Dinikahi Paman Mantan - Keputusan Yang Tidak Bisa Diubah - Bab 1

Penulis Nuvola
09 September 2025

"Aku sangat mencintaimu, Lily."

Suara itu terngiang di dalam telinga Lily, namun apa yang dia lihat sekarang benar-benar menampar dirinya. Lily berdiri di depan pintu, merasakan jantungnya berdebar kencang. Rambut bergelombangnya menari-nari di bawah cahaya lampu yang temaram, menciptakan bayangan yang menakutkan di dinding. Dia mengintip ke dalam. Pemandangan yang dia lihat membuatnya tertegun. Rafael, calon suaminya, berdiri rapat dengan adik tirinya, Emma. Mereka berciuman, dan tawa Emma menggema di telinga Lily.

Lily menjerit dalam hati, jari-jarinya menggenggam erat gagang pintu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Kenapa? Kenapa dia melakukannya?” pikirnya, berusaha menahan perasaannya. Dia mundur, berusaha menjauh dari kenyataan yang menyakitkan. Namun, langkahnya terhenti ketika suara tawa Emma terdengar lagi.

“Rafael, kamu benar-benar hebat! Tidak ada yang bisa menandingi pesonamu!” Emma berbisik, menatap Rafael dengan mata berbinar. Lily merasa seperti langit runtuh di atas kepalanya.

Di dalam kamar, Rafael merespons dengan nada sombong, “Tentu saja, Emma. Aku tahu apa yang diinginkan wanita.”

Lily menahan desah nafasnya. Dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya, menghadap mereka berdua dengan keteguhan yang baru ditemukan.

“Apa yang kalian lakukan!” teriak Lily

Rafael menjauh dari Emma, terkejut. “Lily, ini bukan apa yang kamu pikirkan,” ucap Rafael segera.

“Jadi, apa ini? Kecelakaan?” Lily tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Aku mencintaimu, Rafael. Tapi kamu...”

“Begitu mudahnya kamu percaya pada apa yang kamu lihat?” Rafael mendekat, berusaha meraih tangannya.

“Jangan sentuh aku!” Lily menarik tangannya dengan cepat dan berlari pergi dari sana.

Dengan panik Rafael mengejar Lily dia tak ingin semuanya terbongkar di depan keluarga mereka.

Saat sampai di lantai satu, semua mata langsung menatap Lily yang kini tengah menangis.

“Ada apa Lily?” tanya Diana, nenek Rafael yang selalu menyayangi Lily.

“Aku tidak mau menikah!”

Perkataan Lily membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terkejut. “Apa maksudmu? Ini bukan saatnya untuk bercanda!” terus Agung, ayah Lily.

“Aku tidak mau menikah dengan pria yang berselingkuh Ayah,” jawab Lily yang memegang tangan ayahnya berharap ayahnya mengerti tentang perasaanya.

Tatapan Agung langsung beralih ke arah Rafael yang kini masuk ke ruang tamu.

“Ini semua salah paham.”

“Kamu menciumnya tapi masih berani mengatakan salah paham!” seru Lily dengan hati yang begitu sakit.

“Siapa wanita itu?” Dimas bertanya dengan menatap tajam putranya.

Tatapan intimidasi dari sang ayah membuat Rafael membisu, dia tahu sekeras apa ayahnya.

“Em-ma,” jawab Lily terbata yang lagi-lagi membuat mereka terkejut.

Belum sempat mereka beranjak dari keterkejutannya, Emma muncul, wajahnya penuh kepercayaan diri. Iris, ibunya, menghampirinya. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya, menatap Emma dengan curiga.

“Kami saling mencintai, Ma.”

“Tidak, itu semua tidak benar,” Rafael membantah, tetapi suaranya mulai kurang yakin.

“Kenapa kamu tidak mau jujur, Rafael? Aku bahkan sekarang hamil anak kamu,”

“Apa?!” Barbara menghampiri Emma. “Sungguh?” Disaat semua orang terkejut dan kecewa, Barbara justru merasa senang. Emma pun menganggukkan kepalanya. “Kalau Emma mengandung anak Rafael maka mereka harus segera menikah.”

“Apa maksud kamu, Ma?”

“Lily meminta pernikahannya dengan Rafael dibatalkan maka kita kabulkan Pa, lalu kita nikahkan Rafael dengan Emma.” Barbara mengusulkan dengan nada percaya diri, tampak tidak memikirkan perasaan Lily. Dimas tertegun, tidak bisa menerima apa yang baru saja didengar.

“Lagipula Lily didiagnosa sulit hamil, sedangkan kita butuh pewaris.” Ucapan Barbara seperti pisau yang menyayat hati Lily. Dia tahu betapa tidak sukanya Barbara padanya, hanya karena hasil pemeriksaan dokter.

“Jaga ucapanmu, Ma!” Lily berteriak, suaranya penuh emosi.

“Bukankah itu kenyataan?” Barbara menantang dengan tatapan sinis.

“Cukup!” suara tegas Diana menggema, menarik perhatian semua orang. Nenek Rafael berdiri dari duduknya, matanya tajam menatap Rafael dan Emma. “Lily, jangan terburu-buru. Perjanjian dua keluarga tidak bisa kita batalkan.”

“Tapi Nek…” desah Lily, ingin melawan tetapi kata-katanya terhenti.

“Perjodohan akan tetap dilakukan,” tegas Diana, suaranya tidak bisa dibantah.

“Itu tidak mungkin, Ibu. Emma mengandung anak Rafael, tidak mungkin Rafael menikah dengan Lily,” Barbara kembali bersuara, terlihat jelas ketidaksukaannya pada Lily.

“Kita ganti pengantinnya!”

Wajah Emma berseri, senyum kemenangan menyinari wajahnya.

“Aku setuju, Emma akan menggantikan Lily,” timpal Barbara, seolah semuanya mudah baginya.

“Bukan pengantin wanita yang diganti, tapi pria!”

Ruangan sontak hening. Semua orang terpaku, mencoba mencerna maksud ucapan sang nenek.

“Apa maksud, Nenek?” tanya Rafael yang melangkah maju.

“Pamanmu yang akan menikah dengan Kaluna.”

“Ibu, jangan bercanda,” tegur Dimas ayah Rafael.

“Siapa yang bercanda? Kaluna tetap akan menjadi menantu keluarga Bamantara!”

“Aku tidak mau! Kaluna tidak mau Nenek,” ucap Kaluna yang langsung menolak. Kaluna lalu menatap sang ayah meminta pertolongan kepada ayahnya berharap ayahnya membantu dirinya.

“Keputusanku sudah bulat, tidak ada yang bisa membantah!”


“Aku tidak mau menikah, Ayah,” ucap Lily yang mengikuti ayahnya masuk ke dalam ruang kerja. Sejak pertemuan kemarin Lily terus membujuk sang ayah untuk membatalkan perjodohan dirinya.

“Keputusan sudah bulat, Lily. Perjanjian dua keluarga tidak bisa dibatalkan, mau tidak mau kamu harus menikah.”

Lily merasa bingung. “Tapi, aku tidak mengenal Pria itu. Bagaimana aku bisa menikah dengannya?”ucap Lily.

“Menikah bukan hanya soal cinta. Ini soal kekuasaan dan posisi. Keluarga kita membutuhkan aliansi yang kuat,” kata ayahnya yang memegang kedua pundak Lily berharap Lily mengerti apa yang dia katakan.

“Apa Ayah tidak peduli dengan kebahagiaanku?”

“Tentu ayah peduli. Kamu pasti akan bahagia, ayah yakin itu.”

Agung menatap putrinya dengan tatapan penuh keyakinan, tapi itu semua tidak membuat Lily yakin dengan kebahagiaannya. “Aku tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kucintai!” teriaknya, suaranya rancak penuh frustasi.

“Jadi kamu lebih memilih untuk menikahi pengkhianat?” tanya Agung tajam.

Lily menutup mulutnya. Dia tahu ayahnya benar, tetapi hatinya terasa hancur. “Agam Bamantara adalah pria yang bisa membawamu ke tempat yang lebih baik. Dia memiliki segalanya.”

Lily hanya bisa tersenyum pahit, merasakan kepedihan yang menggerogoti hatinya. Dia keluar dari ruang kerja ayahnya dengan sangat kecewa. Saat akan menuju ke kamarnya dia bertemu dengan Emma dan Iris. Sepasang ibu dan anak itu tersenyum puas melihat tangis Lily.

Emma menghalangi jalan Lily membuat gadis itu mendongak untuk menatap wajah Emma. “Bagaimana rasanya semua yang kamu miliki aku ambil, Lily?”

Seketika Lily mengepalkan tangannya, ini bukan pertama kalinya Emma mengambil sesuatu darinya. Sejak awal Iris menikah dengan Agung maka satu persatu milik Lily diambil oleh Emma.

“Setelah aku usir dari kamar, sekarang saatnya ku usir dari rumah, bukan?”

Plak!