BAb 9 - Obat Nyamuk

Penulis JanaIndria
11 October 2025

“Emma kita ke kantin yuk! Tadi pagi kita belum sarapan looo, lapar nih ….”

Dengan wajah memelas Diandra mengajak Emma yang memang keluar dari kelas sedikit terlambat karena masih menyelesaikan rangkuman. Emma mengangguk lesu, mensejajari langkah Diandra menuju ke kantin tanpa banyak bicara. Pikirannya tidak sepenuhnya berada di badannya saat ini. Sebagian besar energinya sudah terkuras oleh materi kuliah pagi tadi dan sebagian lagi tersedot oleh urusan pribadi yang menggantung.

Diandra, seperti biasa, terlihat berlawanan dari kelesuan Emma. Langkahnya ringan, rambutnya yang diikat ekor kuda bergoyang seirama dengan celotehannya tentang dosen yang membosankan, tugas yang menumpuk, dan rencananya untuk menonton film seri terbaru akhir pekan ini. Emma hanya menanggapinya dengan gumaman singkat, "Hmm," atau "Oh ya?" sesekali, cukup untuk memberi sinyal bahwa ia masih mendengarkan, meskipun pikirannya melayang jauh.

Kantin saat jam kuliah ke dua berakhir adalah waktu belum terlalu ramainya. Aroma soto ayam beradu dengan wangi kopi instan, denting sendok dan garpu beradu dengan tawa dan obrolan mahasiswa dari berbagai fakultas seketika menyambut emma dan diandra yang baru masuk.

“Kamu tunggu di sana ya, biar aku pesenin, kamu mau makan apa?” tanya Diandra pada Emma setelah menunjuk sebuah meja kosong di sudut yang agak terpencil, dekat dengan jendela besar yang menghadap taman belakang.

“Apa saja ….” Jawab Emma sambil melangkah mendekati tempat yang tadi ditunjuk Diandra. Namun, alih-alih mengambil kursi yang menghadap jendela, ia memilih posisi yang memunggungi kaca berukuran besar itu. Ia tidak ingin terlihat, tidak ingin menjadi bagian dari pemandangan.

Ia ingin melipat dirinya sekecil mungkin, menjadi tak kasat mata. Setelah meletakkan tasnya di kursi sebelahnya, barulah kemudian ia mengambil ponsel dari dalam tas.

Layar menyala, menampilkan notifikasi yang tak terjawab. Di bagian atas daftar panggilan, sebuah nama kontak tersemat: "Kakakku". Jari Emma melayang di atas tombol panggil, ragu. Sebuah perdebatan bisu terjadi di dalam benaknya. Haruskah ia menelepon? Menjelaskan semuanya? Atau membiarkannya saja, berharap badai akan reda dengan sendirinya?

“Nelpon tidak ya?” bisik Emma pada dirinya sendiri, tatapannya kosong menembus keramaian kantin.

“Permisi… boleh duduk di sini, kan?”

Suara bariton yang dalam dan tenang itu memecah gelembung kebingungannya. Suara itu datang dari sampingnya, membuat Emma yang dari tadi menunduk dalam lamunan itu seketika mendongakkan kepalanya.

Seorang pria muda berdiri di sana, membawa nampan berisi semangkuk bakso dan segelas es teh. Tingginya mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kokoh. Wajahnya bersih, dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata yang teduh. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru saja ia lalui dengan jari, namun itu justru menambah pesonanya. Ia tersenyum tipis, senyum yang sopan dan tidak memaksa.

Emma mengerjap, sedikit terkejut. Meja di kantin memang banyak yang penuh, tapi masih ada beberapa kursi kosong di meja lain. Kenapa harus di sini? Namun, menolak rasanya tidak sopan. Ia hanya mengangguk kecil, menggeser tasnya dari kursi di sebelahnya ke pangkuan untuk memberi ruang.

"Terima kasih," ujar pria itu sambil meletakkan nampannya dan duduk di seberang Emma. Ia tidak langsung makan, hanya mengaduk-aduk kuah baksonya perlahan, seolah menunggu sesuatu.

Keheningan yang canggung menyelimuti meja mereka selama beberapa saat. Emma kembali menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, meskipun kini ia sama sekali tidak bisa fokus pada masalah tentang kakaknya. Kehadiran pria asing ini terasa terlalu nyata, terlalu dekat.

“Emma!”

Suara ceria Diandra memecah keheningan. Ia datang membawa dua mangkuk soto ayam dan dua gelas es jeruk.

“Loh, ada siapa ini?” tanyanya, matanya berbinar melihat pria yang duduk di hadapan Emma.

Pria itu tersenyum lebih lebar kali ini, senyum yang seolah ditujukan khusus untuk Diandra. “Nungguin kamu, lah. Lama banget,” katanya dengan nada familier.

Diandra tertawa renyah.

"Ya ampun, Jonas! Kok kamu tahu kalau aku lagi ada di sini. Kenalan dulu dong, ini sahabatku, Emma."

Ia meletakkan mangkuk soto di hadapan Emma sebelum beralih ke pria bernama Jonas itu.

"Nah, Em, kenalin. Ini Jonas, pacarku."

Dunia Emma seolah berhenti berputar sejenak. Pacar? Sejak kapan Diandra punya pacar? Selama setahun mereka bersahabat, Diandra tidak pernah sekalipun menyebut nama Jonas atau menceritakan bahwa ia sedang dekat dengan seseorang. Emma merasa seperti orang asing yang baru saja diberi tahu rahasia besar tentang sahabatnya sendiri. Ada sedikit rasa terkhianati, atau mungkin lebih tepatnya, rasa tertinggal.

"Jonas," sapanya, mengulurkan tangan.

Emma menjabat tangannya dengan sedikit kaku. "Emma," balasnya singkat. Genggaman tangan Jonas terasa hangat dan mantap.

"Aku senang akhirnya bisa ketemu langsung denganmu karena Diandra sering banget cerita tentang kamu," ujar Jonas ramah.

Sering cerita? Emma melirik Diandra, yang hanya tersenyum malu-malu. Jika Diandra sering menceritakannya, kenapa ia tidak pernah menceritakan Jonas sama sekali? Pertanyaan itu tersangkut di tenggorokannya, tak terucap.

Maka, di mulailah babak baru di meja makan itu. Babak di mana Emma berubah dari seorang sahabat menjadi seorang penonton. Diandra, yang biasanya berbagi cerita dengannya, kini membagi perhatian dan afeksinya dengan Jonas. Mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri, bertukar pandang yang penuh makna, dan tertawa pada lelucon-lelucon internal yang tidak Emma pahami.

"Sayang, ada daun bawang di gigi kamu," kata Jonas sambil terkekeh, lalu dengan gerakan alami ia mengulurkan tangan dan membersihkannya dengan ibu jarinya dari sudut bibir Diandra. Pipi Diandra merona merah.

Emma mengelengkan kepalanya berulang kali, lalu memilih menunduk, mengaduk sotonya yang mulai mendingin. Nasi di dalam mangkuk terasa seperti butiran pasir, hambar dan sulit ditelan.

"Oh iya, Jonas, nanti malam jadi kan kita nonton?" tanya Diandra, matanya berbinar.

"Jadi dong. Aku jemput jam tujuh ya. Kamu jangan dandan kelamaan," goda Jonas, mencubit hidung Diandra dengan gemas.

"Ih, apaan sih!" Diandra memukul lengan Jonas pelan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Mereka melanjutkan obrolan tentang film yang akan mereka tonton, tentang teman-teman Jonas yang ingin Diandra temui, tentang kafe baru yang ingin mereka kunjungi. Emma duduk di sana, diam, menjadi penonton baris pertama dari sebuah pertunjukan kemesraan yang membuatnya merasa semakin kecil dan tidak terlihat. Setiap tawa mereka, setiap sentuhan ringan di antara mereka, terasa seperti dinding kaca yang tumbuh semakin tinggi di sekeliling Emma, mengisolasinya dari satu-satunya orang yang ia anggap paling dekat dengannya di kampus ini.

Ponselnya di pangkuan bergetar pelan. Sebuah pesan masuk. Dari "Kakakku".

Kamu di mana?

Jantung Emma berdebar kencang. Ia harus pergi. Sekarang juga.

"Di," potong Emma tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit serak.

Diandra dan Jonas menoleh serempak, menghentikan obrolan mereka.

"Kenapa, Em?" tanya Diandra, alisnya sedikit berkerut melihat wajah pucat sahabatnya.

"Maaf, aku harus pergi sekarang," kata Emma sambil berdiri dan menyambar tasnya.

"Loh, kok buru-buru? Sotonya belum habis," sahut Diandra, tampak bingung.

Emma harus mencari alasan. Alasan yang masuk akal, yang tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan. Otaknya bekerja cepat, memindai semua kemungkinan. Dan kemudian, sebuah ingatan muncul.

"Aku harus ke pasar sekarang sebelum kesorean," jelas Emma, mencoba membuat suaranya terdengar senormal mungkin. Itu bukan kebohongan sepenuhnya, karena memang dia ada rencana untuk memasak besok mumpung tak ada jadwal kuliah.

Diandra tampak sedikit kecewa. "Oh, gitu ya… Ya udah deh kalau gitu. Hati-hati ya."

"Hati-hati di jalan, Emma," sapa Jonas dengan sopan.

Emma memaksakan seulas senyum tipis ke arahnya. "Makasih. Kalian lanjutin aja makannya. Aku duluan ya, Di."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Emma berbalik dan berjalan cepat meninggalkan meja itu. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia melangkah melewati kerumunan mahasiswa, melewati aroma makanan yang kini terasa memuakkan, menuju pintu keluar kantin. Setiap langkah terasa seperti sebuah pelarian.

Begitu berada di luar, di bawah terik matahari siang, ia menarik napas dalam-dalam. Udara terasa lebih segar, lebih bebas. Ia tidak langsung menuju gerbang utama, melainkan berjalan ke arah halte di belakang kampus. Ia benar-benar akan pergi ke pasar, besok selain untuk dirinya sendiri, dia juga ingin memasak untuk kakaknya.