"Kita yakin mau melakukan ini, Mbak?" bisik Emma, suaranya serak. Ia merasa seperti seorang penyusup, seorang pengintai dalam drama orang lain, padahal hatinya sendiri ikut tercabik-cabik oleh firasat buruk.
“Yakin Em ….” Ia mengangguk pelan, sebuah gerakan kaku yang lebih mirip seperti pemaksaan daripada persetujuan.
Emma hendak membuka pintu, deru mesin lain memecah keheningan. Sebuah taksi yang identik berhenti tepat di belakang mereka. Jantung Emma berdebar kencang. Skenario terburuk melintas di benaknya. Pintu penumpang taksi terbuka, dan sesosok wanita ramping melangkah keluar.
“Diandra ….!!”
"Emma? Mbak Devi?" panggilnya, alisnya bertaut. Ia berjalan cepat menghampiri mereka dengan langkah-langkah yang penuh energi amarah.
"Kalian ngapain di sini?"
Emma dan Mbak Devi hanya bisa saling berpandangan, terperangkap dalam absurditas situasi. Takdir benar-benar sedang mempermainkan mereka malam ini. Ia dengan kejamnya mengumpulkan kedua wanita yang dikhianati oleh pria yang sama, di waktu yang sama, tepat di depan rumah sang pengkhianat.
"Ini kan rumah Jonas," lanjut Diandra tanpa menunggu jawaban, nadanya menuntut.
"Aku dari tadi telepon dia, tapi nggak diangkat, mobilku juga di bawa dari siang belum di balikin. Katanya mau pinjam sebentar buat ambil berkas. Kalian ngapain ada di sini, celingak-celinguk macam mau nyuri aja?!"
Tuduhan itu seharusnya terasa menyakitkan, tapi Emma terlalu terkejut untuk merasa tersinggung. Ia bisa melihat kepanikan di mata Diandra, kekhawatiran yang coba ia tutupi dengan amarah.
"Di..." Emma memulai, suaranya tercekat. Bagaimana ia bisa menjelaskan kecurigaan yang membawanya dan Mbak Devi ke sini? Bagaimana ia bisa mengatakan dugaan mereka tadi tentang dirinya.
Namun, Mbak Devi, yang sejak tadi membeku, tiba-tiba bergerak. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah jendela besar di ruang tamu lantai bawah. Tirainya tidak tertutup sempurna, menyisakan celah sekitar dua puluh sentimeter yang memamerkan pemandangan di dalam.
"Lihat itu," kata Mbak Devi lirih. Suaranya pecah, sarat akan kepedihan yang begitu dalam hingga membuat perut Emma mulas.
Rasa penasaran yang mengalahkan kebingungan dan amarah, membuat Diandra mengikuti arah tunjuk Mbak Devi. Emma pun ikut memutar kepalanya, menahan napas. Mereka bertiga berdiri luar rumah yang dingin, mengintip ke dalam di mana sedang mempertontonkan sebuah drama yang menghancurkan hati Devi dan Diandra.
“Jonas ….!!”
Pria itu ada di dalam, persis seperti yang mereka duga. Tapi ia tidak sedang bersama Diandra, yang kini berdiri gemetar di samping Emma. Jonas sedang duduk nyaman di sofa kulit berwarna krem yang besar. Dan di pangkuannya, dengan punggung menghadap jendela, duduk seorang perempuan lain yang tidak mereka kenali. Perempuan itu berambut hitam panjang dan lurus, mengenakan gaun merah menyala yang memeluk lekuk tubuhnya dengan ketat.
Emma mendengar tarikan napas yang tajam dan tercekat dari Diandra. Tubuh perempuan cantik yang terkenal kaya tujuh turunan itu menegang sempurna, seolah baru saja disambar petir.
"Itu... siapa?" bisik Diandra, suaranya bergetar hebat hingga nyaris tak terdengar. Matanya menyipit, berusaha mengenali.
Di sisi lain Emma, reaksi Mbak Devi sungguh di luar dugaan. Alih-alih hancur, kemarahan yang membara tampaknya telah mengambil alih dirinya. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah cepat dan tegas menuju pintu depan rumah Jonas. Ia tidak ragu, tidak menoleh ke belakang. Ia mendorong gerbang kecil yang tak terkunci dan berjalan lurus ke pintu utama.
"Mbak Devi, tunggu!" seru Emma panik. Rasa takut akan apa yang mungkin dilakukan Mbak Devi dalam amarahnya membuatnya segera berlari menyusul, meninggalkan Diandra yang masih membeku di trotoar, menatap pemandangan di jendela dengan tatapan kosong. Pintu utama ternyata tidak terkunci. Mbak Devi mendorongnya dengan kasar hingga terbuka dan membentur dinding di belakangnya, menciptakan suara gedebuk yang keras.
"JONAS BAN GSAT!!"
Teriakan Mbak Devi melengking, penuh amarah dan luka, memecahkan keheningan di dalam rumah. Suara itu begitu kuat, begitu penuh dengan energi kehancuran, hingga dua orang di sofa itu tersentak kaget. Gerakan sensual mereka berhenti seketika. Jonas mengangkat kepalanya dari leher si wanita, matanya liar mencari sumber suara.
Ketika melihat Mbak Devi berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah dan Emma tepat di belakangnya, ekspresi Jonas berubah dari kaget menjadi ketidakpercayaan yang samar.
"De-vi…." bisiknya, seolah melihat hantu.
Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Wajahnya dengan cepat mengeras seolah sedang melihat kucing, ia bahkan tidak berusaha menyingkirkan wanita di pangkuannya.
"Ngapain kamu datang ke mari, ganggu aja," sahut Jonas dengan nada santai yang dibuat-buat, seolah memarahi seorang anak kecil yang menginterupsi percakapan orang dewasa. "Lagipula waktumu masih besok, kan?!"
Kalimat itu, yang menyiratkan adanya semacam "jadwal" untuk para wanitanya, begitu menusuk dan merendahkan hingga membuat Emma mengepalkan tangannya erat-erat, menahan keinginan untuk maju dan menampar wajah tampan itu.
Sementara itu, perempuan bergaun merah yang tampak panik segera melompat dari pangkuan Jonas. Wajahnya pias. Dengan gerakan tergesa-gesa dan canggung, ia mulai memunguti sebuah bra renda hitam dan sepasang stoking yang berserakan di lantai dekat sofa.
"JONAS SI ALAN!!"
Satu suara lagi, kali ini dari belakang punggung Emma. Suara yang dingin dan tajam seperti pecahan kaca. Diandra telah masuk ke dalam rumah. Ia tidak lagi gemetar. Matanya yang indah kini menyala dengan api kebencian yang murni. Ia melangkah melewati Emma dan Mbak Devi, tatapannya terkunci pada Jonas.
Kehadiran Diandra akhirnya mampu meruntuhkan ketenangan Jonas. Matanya membelalak sempurna, kepanikan yang nyata akhirnya terlihat di wajahnya. Ini adalah bencana. Dua wanitanya yang "resmi" berada di tempat yang sama.
"Kamu selingkuh dengan Rika? GILA YA KAMU!!" bentak Diandra, menunjuk wanita bergaun merah yang kini telah berhasil memakai kembali bajunya seadanya dan berdiri dengan canggung di sudut ruangan.
Jonas, yang otaknya bekerja cepat untuk mencari kambing hitam, langsung menuding Mbak Devi.
"Ini pasti kerjaanmu kan, Dev?! Kamu sengaja bawa dia ke sini! Kamu ingin membuatku jelek di mata para penggemarku, dasar perempuan kampungan!!"
Hinaan itu membuat Mbak Devi tersentak, tapi sebelum ia bisa membalas, wanita bernama Rika itu maju selangkah. Wajahnya yang tadi panik kini berubah menjadi cemberut dan marah.
"Hei… apa maksudmu dengan mengatakan aku adalah penggemarmu?" tanya Rika dengan nada sinis yang tajam. Pertanyaan itu membuat wajah Jonas seketika pias. Ia jelas tidak menyangka Rika akan angkat bicara.
"Kau pikir aku adalah penggemarmu?" ulang Rika, suaranya meninggi menjadi teriakan. "MANA ADA IDOLA YANG BERHUTANG RATUSAN JUTA KE PENGGEMARNYA!!"
Pengakuan itu seperti bom yang meledak di tengah ruangan. Emma ternganga. Mbak Devi menatap Jonas dengan jijik. Diandra tampak sedikit terkejut, namun amarahnya tidak surut. Ternyata pria ini bukan hanya penipu hati, tapi juga seorang penipu ulung dalam segala hal.
"Aku tunggu besok sampai jam dua belas siang!" Rika membentak, menunjuk lurus ke wajah Jonas yang pucat pasi. Matanya membeliak sempurna, penuh ancaman.
"Kalau sampai kamu tak bayar hutang itu, bersiap-siaplah menjadi tengkorak di dalam penjara!"
Tanpa menunggu jawaban, Rika berbalik, menghentakkan kakinya dengan marah. Ia melewati ketiga wanita itu sambil menggerutu pelan, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan keheningan yang tegang dan bau parfumnya yang mahal.
Kini, hanya tersisa mereka berempat. Jonas, sang terdakwa, dan tiga wanita yang menjadi hakimnya.
Mbak Devi melangkah maju. Air mata akhirnya mengalir di pipinya, namun posturnya tetap tegak, bahunya tegap. Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru, dan melemparkannya dengan keras hingga mengenai wajah Jonas.
"Kita selesai," desisnya, suaranya bergetar karena isak tangis yang ditahan dan amarah yang meluap.
"Tak perlu datang ke rumahku lagi. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di perusahaanku lagi. Mulai detik ini, kamu aku pecat!!" Bentakan terakhir itu begitu kuat dan final. Gelar "pacar" dan "pekerjaan" telah dicabut dalam satu kalimat. Bagi Jonas, kehilangan pekerjaan tampaknya lebih menyakitkan. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah panik. Ia baru saja akan beranjak, mungkin untuk memohon atau berdebat dengan Mbak Devi.
Namun, ia tidak pernah punya kesempatan.
Saat tubuhnya mulai berbalik, Diandra, yang sejak tadi berdiri diam dengan ekspresi yang tak terbaca, bergerak dengan kecepatan kilat. Ia mengangkat helm full-face yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya—mungkin ia mengambilnya dari teras—dan mengayunkannya dengan sekuat tenaga.
BRAKK!!
Suara benturan tumpul dan mengerikan itu menggema di ruangan. Helm itu mendarat telak di sisi kepala Jonas.
"Diandra, jangan!!" seru Emma, terlambat. Ia melompat maju dan memeluk Diandra erat-erat, mencegahnya mengayunkan pukulan kedua.
Mata Jonas memutar ke atas, dan tubuhnya yang kekar ambruk ke sofa dengan lemas, lalu terguling ke karpet tebal di bawahnya. Pingsan.
Alih-alih panik atau menyesal, sebuah senyum dingin dan puas tersungging di bibir Diandra. Dengan tenang, ia melepaskan diri dari pelukan Emma. Ia berjongkok di samping tubuh Jonas yang tak sadarkan diri. Dengan gerakan yang efisien dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia merogoh saku celana Jonas, mengambil kunci mobilnya. Ia lalu menarik dompet dari saku belakang, mengambil semua uang tunai di dalamnya dan kartu kredit miliknya yang pernah ia pinjamkan. Terakhir, ia melepas jam tangan mewah di pergelangan tangan Jonas—hadiah ulang tahun darinya—dan memasukkan semuanya ke dalam tasnya.
Setelah selesai "memunguti" kembali miliknya, ia berdiri. Ia menatap Mbak Devi, yang masih berdiri menangis dalam diam. Dengan kelembutan yang mengejutkan, Diandra melingkarkan lengannya di bahu Mbak Devi.
"Ayo kita pulang, Mbak," katanya dengan suara yang kini terdengar tenang dan terkendali. "Biarkan sampah ini diurus oleh pembantunya besok pagi."
Diandra mulai menuntun Mbak Devi yang lunglai keluar dari rumah itu, melewati Emma yang masih berdiri terpaku di tengah ruangan, mencoba memproses semua yang baru saja terjadi. Kekacauan, pengkhianatan, hutang, kekerasan, dan persekutuan aneh yang terbentuk dari patah hati.
Diandra menoleh ke belakang, menatap Emma. "Ayo, Em. Nggak ada lagi yang perlu dilihat di sini."