Bab 9

Penulis nyiratu
14 October 2025

Perlahan, ekspresi Vina berubah. Ketakutan yang semula mendominasi perlahan tersapu oleh gelombang kesadaran yang dingin. Bibirnya terkatup rapat, dan sepasang matanya yang cantik kini memancarkan api kemarahan. Ia mengangguk pelan, bukan tanda setuju, melainkan konfirmasi dari kenyataan pahit yang sudah ia duga.

"Aku tahu," desis Vina, nadanya serendah dan sedalam gerungan mesin mobil di luar. Jeda singkat itu terisi oleh suara langkah kaki perawat di koridor, mengingatkan mereka bahwa mereka masih berada di tempat umum. "Aku sudah tahu sejak dia datang ke kantor hari itu."

Satrio tidak menjawab, hanya membiarkan keheningan itu menggantung. Matanya yang tajam mengunci mata Vina, sebuah tatapan yang menuntut rencana, bukan pengakuan. Satrio sudah menanggung risikonya, kini giliran Vina yang harus bertindak.

Vina menarik napas dalam, meredam sisa-sisa getaran di tubuhnya. Ia berjalan ke jendela, membelakangi Satrio. Bayangan wajahnya di kaca jendela memancarkan determinasi yang baru. Vina bukan lagi wanita rapuh yang ketakutan di balik kotak kardus. Ia adalah wanita yang kini bertekad melawan.

Ia mengeluarkan ponselnya—sebuah benda kecil yang terasa seperti senjata di tangannya. Jari-jarinya menari cepat di layar. Ia menggeser dan menekan, setiap sentuhannya tegas.

"Halo, Julian? Ini aku, Vina. Maaf mengganggu malam-malam, tapi aku butuh bantuanmu sekarang juga," kata Vina, suaranya kini kembali pada nada bisnisnya yang tegas, meski sedikit lebih rendah dari biasanya.

Satrio, yang mendengar nama itu, mengerutkan kening. Julian Wijaya. Pengacara korporat yang dingin dan cemerlang, terkenal karena efisiensinya menghancurkan lawan tanpa meninggalkan jejak. Sebuah pilihan yang tidak main-main.

"Ya, kasus yang baru saja terjadi. Bukan pemukulan, Julian. Ini percobaan pembunuhan. Aku ingin mereka membayar mahal," lanjut Vina, berbalik menghadap Satrio, matanya berkilat penuh tekad.

"Aku ingin kamu segera siapkan laporan polisi resmi dengan tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan penyerangan dengan pemberatan. Aku punya saksi mata—pengawalku—dan dia terluka. Aku juga punya dua penyerang yang kini terkapar di gudang belakang kantorku. Aku ingin kau pastikan mereka tidak bisa keluar dengan jaminan," perintah Vina, suaranya adalah campuran baja dan es, sebuah penyingkapan kekuatan yang membuat Satrio diam-diam terkejut.

Vina menutup teleponnya. Ponselnya diletakkan di meja dengan bunyi klak yang tajam. Ia menoleh ke Satrio. "Julian akan segera mengirimkan tim ke gudang itu. Mereka akan menangani bukti dan penyerang itu."

Vina mengambil tas tangannya, merogoh ke dalamnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang terbuat dari logam tipis, berkilau di bawah lampu klinik. Ia menyerahkannya pada Satrio.

"Ini adalah kontak pribadinya. Aku ingin kau bicara dengannya. Beri dia semua detailnya," kata Vina, matanya menatap lekat ke perban di lengan Satrio. "Dan setelah itu..."

Vina menarik napas dalam, gestur yang menegaskan bahwa ia akan mengucapkan sesuatu yang penting. "Setelah ini, aku akan kembali ke kantor. Dan aku akan duduk di kursi komisarisku," katanya, suaranya mengeras. "Aku tidak akan lari. Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa upaya pengecut ini hanya akan mempercepat kejatuhan mereka."

Satrio menerima kartu nama itu. Kartu logam itu terasa dingin dan berat di tangannya, mewakili beban tugas yang lebih besar. Ia akhirnya mengangguk, kali ini dengan sedikit rasa hormat yang tercampur dalam tatapannya.

"Baik, Nona. Saya akan bicara dengan pengacara Anda. Tapi, izinkan saya memberi satu nasihat," ucap Satrio, suaranya menjadi sangat rendah, berhati-hati agar tidak didengar oleh perawat yang kembali melintas.

Vina menyilangkan tangan di dada, menunggu.

"Mereka akan datang lagi, dan kali ini, mereka tidak akan mengirim orang-orang bodoh seperti tadi," bisik Satrio, matanya menyapu jendela, seolah melihat ancaman yang mendekat. "Percobaan pembunuhan yang akan datang tidak akan terjadi di gudang yang gelap. Itu akan terjadi di tempat yang paling Anda anggap aman."

Seketika, atmosfer di ruang tunggu itu terasa dingin dan mencekam. Vina terdiam, menelan ludah. Wajahnya yang tegar tiba-tiba menampakkan keraguan.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

Satrio tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alisnya, pandangannya tajam dan tak terbantahkan. Ia tahu Vina mengerti. Dia sudah memberikan peringatan yang diperlukan. Ancaman itu sekarang bergerak dari kegelapan ke terang, dari ancaman fisik ke penghancuran sosial.

"Aku akan menunggumu di mobil," ujar Vina, membalikkan badannya dengan gesit, meninggalkan Satrio sendirian dengan telepon dan kartu nama pengacara yang terasa seperti besi panas di tangannya.

Satrio meraih ponsel dan kartu logam itu. Ia berdiri, mengabaikan denyutan sakit di lengan kirinya. Dia berjalan keluar dari klinik, menuju mobil Vina.

"Di dalam mobil, Satrio merogoh ponselnya dan menekan nomor di kartu logam itu. Telepon berdering dua kali, kemudian terangkat.

"Julian Wijaya di sini." Suara Julian menusuk, dingin dan terburu-buru, seolah waktu adalah musuh yang harus dihabisi.

"Saya Satrio, pengawal Nona Vina," Satrio menjawab. Tanpa basa-basi, ia menyemburkan rentetan informasi. Kata-katanya membentuk laporan militer yang padat: kronologi penyerangan yang ringkas, jenis pukulan, detail senjata, dan koordinat pasti lokasi penyerang yang terkapar.

Julian mendengarkan. Keheningan di sisi lain telepon adalah persetujuan tanpa kata.

"Paham. Tim saya akan berada di sana dalam lima belas menit," kata Julian. "Satu hal lagi, Pak Satrio. Nona Vina mengatakan Anda terluka. Apa yang terjadi pada Anda?"

Satrio membeku. Mata kirinya melirik perban yang membalut erat lengan kirinya. Luka itu terasa berdenyut, seolah ingin berteriak: luka tembak.

"Tuan Satrio?" desak Julian. Nada suaranya sedikit menajam.

"Ini luka tembak. Saya akan jelaskan lebih detail saat kita bertemu." Tanpa menunggu jawaban, Satrio menekan tombol merah.

Vina sudah menunggunya. Wajahnya tegang, mata menuntut.

"Apa kata Julian? Kenapa kau menutup teleponnya begitu saja?"

Satrio menjatuhkan diri di samping Vina. Ia memejamkan mata sesaat, tarikan napasnya berat, lalu membukanya, menatap lurus ke mata Vina. Dingin.

"Dia sudah tahu semuanya," jawab Satrio, suaranya rata tanpa intonasi. "Tentang luka ini, saya akan menceritakan lebih detail saat kami bertemu. Kita harus segera pergi dari sini."

Vina mengangguk cepat. "Pak, kita jalan sekarang," perintahnya pada sopir pribadi.

"Baik, Nona."

Sopir itu segera menjalankan mobil, kecepatan mobil yang semakin cepat meninggalkan klinik kecil itu. Malam itu terasa dingin dan tebal. Vina menatap Satrio. Dia melihat keringat dingin di pelipis Satrio.

Tiba-tiba, kaca mobil samping mereka pecah berkeping-keping. Bukan suara tembakan, melainkan hantaman keras dari sebuah kendaraan tak dikenal yang baru saja menabrak mobil mereka dari sisi penumpang.

BRRAKK!

Dunia Vina dan Satrio berputar, dikelilingi oleh pecahan kaca dan suara bising logam yang terdistorsi. Satrio merasakan tubuhnya terlempar, kesadaran memudar seiring mobil itu terguling di jalanan yang gelap.