Bab 8

Penulis nyiratu
14 October 2025

Satrio membeku. Indranya menjerit. Ia sudah memperhitungkan ancaman dari depan—dari ujung koridor yang gelap—tetapi tidak dari sisi pintu yang akan ia buka. Jebakan itu sudah diatur sempurna; mereka mengantisipasi setiap gerakan profesionalnya. Mereka tidak hanya ingin melumpuhkan; mereka ingin membunuh.

"Permainanmu sudah berakhir," kata salah satu pria itu dengan senyum dingin, laras pistol mengkilap memantulkan cahaya lampu koridor.

Meskipun terkejut, pelatihan keras selama berbulan-bulan langsung mengambil alih kendali. Otak Satrio menghitung dengan kecepatan gila: Dua penyerang, jarak dua meter, senjata pistol dengan peredam—ini bukan ancaman main-main. Keuntungan waktu: tiga persepuluh detik sebelum mereka menembak. Satrio tahu, jika ia hanya berdiam diri, ia akan mati.

"Satrio, kamu harus hati-hati," ucap Vina, khawatir. Tubuhnya gemetar ketakutan, suaranya hampir tersedak, tersembunyi di balik tumpukan kotak.

Satrio tidak mundur. Dia melakukan gerakan yang mustahil, gerakan yang melanggar semua insting pertahanan dasar. Kakinya mendorongnya ke depan. Dalam sekejap, dia menjatuhkan diri, tubuhnya meluncur rendah di lantai berkeramik dingin. Bersamaan dengan itu, dua suara tembakan teredam terdengar nyaris bersamaan, mengoyak keheningan koridor. Dua lubang peluru hitam muncul di dinding tepat di atas kepala Satrio.

Satrio bergerak seperti air yang mengalir di bawah batu. Saat dia meluncur di antara kaki kedua pria itu, ia menyapu pergelangan kaki mereka dengan lengannya yang kuat dan terarah. Ini adalah trik jalanan yang dia pelajari jauh sebelum dia menjadi pengawal profesional.

BRUK! BRUK!

Dua pria berjas itu jatuh berdebum, pistol mereka terlepas dan terpental ke dinding, mengeluarkan suara denting logam yang memekakkan telinga dalam keheningan gudang. Satrio sudah berdiri tegak, membalikkan badan, dan sigap mengambil pisau lipat yang ia bawa. Bilahnya terasa dingin dan familiar di telapak tangannya.

Satu pria mencoba bangkit. Satrio tidak memberinya kesempatan. Dengan kecepatan kilat, ia menghantamkan gagang pisau yang dipegangnya secara terbalik ke pelipis pria itu.

KLAK!

Pria itu langsung limbung, kesadarannya hilang, dan jatuh kembali ke lantai dengan suara keras. Pria kedua, yang lebih cepat dan lebih terlatih, sudah berhasil mengeluarkan pisau lipat cadangan dari saku dalamnya.

"Kau cepat sekali, Banci," desis pria itu, matanya tajam dan penuh penghinaan, persis seperti tatapan Vina di kantor. Penghinaan itu, alih-alih melemahkan, justru menjadi bahan bakar yang membakar amarah Satrio. Itu adalah pengingat akan apa yang ia perjuangkan: harga dirinya dan keselamatan Vina.

Satrio mengabaikan kata-kata itu, fokusnya hanya pada gerakan pisau yang mengancam. Dia tidak menggunakan pisau yang di tangannya untuk menyerang—terlalu berbahaya dan berisiko. Sebagai gantinya, Satrio menghantamkan tinju palunya yang tertutup ke tenggorokan pria itu dengan kecepatan kilat, sebuah pukulan yang dirancang untuk melumpuhkan refleks pernapasan tanpa membunuh. Itu adalah pukulan yang bersih dan terarah.

Pria itu terkesiap, matanya terbelalak, dan pisau itu jatuh dari tangannya yang kaku. Satrio menangkap pisau itu di udara—sebuah refleks yang nyaris mustahil—memegangnya secara terbalik, kini dengan dua pisau di tangan, siap bertahan, siap membunuh jika diperlukan.

Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari lima detik, sebuah tarian kematian yang cepat dan brutal, ditarikan di lantai gudang yang licin.

Vina, yang melihat semua itu dari balik tumpukan kotak, terengah. Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga: Satrio bukan lagi pengawal. Dia adalah predator, dingin, mematikan, dan sangat efisien. Keahlian bertarungnya jauh melampaui pelatihan keamanan biasa.

Satrio berdiri di tengah koridor layanan yang kini terang benderang oleh lampu gudang. Di depannya, dua penyerang terkapar, salah satunya pingsan, yang lain terengah-engah dan tidak berdaya. Di belakangnya, tujuh langkah di sisi pintu, ada Vina yang terpaku dan ketakutan.

Perkelahian singkat itu, yang berhasil diatasi Satrio, tidak membuatnya euforia. Sebaliknya, hal itu memicu alarm senyap yang mematikan dalam dirinya. Rasa aman yang palsu telah terkoyak.

Keheningan yang memekakkan telinga setelah kekacauan tadi tiba-tiba pecah. Satrio melemparkan pisau milik penjahat itu ke sudut gelap, memutus kontak mata dengan para penyerang. "Sudah aman, Nona. Mari kita keluar dari sini," ucap Satrio, suaranya rendah dan serak, memutus kebisuan. Nada suaranya tidak meminta, melainkan memerintah.

Vina tidak bergerak, seolah kakinya terpaku pada lantai beton yang dingin. Lututnya gemetar hebat, menahan beban tubuhnya yang tiba-tiba terasa seperti timah. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin membasahi pelipisnya, sisa kengerian masih mencengkeramnya.

"Kita jangan membuang-buang waktu, Nona," desis Satrio, nadanya mendesak dan mendalam. Tanpa basa-basi, ia segera mengangkat Vina dalam dekapan yang kuat dan membawanya keluar dari balik tumpukan kotak kardus yang jadi persembunyiannya. Vina mencengkeram erat kemeja Satrio, takut dilepaskan.

"Satrio, kita harus ke rumah sakit. Tanganmu terluka," suara Vina bergetar, lebih karena ketakutan yang tersisa daripada rasa khawatir. Matanya langsung tertuju pada kain yang membalut lengan kiri Satrio.

"Saya akan pergi ke klinik terdekat saja," jawab Satrio singkat, langkahnya mantap menuju pintu keluar gudang. Dia tidak ingin berurusan dengan pertanyaan polisi di rumah sakit besar.

"Turunkan aku, tanganmu sedang terluka!" desak Vina. Ia menatap lekat luka yang diikat seadanya dengan sobekan kain itu, darah segar mulai merembes, membentuk bercak merah gelap.

"Tenang saja, Nona. Saya masih kuat, luka ini tidak parah," kata Satrio, sebuah kebohongan yang jelas terlihat dari raut wajahnya yang mulai memucat menahan perih yang menyengat. Dia membutuhkan pengobatan, tetapi prioritasnya adalah menjauhkan Vina dari tempat berbahaya ini.

Mereka segera tiba di luar. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesinnya menyala pelan. Mereka segera masuk ke dalam mobil itu. Vina dengan cepat memerintah, "Pak, cari klinik terdekat. Luka Satrio harus segera diobati." Ada otoritas baru dalam suaranya, sebuah perubahan yang Satrio sadari. Ia membiarkan Satrio bersandar dengan nyaman di kursi belakang sebelum ia sendiri duduk di sampingnya, menjaga jarak, tapi juga menjaga Satrio.

"Baik, Nona." Sopir itu mengangguk tegang dan langsung menambah kecepatan. "Maafkan saya, Nona. Seharusnya saya tidak meninggalkan Anda dan Pak Satrio," kata laki-laki itu dengan nada menyesal, mencerminkan ketegangan yang baru saja terjadi.

"Tidak apa-apa, Pak. Melindungi Nona adalah tugas saya. Luka ini karena kesalahan saya yang kurang berhati-hati," potong Satrio, membela sopir itu tanpa menoleh. Ia tidak ingin melihat kekecewaan atau rasa bersalah di mata Vina.

Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah klinik kecil di pinggiran kota. Satrio masuk ditemani Vina. Ia segera mendapatkan penanganan medis. Perawat itu membersihkan lukanya dengan hati-hati, memasang perban baru yang tebal.

Setelah perawat itu pergi, Satrio mengambil posisi di sofa ruang tunggu, punggungnya tegak lurus, matanya mengawasi setiap sudut, meskipun ancaman fisik sudah lewat. Ia tahu bahwa bahaya terbesar seringkali datang setelah keheningan.

Vina melangkah masuk, suaranya pelan dan ragu. "Apa kamu sudah lebih baik?"

Satrio duduk tegak, bahu kanannya kaku, seolah berusaha menahan rasa sakit. Matanya terpaku pada dinding di depannya, menghindari tatapan bosnya. "Iya, Nona. Terima kasih."

Vina menggeser kaki, membuat roknya bergesekan pelan. Ia menarik napas. "Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menyelematkanku dari penyerangan itu."

Rahang Satrio mengeras. Ia akhirnya berbalik, tatapannya dingin dan tajam. "Ini bukan serangan sesungguhnya, Nona." Dia menunjuk perban barunya dengan dagunya. "Ini adalah pesan. Dan Anda tahu persis siapa yang mengirimkannya."