Langkah Ken Aji terasa berat saat memasuki gerbang utama mansion tua itu. Firasatnya menjerit, namun dia sudah terperangkap.
Di dalam, ruangan ballroom yang mewah dipenuhi oleh para pebisnis berkelas. Mata Ken Aji langsung mencari sosok yang paling dikenalnya.
Sosok tua dengan aura keibuan yang kental, Maulidah, ibu dari Ferdinan dan Martin, segera menghampiri Ken Aji. Dia mengenakan gaun beludru hitam yang elegan, matanya tampak sembap, seolah duka dua puluh tahun itu tidak pernah hilang.
"Tuan Kinan, astaga, setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya kau datang," sapa Maulidah, meraih tangan Ken Aji dengan kedua tangannya yang keriput.
Genggaman tangan itu terasa hangat, tetapi masih diselimuti kesedihan yang tulus.
Ken Aji merasakan gejolak emosi. Maulidah adalah orang yang berteriak meminta tolong malam itu. Rasa bersalah kembali merayap di dadanya.
"Ibu Maulidah, bagaimana kabarmu?" jawab Ken Aji yang balik bertanya.
Nadanya melembut, tidak sedatar saat dia berbicara dengan Marisa tadi.
"Seperti yang kau lihat. Kau tahu, dua puluh tahun berlalu, dan aku masih selalu menunggu saat-saat kau kembali mendamaikan keluarga ini," bisik Maulidah, suaranya parau.
Maulidah memandang Ken Aji dengan tatapan penuh permohonan. Ken Aji tahu, Maulidah menyimpan beban yang sama beratnya dengannya.
Maulidah kemudian tersenyum tipis pada Marisa dan Kajayanti. "Mereka ini..."
“Oh iya, perkenalkan Ibu Maulidah, mereka ini… Marisa dan Kajayanti, istri dan putriku,” jelas Ken Aji memperkenalkan keduanya.
“Marisa, akhirnya kau datang,” sapa Alivia yang menyusul Maulidah.
“Kajayanti, kau cantik sekali,” sambungnya memuji gadis itu.
Di saat sedang asyk mengobrol dan berkenalan, tiba-tiba, sebuah suara berat dan serak menyela pembicaraan mereka. Suasana di sekitar mereka langsung membeku.
"Jangan buang waktu, Bu. Dia datang bukan untuk memberikan kedamaian, tapi untuk melihat apa yang bisa dia ambil lagi," sebuah suara tajam memotong.
Martin Cassavanos, putra bungsu Maulidah, berdiri tegak di hadapan mereka. Sejak kejadian itu, aura kebenciannya tak tersembunyi. Wajahnya yang tegang dipoles dengan senyum sinis yang menjijikkan.
"Martin! Jaga ucapanmu!" tegur Maulidah dengan nada lelah, seolah perselisihan di antara kedua pria ini tidak pernah usai.
"Martin. Lama tidak bertemu," kata Ken Aji, nadanya sedingin es.
Martin melipat kedua tangannya di dada. Dia tidak mengulurkan tangan. Matanya menyapu Ken Aji dari atas ke bawah, pandangan yang penuh cemooh.
"Lama sekali, Ken Aji sang penyelamat yang gagal," balas Martin.
Dia sengaja menekan kata-kata itu.
"Kudengar kau semakin sukses. Tentu saja, kau berhasil mengambil alih semua yang seharusnya menjadi milik Ferdinan." Masih tidak berubah, Martin selalu berbicara tanpa berpikir.
Ken Aji mengepalkan tangannya di balik jas.
"Aku sukses berkat usahaku sendiri, Martin. Sugara Group adalah amanat yang kuterima dari Ferdinan. Aku tidak mengambilnya, ataupun sepeserpun hakku atasnya, aku hanya menjaganya," jelas Ken Aji.
"Menjaga, katamu?" Martin tertawa sinis, tawa yang menusuk.
Maulidah segera memegang lengan Martin, mencegah mereka berhadapan lebih jauh.
"Hentikan! Atau aku yang akan berteriak!” pinta Maulidah.
Martin menarik diri dari ibunya, kembali menegakkan tubuhnya dengan arogan.
Dia kemudian mengambil segelas sampanye, matanya tidak pernah lepas dari Ken Aji.
"Selamat datang, Ken Aji. Kuharap kau menikmati pesta ini. Karena setelah ini, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk kau nikmati," ancam Martin, suaranya bergetar karena kebencian.
Martin berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan keheningan berat antara Ken Aji dan Maulidah. Ken Aji tahu ancaman Martin itu serius.
Sementara kembali ke gerbang utama, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah. Turunlah sosok yang segera menguasai setiap pandangan.
“Tuan Muda sudah datang,” teriak seorang pelayan yang menarik perhatian sebagian orang.
Andrian Sugara berdiri tegak dalam balutan setelan jasnya, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.
Di sebelahnya, Kaluna tampak memesona. Gaun hijau zamrudnya serasi dengan ketenangan wajahnya. Mereka berjalan di atas karpet merah panjang dengan langkah teratur dan anggun, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
“Sempurna, pria itu sudah ada di sini,” batin Andrian saat menatap ke arah Ken Aji.
Melihat kedatangan cucunya, Maulidah terpanggil untuk segera menyambutnya.
Namun, saat Maulidah baru akan mengangkat gaunnya, Andrian melakukan gerakan nyaris tak terlihat. Hanya dengan sedikit perubahan pada posisi tangannya di pinggang Kaluna, mampu menghentikan Maulidah yang langsung mampu mencerna maksudnya.
Dengan sedikit tatapan mata, memberikan isyarat ke arah Leon yang berdiri siaga di sudut ruangan.
"Oma, Tuan Muda meminta Anda menunggu. Beliau tidak ingin ada sorotan berlebihan. Biarkan beliau menyatu dengan suasana terlebih dahulu," bisik Leon pada Maulidah yang kini terlihat bingung.
Maulidah, yang menghormati keinginan Andrian untuk menghindari perhatian publik, segera mengangguk dan menghentikan langkahnya. Dia memberi isyarat kepada pelayan lain untuk kembali ke posisi mereka.
Andrian tersenyum tipis. Belum saatnya orang-orang, terutama musuh-musuhnya tahu bahwa, dia adalah Andrian Cassavanos, sang pewaris. Biarlah dulu dia terlihat sebagai CEO Sugara Group yang misterius dan independen, setidaknya untuk saat ini.
Andrian dan Kaluna kini tiba di lantai dansa. Langkah pertama Andrian membawa mereka tepat ke hadapan rombongan Ken Aji.
“Kaluna, kau… apa kau baik-baik saja?” tanya Ken Aji yang langsung menyapa putrinya.
Kaluna memasang wajah datar. Mengalihkan pandangannya ke wajah sang ayah.
“Ayah, seperti yang kau lihat. Tuan Muda ini, memperlakukanku dengan sangat Istimewa. Dan kau, aku tidak percaya kau pergi ke pesta? Salah satu putrimu bukankah sedang menjadi tawanan seorang predator?” jawab Kaluna, membuat Ken Aji berhenti bernafas untuk beberapa detik.
“Kaluna, kau ada di sini? Katanya diculik, tapi malah pergi ke pesta,” kritik Kajayanti yang tiba-tiba maju menghadap Kaluna.
Marisa tersenyum sinis, menatap Kaluna dari ujung kaki hingga kepala. Dia dan putrinya sama sekali tidak menyadari identitas asli Andrian.
"Seperti biasa, dia selalu berdalih untuk menyembunyikan taktik liciknya. CEO muda ini pasti hanya menggunakan dia sebagai aksesoris untuk pamer,” imbuh Marisa mendukung pernyataan putrinya.
Andrian menoleh. Tatapannya dingin, tanpa ekspresi.
Tindakan acuh tak acuh Andrian tidak membuat Marisa dan Kajayanti mundur. Justru, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan pewaris Cassavanos, harga diri mereka terancam.
Marisa tersenyum dingin, matanya berkilat licik.
"Tuan Sugara, sungguh menarik selera Anda," katanya, nadanya penuh ejekan.
"Jika Anda benar-benar mencari aset berharga untuk diperkenalkan di acara sekelas ini, kami berani jamin, kami punya klien yang jauh lebih emas dan berpengalaman daripada... gadis yang baru keluar dari lingkungan asing,” imbuhnya.
Kajayanti maju, senyumnya kini menyelimuti kecemburuan. Dia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan ke arah Andrian, mengabaikan Kaluna sepenuhnya.
"Mungkin Kaluna hanya cocok untuk bersenang-senang sebentar, Tuan. Jika Anda tertarik pada hubungan bisnis yang serius dan revolusioner, saya memiliki jaringan yang tidak bisa disaingi oleh putri yang hanya mengandalkan warisan Ayahnya. Perkenalkan, saya Kajayanti, putri kedua Kinan Setyo Adji," ujar Kajayanti dengan bangga.
Kaluna tetap diam, raut wajahnya tenang, tetapi matanya menatap Kajayanti lurus-lurus. Dia tidak gentar, justru seperti menunggu puncak dari drama ini.
“Kajayanti ya…” ujar Andrian singkat.
“Benar-benar tidak berkelas, ternyata seperti ini sosok Kajayanti itu,” batin Andrian.
Andrian hanya menatap Kajayanti dan Marisa, ekspresi wajahnya benar-benar datar. Membuat mereka kesulitan menebak apa yang ada di pikirannya.
Andrian mencondongkan tubuhnya ke arah Kajayanti, membuat Marisa dan putrinya tersenyum penuh kemenangan. Mereka pikir Andrian akhirnya tertarik.
"Nona Kajayanti, sayangnya… Anda tidak mengerti satu hal pun tentang saya atau wanita di sebelah saya," bisik Andrian, suaranya pelan, menusuk, dan mematikan.
Andrian kembali menegakkan tubuhnya. Genggamannya di pinggang Kaluna semakin mengerat.
"Wanita ini, tidak pernah mengandalkan warisan Ayahnya. Dia membangun kekuasaannya sendiri. Dia adalah CEO yang merevolusi pasar. Namanya kini Anda sebut dengan hormat di setiap pertemuan bisnis. Dia adalah musuh paling tangguh yang pernah saya temui," kata Andrian, menatap Kaluna dengan intens.
Andrian mengangkat gelas champagne-nya ke arah Kaluna.
"Dia adalah perhiasan langka yang tidak bisa dibeli dengan harga murah. Dan yang terpenting," jeda Andrian, suaranya menggelegar di tengah keheningan yang mulai tercipta di sekeliling mereka.
Tanpa melanjutkan perkataannya, dengan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya, Andrian membawa Kaluna melangkah ke podium.
"Sialan kau, Kaluna!" teriak Kajayanti tanpa sadar, tidak tahan dengan pujian dan deklarasi kepemilikan Andrian.