Arga berdiri lama memperhatikan dari kejauhan. ‘Ada yang berubah dari Nabila ’ pikirnya.
Saat menyadari kehadiran Arga, Nabila menoleh pelan dan tersenyum. “Kau sudah pulang?” suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada halus yang tak bisa dijelaskan.
“Iya,” jawab Arga pelan, mencoba menahan rasa curiganya. “Raut wajahmu kelihatan segar sekali hari ini.”
Nabila tersenyum lagi. “Iya, mungkin karena aku sudah bisa merasa tenang.”
Arga menatapnya lebih lama, lalu berbalik menuju kamar tanpa berkata banyak. Namun, dalam hatinya, sebuah bisikan kecil terus menghantui: Dia bukan hanya lebih tenang, tapi mungkin menyembunyikan sesuatu.
Malam harinya, mereka pun tidur pulas, Nabila tak pergi bersama Juan lagi malam itu, mungkin dua atau tiga hari lagi, sesuai anjuran orang pintar tersebut.
**
Paginya, situasi berjalan seperti biasanya. Namun, berbeda ketika Arga memasuki area perusahaan. Suara peluit keras memecah kesunyian pagi di aula belakang gedung kantor pusat. Para petugas kebersihan berkumpul dalam barisan panjang, mengenakan seragam yang tampak sama. Arga berdiri di antara mereka, menunduk, mencoba tak mencuri perhatian. Namun, takdir rupanya punya rencana lain. Langkah sepatu kulit terdengar dari arah pintu. Semua orang langsung menegakkan badan. Dari kejauhan, sosok pria berwibawa muncul — Harto, direktur utama perusahaan itu, sekaligus ayah kandung Arga.
Arga menahan napas, seolah seluruh udara di ruangan itu hilang. Ia tak menyangka, hari ini justru sang ayah yang akan melakukan inspeksi rutin ke bagian kebersihan.
Harto menatap barisan itu satu per satu sampai akhirnya pandangannya berhenti tepat pada wajah Arga. Dunia seolah membeku sejenak.
“Arga?” suaranya berat dan tegas. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Semua kepala spontan menoleh ke arah Arga, bingung sekaligus terkejut. Arga hanya bisa menunduk, jemarinya mengepal kuat di balik celana kerjanya.
“Jawab, Arga!” bentak Harto, suaranya menggema di aula. “Apa maksudmu berpakaian seperti ini? Menyamar jadi petugas kebersihan di perusahaan ayahmu sendiri?”
Bisik-bisik mulai terdengar di antara barisan karyawan. “Dia anak direktur?” “Serius? Pantas raut wajahnya beda.” “Gila, putra direktur nyamar jadi cleaning service?”
Arga mendongak perlahan. Pandangan matanya dingin, tapi di baliknya, ada luka yang dalam. “Ayah, aku punya alasan sendiri.”
“Alasan?” Harto menyipitkan mata. “Alasan apa yang membuatmu menurunkan harga dirimu seperti ini? Kau tahu apa yang orang-orang pikirkan melihatmu seperti pengemis di perusahaan keluarga sendiri?”
Suasana mendadak kaku. Tak ada yang berani bergerak. Semua menunggu jawaban Arga. Namun, sebelum Arga sempat membuka mulut, terdengar suara tepuk tangan pelan di ujung ruangan. Tepuk tangan pelan, tapi penuh nada meremehkan.
Semua kepala menoleh ke arah sumber suara itu.
Dari arah pintu masuk, seorang pria melangkah masuk dengan senyum congkak — Dion, lengkap dengan jas hitam dan dasi yang tampak mahal.
“Luar biasa,” katanya sambil bertepuk tangan lagi. “Benar-benar luar biasa. Putra direktur besar bekerja sebagai petugas kebersihan di perusahaannya sendiri. Kalau ini bukan lelucon, aku tak tahu harus menyebutnya apa.”
Nada suaranya menohok, penuh ejekan terselubung.
Arga menatapnya tanpa ekspresi, tapi di dalam dadanya, amarah mulai bergolak. Harto berusaha menahan diri, tapi wajahnya sudah memerah oleh campuran malu dan marah.
Dion melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Arga. Ia menatap pria yang sedang menyamar itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum miring. “Jadi ini, ya, calon pewaris perusahaan? Lucu juga. Sepertinya aku harus belajar dari bawah juga, tapi mungkin bukan dengan mengepel lantai.”
Arga mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Suara tawa kecil Dion menggema di aula, menusuk ke harga dirinya. Namun, Arga tetap diam, hanya menatap lurus ke depan.
‘Sial! Rencanaku gagal total, aku sudah ketahuan terlebih dahulu sebelum bertindak.’
Aula itu mendadak terasa sesak. Semua petugas kebersihan diam terpaku, tak berani menatap ke arah direktur utama yang kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah menegang.
Arga hanya bisa menunduk, merasakan pandangan tajam ayahnya menembus seragam lusuh yang ia kenakan. Harto tak percaya pada apa yang dilihatnya.
“Arga! Jawab pertanyaanku!” Suaranya bergetar menahan amarah. “Kenapa harus menyamar seperti ini?!”
Belum sempat Arga menjawab, seorang pria berperawakan sedang melangkah ke depan, dia itu Sugito, penasihat senior dan orang kepercayaan keluarga Harto sejak lama. Ia menepuk pelan lengan direktur itu, berusaha menenangkan.
“Pak Harto, tenang dulu,” katanya lembut. “Saya rasa, anak Bapak punya maksud baik. Saya sudah mendengar sedikit dari seseorang bahwa Arga sedang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kondisi internal perusahaan.”
‘Mendengar dari seseorang? Siapa orang yang menyebar berita itu? Bukannya sudah terahasiakan dengan baik dan tak mungkin bocor?’
Harto menatap Sugito tajam. “Maksudmu, ia sengaja menyamar seperti ini?” Sugito mengangguk pelan. “Mungkin ia ingin melihat bagaimana kondisi lapangan tanpa embel-embel jabatan, Pak. Kadang, kebenaran lebih mudah terlihat dari bawah.”
Ruangan hening. Semua orang menunggu reaksi Harto. Arga mengangkat wajahnya perlahan. “Benar, Ayah. Aku hanya ingin tahu bagaimana sebenarnya perusahaan ini dijalankan dari sudut paling bawah. Banyak yang Ayah belum tahu.”
Akan tetapi, Harto memotongnya dengan suara keras, “Dan kau pikir dengan berpura-pura jadi petugas kebersihan, kau bisa menyelesaikan masalah itu?”
Arga terdiam. Ia ingin menjelaskan semuanya tentang laporan keuangan yang janggal, tentang perlakuan kasar beberapa supervisor, tentang Dion yang perlahan menguasai semua posisi penting, tapi belum sempat mulutnya terbuka, suara tepuk tangan kembali terdengar pelan dan sinis.
“Jadi benar ya? Kau sengaja menyamar sebagai petugas kebersihan untuk mencari kesalahanku? Wah, ide yang brilian, kalau boleh aku bilang.”
Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi matanya menyimpan ejekan. “Sayang sekali, semua itu jadi sia-sia karena sekarang semua orang tahu. Kau gagal menjaga rahasiamu.”
Harto menatap Dion dengan alis terangkat. “Kau tahu tentang ini?”
Dion tersenyum lebar. “Tentu saja, Pak. Saya tahu sejak awal. Bahkan, saya yang memastikan semua supervisor tidak curiga, supaya Arga bisa bermain lebih lama.”
Perkataan itu membuat Arga kaget, ia tak tahu, rupanya Dion sudah tahu lebih awal, membuatnya curiga ada sekutu Dion di antara Lusy atau Bu Tatik. Dion mendekat ke arah Arga, menunduk sedikit dan berbisik cukup keras agar semua bisa mendengar, “Sayangnya, permainanmu terlalu mudah ditebak.”
Tawa kecil lolos dari bibirnya, membuat suasana semakin tegang. Beberapa petugas kebersihan saling pandang, bingung dan canggung, sementara Harto mulai menahan diri agar tak meledak di depan umum.
Harto cepat menengahi, “Cukup, Dion. Ini bukan tempat untuk adu argumen.”
Dion hanya mengangkat bahu dengan wajah polos. “Sepertinya, anakmu sendiri tak menyukaiku jika mengambil posisi milik kakaknya.”
Arga menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Ia tahu Dion sudah lama mencurigainya. Kini, Dion sengaja memanfaatkan momen itu untuk mempermalukannya di depan ayah dan seluruh karyawan.
Dalam hati, Arga berbisik dingin, ‘Baiklah, Dion. Kau sudah buka permainan ini lebih dulu. Tapi kau lupa satu hal, aku tak pernah melangkah tanpa rencana cadangan ....’