Deru motor dan klakson bersahutan di jalan utama terdengar meredup saat Arsen memarkir mobilnya di mulut gang. Ia menarik napas dalam-dalam, aroma aspal basah sisa gerimis sore menusuk hidungnya.
Jantungnya, yang biasanya tenang dan terkendali, kini berdebar dengan ritme yang tak biasa. Akhirnya dia mendapatkan alamat kakaknya Emma setelah sempat bertanya dua kali tadi.
“Ini dia!!”
Arsen berseru, ia berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan teras berkeramik hijau lumut dan beberapa pot tanaman lidah mertua yang terawat rapi. Pintu kayu bercat cokelat itu tampak kokoh, kontras dengan kusen jendela yang sedikit usang.
“Assalamualaikum ….” Arsen memberikan salam dengan tangan mengetuk pintu tiga kali secara berurutan.
“Wa alaikum salam!!”
Tak lama, pintu terbuka. Sosok lelaki yang Arsen lihat mungkin setahun lebih tua darinya berdiri di ambang pintu. Badannya sedikit lebih kurus dari Arsen, namun sorot matanya tajam dan penuh kewaspadaan, sebuah tatapan penuh selidik.
"Anda siapa? Ada keperluan apa hingga datang ke sini?" tanya Erlan, nada suaranya datar, campuran antara terkejut dan curiga. Ia menyapu penampilan Arsen dari atas ke bawah—kemeja lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, celana bahan, dan sepatu kulit yang tampak terlalu mahal untuk menginjak lantai terasnya.
"Selamat sore, namaku Arsen. Apakah anda adalah Erlan, kakaknya Emma?!" tanya Arsen, berusaha terdengar sesantai mungkin.
"Bisa aku bicara denganmu sebentar? Ada hal penting." Arsen kembali bertanya sesaat setelah lelaki di depannya menjawab dengan anggukan kepala, tadi.
Erlan terdiam sejenak, matanya seolah menimbang-nyimbang niat tamunya.
"Emma sedang tidak ada di sini, dia ada di rumah kostannya di pusat kota," katanya Erlang, merasa lelaki yang di depannya ini hanya sedang mencari sang adik saja.
"Aku tahu, tapi maksud kedatanganku ini, memang ingin bicara denganmu. Berdua saja," balas Arsen, menegaskan tujuannya. Keraguan di wajah Erlan perlahan luntur, digantikan oleh rasa penasaran. Ia membuka pintu lebih lebar.
"Masuklah." Arsen seketika terlihat sangat bahagia, melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah perempuan yang dia cintai.
Tampak oleh Arsen, ruang tamu berukuran kecil, sederhana, Namun bersih luar biasa. Sebuah sofa tua dengan beberapa bekas jahitan di lengannya, sebuah meja kayu kecil dengan taplak rajutan di atasnya, dan sebuah televisi tabung di sudut ruangan. Di dinding, tergantung sebuah foto keluarga yang warnanya sudah sedikit pudar melukiskan sepasang suami istri tersenyum diapit oleh Erlan remaja dan Emma kecil yang menggemaskan. Foto itu menjadi pengingat bisu bahwa Erlan adalah satu-satunya wali bagi adiknya.
"Duduklah," kata Erlan sambil berjalan ke dapur.
"Hanya ada kopi hitam atau teh," tawar Erlan yang berhenti melangkah saat di ambang pintu masuk ke ruangan yang lebih dalam lagi.
"Tidak perlu repot-repot, Lan. Aku tidak akan lama."
Tapi lelaki itu tak peduli, dia masuk ke dalam dan tak lama kemudian sudah kembali dengan dua gelas teh hangat, meletakkannya di atas meja. Ia duduk di kursi tunggal, berhadapan langsung dengan Arsen, menciptakan posisi interogasi yang tak disengaja. Hening menyelimuti mereka sejenak, hanya terganggu oleh suara kipas angin tua yang berderit pelan.
"Jadi," Erlan memulai, memecah keheningan. "Apa hal yang begitu penting sampai kau harus datang kemari?" Arsen mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, kedua tangannya bertaut di antara lutut. Inilah saatnya. Lelaki berkemeja biru ini menarik napas sekali lagi, mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Aku datang dengan satu niat serius, Lan. Aku ingin meminta izinmu ... untuk menikahi Emma."
Dunia di sekitar Erlan seakan berhenti berputar. Suara kipas angin yang berderit, gema tawa anak-anak dari luar gang, semuanya lenyap. Yang tersisa hanyalah wajah serius Arsen dan gema dari kata-kata yang baru saja diucapkannya. Erlan bersandar di kursinya, tatapannya kosong sesaat sebelum berubah menjadi tajam dan dingin.
"Menikah? Kamu? Dengan adikku?"
Ia tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa getir yang sarat akan sarkasme.
“Apa yang membuatmu menginginkan adikku untuk kau jadikan istri? Karena jika di lihat dari wajah dan penampilanmu, bukan hal yang sulit untukmu mendapatkan istri yang lebih segalanya di bandingkan Emma.” Arsen terdiam sesaat, apa yang dikatakan oleh Erlan sempat juga di tanyakan oleh Emma saat dia melamarnya.
"Karena aku harus bertanggung jawab, dan aku sangat mencintainya,” jawab Arsen, setelah sebelumnya menceritakan bagaimana emma yang di perdaya oleh Ibra.
"Tanggung jawab dan cinta?" Erlan menggelengkan kepalanya perlahan, senyum sinis tersungging di bibirnya. Alasan yang baru dia dengar seolah merupakan barang murah yang bisa di jual di pasar.
"Arsen …, dengar. Kamu orang baik dan aku sangat berterima kasih sudah mau menolong Emma, aku berutang budi padamu. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk melakukan hal gila seperti ini." Nada bicara Erlan sudah mulai landai, walau tangannya terkepal mendengar bagaimana ibra memperlakukan adiknya.
"Ini bukan hal gila. Perasaanku nyata," tegas Arsen, suaranya mulai di warnai frustrasi, bingung harus memberikan alasan lagi agar Erlan mau merestuinya.
"Nyata bagimu, mungkin. Tapi apa kau sudah memikirkan semuanya?" Erlan menggerakkan tangannya, menunjuk ke sekeliling ruangan yang sempit itu.
"Lihat di mana kau berada sekarang, Sen. Lihat rumah ini. Lihat kami. Kami ini orang biasa, sangat biasa. Sementara kau ....!!" Erlan berhenti sejenak, matanya meneliti Arsen sekali lagi.
"Keluargamu, duniamu... itu berbeda. Kami dan kamu adalah langit dan bumi, Sen-"
"Aku tidak peduli dengan semua itu!" potong Arsen. "Yang aku pedulikan hanya Emma."
"Tapi aku peduli!" balas Erlan, suaranya meninggi untuk pertama kali. Ia menekan kembali emosinya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah Namun terasa lebih berat.
"Aku yang merawat Emma sejak orang tua kami tiada. Aku yang melihatnya menangis semalaman setelah kejadian mengerikan yang mengakibatkan orang tuaku meninggal. Aku yang melihatnya berjuang untuk bisa tersenyum lagi. Kebahagiaannya, ketenangannya, adalah segalanya bagiku.”
"Aku juga ingin memberikan kebahagiaan itu untuknya! Tolong ijinkan aku, Erlan!!"
"Dengan cara apa?" tantang Erlan, matanya mulai memerah dengan rahang mengeras.
"Dengan membawanya masuk ke duniamu yang asing? Di mana dia akan di pandang sebelah mata oleh keluargamu? Di mana dia akan merasa kecil dan tidak pantas setiap hari? Apa itu yang kau sebut kebahagiaan? Aku tidak akan membiarkan adikku mengalami lagi siksaan batin seperti itu."
Argumen Erlan menghantam Arsen seperti tamparan. Ia tak pernah menyangka penolakan itu datang dari sudut pandang ini—bukan karena Arsen tidak cukup baik, tetapi justru karena dianggap terlalu baik, terlalu tinggi.
"Keluargaku akan menerimanya," kata Arsen, meski ada sedikit keraguan dalam suaranya sendiri. Mengingat ada Diandra yang bisa membantu untuk mau menerima Emma sebagai istrinya.
"Kau yakin?" tanya Erlan skeptis.
"Jangan naif, Sen. Pernikahan bukan hanya tentang kau dan Emma. Ini tentang dua keluarga yang melebur jadi satu. Dan aku tidak bisa melihat bagaimana keluarga kami yang compang-camping ini bisa melebur dengan keluargamu yang mengenakan jas serta bermahkota sempurna."
Kesan tak percaya jelas sekali terbaca dari ucapan Erlan.
"Tidak ada yang sempurna, Lan."
"Tapi setidaknya banyak yang jauh lebih baik dari kami, jadi kamu carilah yang lain, jangan Emmaku!!" potong Erlan cepat.