"Aku tidak mau adikku nantinya hidup dari belas kasihanmu atau keluargamu. Kami mungkin miskin, tapi kami punya harga diri. Dan aku masih bisa menanggung hidup satu orang lagi jika nantinya ada apa apa dengan Emma, akibat bantuanmu"
Hening kembali menyergap. Teh di atas meja sudah mendingin, tak tersentuh. Arsen bisa merasakan tembok tebal yang dibangun Erlan di sekeliling adiknya, sebuah benteng yang terbuat dari kasih sayang, proteksi, dan ketakutan akan luka.
"Emma belum tahu soal ini, kan?" tanya Erlan pelan.
Arsen menggeleng. "Aku ingin menghormatimu sebagai kakaknya terlebih dahulu."
"Bagus," kata Erlan tegas. "Dan jangan biarkan dia tahu. Jangan beri dia harapan palsu yang hanya akan membuatnya sakit hati. Aku minta kau lupakan niat ini, Sen. Demi kebaikan kalian berdua, dan terima kasih dengan niat baik yang tersampaikan padaku."
Arsen menatap Erlan, melihat keteguhan hati yang tak terpatahkan di mata pria itu. Ini bukan penolakan karena benci, melainkan penolakan yang lahir dari cinta yang begitu dalam. Cinta seorang kakak yang takut adiknya kembali terluka.
"Aku tidak bisa," jawab Arsen pelan namun mantap.
"Tidak bisa apa?" tanya Erlan, dengan menyipitkan kedua matanya, bingung.
"Aku tidak bisa melupakan niat ini," ulang Arsen, berdiri dari duduknya.
"Aku mengerti ketakutanmu, Lan. Aku menghargainya. Tapi kau salah menilaiku, dan kau meremehkan kekuatan Emma. Dia bukan gadis lemah yang akan hancur karena tatapan orang lain. Dia jauh lebih kuat dari itu."
Arsen berjalan menuju pintu. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikan padamu bahwa kau salah. Bahwa duniaku dan dunianya bisa menjadi dunia kami."
Ia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Erlan yang termangu di ruang tamunya. Senja telah turun sepenuhnya, mengubah warna langit menjadi jingga pekat. Dari jendela yang usang, Erlan memandang punggung Arsen yang menjauh dan menghilang di ujung gang.
Beban di pundaknya terasa semakin berat. Melindungi Emma dari dunia luar adalah satu hal, tetapi melindunginya dari sebuah kebahagiaan yang tampak begitu nyata dan tulus... adalah beban yang sama sekali berbeda. Dan untuk pertama kalinya, Erlan tidak yakin mana yang harus ia lakukan.
Malam itu, Arsen mengurung diri di apartemennya yang luas dan modern, kontras sekali dengan kesederhanaan rumah Erlan. Pemandangan gemerlap lampu kota dari jendela kaca besar seharusnya menenangkan, namun malam ini justru terasa mengasingkan. Ia menyesap kopi dari cangkir, cairan itu terasa pahit di lidahnya, sama pahitnya dengan penolakan Erlan.
Kata-kata Erlan terus terngiang di benaknya, bagai kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
"Tapi setidaknya banyak yang jauh lebih baik dari kami, jadi kamu carilah yang lain, jangan Emmaku!!"
Kalimat itu seperti anak panah yang menancap tepat di jantung keyakinannya. Apakah benar ia terlalu naif? Apakah jurang perbedaan antara dirinya dan Emma memang tak bisa di jembatani?
Ia meraih ponselnya, mencari nama Diandra di daftar kontak. Diandra, sepupunya yang sudah seperti saudara, dan juga sahabat karib Emma. Mungkin ia bisa memberikan perspektif lain, atau setidaknya menjadi tempat untuk meluapkan kekecewaannya.
Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum Diandra menjawab dengan suara ceria seperti biasa.
"Hai, Arsen! Tumben malam-malam telepon. Ada kabar baik?"
Arsen menghela napas berat.
"Justru sebaliknya, Di. Aku... aku baru saja ditolak."
Terdengar keheningan sesaat di seberang sana, sebelum Diandra bertanya dengan nada khawatir.
"Ditolak? Siapa yang menolakmu? Bukannya selama ini semua orang berlomba-lomba ingin bekerja sama denganmu?"
"Ini bukan soal bisnis, Di," jawab Arsen getir. "Ini soal Emma... dan kakaknya."
"Erlan? Kalian bertemu?"
"Ya. Aku datang ke rumahnya, bermaksud meminta izin untuk menikahi Emma." Kali ini keheningan di ujung telepon terasa lebih panjang, sarat akan keterkejutan.
"Kamu ... kamu serius, Arsen?" tanya Diandra akhirnya, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah.
"Tentu saja aku serius! Apa aku pernah main-main soal perasaanku?" Arsen berusaha meredam emosinya, namun kekecewaan dan frustrasi bercampur aduk dalam suaranya.
"Lalu... apa yang terjadi? Kenapa Erlan menolakmu?"
Arsen menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir percakapannya dengan Erlan. Ia tidak menyembunyikan sedikit pun kekecewaannya, rasa frustrasinya, dan juga ketidak mengertiannya atas alasan penolakan tersebut.
Diandra mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan gumaman prihatin. Setelah Arsen selesai bercerita, Diandra terdiam sejenak sebelum akhirnya berujar pelan.
"Aku bisa mengerti kenapa Erlan bersikap seperti itu, Sen. Karena itu pun akan aku lakukan jika berhadapan dengan masalah dan posisi yang sama," ujar Diandra dengan nada landai.
"Mengerti bagaimana?!" sergah Arsen, nada suaranya meninggi tanpa sadar.
"Dia bahkan tidak memberiku kesempatan! Dia langsung menghakimiku hanya karena status sosialku!"
"Bukan begitu maksudku," sahut Diandra lembut.
"Erlan sangat menyayangi Emma. Ikatan darah mereka lebih erat sejak orang tua mereka meninggal, Erlan adalah satu-satunya keluarga yang di miliki Emma. Dia merasa bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan dan keselamatannya."
"Dan menurutnya, aku tidak bisa memberikan itu?" tanya Arsen dengan nada sinis.
"Mungkin dia takut," jawab Diandra.
"Dia takut Emma akan merasa tidak nyaman atau tidak bahagia di lingkunganmu yang jauh berbeda. Dia takut Emma akan di remehkan atau merasa rendah diri. Baginya, kebahagiaan Emma lebih penting dari segalanya, termasuk kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik secara materi."
Kata-kata Diandra sedikit meredakan gejolak emosi Arsen. Ia menyadari bahwa dari sudut pandang Erlan, tindakannya mungkin memang terlihat terburu-buru dan kurang mempertimbangkan banyak hal.
"Tapi aku mencintai Emma, Diandra. Aku tulus. Aku tidak akan pernah menyakitinya," ujar Arsen, suaranya kembali melembut.
"Aku tahu itu, Sen. Emma juga bercerita banyak tentangmu. Aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama. Tapi Erlan tidak melihat apa yang Emma lihat. Dia hanya melihat perbedaan di antara kalian."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Arsen, merasa tak berdaya. "Apa aku harus menyerah begitu saja?"
"Tentu tidak!" seru Diandra.
"Kau tidak boleh menyerah hanya karena satu penolakan. Erlan mungkin keras kepala, tapi dia juga penyayang. Kau harus bisa meyakinkannya bahwa cintamu pada Emma tulus dan bahwa kau akan selalu menjaganya."
"Bagaimana caranya?"
"Kau harus bersabar," kata Diandra. "Dekati Erlan lagi. Coba bicarakan baik-baik dengannya. Tunjukkan padanya bahwa kau menghargai Emma apa adanya, bukan karena siapa dia atau dari mana asalnya. Dan yang paling penting... tunjukkan padanya bahwa kau bisa membuat Emma bahagia."
“Sedangkan tentang Emma, biarkan aku yang akan membujuknya pelan pelan,” tambahnya lagi dengan penuh harapan. Arsen tersenyum dalam diam, pikirannya merenungkan kata-kata Diandra. Ada secercah harapan yang kembali menyala dalam hatinya. Ya … ia tidak boleh menyerah. Ia harus membuktikan pada Erlan bahwa cintanya pada Emma lebih kuat dari perbedaan status sosial atau prasangka apa pun. Perjuangan ini baru saja di mulai.
“Tapi bantuanku tidak murah, Arsen. Setelah kalian menikah, berikan aku mobil sport terbaru berwarna merah, Ok!!”
Arsen seketika terdiam sesaat, mendengar permintaan dari sepupunya yang setelah mengatakan keinginannya langsung mematikan ponsel, tanpa memberikannya kesempatan menjawab.