"Jadi, kamu Satrio?" Vina bertanya tanpa banyak bicara. Suaranya halus, tapi jelas menunjukkan dia berkuasa.
Vina adalah gambaran keindahan yang memancarkan otoritas. Wanita muda nan cantik ini memiliki tatapan tajam—cerminan kecerdasan dan ketegasan yang tak terbantahkan. Dalam balutan blus sutra biru tua dan rok selutut, dengan rambut terikat rapi, ia adalah representasi sempurna dari sosok berkuasa.
"Iya, Nona," jawab Satrio, mempertahankan suaranya tetap mantap.
Vina menatap Satrio dari atas ke bawah, seolah sedang melakukan validasi data pada input yang meragukan. "Pak Roni bilang kamu punya potensi. Tapi, jujur, saya ragu. Secara visual, kamu terlihat masih terlalu muda."
"Fisik saya sudah dilatih dengan keras, Nona," balas Satrio. "Saya juga sudah belajar cara melindungi diri dan orang lain. Ini tentang akurasi prediksi ancaman."
Vina tersenyum tipis, senyum yang menyimpan algoritma penilaian yang rumit. "Melindungi diri? Kamu tahu data apa yang harus kamu lindungi?" Vina mengambil sebuah amplop dari mejanya dan melemparkannya ke Satrio. "Lihat itu."
Satrio membuka amplop. Isinya adalah foto-foto dirinya: potret saat ia masih menjadi Yoyi sang waria, saat mengamen, saat bergaun dan berias. Jantungnya berdebar kencang, pucat mendadak merenggut warna di wajahnya. Ini adalah masa lalu yang berusaha ia hapus dari dataset kehidupannya.
"Kamu pikir saya tidak punya rekaman jejak kamu?" Vina menusuk. "Saya tahu semuanya. Saya tahu kamu Yoyi, banci jalanan. Saya tahu kamu mengubah namamu menjadi Satrio. Data historis kamu lengkap di tangan saya."
Wajah Satrio memerah, perpaduan rasa malu dan amarah. Urat di pelipisnya menegang, seolah menahan energi ledakan yang siap menghantam. Satu-satunya yang membuatnya tetap duduk tegak adalah pelatihan keras yang menanamkan disiplin baja di sarafnya.
"Itu masa lalu saya, Nona. Saya sudah berubah. Saya telah melalui proses pelatihan yang ketat," katanya, suaranya seperti kawat baja yang ditarik, keras namun terkendali.
"Berubah?" Vina mengangkat alis, nadanya merendahkan. Hanya sudut bibirnya yang tertarik, matanya tetap sedingin es. "Seorang banci tidak bisa berubah, Satrio. Sekali banci, selamanya tetap banci."
Napas Satrio tertahan di dada. Dunia di sekelilingnya seperti bergerak lambat. Kata-kata itu, bukan hanya menghina, tapi juga merobohkan fondasi identitas barunya. Cengkeramannya pada pinggiran kursi menguat, buku-buku jarinya memutih.
"Bukan begitu, Nona!" Satrio membantah, suaranya masih tegas. "Saya ingin menjadi pria sejati. Saya..."
"Cukup!" potong Vina. "Saya tidak peduli dengan motivasimu. Yang saya pedulikan adalah, apakah kamu bisa menjadi pengawal yang saya harapkan. Jangan sampai masa lalumu mengganggu kualitas kerjamu. Kalau sampai saya kecewa, saya tidak segan memecatmu. Mengerti?"
"Mengerti, Nona," jawab Satrio, menelan cairan pahit yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.
Vina bangkit. Gerakannya lancar, anggun, dan memancarkan kekuasaan, seperti robot mahal yang baru diaktifkan. "Bagus. Mulai sekarang, kamu ikuti saya. Kita mulai implementasinya sekarang."
Satrio berdiri. Pandangannya terpaku pada Vina, bukan sebagai atasannya, melainkan sebagai teka-teki. Hatinya seperti palu yang menghantam dada.
"Dia sangat berbeda. Dia tidak mengenali saya. Mungkin dia bukan Jo, hanya mirip saja," pikirnya. Jo yang ia kenal bukanlah wanita arogan yang berbicara merendahkan seperti itu. Jo dalam ingatannya adalah wanita yang tulus.
Satrio harus menjalankan pekerjaannya, sambil terus berjuang memproses keraguan bosnya. Ia kini menjadi sistem keamanan real-time bagi Vina. Ia selalu berada di sisi Vina. Tugasnya: mengamati setiap orang dan setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada error atau ancaman.
Awalnya, Satrio canggung. Ia bergerak kaku seperti balok kayu yang dipaksa menari, harus beradaptasi dengan dunia orang-orang kaya yang penuh formalitas, dan berhadapan dengan Vina yang profesional dan dingin.
Suatu sore, di dalam mobil, Satrio menyadari bahwa Vina telah memasuki mode standby. Wajah tegang yang selalu melakukan processing data berintensitas tinggi saat bekerja, kini terlihat damai. Satrio mengamati: di balik persona pengusaha yang tak kenal lelah, Vina hanyalah manusia biasa yang membutuhkan proses reboot.
'Anda benar-benar wanita tangguh, Nona Vina,' gumamnya dalam hati.
Vina membuka mata sebentar, menyadari Satrio memperhatikannya. "Ada masalah?" tanyanya datar.
Satrio menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Semua aman terkendali. Saya hanya memastikan keamanan Anda. Ini adalah protokol utama dan komitmen saya sebagai pengawal pribadi Anda."
Vina mengangguk, lalu menutup mata lagi. Dalam hati, Satrio mengukir janji, ia akan melindungi Vina, apa pun yang terjadi. Janji yang terasa berat, bercampur dengan keinginan untuk membuktikan dirinya bukan lagi 'Yoyi'.
Saat malam hari, dalam sebuah acara formal, Vina menawan dalam gaun malam, dan Satrio terlihat gagah di sampingnya. Saat berjalan, mata Satrio menyapu sekeliling. Ia melihat gerakan yang tidak sinkron, seorang pria mencurigakan yang terus-menerus mengikuti setiap pergerakan mereka.
Pria itu mendekat. Jari-jari pria itu bergerak perlahan, menyelusup ke saku dalam jasnya. Mata Satrio menangkap pantulan metalik yang samar di lipatan kain, sekilas saja, tapi cukup untuk membunyikan alarm tertinggi di otaknya.
"Nona Vina, segera ubah posisi Anda," bisik Satrio, nadanya mendesak, suaranya tidak lebih dari desisan napas, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Vina, langsung merasakan ada yang tidak beres. "Ada apa, Satrio?"
Itulah saat Satrio bergerak. Gerakan lincahnya tidak meninggalkan sisa, seolah tubuhnya dirancang untuk kecepatan murni. Satrio menarik Vina ke belakangnya, lalu memutar tubuhnya dan menahan pria itu dengan kuncian lengan yang mematikan. Ini adalah respons tercepat yang pernah ia lakukan.
Pria itu meronta, berteriak, "Lepaskan aku! Aku hanya ingin memberinya kartu nama!"
Satrio tak peduli dengan teriakan itu. "Anda tidak boleh masuk. Tunjukkan tangan Anda sekarang." Suara Satrio datar dan tegas, matanya tak lepas dari saku di mana tangan pria itu menghilang. Ia mencengkeram erat pergelangan tangan pria itu, otot lengannya menegang seperti kawat baja.
Cengkeraman Satrio menguat, menahan pria itu hingga dua petugas keamanan berlari mendekat. Barulah ia melepaskan, menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik-turun cepat.
"Ada apa ini? Siapa dia?" Vina melangkah mendekat, matanya membesar saat melihat petugas membawa pria itu pergi.
"Dia mau menyerang Anda, Nona," jawab Satrio. Ia mencondongkan tubuh sedikit, sebelah tangannya menyentuh pelipis, napasnya masih terengah-engah dan berat.
Pria itu diringkus keamanan. Vina menatap Satrio dengan tatapan yang berbeda. Garis ketegasan di wajahnya melunak. Kekaguman dan rasa terima kasih bergelombang di matanya.
"Kamu benar-benar pengawal yang bagus, Satrio," kata Vina, suaranya tulus. "Kamu menyelamatkan hidupku."
"Sudah tugas saya, Nona," jawab Satrio. Dalam hati, ada kepuasan yang dingin. Pembuktian. Tamparan yang ia rasakan di kantor, kini ia balas dengan tindakannya. Kata-kata Vina barusan adalah validasi yang lebih kuat daripada seribu kata makian.
Namun, di tengah gelombang validasi dan adrenalin yang berangsur surut, Satrio melihat sesuatu di balik keramaian. Pria yang baru saja diringkus oleh petugas keamanan, sebelum menghilang sepenuhnya, menoleh ke arah mereka. Dalam sorot mata tajam pria itu, Satrio tidak melihat kebencian seorang penyerang yang gagal, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan terorganisir: pesan.
Satrio mengabaikan sapaan dan ucapan kagum dari beberapa kolega Vina yang menghampiri mereka. Pikirannya terfokus pada pesan tanpa suara itu. Ia yakin, serangan itu hanya umpan.