Drama

6. Rencana Bulan Madu

10 October 2025

Pagi menjelang, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, menyapu wajah Sienna yang masih terlelap. Hangatnya sinar itu perlahan membangunkannya dari tidur yang terasa damai setelah sekian lama.

Ia menarik napas pelan, merasakan tubuhnya yang lebih ringan dibanding malam sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada air mata. Hanya keheningan yang menenangkan.

Namun begitu ia menoleh, jantungnya langsung berdebar kencang. Arden sudah bangun. Pria itu duduk di sisi ranjang dengan punggung tegak dan tatapan yang tak biasa. Mata itu menatapnya dengan cara yang membuat Sienna nyaris lupa bagaimana harus bernapas.

“Pagi, apa kamu mimpi indah?” tanya Arden lembut.

Sienna berkedip beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya yang tiba-tiba gugup.

“Ya mungkin,” jawabnya sambil tersenyum canggung. “Kamu sudah bangun lama?”

“Baru saja,” jawab Arden pelan, tetapi matanya tidak berpaling darinya. Ada kehangatan aneh di sana, sesuatu yang membuat Sienna buru-buru mengalihkan pandangan.

Ia menarik selimut dan duduk tegak, berdeham kecil. “Kamu ingin sarapan sekarang?” tanyanya, mencoba memecah suasana yang terasa terlalu hening.

Arden mengangguk perlahan. “Kalau nggak ngerepotin.”

“Ngerepotin?” Sienna menatapnya singkat, lalu menunduk lagi. “Nggak, tentu saja nggak.”

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke sisi Arden, tangannya ragu-ragu sebelum akhirnya menyentuh bahu pria itu. “Aku bantu kamu pindah ke kursi roda, ya?”

Arden hanya mengangguk. Sienna menarik napas dalam, lalu menunduk sedikit agar posisinya sejajar dengannya. Tangannya yang halus menyentuh pinggang Arden dengan hati-hati, sementara tangan satunya menopang punggungnya. Begitu tubuh pria itu sedikit condong ke depan, Sienna merasakan kedekatan yang membuat kulitnya hangat seketika.

Arden ikut menunduk, dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu dari jarak yang nyaris tak ada. Pandangan itu cukup untuk membuat jantung Sienna berdegup tak beraturan.

“Maaf,” bisik Sienna sambil buru-buru membantu menurunkan kaki Arden ke lantai.

“Nggak apa,” jawab Arden dengan nada rendah. “Aku yang seharusnya minta maaf … karena membuatmu repot.”

Sienna menggeleng cepat. “Kamu nggak ngerepotin, Arden.”

Hening lagi. Hanya suara roda kursi yang berdecit pelan saat Sienna mendorongnya keluar dari sisi ranjang. Mereka tidak saling menatap, tetapi keduanya bisa merasakan kehadiran satu sama lain begitu kuat.

Begitu Arden sudah duduk di kursi rodanya dengan nyaman, Sienna menarik napas lega. Roda kursi itu berdecit lembut di atas lantai marmer yang dingin.

Sienna mendorong perlahan, menjaga agar setiap langkah dan dorongan terasa stabil. Di depannya, punggung Arden tegak, tapi Sienna bisa melihat dari gerak bahunya bahwa pria itu masih menahan sedikit rasa canggung. Mungkin sama seperti dirinya.

“Pelan saja,” ujar Arden lirih saat mereka mendekati lift di ujung koridor.

Sienna mengangguk,. “Baik,” jawabnya singkat. Ia menekan tombol lift, dan pintu logam berukir itu terbuka dengan bunyi lembut. Begitu masuk, keduanya berdiri dalam diam. Hanya ada suara mesin lift yang menurun perlahan, dan denting lembut yang menandakan mereka tiba di lantai pertama.

Begitu pintu terbuka, aroma kopi hangat dan roti panggang menyambut mereka. Meja panjang dari kayu mahoni sudah tertata rapi, dihiasi piring porselen, gelas kristal, dan bunga segar di tengahnya.

Para pelayan berdiri tegak di sisi ruangan, menunduk sopan ketika melihat kedatangan sang tuan rumah dan nyonya muda.

Lucas segera melangkah maju. Wajahnya tampak lega, tetapi penuh kehati-hatian. “Tuan, apa Anda baik-baik saja pagi ini?” tanyanya lembut.

Arden menatapnya sejenak sebelum mengangguk. “Aku baik, Lucas. Terima kasih.”

Lucas menoleh sekilas ke arah Sienna, memberi senyum sopan. “Selamat pagi, Nyonya.”

Sienna membalas dengan anggukan kecil. “Pagi, Lucas.”

Tanpa banyak bicara lagi, Arden menoleh pada Sienna. “Mari sarapan bersama,” ujarnya akhirnya.

Sienna sempat ragu sejenak, tapi kemudian mengangguk. “Baik.”

Ia membantu Arden mendekat ke meja makan, lalu duduk di kursi di hadapannya. Para pelayan segera beranjak mundur, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang aneh.

Sienna menatap roti di piringnya, mencoba fokus, tetapi matanya sesekali terarah pada Arden. Pria itu makan perlahan, gerakannya tenang dan jelas kaku. Entah karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya, atau karena kehadirannya sendiri yang membuat suasana pagi itu terasa berbeda.

“Rasanya enak,” kata Sienna akhirnya, hanya untuk memecah hening.

Arden mengangkat wajahnya sedikit. “Kamu suka?” tanyanya pelan.

Sienna mengangguk. “Ya.”

Mereka saling berpandangan sejenak, cukup lama untuk membuat keduanya menyadari betapa heningnya pagi itu. Hening, tetapi tidak lagi terasa dingin seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang perlahan berubah, seperti embun yang mulai mencair di bawah sinar matahari.

Arden menunduk lagi, menahan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.

Dan di sisi lain meja, Sienna mendadak merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Arden menaruh sendoknya perlahan, lalu menatap Sienna yang masih sibuk mengoles selai di roti panggangnya. Lalu tiba-tiba, di sela suapan makan paginya, Arden membuka suara dengan nada santai tapi cukup mengejutkan.

“Sienna, aku pikir... kamu masuk kerja minggu depan saja,” ucapnya datar, seolah itu hal sepele.

Sienna langsung berhenti mengunyah. Ia menatap Arden dengan kaget. “Apa maksudmu? Bukannya kamu kemarin bilang aku nggak perlu lagi bekerja?

Arden tersenyum samar. “Ya, tapi aku berubah pikiran. Tapi jangan langsung bekerja, bukannya kamu ngambil cuti?”

Sienna terpaku beberapa detik, tidak yakin harus menanggapinya seperti apa. Ia tahu Arden bukan tipe orang yang mudah berkata lembut. Jadi ketika pria itu berbicara begitu, ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat sekaligus membingungkan.

“Aku memang ngambil cuti dua minggu,” jawab Sienna akhirnya, mencoba terdengar tenang meski masih bingung. “Tapi aku nggak nyangka kamu bakal menyetujuinya begitu saja.”

Arden hanya mengangguk pelan sambil menyesap air putih. Tatapannya sedikit menerawang, seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Kalau begitu … bagaimana kalau kita pergi liburan saja?” katanya tiba-tiba, tanpa menatap Sienna.

“Liburan?” ulang Sienna, suaranya refleks meninggi karena terkejut.

Arden menatapnya kali ini, dengan ekspresi serius tapi lembut. “Ya. Kita berdua. Aku sudah bosan terus di rumah. Lagipula, kamu juga butuh suasana baru setelah semua yang terjadi.”

Sienna menggenggam ujung roti di tangannya dengan ragu. “Kamu yakin? Dengan kondisimu—”

“Aku nggak selemah itu,” potong Arden cepat, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. “Lucas bisa ikut kalau perlu. Tapi aku ingin ... pergi bersamamu.”

Ucapan itu membuat dada Sienna menghangat. Ia menunduk, menyembunyikan rona tipis di pipinya.

“Baiklah,” ujarnya pelan, mencoba menahan senyum. “Tapi kita mau ke mana?”

“Menurutmu, tempat yang cocok untuk bulan madu ke mana?” tanya Arden balik.

Sienna terbatuk mendengar pertanyaan itu. “Bulan ... madu?” tanyanya terkejut, matanya pun sudah membesar.

“Tentu saja, kamu pikir kita nggak butuh bulan madu?”

Pipi Sienna terasa panas, tetapi ia hanya bisa mengangguk pelan. “Aku ikut ke mana saja.”

Arden tersenyum samar, lalu kembali melanjutkan makannya.