Bab 6 - Bukan anda

Penulis JanaIndria
11 October 2025

Ibra kembali melangkah maju, mencoba menunjukkan dominasinya, Namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan dingin dari lelaki itu. Tatapan yang seolah berkata bahwa satu pukulan tadi hanyalah sebuah peringatan ringan.

"Justru karena ini urusanku, makanya aku ada di sini," balas lelaki itu.

"Dan aku beritahu kau sekarang, Ibra. Menjauhlah dari Emma. Jangan pernah kau sentuh atau ganggu dia lagi. Anggap ini peringatan pertama dan terakhir."

Ada sesuatu dalam cara lelaki itu mengucapkan namanya yang membuat Ibra terdiam. Bukan sekadar gertakan kosong. Lelaki ini mengenalnya, namun Ibra sama sekali tidak mengenali wajahnya. Siapa dia? Teman Emma? Tapi Emma juga terlihat sama terkejutnya.

"Kau pikir aku takut?" desis Ibra, meski nada suaranya sedikit goyah.

"Seharusnya begitu," sahut si penolong dengan tenang.

"Karena kalau kau terus melanjutkan obsesimu pada Emma, masalah yang akan kau hadapi bukan lagi sekadar bogem mentah dariku. Pikirkan statusmu di kampus ini. Pikirkan nama baik keluargamu. Satu laporan pelecehan resmi dengan saksi sudah cukup untuk membuat semuanya berantakan untukmu. Apa itu sepadan?"

Ancaman itu telak mengenai sasaran. Ibra adalah tipe orang yang berani bertindak sembrono hanya jika ia yakin bisa lolos tanpa konsekuensi.

Selama ini, ia mengganggu Emma karena menganggap gadis itu lemah dan tidak akan berani melawan. Namun kini, ada variabel baru yang tidak ia perhitungkan.

Seorang pelindung misterius yang tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga cerdas dalam mengancam.

Ibra menatap tajam bergantian antara lelaki itu dan Emma yang masih bersembunyi. Menghitung untung dan rugi, cepat terjadi di otaknya.

Melanjutkan ini berarti mengambil risiko yang terlalu besar. Rasa kesal dan egonya yang terluka masih ada, tetapi naluri untuk menyelamatkan diri jauh lebih kuat.

Baginya, Emma tidak seberharga itu jika harus mengorbankan segalanya.

“Aku tak bisa mengorbankan Ivana karena ini!!” bisiknya, tanpa suara.

"Cih," Ibra berdecih dengan penuh kebencian, mundur selangkah.

"Kau bersembunyi di belakang orang lain, hah? Perempuan sia lan," menunjuk Emma dengan dagunya.

Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia berbalik badan dan pergi dengan langkah cepat, menyisakan kekalahan dan rasa malu yang berusaha ia tutupi dengan amarah.

Baginya, urusan ini sudah tidak lagi menguntungkan. Emma kini berada dalam 'wilayah berbahaya', dan ia tidak mau lagi berurusan dengannya.

Setelah bayangan Ibra benar-benar menghilang, barulah ketegangan di tubuh Emma sedikit mengendur. Ia memberanikan diri untuk mengintip dari balik punggung penyelamatnya.

"Di-a... dia sudah pergi?" tanya Emma dengan suara bergetar. Lelaki itu menoleh, ekspresinya yang tadi keras kini melembut saat melihat wajah pucat Emma.

"Sudah. Kamu tidak apa-apa? Tanganmu tidak sakit?" tanya lelaki penolong itu dengan senyum yang tampak beda.

Emma menggeleng pelan, ia berbohong, sebenarnya ia masih merasakan sensasi cengkeraman kasar Ibra di pergelangan tangannya.

"Tidak... terima kasih. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus bagaimana,” ujar Emma dengan menyatukan kedau tangannya di depan dada, menunjukkan kesungguhannya.

"Sama-sama," jawab lelaki itu, yang segera membalikkan badannya seperti hendak melangkah pergi.

“Maaf... tapi, kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu namaku?" tanya Emma, penasaran, begitu banyak pertanyaan di benaknya tadi, saat lelaki yang menolongnya itu berhadapan dengan Ibra.


“Rian, sedang apa kamu di sini?”

Suara Diandra terdengar, membuat lelaki penolong dan Emma hampir bersamaan menolehkan kepala mereka padanya.

“Aku sedang tidak ada masalah apa pun sekarang, jadi kamu ngapain ada di sini?! Jangan bilang kalau papa yang menyuruhmu untuk memata mataiku?!!”

Belum terdengar jawaban dari pertanyaan yang pertama, Diandra kembali bertanya, kini dengan tatapan aneh, sedikit menyeramkan.

“Tidak Nona, saya diperintahkan oleh tuan Arsen untuk menjaga dia,” jawab lelaki yang tadi di sapa Diandra dengan nama Rian.

Bukan hanya Diandra, Emma pun terlihat kaget saat Rian mengatakan alasannya dengan dagu yang tertuju ke arahnya.

“Arsen yang menyuruh? Kamu yakin?!” tanya Diandra yang bukannya kaget, tapi malah terlihat aneh, ke dua mata perempuan yang terkenal kaya seantero kampus itu menyipit, mendengar bahwa Arsen yang menyuruh Rian.

"Sepertinya aku ketinggalan satu berita besar," ujar Diandra saat melihat Rian mengiyakan pertanyaannya.

Senyum di wajah Diandra seketika melebar, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang tak lagi ia sembunyikan.

"Oke, Rian. Tugasmu di sini sudah untuk saat ini, selesai, sekarang biar aku yang menjaganya. Kamu boleh mengawasi kami dari bangku sebelah, ok kan!!"

Diandra berkata sembari menepuk pelan bahu Rian, dengan wajah datar. Mungkin ucapan Diandra tadi terdengar seperti sedang bertanya, Namun bagi Rian itu adalah sebuah perintah.

"Baik, Nona Diandra," jawab Rian dengan menganggukkan kepalanya sekali. Dan dia juga melakukan hal yang sama pada Emma sebelum berbalik dan berjalan pergi, pindah tempat duduk dengan sedikit berjarak dari tempat Emma dan Diandra.

Di tinggal kan sendirian berhadapan dengan Diandra yang sedang menatapnya dengan senyum penuh arti, perasaan canggung seketika menyelimuti Emma.

"Nah," ujar Diandra menatap sahabatnya itu dengan senyum penuh arti, lalu mendekat dan merangkul bahu Emma dengan akrab, seolah tidak ada ketegangan apa pun yang baru saja terjadi.

"Drama paginya kita sudahi dulu. Perutku sudah demo minta di isi, dan aku yakin kamu juga butuh energi setelah hampir di culik kan?! Ayo, kita makan dulu!"

Tanpa menunggu persetujuan Emma, Diandra dengan santai menggiringnya ke kursi yang dia pilih, suasana dalam kantin kini sudah mulai ramai sama seperti pikiran Emma berkecamuk.

“Arsen? Sepupu Diandra? Mengapa pria itu menyuruh seseorang untuk menjaganya? Apa Diandra bener bener tidak tahu, bukankah semua sudah jelas di video yang di kirim mbak Lely?”

Mungkin itu yang kini jadi beban pikiran Emma, wajahnya menggambarkan bagaimana semua kini terasa begitu rumit dan membingungkan.

Mereka duduk di salah satu meja kosong di sudut. Diandra dengan cepat memesan dua porsi nasi goreng dan es teh manis tanpa bertanya pada Emma, dia sengaja mengambil alih kendali sepenuhnya.

Sambil menunggu pesanan datang, Diandra yang tersenyum usil, menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap lekat lekat Emma yang sedang menunduk.

Keheningan yang tercipta terasa berat bagi Emma, Namun tidak bagi Diandra, dia tampak menikmatinya, bahkan terkesan sengaja membiarkan mereka berdua dalam diam.

"Jadi..."

Akhirnya setelah semua yang dia pesan kini tersedia di atas meja, Diandra memulai, suaranya terdengar santai Namun tatapan matanya yang penuh selidik, terasa tajam.

"Tuan Putri .... ternyata sudah punya ksatria pelindung pribadi, ya? Hebat sekali."

Mendengar pujian yang mengandung arti majas, Emma seketika langsung salah tingkah, perempuan ini menarik napas panjang untuk menstabilkan kegrogiannya.

"Bukan begitu, Diandra. Aku... aku sendiri tidak mengerti. Aku bahkan tidak tahu kenapa Arsen melakukan itu walau aku tak bisa pungkiri kalau dia sudah menyelamatkan aku hari ini dari Ibra."

“Siapa Ibra, ada hubungan apa kamu dengan lelaki itu?!” tanya Diandra, dengan sesekali menyedot minuman yang dia pesan.

“Dia mantanku, anggap saja seperti itu,” jawab Emma dengan ikut menikmati makanan dan minuman yang tadi di pesan Diandra.

"Oh, ya? Ibra adalah mantanmu, lalu bagaimana dengan Arsen?!" Diandra kembali bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya, dan senyum yang tidak luntur.

“Arsen …-“

"Arsen itu sepupuku," potong Diadra.

"Dan yang aku tahu .... adalah dia itu adalah orang yang paling anti repot dan paling tidak peduli di seluruh dunia. Kalau Arsen sampai menyuruh Rian, orang kepercayaan Papa yang biasanya hanya mengurus hal-hal penting untuk menjagamu, itu artinya kamu bukan sekadar 'seseorang' baginya."

Setiap kata yang di ucapkan Diandra terasa seperti bom yang meledak di hati Emma, karena selama tinggal di rumah Diandra yang sengaja dia jadikan kostan dengan alasan agar tidak kesepian.

Emma tidak pernah tahu kalau ada hubungan darah antara Arsen dan Diandra.

“Sepupu …?!” ulang Emma yang kemudian meletakkan sendok yang dia pegang dengan tatapan tak percaya ke arah Diandra yang mengangguk dengan wajah tanpa beban.

"Sungguh, aku tak ada maksud untuk menariknya ke dalam urusan pribadiku, hanya saja waktu itu-" lirih Emma, suara yang nyaris seperti bisikan itu tak sanggup dia lanjutkan. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Diandra.

"Urusan pribadi yang seperti apa maksudmu?" desak Diandra, nadanya masih terdengar main main, tapi bagi Emma, tidak! Ada sedikit tekanan di dalamnya.

"Ayolah, Em. Kamu itu sudah aku anggap seperti saudara sendiri jadi aku harap jangan ada rahasia yang bisa kamu sembunyikan dariku. So …, ceritakan saja. Sejak kapan kamu dan Arsen... uhm, mulai 'dekat'?"

Pertanyaan itu membuat jantung Emma berdebar kencang. Apakah ini hanya pertanyaan jebakan, bukankah seharusnya Diandra sudah tahu dari Video yang di kirim mbak Leli, atau mungkin mbak Leli yang bohong padanya, tapi-.

“Aku sedang menunggumu bercerita, bukan sedang menunggumu untuk melamun,” ujar Diandra membuatnya tanpa sadar sudah membuyarkan pikiran Emma.

"Kami... kami hanya sekadar teman," jawab Emma dengan suara gemetar.

Itu adalah pembelaan terlemah yang bisa ia pikirkan untuk saat ini, dan ia tahu itu terdengar sangat tidak meyakinkan.

Diandra tertawa kecil, bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang baru saja memenangkan sebuah permainan.

Ia meraih gelas es teh di depannya, yang kini sudah sisa separuh isinya. "Teman, ya? Teman apa temen?!" goda Diandra, matanya masih memandangi emma, dengan tangan kanan yang sibuk mengaduk minumannya perlahan, senyum itu tak pernah lepas dari wajah Diandra yang terlihat menggemaskan.

Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, merendahkan suaranya seolah berbagi rahasia.

"Menurutmu … Teman yang seperti apa, hingga harus dia jaga dengan orang kepercayaan Papa yang biasanya hanya untuk menjaga personal keluarga besar kami?” tanya Diandra dengan mencibir di sela senyum menggodanya.

“Kamu bohong, aku punya rekaman yang memggambarkan saat Arsen bilang kamu adalah istrinya, jadi ... bagaimana menurutmu?!”

Seketika, dunia Emma terasa berhenti berputar. Diandra mengatakannya. Ia mengakui jika dia sebenarnya tahu. Dan sekarang, Emma benar-benar terpojok, tanpa punya tempat lagi untuk bersembunyi