“Kok masih belum pulang?” bisik Emma pelan, saat mengintip ke dalam kamar Diandra melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dan ternyata kosong melompong. Aroma parfum vanila khas sahabatku itu masih menguar tipis, namun ranjangnya rapi sempurna, menandakan ia belum kembali sejak pagi tadi.
“Ayo … ngapain intip-intip?”
Suara teguran lembut itu membuat Emma terlonjak kaget. Emma segera menutup pintu kamar Diandra dan berbalik. Mbak Devi, senior di rumah kos kami, berdiri di ujung lorong dengan senyum geli di wajahnya. Ia membawa setumpuk map di tangannya.
“Orangnya belum datang ya, Mbak?” Bukannya menjawab tuduhan main intip tadi, Emma malah berbalik bertanya. Rasa cemas yang samar mulai menjalari hatinya
“Kayaknya belum sih, Dik. Kan tadi berangkatnya sama kamu. Di mana kamu tinggalin dia?” ujar Mbak Devi sambil berjalan mendekat ke arah dapur umum, tempat Emma meletakkan kantong-kantong belanjaan dari pasar.
“Di kantin, Mbak. Aku tinggalin ke pasar, habisnya aku malah dijadikan obat nyamuk sama Diandra dan Mas Jonas,” jelas Emma pada Mbak Devi, terdengar seperti sedang mengeluh.
Emma mulai mengeluarkan sayur-mayur dan bumbu dapur dari kantong keresek.
Tangan Mbak Devi yang hendak mengambil gelas di rak piring tiba-tiba berhenti di udara. “Mas Jonas siapa yang kamu maksud, Em?! Jonas si presma itukah?!” Nada suaranya berubah, ada getaran aneh di dalamnya yang membuat Emma menghentikan aktivitasnya dan menatap lawan bicaranya, lekat.
“Iya, Mbak …. Si presma tampan itu,” jawab Emma, sedikit bingung dengan reaksinya yang berlebihan.
“Memangnya ada hubungan apa si Diandra dengan Jonas?” tanya Mbak Devi lagi, wajahnya yang tadi ceria kini menegang. Matanya menatap Emma tajam, seolah mencari jawaban yang sangat penting.
“Laaa … masa Mbak Devi nggak tahu?!”
Emma malah berbalik tanya dengan wajah heran. Bagaimana bisa Mbak Devi yang lebih lama tinggal di kos ini tidak tahu kalau Diandra dan Jonas punya hubungan spesial? Mereka tampak begitu mesra tadi, seolah seluruh dunia harus tahu tentang hubungan mereka.
“Jawab aja kenapa sih, Em? Aku beneran nggak tahu,” desak Mbak Devi, suaranya sedikit bergetar. Ia menarik sebuah kursi dari meja makan dan duduk dengan gerakan yang kaku.
“Aku kan udah jarang banget di sini, apalagi ke kampus. Ini aja cuma minta tanda tangan doang terus balik lagi, pulang. Mungkin aku bulan depan udah nggak kos lagi, karena tinggal nunggu wisuda doang.”
Emma terdiam sejenak mendengar penjelasannya. Ada rasa iri sekaligus turut bahagia untuknya.
“Alhamdulillah, Mbak … aku juga ingin segampang seperti mbak nantinya ….” Emma menjawab sembari memilah-milah dan memasukkan belanjaan yang tadi dia beli ke dalam kulkas. Kangkung, tempe, bawang merah, cabai. Entah kenapa, melihat semua bahan mentah itu, Emma merasakan penat yang tak biasa. Niat memasak tumis kangkung dan tempe goreng yang tadi menggebu-gebu di sepanjang perjalanan dari pasar, kini entah terbang ke mana.
“Mereka pacaran, Mbak. Tadi di kantin mesra banget,” kata Emma akhirnya, menjawab pertanyaannya yang tertunda. Dia udah berusaha menjaga suaranya tetap datar, tidak ingin terdengar seperti sedang bergosip. Hening.
Emma menutup pintu kulkas dan berbalik, seketika kaget mendapati Mbak Devi menunduk, menatap kosong ke arah lantai keramik dapur yang dingin. Bahunya sedikit bergetar. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum ramah kini pucat pasi, seperti kertas.
"Mbak? Mbak nggak apa-apa?" tanya Emma khawatir, melangkah mendekatinya.
Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang tak pernah Emma lihat sebelumnya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Emma..." suaranya pecah, nyaris tak terdengar. "Jonas itu... dia tunanganku."
Dunia seakan berhenti berputar. Udara di dapur terasa mengental, sulit untuk kuhirup. Tunangan? Kata itu menggema di kepalaku, berbenturan dengan citra Jonas yang sedang mencubit hidung Diandra dengan gemas di kantin tadi siang. Semua kepingan puzzel yang aneh kini menemukan tempatnya dengan cara yang paling menyakitkan. Reaksi berlebihan Mbak Devi, ketidaktahuannya, wajahnya yang pias. Semuanya masuk akal sekarang.
"Mbak... Mbak serius?" tanya Emma bodoh, berharap ini semua hanya lelucon yang sangat tidak lucu. Mbak Devi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, dan air matanya mulai mengalir deras. Ia menangis tanpa suara, sebuah tangisan yang menunjukkan luka yang begitu dalam.
Emma segera berjongkok di sampingnya, mengusap punggungnya dengan canggung. Emma bingung, tidak tahu harus berkata apa. Rasa bersalah tiba-tiba menghantam hatinya. Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, namun Emma merasa menjadi bagian dari konspirasi ini, menjadi pembawa berita buruk yang menghancurkan hatinya.
"Kami sudah bertunangan enam bulan yang lalu, setelah sidang skripsiku. Acara keluarga kecil-kecilan," jelasnya di sela isak tangisnya.
"Kami berencana menikah setelah aku wisuda. Dia bilang dia sibuk sekali dengan urusan BEM dan persiapan skripsinya, makanya kami jarang bertemu. Aku... aku percaya padanya, Em. Aku percaya...."
Hati Emma terasa diremas. Di satu sisi, ada Mbak Devi, wanita baik hati yang sedang dipersiapkan untuk hari bahagianya, kini hancur karena pengkhianatan. Di sisi lain, ada Diandra, sahabatnya, yang mungkin sama sekali tidak tahu bahwa pria yang dipacarinya adalah milik orang lain. Atau... jangan-jangan ia tahu? Pikiran buruk itu segera ditepisnya. Tidak, Diandra bukan orang seperti itu. Dia pasti korban juga.
Dan Jonas. Si presma tampan yang dielu-elukan seantero kampus. Si pria sempurna. Ternyata hanyalah seorang pengecut berwajah malaikat. Kemarahan mulai membara di dalam diri Emma, menggantikan rasa penat dan kebingungan.
Waktu berjalan terasa lambat. Magrib datang dan pergi. Langit di luar jendela sudah sepenuhnya gelap. Diandra masih belum pulang. Ponselnya tidak aktif saat kami coba hubungi berkali-kali.
“Kok nggak ada balasan ya, Mbak? Pada ke mana mereka?!” tanya Emma dengan suara penuh kekhawatiran
"Kita harus cari dia, Em," kata Mbak Devi tiba-tiba, suaranya serak namun tegas. Ia berdiri, seolah baru saja menemukan kembali sisa-sisa kekuatannya. "Aku nggak bisa diam aja kayak gini."
"Cari ke mana, Mbak? Ponselnya nggak aktif."
"Ke rumahnya. Ke rumah Jonas," jawabnya mantap.
Emma ragu. "Mbak yakin? Gimana kalau mereka nggak ada di sana? Gimana kalau—"
"Aku harus tahu, Em. Aku harus lihat dengan mata kepalaku sendiri," potongnya. Tatapannya penuh dengan keputusasaan yang berubah menjadi tekad baja.
"Aku tahu alamatnya. Tolong temani aku, Em. Aku nggak kuat kalau harus sendirian."
Emma menatap wajah mbak Devi yang sembap namun penuh keyakinan.
Emma pun tidak bisa lagi menolaknya. Ini bukan lagi hanya masalahnya, tapi juga masalah Diandra.
"Oke, Mbak. Kita pergi sekarang." Emma mengangguk.
Dengan memesan taksi online. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti. Mbak Devi menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong, sementara Emma merapal doa dalam hati, berharap apa yang akan mereka temukan tidak seburuk yang mereka bayangkan. Mobil melaju menembus jalanan kota yang ramai, menuju sebuah komplek perumahan elite di pinggir kota.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis modern. Rumah itu tampak megah dan tenang, dengan taman yang terawat rapi dan lampu-lampu temaram yang hangat. Namun, satu hal membuat jantungku mencelos. Di garasi terbuka di samping rumah, terparkir sebuah mobil yang sangat kukenali. City car berwarna merah ceri milik Diandra.
"Itu... mobil Diandra," bisik Emma ngeri.