Bab 7

Penulis nyiratu
14 October 2025

Vina mengusap lembut lengan Satrio, seolah ingin memastikan dia baik-baik saja, sebuah gerakan yang jauh dari persona bosnya yang dingin. "Ayo kita pergi dari sini," bisiknya. "Aku tidak suka perhatian sebanyak ini."

Satrio mengangguk. Ia mengawal Vina keluar dari kerumunan, langkahnya cepat dan waspada. Namun, di ambang pintu keluar, matanya yang tajam menangkap anomali lain: sebuah kilatan merah kecil di jendela gedung di seberang jalan. Refleksi lampu? Atau...

Jantung Satrio berdetak kencang, memompakan adrenalin murni. Dia tahu betul kilatan itu. Itu adalah titik laser, target bidik dari senapan sniper. Satrio tidak berpikir. Tubuhnya sudah bereaksi.

Ia menyambar pinggang Vina, memeluknya erat, dan dalam gerakan yang sangat cepat, menggulingkan diri mereka ke balik pilar batu hias besar yang berfungsi sebagai pembatas. Aksi itu kasar, mendadak, membuat Vina terkesiap kaget, napasnya tercekat di tenggorokan.

DUARR!

Suara tembakan itu memecah keheningan malam dan riuhnya musik acara. Suaranya kering dan memekakkan, jauh lebih dekat dari yang Satrio duga.

Pilar batu tempat mereka bersembunyi bergetar. Debu dan serpihan batu tajam berhamburan di udara, mengotori blus Vina dan menampar punggung Satrio. Ada suara cipratan lembab dan hangat di batu tepat di samping kepala Satrio.

Vina tidak menjerit. Dia hanya terdiam kaku dalam pelukan Satrio, matanya terbelalak lebar, memantulkan bayangan lampu sorot acara.

"Diam di sini, Nona!" perintah Satrio, suaranya parau, mendesak. Sambil bersembunyi, tangan kanannya dengan cepat menggapai bagian belakang ikat pinggangnya, menarik keluar pisau lipat taktis hitamnya dan menggenggamnya erat di telapak tangan.

Ia menggeser posisi, tubuhnya yang besar sepenuhnya menutupi tubuh mungil Vina. Matanya menyapu lingkungan, mencari sumber tembakan. Jendela di seberang jalan? Terlalu jauh.

Satrio merasakan tarikan yang aneh di lengan kirinya. Bukan serpihan batu. Darah. Darah segar membasahi blus sutra biru tua Vina.

Satrio merenggut kain di bagian bawah jasnya, merobeknya dengan gerakan brutal, dan melilitkannya dengan keras pada luka di tangan kirinya.

"Nona! Anda baik-baik saja?" tanyanya, suaranya pecah, ketakutan yang belum pernah ia rasakan menimpanya.

Vina mendongak, wajahnya pucat pasi. Dia memaksakan senyum yang gemetar, mata yang sedingin es kini memancarkan kepanikan yang tersembunyi. "Aku baik-baik saja, tapi kamu yang terluka."

"Saya baik-baik saja," bisiknya, "ini hanya goresan kecil, pelurunya meleset." Satrio berbohong agar bosnya tidak panik.

"Tidak, kamu tidak baik-baik saja!" desis Vina. "Kamu tertembak!"

"Percayalah. Saya baik-baik saja."

Satrio merasakan darahnya mendidih. Dia merasa gagal, tapi ia merasa lega karena dirinya yang terluka bukan Vina. Ia mendongak, matanya menatap tajam ke kejauhan, dan dia melihatnya lagi: siluet samar di jendela gedung, kini bergerak menjauh. Pisau taktis di tangannya terasa dingin dan menenangkan.

'Siapa mereka? Apa maunya?' geram Satrio dalam hati.

Ia harus mengantar Vina ke tempat aman dan mencari tahu siapa yang memainkan permainan gila ini. Ini bukan lagi tentang pekerjaan, ini tentang janji dan pembuktian diri.

"Kita harus keluar dari sini sekarang, Nona!" Satrio melirik tajam ke lokasi penembak di seberang. Siluet itu sudah hilang, tetapi instingnya berteriak: ancaman belum hilang.

Satrio setengah memapahnya, berjongkok serendah mungkin, menuju pintu darurat terdekat. Teriakan, kepanikan, dan gemerisik panik sepatu-sepatu mahal terdengar di belakang mereka, namun Satrio mengabaikannya. Fokusnya hanyalah Vina.

Rasa sakit yang tajam membuatnya terkesiap, tetapi disiplin diri seorang pengawal elit membuatnya tetap diam. Pisau lipat itu ia selipkan kembali, tahu betul senjata jarak dekat tidak berguna melawan penembak jitu.

"Mobil... parkiran VIP," desis Vina, napasnya tersengal.

"Tidak. Terlalu terbuka," balas Satrio tanpa menoleh. "Kita ambil rute layanan. Keamanan gedung ini sudah dirusak."

Mereka sampai di pintu besi berat bertuliskan 'Hanya staf'. Satrio menendangnya sekali. Kunci elektronik itu berbunyi protes dan pintu itu terbuka dengan benturan keras.

Mereka berada di koridor layanan yang sempit, berbau disinfektan dan sampah. Satrio mengunci pintu itu dari dalam.

"Hati-hati, Nona," kata Satrio. Ia memeriksa luka di tangan kirinya lagi. Darah masih mengalir. Keahlian medisnya terbatas, tetapi dia tahu, ia harus segera ke fasilitas medis yang aman—bukan rumah sakit umum yang mudah disusupi.

Vina menatap Satrio. Dia tidak melihat mantan 'Yoyi' yang ia hina, dia melihat tembok pelindung baja yang baru saja menantang maut demi dirinya.

"Satrio." Vina berbisik, suaranya dipenuhi rasa kagum dan pengakuan yang tak terhindarkan. "Kamu... kamu menyelamatkanku. Dua kali dalam lima menit. Kamu melampaui semua yang kubayangkan."

Satrio tidak tersenyum. Wajahnya gelap dan dingin. Pengakuan itu seharusnya memuaskannya, tetapi ia merasa gagal untuk melindungi dirinya sendiri. Seandainya ia tidak selamat, bagaimana dengan bosnya.

"Pujian Anda tidak ada artinya, Nona, sampai kita selamat," jawab Satrio, nadanya tegas dan profesional, tanpa sedikit pun kehangatan.

Dia melihat mata Satrio, mata yang sebelumnya ia remehkan, kini bersinar dengan intensitas yang mengerikan, efisien, dan mematikan.

Vina terdiam, mencengkeram lengan Satrio. "Ini bukan hanya tentang pekerjaan, Satrio. Ini pribadi. Aku tahu siapa mereka."

Tiba-tiba, lampu di koridor layanan itu berkedip dan padam. Kegelapan total merayap masuk, pekat seperti tirai beludru.

"Cepat! Sembunyi!" perintah Satrio.

Ia mendorong Vina ke balik tumpukan kotak karton yang tinggi. Satrio menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan semua inderanya dalam kegelapan. Tangannya kembali merogoh, memastikan pisau taktisnya sudah siap di balik punggungnya.

Sesaat kemudian, bunyi derap langkah tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor yang gelap. Bukan derap langkah panik, melainkan langkah-langkah yang terorganisir dan terkoordinasi. Mereka mengepung.

"Kita tahu kalian di sana, Nona Vina. Serahkan saja file-nya, dan kami akan membiarkan pengawal kecilmu yang baru, hidup," sebuah suara mekanis dan tenang terdengar, bergema di koridor yang gelap.

Satrio mengeluarkan ponselnya, menurunkan kecerahan layar hingga batas minimal, dan melihat layar itu. Ponsel Vina, yang terjatuh saat tembakan pertama, masih tergeletak di koridor di belakang mereka. Layar ponsel itu memancarkan cahaya redup.

"Satrio, jangan ke sana! Itu umpan!" bisik Vina panik.

Satrio memandang Vina, matanya bersinar dingin dalam remang-remang. Dia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja setelah ejekan itu.

"Jika saya gagal, setidaknya saya akan memastikan Anda hidup," gumam Satrio, lebih kepada dirinya sendiri.

Dia melepaskan cengkeramannya pada lukanya, bersiap untuk bergerak.

"Jika kamu pergi, mereka akan mendapatkan kita berdua!" protes Vina, berusaha menahan Satrio.

Satrio hanya memberikan satu lirikan terakhir yang penuh tekad, sebelum dia melakukan hal yang paling tidak terduga dan paling berbahaya:

Dia berlari, bukan ke arah kegelapan yang penuh musuh di depannya, melainkan kembali ke pintu besi yang sudah ia kunci. Tangannya dengan cepat meraba kunci darurat. Dia harus membuat kekacauan, menarik perhatian, dan membuka rute pelarian yang baru. Pisau lipatnya kini sudah ia genggam.

Langkah kakinya yang mantap bergema. Tiba-tiba, cahaya terang menembus kegelapan—bukan dari senter musuh, melainkan dari belakangnya. Vina baru saja menyalakan lampu darurat manual di dinding, menerangi seluruh koridor.

Dan di depan Satrio, yang baru saja meraih kenop darurat pintu besi, berdiri dua pria berjas hitam, masing-masing memegang senjata yang terangkat dan siap ditembakkan.