BRRAKK!
Hantaman itu membuat mobil sedan mewah itu terlempar ke samping, membentur pembatas jalan dengan getaran yang menyakitkan. Serpihan kaca berserakan di kursi belakang, berkilauan seperti salju di bawah lampu jalan yang berkelip.
Waktu terasa melambat. Satrio refleks menarik tubuh Vina mendekat ke dadanya, menggunakan tubuhnya sebagai perisai. Ia baru sadar bahwa hantaman keras tadi bukanlah kecelakaan biasa.
"Tetap menunduk, Nona!" perintah Satrio, suaranya menggelegar di tengah keheningan yang memekakkan telinga pasca-tabrakan. Ia merasakan cengkeraman Vina di lengannya yang terluka, namun Vina, meskipun syok, segera mengikuti perintahnya.
Sopir itu, seorang veteran yang tenang di bawah tekanan, dengan cepat menguasai kembali kemudi yang sempat liar. Ia menginjak gas, memutar setir tajam, dan mobil itu kembali melaju, menjauh dari lokasi tabrakan.
"Satrio, laporkan segera situasi ini pada Julian. Koordinat persisnya," desis Vina, meski suaranya sedikit bergetar, nada perintahnya tetap tegas. Ia tidak membuang waktu untuk panik. Peringatan Satrio baru saja terbukti. Mereka tidak mengirim orang bodoh lagi; mereka mengirim penghancur.
Satrio bertanya kepada sopir. "Apa yang terjadi? Mobil apa itu?"
"Sebuah truk pick-up hitam tanpa plat, Pak. Mereka sengaja menabrak kita, bukan kecelakaan. Mereka mengejar," jawab sopir itu, suaranya tegang namun fokus. Kecepatan mobilnya meningkat. "Saya menuju jalan tol. Kita bisa lebih cepat di sana."
Satrio menoleh ke belakang. Di tengah kilauan lampu malam, ia melihat bayangan hitam yang besar, bergerak cepat dan agresif. Truk itu kembali mendekat.
"Mereka datang lagi. Bersiaplah," gumam Satrio, memosisikan dirinya untuk melindungi Vina sepenuhnya. Ia tidak membawa senjata api; ia harus mengandalkan insting dan kekuatannya.
Begitu mobil mereka memasuki jalan tol yang sepi, truk hitam itu melesat seperti predator. Truk itu menyalip, kemudian berbelok tajam, mencoba memaksa mobil Vina menabrak pembatas lagi.
"Pak, jangan biarkan mereka memotong jalur!" teriak Satrio.
Sopir itu berteriak sedikit frustrasi, "Mereka mengemudi seperti orang gila! Saya tidak bisa berbelok secepat mereka!"
Truk itu kini bersejajar di sisi kiri. Dalam sekejap, jendela penumpang di truk itu terbuka. Satrio hanya melihat kilatan logam sebelum ia berteriak.
"Tiarap!"
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan keras dan kering memecah keheningan malam di jalan tol. Kaca mobil yang tersisa di sisi kiri hancur. Sebuah peluru menembus pintu, meninggalkan lubang kecil yang berasap. Bau mesiu tercium tajam.
Vina terengah-engah, tertekan di lantai mobil. Ketakutan yang lama hilang kini merangkak kembali, tetapi ia menolaknya. Ia adalah targetnya.
Satrio menahan napas. Ia melirik perban di lengannya. Julian harus tahu semua ini. Sekarang, ini bukan lagi tentang kekerasan; ini tentang pembunuhan di muka umum.
"Pak Julian! Mereka menembak!" Satrio berteriak ketika panggilan teleponnya terhubung. "Truk pick-up hitam tanpa plat, sekarang di tol jalur utara, kilometer 15! Mereka bersenjata! Hubungi polisi segera, beri tahu mereka bahwa ada baku tembak yang melibatkan percobaan pembunuhan seorang komisaris!"
Truk itu mundur sedikit, bersiap untuk serangan berikutnya.
"Nona, pegangan erat!" perintah Satrio tanpa menutup panggilan teleponnya. Ia menoleh ke sopir. "Pak, segera lakukan manuver PIT! Pukul bagian belakangnya saat mereka menyalip!"
Sopir itu terkejut. "Pak, itu sangat berisiko!"
"Kita tidak punya pilihan! Lakukan!"
Mobil Vina mempercepat lajunya, lalu mendadak melambat. Truk hitam itu jatuh ke dalam perangkap, mengira mobil Vina kehilangan kendali, dan melesat maju untuk memotong jalur.
Saat truk itu berada di posisi yang tepat, Satrio berteriak, "Sekarang!"
Dengan keterampilan mengemudi yang presisi, sopir itu memutar setir tajam dan menyenggol bagian belakang truk dengan bagian depan mobil mereka. Manuver PIT yang keras dan cepat.
BRAKKK!
Truk hitam itu kehilangan keseimbangan. Ban belakangnya mencicit, lalu truk itu mulai berputar liar di jalan tol, asap mengepul dari bawah rodanya. Truk itu menabrak pembatas beton, berhenti dengan benturan terakhir yang memekakkan telinga.
Mobil Vina meluncur menjauh, meninggalkan asap, debu, dan keheningan di belakang mereka.
Vina mengangkat kepalanya. Rambutnya sedikit acak-acakan, tapi matanya bersinar. Ia menatap Satrio, napasnya memburu.
"Mereka tidak akan berhenti," desis Vina, bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai pernyataan.
"Tidak, Nona," jawab Satrio, mengatur napas. "Tapi sekarang mereka sudah tahu, Anda tidak akan mati dalam keheningan. Anda akan melawan."
Ia merasakan darah menetes di lengannya. Luka tembaknya terbuka kembali karena hantaman dan tekanan.
"Kita kembali ke kantor. Aku ingin kamu menemui Julian dan polisi," kata Vina, suaranya kini tenang, sedingin es, dan lebih bertekad dari sebelumnya. "Ini sudah bukan lagi permainan bisnis. Ini adalah deklarasi perang."
Satrio mengangguk. Dia tahu pertempuran sesungguhnya belum dimulai.
"Baik, Nona. Tapi izinkan saya meminta satu hal: Saya butuh lebih banyak orang yang bisa dipercaya. Segera."
"Aku akan menghubungi Pak Roni," kata Vina, "teman-temanmu di pusat pelatihan itu apakah bisa dipercaya?"
"Saya akan meminta beberapa orang yang sudah saya kenal. Mereka bisa dipercaya," kata Satrio, sorot matanya dingin.
Sopir itu melirik ke kaca spion, melihat tatapan dingin Satrio. 'Nona Vina beruntung mempunyai bodyguard seperti Pak Satrio. Saya merasa lega karena keselamatannya terjamin,' batinnya.
Ia terus mengemudi ke depan, membawa mereka ke kantor, menuju pusat badai yang baru saja mereka ciptakan. Malam semakin dalam, dan ibu kota terasa seperti arena pertempuran yang luas.
Sesaat setelah mobil mereka melewati rambu kilometer 20, meninggalkan asap dan puing-puing, Satrio berusaha keras menghubungi Julian lagi. Kali ini, panggilan tersambung.
"Julian! Apakah kau dengar aku? Cepat, laporkan ke polisi! Truk hitam itu—"
Suara Julian terdengar, tetapi itu bukan suara yang terkejut atau panik. Suara Julian terdengar aneh, berat, dan terlalu tenang.
"Satrio," desah Julian. Suaranya terdengar jauh, seolah ia sedang berbicara dari dasar sumur. "Sudah terlambat."
"Terlambat apa? Polisi sudah di jalan, Julian! Kami—"
"Bukan itu, bodoh!" bentak Julian, suaranya tiba-tiba melengking, penuh dengan keputusasaan yang nyata. "Dengar baik-baik, Satrio. Aku tahu siapa yang mengemudikannya. Truk itu... bukan yang terburuk."
Satrio merasakan jantungnya mencelos. Ia menoleh ke belakang, tetapi jalan tol di belakang mereka kosong, gelap, dan hening.
"Apa maksudmu, Julian? Siapa pengemudinya? Kenapa kau terdengar seperti sedang... berpamitan?"
"Dia... dia yang mengincar Vina. Dia yang merencanakan semua ini. Dan dia memberiku pilihan," kata Julian, napasnya tersengal. "Dia bilang, aku harus memilih: Melindungi Vina, atau melindungi diriku dan keluargaku."
"Julian, tidak ada pilihan seperti itu! Kita akan melindungimu juga! Cepat beritahu aku—"
Terdengar suara keras di ujung telepon—suara seperti pintu yang dibanting, diikuti jeritan putus asa Julian yang singkat.
Lalu, sebuah suara baru terdengar. Suara itu dalam, dingin, dan memiliki aksen militer yang kaku.
"Pilihannya sudah dibuat, Satrio," desis suara itu. "Dan aku tidak suka menunggu."
Satrio membeku. Itu bukan suara Julian. "Siapa ini?"
Suara asing itu tertawa rendah. "Anggap saja aku adalah hadiah selamat datangmu. Aku adalah orang yang akan membuatmu mengerti, seberapa kecil dirimu dan betapa salahnya perhitunganmu. Aku hanya memiliki satu pertanyaan untukmu, Satrio. Dan kau hanya memiliki lima detik untuk menjawabnya."