnya dengan alis mengerut. Ia sedikit kaget, tapi tak mempermasalahkannya. “Mungkin dia bangun duluan,” gumamnya pelan.

Nabila memegang dadanya yang terasa hangat. ‘Sekali terapi belum ada perubahan, tapi aku yakin, tiga kali, atau empat kali, mungkin aku bisa melihat lagi. Dan saat itu terjadi, tak ada lagi yang bisa menipuku.’

Nabila mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya.

“Nabila, kau sudah bangun rupanya.”

“Iya, aku bangun duluan, ingin menikmati udara segar.”

“Oh, begitu ya.”

Arga pun melangkah pergi, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, setelah persiapan selesai, ia pamit pada Nabila dan Nabila mencium tangannya tanda bakti pada seorang suami. Namun, pagi itu berbeda dengan hari sebelumnya, meski tampak buram dan gelap, ia sudah sedikit bisa melihat wajah pria itu.

**

Setelah Arga sampai di lokasi kerja, seperti biasa, ia melakukan tugasnya. Seragam kebersihan masih melekat di tubuhnya, seragam yang membuatnya tampak seperti siapa pun, tapi bukan dirinya yang sebenarnya. Ia menggenggam pel dengan erat, matanya menatap cermin kaca besar di lobi yang memantulkan bayangan seorang pria berwajah lelah, tapi penuh perhitungan.

“Belum saatnya,” gumamnya pelan.

Beberapa pegawai melintas sambil menyapa basa-basi. Tak ada satu pun yang tahu bahwa petugas kebersihan itu menyimpan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kain pel dan ember sabun.

Dari kejauhan, Arga melihat Dion melangkah keluar dari ruang rapat bersama beberapa investor asing. Jas mahal melekat di tubuhnya, senyum congkak tak pernah lepas dari wajahnya. Setiap langkahnya menegaskan kekuasaan yang sebentar lagi akan resmi ia genggam.

‘Sebentar lagi dia akan jadi CEO,’ pikir Arga dalam hati, menahan napas panjang. ‘Dion mungkin berpikir; semuanya sudah ada di genggamnya, padahal permainan baru saja dimulai.’

Dion melintas di depannya, menatap Arga sekilas tanpa sedikit pun rasa hormat. “Hei, jangan pel di situ. Basah, nanti orang jatuh,” ujarnya ketus. Arga hanya menunduk, pura-pura patuh. “Baik, Pak.”

Begitu Dion berlalu, tatapan Arga berubah tajam. Ia memandangi pantulan dirinya lagi di kaca, lalu tersenyum samar, senyum yang hanya dimengerti oleh seseorang yang sedang menunggu waktu untuk menebus dendam.

Akan tetapi, di balik semua itu, ada hal yang terus menghantuinya: bayangan Nabila. Wajah lembut wanita itu, suara lembutnya saat memanggil “Dirga” setiap pagi, semuanya membuat hatinya bergetar dalam dilema.

Ia tahu, kebohongan yang ia mainkan semakin dalam. Namun, selama permainan itu belum selesai, ia tak punya pilihan lain selain terus berpura-pura.

‘Belum sekarang. Biarkan Dion merasa menang dulu,’ batin Arga, matanya menatap lantai yang berkilau oleh sinar matahari pagi. ‘Saat waktu itu tiba, aku akan mengungkap kebenaran kematian kakakku.’

Siang harinya, saat jam istirahat, ia melangkah keluar dari lokasi kerjanya, menuju ke suatu tempat, lokasi pertemuan yang sudah dijanjikan, dekat dengan perusahaan. Arga masuk menuju sebuah ruangan dengan langkah cepat. Di dalam ruangan itu ada Lusy dan Bu Tatik, dua orang yang sedang bekerja sama demi kemajuan perusahaan yang dibangun kembali oleh mendiang kakaknya. Dulu, saat dipegang ayahnya, perusahaan itu sempat bangkrut, dan sosok Dirga yang menjadi pahlawan menuju kebangkitan.

Lusy lebih dulu membuka percakapan. “Bagaimana? Semua masih berjalan sesuai rencana?”

Arga menghela napas panjang, menatap mereka bergantian. “Untuk sementara, iya. Tapi aku mulai merasa waktunya sudah semakin sempit.”

Tatik menatap Arga tajam. “Kau tidak boleh terburu-buru, Nak. Ingat, semua ini demi kebaikan Nabila juga. Kalau sampai kau salah langkah, dia bisa ngamuk lagi, psikisnya belum stabil.”

Arga terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang menekan batinnya. “Aku tahu,” ujarnya akhirnya. “Tapi aku juga tak bisa terus berpura-pura. Dion semakin berkuasa, dan aku masih di posisi ini, berpura-pura menjadi orang lain, pura-pura menjadi Dirga.”

Lusy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Sabar sedikit lagi. Begitu semua bukti sudah kita pegang, kau bebas dari permainan ini, dan Nabila akan tahu semuanya dengan cara yang lebih aman.”

Arga menunduk, jari-jarinya menggenggam gelas kopi yang sudah dingin. “Semoga,” katanya lirih. “Semoga saat hari itu tiba, dia masih bisa memaafkan.”

Sore hari setelah bekerja seharian, Arga kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia membuka pintu gerbang pelan, tak ingin menimbulkan suara.

Akan tetapi, begitu masuk, langkahnya terhenti. Di teras, Nabila tengah duduk menatap langit sore dengan wajah tenang. Ada sesuatu yang berbeda, yaitu ekspresi yang tak sama seperti hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak lebih yakin, lebih hidup, meski matanya masih terpejam.

Arga berdiri lama memperhatikan dari kejauhan. ‘Ada yang berubah ....”