Menjelang waktu makan malam, Aurora buru-buru meninggalkan penthouse. Ia membawa tas jinjing berukuran sedang, dan sling bag kesayangannya yang selalu dipakai kemana pun ia pergi. Langkahnya mengendap saat keluar dari lift, seakan takut ada sepasang mata yang menangkap pergerakannya.
Tepat sekali. Aurora sedang mencoba menghindar dari Kael. Ia membutuhkan ruang untuk bernapas. Sejak kejadian kemarin di ruang rahasia—ketika pria itu tiba-tiba menciumnya dengan penuh emosi—ia seakan tak bisa berpikir dengan benar.
Ia tak pernah tahu bahwa ciuman bisa digunakan untuk menjadi sebuah hukuman.
Kabur? Bukan. Ia hanya ingin menjauh sejenak dari atmosfer penthouse yang terlalu… Kael. Ia butuh tempat netral, yang mampu memulihkan energinya.
Dan untuk urusannya dengan Kael, ia akan menyelesaikannya nanti.
Kael tak pernah merasa sekesal ini, bahkan ketika Bastien Vireaux terang-terangan mengatakan akan merebut posisinya sebagai CEO Vireaux Group.
Semua ini gara-gara ia tak menemukan Aurora di penthouse.
Luther pun tak mengetahui kemana nyonya Vireaux itu pergi. Ia hanya melihat wanita itu pergi meninggalkan gedung penthouse dengan tas jinjing melalui rekaman CCTV tanpa tahu tujuannya. Dan saat ini, ia harus menghadapi emosi Kael yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
“Ketemu?” Nada bicara Kael sedingin es.
Luther menggeleng. “Belum. Nomornya pun tidak bisa dihubungi.
Kael mengempas tubuhnya di atas sofa. Ia menengadah, menatap langit-langit ruangan kerjanya sambil mengerutkan kening. Aroma bergamot favoritnya pun tak mampu meredakan pikirannya yang gelisah.
“Apakah pertemuan dengan tuan Bastien perlu diundur sampai nona Aurora ketemu?” Luther menawarkan solusi.
Beberapa jam yang lalu, Bastien Vireaux meminta pertemuan dengan Kael dan Aurora. Adik dari Lucien Vireuax—ayahnya Kael—itu menggunakan alasan ingin mengenal anggota baru keluarganya. Padahal, Kael yakin bahwa niat dari Bastien adalah untuk mencari celah agar bisa mengacaukan pernikahannya dengan Aurora.
Kael tidak langsung menjawab. Ia bahkan tak menganggap bahwa pertemuan dengan pamannya itu penting. Ia kesal karena tak menemukan Aurora—sesederhana itu.
“Atur saja. Aku tidak mungkin menemui paman tanpa Rora.” Kael menegakkan badan, tentu saja ia tak akan menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya pada Luther.
Luther mengangguk. “Baik, akan aku atur jadwal ulang dan kembali mencari nona Aurora.”
Kemudian ia pergi, tanpa bertanya lebih lanjut tentang emosi Kael yang masih meluap.
Dua malam yang tenang dan ringan. Aurora tersenyum lebar begitu membuka matanya. Pagi ini, ia sedang menimbang untuk menambah sehari lagi sebelum kembali ke penthouse.
Meskipun tenaganya sudah pulih untuk menghadapi Kael, tapi pikirannya masih goyah setiap mengingat ciuman itu.
Hah! Membayangkannya saja membuat dadanya berdebar kencang. Rasanya tak nyaman, seakan meremas jantung dan perutnya secara bersamaan.
Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa pria itu menggunakan ciuman sebagai hukuman. Tak hanya berpengaruh pada emosi dan titik fantasi yang membuatnya perlahan menjadi gila, tapi juga pada perasaan yang berkelebat dalam samarnya ketidaktahuan.
Stop it, Rora! Sadarlah!
Aurora meraih ponselnya. Dia sengaja tidak mengaktifkannya sejak dua hari yang lalu. Sekali lagi, bukan untuk menghindari Kael, tapi ia sengaja melakukannya karena benar-benar ingin menyegarkan pikirannya.
Namun saat ini, ia mulai penasaran apakah pria itu telah menyadari bahwa dirinya tak ada di penthouse mewahnya. Atau jangan-jangan… pria itu bahkan tak mengetahui bahwa Aurora sengaja menjaga jarak. Bisa saja pria itu belum pulang dari terakhir kali meninggalkan penthouse karena berusaha menjernihkan pikiran—sama seperti dirinya—karena telah dengan lancang menciumnya.
Aurora bergidik tiap kali mengingatnya. Dan akhirnya, ia kembali meletakkan ponselnya, memutuskan untuk tidak menyalakannya.
Pintu penthouse tertutup cepat, diiringi dengan langkah kaki tergesa milik Kael Vireaux. Gema dari ketukan langkahnya memantul, menggema di sekeliling dinding. Di belakangnya, Luther mengikuti dengan seringai tipis. Asisten pribadi Kael itu semakin menyadari ada sesuatu yang aneh pada Bosnya.
Amarah pria pemarah itu semakin menjadi saat Aurora menghilang dari penthouse tiga hari yang lalu. Awalnya ia mengira jika kemarahan Kael berawal dari batalnya janji makan malam dengan Bastien Vireaux. Namun, ia segera menyadari bahwa itu bukan alasan yang kuat untuk membuat pria itu terus berada pada fase tantrum yang merepotkannya.
Sampai Luther menyadari… itu pasti ada kaitannya dengan Aurora.
“Apa saja yang kau lakukan sampai belum bisa menemukannya?”
Suara Kael beradu dengan bunyi lift yang berdenting sekali. Luther mengangguk dalam, memberi gestur permintaan maaf. “Sampai saat ini nomornya tidak bisa dihubungi. Aku akan kembali mencarinya lagi hari ini.”
Kael mengerutkan keningnya, menyadari sikapnya terlalu jauh.
“Biarkan saja. Jangan buang waktu untuk mencari sesuatu yang tidak berguna.” Suara Kael lebih berat dari biasanya.
Sebelah alis Luther mengedik satu kali. “Anda yakin?”
Hening sejenak.
Kael pun tak yakin dengan keputusannya. Ia ingin mencari tahu di mana Aurora, tapi juga tak ingin orang lain mengetahuinya.
“Biarkan saja.” Kael sudah memutuskan.
Luther mengangguk sekali. “Baik, kalau begitu, hari ini aku akan kembali mengurus pekerjaan kantor. Ada dokumen legal yang harus kuperiksa lebih dulu sebelum diserahkan ke meja Anda.”
“Lakukan saja, kau tidak perlu mencarinya lagi.”
Jawaban tak peduli itu, nyatanya kontras dengan rencana yang akan ia lakukan hari ini.
“Luther, hari ini kau harus datang ke kantor sendirian. Aku ada urusan di luar, kau tidak perlu ikut. Urus saja urusan di kantor dan pulanglah kalau sudah selesai.” Kael menambahkan setelah pintu lift terbuka di basement gedung penthouse.
Keduanya melangkah keluar, berjalan cepat menuju ke mobil milik Kael.
“Anda yakin tidak perlu ditemani?” Luther menaikkan sebelah alisnya.
“Tidak perlu. Lakukan saja apa yang telah kukatakan tadi dan jangan banyak tanya.”
Jika Luther terus bertanya, Kael khawatir ia akan menunjukkan sikap gelisahnya karena sampai saat ini belum bisa menemukan di mana Aurora berada. Dan ia tak ingin orang lain—bahkan Luther sekalipun—tahu akan keresahannya ini.
“Baik, kalau begitu aku pergi dulu. Permisi,” ucap Luther, membungkuk sedikit dan berbalik menuju ke mobilnya sendiri di ujung deretan parkir VIP.
Sementara Kael tak menunggu Luther masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ia langsung bergegas masuk ke mobilnya dan melajukannya cepat, meninggalkan Luther yang masih memiliki segudang pertanyaan.
Semalam, Kael mencari tahu kemungkinan di mana saja Aurora mungkin berada. Namun, tak ada petunjuk sedikit pun, membuatnya semakin frustrasi.
Rumah lawasnya—jelas tidak mungkin. Mansion itu telah disita dan menjadi inventaris Bank, Dan itu berarti, tidak semua orang bisa masuk begitu saja. Sialnya lagi, Aurora ternyata tak memiliki teman. Ia menghabiskan banyak waktunya di Mansion. Sekolah dan kuliah hanyalah sebuah formalitas, ia bahkan tak pernah mengenal kata hangout. Nongkrong bagi Aurora adalah bersantai di balkon mansion-nya, menikmati segelas wine dan novel yang membuatnya memimpikan sesosok pria penuh cinta yang akan datang padanya.
Siapa sangka jika semesta lebih memilih Kael yang datang dalam hidupnya—pria penuh dendam yang mulai kehilangan arah.
Kael mendengus kasar. Kakinya semakin menambah laju. Jika ia tak tahu di mana Aurora saat ini berada, maka ia akan mencarinya ke seluruh sudut kota, bahkan ke tempat yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh sebagian orang.